Menulis Guru yang Lucu
20 October 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KASUS: Tidak diragukan lagi, guru sangat berjasa dalam kehidupan. Tidak bisa dibayangkan, kalaulah guru tidak mengajarkan huruf-huruf, dari a sampai z. Lalu, dituntun merakit aneka huruf menjadi kata hingga bermakna.
Pendek kata, fundamental membaca, kemudian menulis, yang kita punyai adalah berkat jasa guru. Menjadi manusia durhaka apabila menafikan, dan atau, melecehkan jasa para guru. Terima kasih, wahai Ibu dan Bapak guru.
Ersis Warmansyah Abbas Banjarbaru.
GURU MENULIS. Guru memang pejasa, tetapi bisa jadi, kalau dianalisis secara radiks, tergelincir sebagai ‘penghalang’ dalam tatapan pendidikan (menulis). Kog bisa begitu? Ya, bisa dong.
Coba renungkan perjalanan pendidikan. Ambil misal hal sederhana dalam lihatan sistem pendidikan. Pendidikan ala Indonesia bersandar pada IQ, alias memberdayakan otak. Di bangku sekolah (kuliah), apakah kita ‘diperkenalkan’ dengan otak? Apa itu otak, bagaimana pilahannya, sistem kerjanya, sistem responnya, sampai bagaimana mengembangkan dan merawatnya. Tidak bukan? Memperkerjakan sembari memberdayakan otak, tanpa memengerti. Apa tidak ajaib? Dan, guru adalah pelakunya.
Kita tidak menyalahkan guru, sebab guru sebagai pendidik (pengajar) bersandar pada sistem. Guru lucu karena sitemnya lucu. Kesalahan guru, barangkali, terletak pada minimnya kreativitas dalam mengembangkan tugas (kewajiban) profesionalnya. Nah, apa pula ini.
Begini. Pada praktiknya, mudah-mudahan pengamatan saya salah, guru-guru terjerembab, disadari atau bukan, bukan pada pengembangan potensi peserta didik, tetapi lebih curam menjejar teori di ladang pangkal pikir peserta didik.
Padahal, untuk sekadar mengambil bagian kecil dasar pengembangan pendidikan, pendidikan bersandar pada siswa aktif, bukan guru aktif. Guru menjadikan peserta didik aktif sementara guru sebagai fasilitator, motivator, fasilitator, dan tor-tor lainnya. Guru bukanlah cerek berisi air yang dituangkan pada cangkir pikiran peserta didik. Itu teori kuno.
Tetapi, nampaknya guru (dosen) lebih nyaman berlaku sebagai penceramah ulung dengan keahlian pokok memanfaatkan metode ceramah. Penataran tentang CBSA, CTL, sampai aneka temuan baru teori dan metode pendidikan (pengajaran) menguap begitu saja di tangan guru. Kini, ketika KTSP sebagai lanjutan ‘lucu’ kebijakan ‘pembaharuan’ (?) Kurikulum Berbasis Kompetensi yang mati muda, guru kembali ke khittah, metode tunggal ampuh, ceramah.
Ndilalah, di era IT ini, masih ada guru memakai ‘jurus’ memperkuat otot. Peserta didik menyalin bahan ajar, lalu siapa yang rapih catatannya dihadiahi nilai bagus. Masih ada guru masuk kelas, memilih peserta didik, menyuruh menulis di papan tulis, lalu guru melayani kebingungannya sampai jam pelajaran habis.
Perilaku demikian, tentu akan berbeda hasilnya manakala memfasilitasi membaca, berdiskusi, menuangkan pendapat, dan atau menulis apa yang dibaca dan dipahami. Aktif memberdayakan otak, bukan mengaktifkan ‘otak’ tangan.
Sebagai ilustrasi dikutipkan tulisan seorang guru dari Kalimantan Tengah yang memahami inti tarikan KTSP, terutama dalam pendidikan Bahasa Indonesia, khusunya tentang pendidikan menulis. Langsung tancap. Berikut tulisannya.
Guru penulis, maksudnya bukanlah guru yang mendidik siswa untuk menjadi penulis, sungguh diperlukan. … “Sangat lucu ketika seorang teman mengikuti penataran menulis. Gilanya, si penatar belum pernah menulis buku. Coba pakai logika yang paling sederhana, mungkinkah orang yang tidak pernah menulis ‘mengajari’ cara menulis?”.
Sayang sekali, ketika kurikulum yang dipakai, kurikulum 2006 berbasis kompetensi yang salah satu metodenya Contextual Teaching and Learning (CTL) atau pembelajaran kontekstual, masih banyak guru yang mengajarkan materi menulis dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dimana guru tidak memiliki kompetensi menulis.
Bagaimana mengajarkan menulis kalau guru tidak pernah menulis. Bagaimana siswa akan memiliki kompetensi jika yang diajarkan hanya terori. Teori menulis tidak akan menjadikan siswa mampu menulis.
Di sinilah peran CTL. Guru menjadi model berbekal karyanya. Kemudian, siswa belajar menulis dengan praktik langsung menulis. Berapa banyak yang sanggup melakukan itu?
Begitulah Wlly Editanto, seorang guru Bahasa Indonesia di Kumai, Kalimantan Tengah menulis di blognya, www.wilyedi.wordpress.com dan dilansir pada media cetak, Boneonews, 17 September 2007. Lalu, Willy berkolaborasi dengan berbagai pihak.
Pada tahap awal, empat puluh orang siswa dihimpun dalam Komunitas Awan Senja. Dalam kegiatan seminggu sekali itu ‘anak-anak’ muda tersebut mengalirkan energi kepenulisannya yang selama ini terpendam, menjadi karya.
Dalam tulisan tersebut, Willy beropini, komunitas semacam ini semestinya dapat digalakkan siapa pun yang berminat dan berdedikasi untuk menggerakkan anak-anak muda yang berpotensi. Selanjutnya proses yang akan menyeleksi para anak muda itu dalam berkarya.
Budaya bakesah yang hidup di masyarakat tradisional, sudah semestinya mengalami transformasi menjadi budaya tulis. Dulu, untuk mempublikasikan karya, hanya berupa majalah dinding. Kini beragam media tersedia, dari media cetak sampai internet.
Seperti yang sedang penulis rancang, membuat blog untuk karya tulis siswa di internet. Memang baru dibangun, tapi dalam waktu dekat, bagaimanapun karya anak muda itu, perlu publikasi. Setidaknya akan merangsang siswa untuk lebih mampu berkarya. Guru memang harus jadi model dalam pendidikan kreatif.
Dalam Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi ada materi pelatihan mengenai Penelitian Tindakan kelas (PTK). PTK, sebelumnya dikenal dengan action research, merupakan kegiatan penelitian oleh guru untuk meningkatkan kualitas pendidik untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam tugasnya.
Upaya meningkatkan kualitas pendidik akan memberi dampak ganda. Pertama, peningkatan kemampuan dalam menyelesaikan masalah pendidikan dan pembelajaran yang nyata. Kedua, peningkatan kualitas isi, masukan, proses, dan hasil belajar. Ketiga, peningkatan keprofesionalan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Keempat, penerapan prinsip pembelajaran berbasis penelitian.
Dunia pendidikan kita sepertinya tidak menggerakkkan kakinya untuk maju, pandangan mata saja yang tertuju jauh ke depan. Diperlukan tindakan nyata untuk menyongsong era kesejagatan. Artinya, diperlukan guru kreatif sebagai model. Sudah saatnya dunia pendidikan dipenuhi dengan orang-orang kompeten.
Alaamak, masih banyakkah guru seperti Willy Ediyanto? Insya Allah. Sejauh yang saya amati, sebenarnya guru-guru ‘sadar’ dan kreatif semacam ini bertebaran dimana-mana. Saya termasuk orang yang sangat percaya, guru ‘mandul’ (dalam tanda kutip, lho) bukan karena bodohnya guru, tetapi terlebih karena sistem yang ngak karu-karuan.
Bagaimana mungkin kreativitas berkembang kencang kalau guru itu ‘diurus’ dan ‘dibina’ oleh birokrat-birokrat pendidikan yang tidak berakar pendidikan. Misalnya, di Dinas Pendidikan. Dulu, Faisal Tamin, mantan Mempan, pernah bercanda, nantinya Kepala Dinas Pendidikan tidak boleh lagi mantan Kepala Dinas Pemakaman.
Karena itu, supaya kelucuan pendidikan tidak semakin kuat dengan lucunya guru, sudah saatnya guru-guru memotong mata rantai lucu-lucuan tersebut. Carannya?
Tidak usah terlalu banyak mengeluh. Mulai dari apa yang dapat dilakukan dalam tugas profesional. Ya, seperti rintisan Willy Ediyanto. Dan, hal serupa telah pula banyak dilakukan guru di berbagai tempat. Guru jangan mengeluh lagi, itu kuno. Memulai pembaharuan harus dari individu, meelaborasi dalam kelompok, masyarakat, terus ke tingkat bangsa. Kita memerlukan tindakan nyata, bukan yang bersandar angan-angan. Guru kreatif.
Kembali ke kaitan menulis, janganlah guru-guru lucu-lucuan lagi dalam mendidik. Khusus dalam pendidikan menulis, berusahalah dari diri sendiri, jadilah model bagi anak didik. Tinggalkan praktik mengkritik karya peserta didik dengan semangat 4000 derajat, dan atau, membandingkan dengan karya tingkat nasional atau dunia. Teori itu penting, tetapi lebih penting melakukan apa yang dapat dilakukan secara nyata.
Wong Sampeyan saja loyo menulis, bagaimana kompeten menilai karya peserta didik yang umurnya baru sebau penciuman. Aanak-anak didik kita adalah anak panah kehidupan di masa datang. Mari jadikan diri kita model bagi mesesatnya kemajuan menuju masa depan lebih baik.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 20 Oktober2007.










5 Responses to “Menulis Guru yang Lucu”
By Yari NK on Oct 20, 2007 | Reply
Walaupun sistemnya ‘lucu’ tapi saya yakin, kita bisa memanfaatkan sistem yang lucu ini sebaik2nya! Mendingan kita memanfaatkan sistem yang lucu ini sebaik2nya daripada kita menerapkan sistem yang ‘tidak lucu’ tapi tidak bisa terkejar oleh para guru apalagi oleh para anak didiknya, yang menyebabkan justru jadi ‘bertambah lucu’!
Toh, dengan sistem yang ‘lucu’ ini, anak2 didik ‘kita’ pernah menorehkan prestasi tingkat dunia seperti olimpiade Fisika yang merain 4 emas. Mudah2an ke depan kita bisa sedikit demi sedikit merubah sistem kita yang ‘lucu’ ini menjadi sistem yang lebih ’serius’ yang sesuai dengan kemampuan rata2 bangsa ini (dalam arti kata luas!). Kalau misalnya tidak bisa merubah sistem yang ‘lucu’ ini? Ya sudah…. manfaatkan aja apa yang ada semaksimal mungkin… yah itung2 masih untung bisa ‘ketawa’!
***Yoi, dari lucu-lucuan menuju serius, gitu ya. Great.
By willyedi on Oct 21, 2007 | Reply
Wah, saya tersanjung. Itu sih kenyataan.
Begini:
Komunitas Awan Senja, kegiatannya selalu diliput Borneonews.
Kegiatan setiap Selasa pukul 15.00 sampai 17.00.
Webblog komunitas: http://awansenja.wordpress.com/
Terakhir saya minta ijin, tulisan di atas mau saya unduh untuk blog saya.
Minal aidin wal faidzin.
Maaf lahir batin.
***Silahkan. Selamat berbuat …
By ogi fajar nuzuli on Oct 21, 2007 | Reply
Rupanya pikiran sampean senada dengan pikirannya Paulo Piere, Evert dll yang sejenislah……..Jadi wajar kalo banyak yang merasa terhenyak dengan teori yang sampean kemukakan…. tapi dialog memang diperlukan dalam manajemen pendidikan bagaimana menurut sampean?
***Yoi sobat. Dialog penting, merubah kondisi lebih penting, tapi … oleh siapa he he he
By Kurt on Oct 21, 2007 | Reply
setuju Bang, bisa menulis ini mungkin karena jasa guru mengajarkan abatasa.. namun merangkaikan kata2 jarang sekali diajarkan… mengajari bahasa Indonesia, bukan bagaimana menulis tapi kebanyakan bagaimana membaca dan apa isinya.. akibatnya, hampir kawan2 ku sedaerah sangat kesulitan menulis.. ini gimana toh…
***Sama-sama. Kini, mari kita lanjutkan, belajar menulis dengan menulis. Salam menulis.
By unai on Oct 26, 2007 | Reply
Beruntungnya kita masih sempat merasakan hidup di dunia yang gemerlap Teknologi Informasi ini,bisa belajar lewat mana saja. Dunia jadi begitu luas dengan dibantu layar monitor 17 inch di hadapan. Tapi saya punya pengalaman buruk, guru bahasa indonesia saya dulu sangat tak enak menyampaikan materi, sering menyalahkan, bahkan pelajaran mengarang saya acap mendapat nilai buruk sekali. Sangat berbanding terbalik dengan pelajaran lain. Inilah yang membuat dendam murid, dan akhirnya membenci mata pelajaran itu. Tapi belakangan dengan kemajuan teknologi ditambah lagi saya mulai terjangkiti oleh lingkungan kerja saya, saya mulai lagi mencintai dan kini menulis lagi..membaca lagi.
Guru yang demikian ini tak pantas digugu dan ditiru, bagaimana menurut sampeyan pak?
***Ha ha … jangan meniru itu guru, jangan pula kecewa, begitulah dia. Justru letak gurunya pada mengajar jeleknya itu, hingga, jangan ditiru yang sedemikian. Tapi, bukankah dia memberi contoh (jelek) hingga kita jangan berbuat jelek (serupa). Berjasa juga dia kan? Dan, kasihanilah dia.