Menulis Hikmah Lebaran

16 October 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KASUS: Senin, 15 September 2007. Selepas lohor kami pusing-pusing dengan mobil baru seorang teman. Si Teman sedang dilimpahkan rahmat dan nikmat, satunya, ya itu tadi, bermobil baru menjelang Lebaran. Mungkin, ‘hadiah’ perjuangan seselesai program S3, menduduki jabatan strategis, dan kondisi ekonomi membaik.
 
Yang seru, dalam perbincangan, olok-olokan  terkeluar begitu saja. Bangsa kita (Indonesia) memang hebat, meryakan Idul Fitri saja tiga hari. Ada yang hari Kamis, Jumat dan Sabtu. Sungguh bangsa beragam.
 
Intinya, kami diskusi ringan-ringan tentang banyak hal. Asyik. 
 
Ersis Warmansyah Abbas, Banjarbaru

MELIHAT BULAN. Sebenarnya soal kapan 1 Syawal selepas Ramadhan, seolah telah menjadi ‘penyakit’ yang tak berkesudahan dalam banyak tahun. Sebagai Muslim biasa-biasa saja, tentu mengikut para pemimpin, orang-orang pintar. Hasilnya?
 
Ya, seperti di banyak tahun, tidak ada kesepakatan. Kami, tak hendak menyoal. Sekalipun demikian, para pemimpin perlu merenung, ketika Idul Adha, kog sepakat saja. Tidak ada perbedaan, tidak ada ini-itu, dilakukan pada hari yang sama.
 
Kalaupun ada tanya, bukankah pada era teknologi ini, jangankan menentukan ‘terbit’ atau ‘terbenanmnya’ matahari atau bulan, berpuluh tahun, bahkan ratusan tahun ke depan, terjadinya gerhana matahari saja bisa ‘dipastikan’. Tanpa melihat dengan mata kepala.
 
Bukan tidak mungkin, dengan penguasaan teknologi, pada dasarnya kita mampu melihat ilmu-ilmu Allah, Sunnatullah. Karena itulah, umat Islam diwajibkan belajar, mencari ilmu. Bukankah setiap masa mempunyai ciri tersendiri?
 
Ketika jaman Nabi Mhammad SAW, moda angkutan bolehlah unta. Tetapi, ketika manusia menemukan teknologi pesawat terbang, tentu tidak salah tidak mengandalkan onta lagi.
 
Perbedaan adalah rahmat. Itu betul. Hanya saja, kalau misalnya kita berpuasa setiap tahun 30 hari, apakah tidak lucu? Apakah Nabi Muhammad SAW selalu berpuasa 30 hari? Apakah tahun Hijriah tidak sama saja dengan tahun Masehi, dimana ada bulan penuh dalam empat tahun yang kita kenal dengan tahun kabisat?
 
Entahlah. Perbedaan pendapat akan selalu ada selama ada manusia. Karena itulah, Allah SWT meninggikan derajat sebagian atas lainnya, dimana kita memerlukan ada pemimpin, yang derajatnya tidak sama dengan manusia kebanyakan. Untuk apa pemimpin?
 
Dalam pengertian sederhana, untuk diikuti. Diikuti dalam semangat kebersatuan. Kalaulah pemimpin justru membawa perbedaan, lalu apa bedanya dengan manusia kebanyakan. Apalagi, dengan perbedaan (pendapat) yang harus diikuti umat, yang bisa jadi, berakibat perpecahan, lalu dimana fungsi pemimpin sesungguhnya?
 
Pemimpin, begitu dicontohkan zaman Nabi Muhammad SAW, diikuti sebagai imam, lambang persatuan dan kebersamaan. Pasti, bukan dalam perbedaan, bukan dalam mengantang pendapat. Pemimpin adalah pemersatu.
 
Pertanyaannya, adakah pemimpin kita telah mewarisi hikmah kenabian? Pemimpin yang dijadikan sebagai imam dalam kesatuan pendapat dan perilaku, terutama menyangkut hal-hal agamis? Sungguh susah mencari jawabnya. Yang pasti, dalam menentukan syawal kita sepakat tidak sepakat.
 
Saya jadi ingat ketika masih kecil. Ada yang sholat tarawih 8, ada yang tarawih 20. Masing-masing tentu berpendapat, merekalah yang paling benar. Bahkan, ada yang bertengkar segala macam, sampai menghujat yang lain. Kalau ada ‘anak muda’ yang memilih tidak sholat tarawih, mungkin lebih bagus. Kenapa?
 
Minimal, terhindar dari bertengkar-tengkar, sesuatu yang tidak disenangi Allah. Lagi pula, bukankah sholat tarawih sunat hukumnya? Dilakukan dapat pahala, tidak dilakukan tidak mendapatkan dosa. Bertengkar, dan atau, mencela orang yang tarawih karena berbeda pendapat, mana tahu justru itu yang berdosa.
 
Sekali lagi, berbeda pendapat adalah hikmah. Namun, kira-kira kapan mampu bersepakat. Apakah perbedaan pemimpin berarti hikmah bagi ummat? Enthalah. Meryakan Lebaran tiga hari, tiga warna, dalam satu negara. Tahun depan masihkah? 
 
Dalam kaitan menulis, saya tidak paham, tahu-tahu hal-hal sedemikian hinggap di kepala, dan mendiskusikan. Setidaknya, membawa hikmah, kami ‘wajib’ mencari buku rujukan, dan atau, sumber-sumber pemahaman baru, teoritik maupun emperik, ada apa sebenarnya dibalik semua itu.
 
Mudahan saja, dengan demikian, pada tahun-tahun mendatang akan ada ‘kemajuan’, pemimpin lebih kepada persatuan dari keberbedaan. Dan, semua itu akan lebih bagus kalau dibeking dengan ilmu (teknologi) yang pada hakikatnya bersumber pada Yang Mahamengetahui.
 
Ya, hikmah Lebaran kali ini kami pahami dengan sangat awam. Mana tahu, teman-teman blogger mempunyai referensi yang lebih valid. Insya Allah. Bagi-bagi ke kami dong.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 16 September 2007.

  1. 4 Responses to “Menulis Hikmah Lebaran”

  2. By mathematicse on Oct 17, 2007 | Reply

    Saya juga tidak mengerti kenapa pemimpin kita mengedepankan ego-nya masing-masing, kurang mementingkan persatuan. Sepertinya teladan para pemimpin kita dulu dilupakan oleh para pemimpin kita sekarang. Akibatnya, tiap tahun hampir dapat dipastikan ribut masalah kapan mulai dan kahir Ramadhan.

  3. By aLe on Oct 18, 2007 | Reply

    hikmah lebaran kali ini aLe jatuh dr motor :D *ngaco.com*

  4. By Tabrani Yunis on Oct 20, 2007 | Reply

    Assalamualaikum Pak Ersis Warnasyah Abbas,

    Terima kasih atas kunjungan pak Ersis ke blog saya. Dan pagi ini saya juga membuka blog Bapak. Saya menjadi terinspirasi dengan hasil karyanya. Apalagi sudah banyak buku yang diterbitkan. saya sendiri belum penah membuat buku, walau sebenarnya saya sudah mulai menulis di media massa sejak tahun 1989. Sebenarnya saya sudah memiliki lebih dari 400 tulisan yang dimuat di media massa. namun saya tidak punya arsip tulisan tersebut, karena semua sudah hanyut ketika bencana tsunami melanda Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu.

    Sekarang saya sedang beusaha membangun budaya menulis di kalangan perempuan Aceh.Saya menerbitkan sebuah majalah Perempuan Aceh.Nama majalahanya adalah POTRET. Para penulisnya adalah perempuan dari pedesaan di Aceh. Bapak bisa baca dan kunjungi tulisan mereka di http://www.ccde.or.id

    Wassalam

    Tabrani Yunis

  5. By Kurt on Oct 21, 2007 | Reply

    <p><p>Waduh namanya perbedaan menurut saya, tidak terlepas dari pemimpin ada atau tidak ada.. justru pemimpin hadir sebagai bagian dari eliminirnya. Akan sulit disatukan masalah perbedaan ini.. yang mengatakan lucu 30 hari puasa atau sebaliknya selama tahun itu berlanjut, yaa begitu terus… </p><br />
    <p>saya merasa menikmati saja perbedaan…. bahkan masalah perbedaan dalam penatapan tanggal ini sudah dari abad ke 2-3 sudah ada… jadi just look at the sky and bring star to world and sing a song.. heheh :)</p><br />
    <p>Saya kira tidak akan ada persatuan selama masing2 tidak ngalah.. </p><br />
    <p>Maaf kasus dulu saat zaman Pak Harto, pesantren2 berbeda dalam masalah hari idul fitrti itu.. tapi mereka2 para kyai menganjurkan santri2nya agar mengikuti pemerintah saja.. padahal sistem kyai dengan Hisab rukyat… sekarang Muhammadiyah tidak mau menuruti Ulil Amri yaa jadinya begitu… Bukan berarti ulil amri itu berarti NU loh… </p><br />
    <p>Bagi saya, menentukan tgl 1 itu jangan dikaitkan dengan NU/Muhammadiyah tapi yaa sudah diserahkan pada ulil Amri ini pun diamini oleh Ibnu Taimiyah dan lain-lain.. </p><br />
    <p>Yang aneh ada komentar dari salah satu tamu di blog saya: katanya persoalan gak mau nurut pemerintah itu karena Rivalitas sosial semata.. mbuh lah aku gak ngerti.. gimana menurut sampean kritk saya ini Bang..</p></p>
    <p>***Ngak ada yang aneh. Bagus aja analisis Sampeyan, saya setuju. Namun, … pemimpin itu untuk diikuti dalam perastuan, kan begitu. Kalau perbedaan, ya cukup ngikuti orang sekaliber saya he he </p> Yang perlu dicermati, ilmu pengetahuan berasal dari Allah SWT, tidak mungkin sepanjang tahun (misalnya) dalam jarak 10 tahun kita selalu puasa 30 hari berutur-turut, ntar kelebihan hari he he he.

    Yap. ngak ada hubungan antara NU dan Muhammadiyah, saya setuju. Banyak lho yang ngak ngikutin keduanya … Saya memang tidak suka dan tidak respek dengan pemimpin (organisasi) yang lebih kepada membawa perbedaan pada hal-hal umum umat, kalau pendapat … OK.

    Jadi, berbeda memang rahmat. Pemimpin yang selalu memancangkan perbedaan bukanlah pemimpin baik, Nabi Muhammad SAW diutus untuk kita ikuti. Kini, adalah (siapa) pemimpin sedemikian?

Post a Comment