Menulis Mematikan Mental

11 October 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KASUS: Masya Allah. Lagi-lagi Abang ini bikin saya tersentil (lagi). Terus bagaimana dengan istilah mematikan mental Bang? Sebab, ada-ada saja hal yang membuat kita tergerus semangatnya.
 
Saya penasaran ketika seorang anak muda (kali) yang tulisannya sering saya renungkan menulis tentang mematikan mental. Padahal, selama ini, diam-diam bangga dan terkagum dengan penampilannya di dunia maya. E … tau-tau dia menulis memakai istilah yang mendirikan bulu roma, mematikan mental.
 
Sungguh kasus pertama yang secara khusus saya tempatkan sebagai pelajaran berharga bagi teman-teman penulis (pemula) lainnya. …
 
Ersis Warmansyah Abbas Banjarbaru

MENTAL. Ya mental dan mentalitas adalah penanda pokok seseorang, bukan saja dalam menatap dirinya, tetapi juga dalam ‘memandang’ dunia luar diri dengan segala dampak balikan. Secara kamusis mental adalah: Hal yang menyangkut batin dan watak manusia … dan … mentalitas keadaan dan aktivitas jiwa, cara berpikir, dan berperasaan (KBBI, 1988: 574-575).
 
Tanpa harus membolak-balik kamus yang lebih khusus atau term psikologi, jelaslah sudah tukikkan menyangkut (kepercayaan) diri seseorang. Di awal Ramadhan ini, membaca sekitar 100 buku perihal Nabi Muhammad SAW (www.webersis.com.; B. Muhammad). Apa yang didapat?
 
Sirah Rasulullah bersandar pada penanaman iman dan keimanan, yang dalam bahasa lain, mental dan mentalitas Muslim. Manakala dilanjutkan dalam labuhan perkembangan agama Islam, dapat dikatakan ajaran Rasulullah diterjemahkan pada kuala mental Muslim yang kuat. Masih ingat kisah Thariq bin Ziad? Begitu kapalnya mendarat di selat Gibraltar (Jabal Thariq) seluruh kapal dibakar. Di depan musuh, di belakang lautan, jalan fisabilliah terbentang di depan, Tariq menantang mental prajuritnya. Hasilnya? Pasukan Muslim menaklukan Andalusia (Spanyol).
 
Dalam terminologi Islam, barangkali tidak salah kalau mental dikaitkan sebagai lanjutan iman dan keimanan. Bila iman kuat otomatis bermental kuat (baik). Dalam gerak hidup pantulannya diaplikasikan pada apa yang dinamakan jihad, jihad fi sabilillah. Titik berangkat, pegangan, dan tujuan jelas, demi Allah SWT. Tidak ada selain Allah SWT.
 
Kalau sudah demikian, misalnya, kita dapat menyimak dengan seksama apa yang dilakukan Shalahuddin al-Ayyubi, dan atau, ribuan pejuang-pejuang Muslim lainnya. Mental yang kuat sebagai lanjutan iman yang kuat.
 
Hanya saja, semua itu tidak mungkin dipagut secara serta-merta. Ada proses ke arah itu —yang mungkin sangat panjang. Sekalipun demikian, saya tidak mengkomparasikan dalam hubungan yang kental. Bukan. Hanya sekadar komparasi motivasional.
 
Ya, kalau dalam psikologi bisa jadi apa yang kita kenal dengan personality. Personality yang dirajut atas pengetahuan, perasaaan, dan naluri berujung ‘terbentuknya’ kepribadian seseorang. Bulatannya orang-orang yang percaya diri. Lalu, apa hubungannya dengan menulis?
 
Ya, itu tadi. Kalau pagutan sudah pasti, kita yakin apa yang kita tulis, sandarannya sudah pas, tujuannya positif, apa yang harus ditakuti (disegani)? Tidak ada. Harap dicatat, pada dasarnya penulis adalah orang-orang yang bermental baja. Pada awal kemerdekaan Sampeyan masih ingat ‘kegilaan’ Adam Malik dan kawan-kawan menembus kantor berita Domei menjiarkan berita kemerdekaan? Atau, Asa Bafaqih di era Indonesia Perlementer?
 
Memang, penulis sering disalahpahami. Apalagi, dalam realitas masyarakat yang belum terbuka, dimana ‘anak muda’ sering dikatakan anak kemaren sore. Dalam buku Jerome S. Bruner, Process of Education, kalau tidak salah, selepas Rusia melontarkan Sputnik ke ruang angkasa, Amerika Serikat geger. Apa yang dilakukan?
 
Diadakan Whole Hope Comperence oleh ahli dari berbagai disiplin Amerika Serikat. Simpulannya diperbaiki sistem pendidikan dasar. Ada satu hal yang saya ingat … otak anak SD sama saja dengan otak seorang peofesor. Saya bersorak, umur bukanlah sesuatu yang menentukan. Dus, kalau kita berada di tengah masyarakat yang cenderung estabilishmen berbagai inovasi dan kreativiti memang terkadang tidak mulus untuk dilakukan.
 
Wajar memang, kalangan tua (mapan) kurang bisa menerima hal-hal baru. Mereka lebih suka bernostalgia dengan zaman mereka, mereka lupa, Kahlil Gibran pernah berpetuah: Anak-anakmu bukanlah anakmu, mereka adalah anak kehidupan, engkau adalah busur panah agar mereka melesat.
 
Dengan kata lain, saya mengingatkan, ‘anak-anak muda’ pandai-pandailah mencerna kondisi obyektif. Jangan sampai terjerembab pola pikir (kuno) para ‘orang tua’; how to manage your boss. Senangkan hati mereka, namun … jangan abaikan perjuangan zamanmu.
 
Kalau sudah demikian, tidak mungkin ada istilah mematikan mental. Lagi pula, dalam menghadapi berbagai tantangan, siapa sih yang bisa mematikan mental sesorang kalau tidak dia sendiri? Emang mental dan mentalitas punya siapa? Ya, punya kita, bukan orang lain. Kalau terjadi pematian, dan memang benar-benar mati, ya kitalah yang melakukan.
 
Dalam buku The Divine Mesage of The DNA, Kazuo Murakami ’berpesan’, di dalam gen kita ada “Tuhan”, setidaknya gen-gen telah diatur Tuhan. Kita tinggal me-on atau off-kan.
 
Ya, semua tersedia. Bila meng-on-kan hal-hal mematikan diri, ya matilah diri. Bila me-on-kan kasih sayang, jadilah kita penyayang. Bila keberanian di-off-kan, ya mampuslah dia. Hal-hal sepadan dibahas John C. Acise dalam bukunya, The Genetics Gods.
 
Maaf, maksud saya begini. Apa pun ‘ganguan’ dari luar diri, jangan sampai menggerus semangat untuk berbuat baik. Apalagi dalam inovasi, invention atau discovery. Jangan, sekali-kali jangan. Bahwa kita terkadang harus berkolaborasi dengan kondisi obyektif, realitas sosial, ya iyalah.
 
Yang pasti, kalau semangat kita pudar, itu tersebab kita sendiri. Bahkan, kalau ada pihak lain yang mencoba memadamkan semangat, itu pertanda bagus. Hidup ini adalah latihan menuju kebaikan. Rasulullah, Si Kekasih Allah, menngalami aneka percobaan agar Beliau betul-betul meyakinkan kita semua, bahwa sabar, amanah, teguh, dan seterusnya (sifat-sifat yang baik), menjadi tauladan kehidupan kita.
 
Artinya, cobaan itu penting. Yang tidak boleh, patah semangat, fatalis. Minimal, jangan kalah dalam berusaha ke arah kebaikan.
 
Penulis adalah pejuang sepanjang di bawah panji-panji Allah SWT. Dus, apabila tekad sudah OK, strategi perlu dimatangkan, dan … perjuangan terus dilanjutkan. Dalam pembelajaran itulah sebenarnya kita hidup.  
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 10 Oktober 2007.

  1. 6 Responses to “Menulis Mematikan Mental”

  2. By mathematicse on Oct 12, 2007 | Reply

    Ya betul. Belumlah seseorang itu dikatakan kuat mentalnya (Imannya) apabila ia belum diuji dan lulus ujian keimanan itu.

    Saya pernah mengalami masa-masa seperti ini. Rasanya beeerat. Bikin hidup kurang bersemangat, kurang bergairah. Akibatnya kreativitas pun melemah.

    Untuk bisa keluar dari krisis ini dbutuh proses yang luar biasa tak mudahnya. (panjang kalau diceritakan…) :D
    So, mari kita perkuat mental kita. :D

  3. By mathematicse on Oct 13, 2007 | Reply

    Selamat hari raya Idul Fitri 1428 H. Minal a’idin wal faidzin mohon maaf lahir dan bathin.

    Salam juga uat keluraga bapak.

    Al Jupri

    ***Sama-sama Mas Jupri. Aku rindu cerita Sampeyan di Nederland, gimana sih rasanya Ramadhan dan Lebaran di rantau? Tulis dong biar kita-kita bisa membayangkan. Ada joke seorang Barat, agama Islam itu diciptakan untuk manusia tropis, sebab yang di belahan utara dan selatan akan kesusahan, terutama dalam menunaikan ibadah Ramadhan. Apa iya?

  4. By LULU on Oct 13, 2007 | Reply

    alo….
    ikutan ‘berisik’ ah,
    saya pikir menulis itu bagian dari pembentukan kebudayaan dan peradaban manusia. dari menulis yang paling sederhana; let’s say personal diary; itu sumber ide yang bisa kita realisasikan di waktu entah kapan. kalau kasus diary ini jadi inget Leonardo Da Vinci; si jenius yang suka nulis diary, setelah dia meninggal beberapa ide jeniusnya yg belum kesampaian sudah tertuang di bukunya itu.
    lagipula alhamdulillah al quran dikumpulkan dan ditulis, lha kalu enggak,
    anyway, menulis sama dengan berpikir dan dengan berpikir maka manusia itu ada (cogito ergo sum).
    lam kenal prenz

    ***Sangat-sangat setuju. Tapi, cogito ergo sam Rene descartes adalah produk Barat yang ketinggalan. Di Islam, soal berpikir sangat banyak di banyak nash-nash Al-Quran. Menurut sejarah Islam, orang-orang barat maju, dan mengadopsi cogito ergo sum setelah mereka menundukkan Andalusia dan memboyong kajian ilmu ke Barat. Apa iya sih? Jawab dong tanya ini. Referensi saya ngak terlalu meyakinkan tu.

  5. By Kurt on Oct 14, 2007 | Reply

    Waaah si Abang nih, kasusku benar2 dibawa paksa ke mari :) … btw, suatu kehormatan buat saya pribadi karena Abang Dosen kita, si pencipta virus menulis ini mau peduli sama anak muda(X) yang lagi merasakan semangat menulis down. Sehingga lahirlah sebuah tulisan (tanpa pikir panjang) dijuduli: <a href=”http://santribuntet.wordpress.com/2007/10/08/resep-mematikan-mental/” rel=”nofollow”>Resep Mematikan Mental </a>

    keprihatinanku itu bang, akibar dari semangat yang membara berubah jadi prahara bagi saya. Maklum bang, jika diteruskan tulsan itu, dari sisi budaya, entah bagaimana maka saya orang jawa (Crebon) ada semacam kebiasaan (g bagus?) yaitu kepada orang tua (senior) manut saja…

    Dari postingan ini, saya jadi menyadari satu hal bahwa semangat baja itulah yang mestinya di on-kan…. mungkin waktu itu gelap Bang, jadi saklarnya entah di mana.. penyebab gelap mungkin juga karena “dosa-dosa” saya sehingga konon kata Nabi saw: “iman itu naik-turun” kenapa turun, ada yang menafsiri karena banyak dosa yang diperbuat atau memakan makanan yang tak “fitri” dll. Doakan saja bang biar Yazidnya lebih banyak daripada yankusnya heheheh …

    Atau jangan-jangan Bang, dari tulisan Abang yang “prigel” ini, dapat terendus bau yang tidak enak dari tulisan saya, yaitu apologi dari sebuah kemalasan menulis… kambing hitamnya adalah senior… :) hehehe bagaimana menurut sampean???

    ***Wah Mas santribuntet yang hebat. Mohon semangat membaranya dipelihara dan ditingkatkan sinarnya, bukan baranya he he he. sampeyan harus sadar, kemampuan menulis Sampeyan itu yahud. Saya sungguh respek, kalau dijaga keberlangsungannya, bisa menjadi penulis hebat. Modal utamanya, kemerdekaan berpikir dan keberanian menulis. Saya berani taruhan, tapi … ya itu tadi. Biarlah dunia ini didenda gempa, menulis lakukan terus. Salam maaf, Mat Lebaran. Saudaramu dalam menulis.

  6. By M. Rizky Ad'ha on Oct 17, 2007 | Reply

    Assalamualaikum Pak… Selamat idul fitri 1 syawal 1428 H buat bapak sekeluarga yaa… Ulun minta rela & minta maaf apabila selama ini ulun ada salah & khilaf kepada bapak…

  7. By unai on Oct 26, 2007 | Reply

    Setujuuuu sangat !!!

    ***ACC

Post a Comment