Menulis Bikin Gila

9 October 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KASUS: Buku ini bener-bener membuat saya gila. Sebenarnya sudah lama ingin menulis. Setelah membaca buku ini, nyoba-nyoba nulis, dan ternyata … Menulis (itu) Sangat Mudah. Kita cuma butuh motivasi, kertas, dan inspirasi yang bisa didapat dari apa pun yang ditemui.
 
Isi buku Menulis Sangat Mudah tidak bertele-tele. Malah, bisa dikatakan renyah bak kerupuk bawang kesukaanku yang barusan diangkat dari penggorengan …
 
Pokoke Teope … begete…
 
Two Tie in Somewhere

GILA MENULIS. Saya memukan kalimat bergaya, gimana gitu, di satu blog seseorang. Seperti banyak bloger yang membaca buku Menulis Sangat Mudah, lalu menampangkan di blog mereka. Bagaimana pastinya, saya tidak tahu. Tetapi, setidaknya bisa meraba-raba (?) setelah membaca buku tersebut banyak yang urat menulisnya tersentil alias termotivasi.
 
Saya bersyukur, banyak orang termotivasi. Seperti ditulis, saya bukan guru dalam menulis, tidak pakar, atau pun ahli teori. Pola pikir yang dikumandangkan Menulis Sangat Mudah. Dapat dilakukan siapa saja dengan modal sangat sederhana, mampu berpikir dan paham guruf a-z, itu pun yang sering dipakai separohnya.
 
Saya berkeyakinan, menulis tidak perlu diajar-ajarkan, tidak membutuhkan guru, kualifikasi pendidikan, kekayaan, tingkat pergaulan dan stratifikasi sosial, apalagi labelan etnik, domisili, genetis, atau embel-emebel lainnya. Semuanya akan hapus manakala mampu membaca.
 
Kalau tidak bisa membaca, yang tersurat dan tersirat, baru masalah. Tetapi, itu pun bisa diatasi dengan kemauan keras, motivasi tinggi, dan kehendak menuliskan apa yang dipikirkan.
 
Kalau tidak mampu berpikir, itu baru masalah super serius. Artinya, tidak berani sharing menulis dengan orang sedemikian. Kenapa?
 
Menulis menuangkan apa yang ada di pikiran dan atau terpikirkan. Jangan sampai dijerat memikirkan apa yang akan ditulis, tetapi … tulislah apa yang ada di pikiran. Itu dua hal yang berbeda. Pada saatnya akan ditulis hal khusus, bahwa menulis itu dari dalam diri, apa-apa yang ada di diri. Jadi, tidak mungkin ada orang yang susah menuliskan apa yang ada di pikirannya. Selama dia mampu berpikir, dia telah menulis.
 
Menuangkan apa yang ada di pikiran itu yang saya dapatkan kuncinya atau katakanlah, hidayah menulis. Itu pulalah sebabnya tidak mau dikatakan guru menulis. Itu milik Allah, dan saya menularkan virusnya.
 
Beberapa orang teman ingin mengorganisir agar terpola dan dapat menjangkau lebih banyak khalayak. Suatu saat akan dipikirkan. Sekarang  tidak mau ‘menjual’ hidayah tersebut. Kalaulah diorganisir untuk tujuan lebih luas, mana tahu memang akan lebih berdayaguna. Pikiran dan pemikiran adalah sebuah proses.
 
Kembali ke introdusir tulisan ini, bisa jadi seseorang apabila urat menulisnya tersentil, potensi menulis yang terendam di dirinya ‘tergerak’, dan wajar saja hidayah menulis —seolah-olah— tiba-tiba bangun. Sebab, memang sudah bersarang sebagai bawaan lahir. Menulis menjadi sesuatu yang sangat mudah.
 
Gila menulis, atau tergila-gila menulis, menjadi sesuatu yang tidak aneh. Dalam bahasa seorang sahabat saya, mendadak menulis. Lalu, apa yang menyebabkan gila menulis? Tapi, jangan jadi orang gila lho ya, orang gila beneran tidak mungkin sama sekali menulis, he … he …
 
Ya itu tadi, terbentuk motivasi kuat menulis, menuangkan apa yang ada di pikiran. Lakukan, dan jadilah tulisan. Selama ini, kenapa menjadi hal yang susah dan menyusahkan? Nah, itu die.
 
Pada buku Menulis dengan Gembira sudah saya paparkan, self image yang terbentuk, menulis itu susah dan menyusahkan. Sebab, ketika kita belajar menulis di bangku pelajaran, dijejar dengan sekian teori, aturan ini-itu, harus begini-begitu, dan seabrek aturan yang membuat nyali ciut. Terbentuk gambaran pikiran, menulis begitu susah.
 
Padahal, semua itu tidak lebih dari pembodohan dan mau-maunya diperbodoh. Coba campakkan semua itu, lalu tulis apa yang terpikirkan atau yang ada di pikiran, dijamin akan mengalir begitu saja. Bahkan, bak galodoh, air bah. Bisa-bisa, apa saja yang dipikirkan, dilihat, diarasakan, diangankan, langsung jadi tulisan. Sebab, portal-portal alias belenggu-belenggu menulis dipupus sampai ke akar dan keraknya.
 
 Itu pulalah sebabnya lebih suka sharing menulis dengan mereka yang belum terdistorsi tetek-bengek ‘sekolah menulis’. Sebab, memotivasi mereka yang masih ‘seperti kapas puih’ lebih mudah. Menulis itu urusan pribadi, kita tida akan pernah mampu melakukan copy paste pikiran atau kepiawaian siapa pun. Sekali lagi, siapa pun.
 
Artinya, kemampuan menulis harus dikali, disentil dari potensi yang telah dititipkan Allah SWT pada masing-masing individu. Kalaulah mendapatkan dari ‘sekolah’ pada hakikatnya ada saringan masuk diri, diolah di diri, lalu di keluarkan dalam keluaran yang sesuai dengan ‘diri’ seseorang. Kalau demikian, apa gunanya melajar menulis. Bisa jadi, hanya kecil saja manfaatnya. Lalu apa dong?
 
Ya, menulis saja. Gilakan diri menulis. Ketika menulis kita belajar, mengembangkan potensi, berbuat, melakukan, dan berkarya. Kalau begitu tidak ada gunanya belajar teori? Siapa bilang.
 
Begini. Teori, ilmu, pengetahuan, atau apa saja, perolehlah sebelum menulis atau sesudah menulis. Ketika mengoreksi tulisan, bukankah kita memanfaatkan pengetahuan? Itu pulalah sebabnya membaca menjadi satu kunci.
 
Intinya, membaca dan menulis. Bukan … belajar menulis. Itu tindakan bodoh. Lalu? Lakukan saja, menulis saja. Jelas kan perbedaannya. Apabbila muatan semua itu terpahami, buahnya hanya satu, kepercayaan diri. Orang-orang yang tidak percaya diri, ya karena terbelenggu dan dibelit hal-hal teoritis tanpa melakukan. Lebih celaka, takut melakukan.
 
Orang semacam itu menghina dirinya, menghina penciptanya. Bak anak kecil, selalu ingin disuapi. Kalau begitu kapan mau punya kepercayaan diri. Coba begini. Tulis sesuatu, baca, perbaiki sendiri, dan lakukan berketerusan. Ketika sampai pada titik tertentu akan terkeluar: Oh, saya bisa menulis, tulisan saya bagus.
 
Kalau sudah sampai pada tahap tersebut, Sampeyan akan tergila-gila menulis, menulis menjadi sesuatu yang mudah. Lanjutnya, memudahkan hidup dan kehidupan. Tidak percaya? Buktikan sendiri.  Hanya saja, kalau sampai pada tingkat demikian, Sampeyan tidak memerlukan lagi membaca tulisan Ersis, apalagi Ersis Writing Theory.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 9 Oktober 2007.

  1. 6 Responses to “Menulis Bikin Gila”

  2. By kurt on Oct 10, 2007 | Reply

    Masya Allah lagi2 si Abang ini bikin saya tersentil lagi … terus bagaimana dengan istilah mematikan mental bang.. sebab ada2 saja hal2 yang membuat kita tergerus semangatnya…

  3. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Oct 10, 2007 | Reply

    Mantap banar, saya sangat sepakat. Tulis dan tulis maka jadilah tulisan.
    Bekali dengan membaca dan membaca, jangan lupa (menurut saya) harus cari motivator, Oke.?

  4. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Oct 10, 2007 | Reply

    Eh.. ketinggalan, nih. Saya bilan seperti itu, karena saya ada yang memotivasi lho.. EWA Sang Motivator..
    Makasih…

  5. By hanna on Oct 10, 2007 | Reply

    Untuk memotivasi penulis pemula, EWA jagonya.
    Keikhlasan hatinya, sungguh menggugah.
    Nasihat bijaknya membuat saya lebih dewasa.
    Didikkkannya luar biasa.

    EWA, rasa terima kasih saya kepada EWA sudah tidak dapat dirangkaikan dengan kata. Juga tidak bisa di tukarkan dengan benda. Jauh di lubuk hati saya, selalu ada doa untuk EWA sekeluarga.

    Satu keberuntungan bagi saya, bisa berteman dengan EWA.

  6. By kurt on Oct 11, 2007 | Reply

    @Ahmad Nur Irsan Finazli
    iya benar bang Ahmad,

    tulis dan tulis maka jadi tulisan
    pikir dan pikir maka jadi kepikiran
    niat dan niat maka jadi cuma niatan
    diam dan diam maka jadi pendiam
    nangis dan nangis maka jadi cengeng
    …stop!

    heheeh kok jadi keterusan ning Bang…
    apakah ini awal dari ciri “gila menulis”??? :)

  7. By unai on Oct 26, 2007 | Reply

    “Menulis menuangkan apa yang ada di pikiran dan atau terpikirkan. Jangan sampai dijerat memikirkan apa yang akan ditulis, tetapi … tulislah apa yang ada di pikiran”

    Duh enak sekali ya kedengarannya…dan itu betul sekali

    ***Apalagi kalau dipraktikkan, lebih enak (emang gudeg). Air liur jadi bergetar, lama ngak makan gudeg. Gimana kabar Jogja?

Post a Comment