Menulis Percaya Diri
8 October 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KASUS: Saya sudah menulis beberapa cerpen Pak. Hanya untuk dibaca sendiri. Saya tahu, karya saya jelek, dan semakin dibaca semakin minder. Duh, apa yang salah dengan saya? Mohon pencerahan Pak.
Seorang teman bloger lain menulis: Saya termasuk orang yang senang berimajinasi dan menjadikannya sebuah tulisan (cerita). Tapi saya merasa masih belum bisa mengeluarkannya dengan baik seperti halnya orang lain. Saya akan mencoba lagi. Mudah-mudahan suatu saat nanti bisa membuat kumpulan cerpen untuk diterbitkan, seperti bapak, he… he … Amien.
Two Bidadari in The Blog
PERCAYA DIRI. Apa pun yang ditulis kedua orang seperti dikutipkan, menandakan mereka orang hebat. Betapa tidak. Mereka menulis apa yang mau ditulis. Bandingkan dengan banyak orang yang berkeinginan menulis, namun terhenti sebagai angan-angan belaka. Yang terakhir, tentu susah memotivasinya.
Hebatnya pula mereka ‘sadar diri’. Setidaknya tidak sok hebat. Poin kedua ini tidak kalah positif, ‘merasa’ kurang. Bukankah orang yang merasa dirinya kurang dibalik semua itu sebenarnya terletak suatu tekad dan nilai lebih dalam kerangka belajar? Beda sekali dengan mereka yang selalu merasa hebat.
Lebih positif ketika mereka bertekad akan terus menulis. Artinya, dari poin pertama sampai ketiga, sudah lengkap syarat-syarat untuk menjadi penulis. Saya berani taruhan, tidak sulit ‘memoles’ orang-orang semacam ini.
Kalau ada yang menjadi ganjalan, mereka melakukan kebodohan yang tidak perlu. Apa itu? Menganggap tulisannya tidak bagus. Jangan-jangan kurang baca nich. Soalnya, menilai tulisannya kurang bagus berdasarkan kriteria apa dan bagaimana. Jelas memvonis alias ‘membantai’ karya sendiri.
Padahal, dalam menulis yang pertama dan utama adalah menulis itu sendiri. Kalau sudah ada tulisan, semuanya menjadi mudah. Ya, kalau kurang disana-sini justru bagus. Dengan demikian kita punya peluang memperbaiki. Dalam memperbaiki itu sebenarnya kita belajar sekaligus membiasakan menulis. Saya jadi bingung, apa sih yang dikeluhkan?
Sungguh, saya penasaran. Jangan-jangan mereka terlalu banyak membaca teori, dan atau, membaca buku yang hebat-hebat. Lalu, misalnya membandingkan dengan karya Victor Hugo atau Naguib Mahfuz. Celaka am.
Memang ada penulis yang begitu tulisannya dipublikasikan, langsung mendapat sambutan gegam-gempita pembaca. Tapi, berapa orang sih di dunia ini yang bernasib baik seperti itu. Kalau baru memula, kan wajar ada kekurangan disana-sini. Itu yang pertama.
Baru-baru seorang teman mengirimkan saya buku China Undercover karangan Chen Guidi dan Wu Chuntao. Kedua penulis China tersebut semula tidak menyangka karya mereka akan mendapat apresiasi begitu hebat, baik di China apalagi di luar China. Jutaan kopi laku keras.
Begitu juga sukses spektakular Ayat-Ayat Cinta Habiburrahman El Shirazy. Bahkan, kalau mau belajar dari yang sedehana, misal buku saya Menulis Sangat Mudah. Ketika saya minta baca beberapa orang (teman lagi), ih … mereka melengos. Nyatanya, cukup banyak yang mengambil manfaat dari buku yang tersebut.
Saya tak hendak membanding dengan karya El Sirazy yang begitu bagus atau Da Vinci Code Dan Brown yang kemudian menghela popularitas Angels and Diamond, Deception Point dan Digital Fortress. Tetapi, buku-buku laris yang menghentak tersebut membawa kandungan rahasia. Apa itu?
Ke luar dari pola umum. Bisa jadi kandungan, plot, tata tutur, atau apa begitu, tidak meniru gaya penulis yang sudah ada. Ada sesuatu yang baru dibanding buku-buku atau tulisan pendahulunya. Dengan kata lain, ada muatan inovatif. Wah kalau sama saja dengan genre terdahulu, ya kurang menariklah.
Kalau demikian, tidak bijak membanding karya dengan kaya-karya terahulu dalam arti mengumandangkan sesuatu yang baru. Seorang bijak berkata, setiap karya (tulisan) ada segmen pembaca sendiri. Jadi, buat apa takut?
Asal, ya asal, muatan logika tidak jungkar balik atau pun penyajian memenuhi standar dasar penulisan. Menvonis karya jelek, bak membuang pedang sebelum berperang. Karena itu, jangan pernah surut. Nikmati saja segala kekurangan untuk melahirkan tulisan lebih baik.
Percaya diri. Itulah kata kunci bagi penulis. Kalau sudah berani berkarya, tinggal imbuh dengan berani mempublish. Minimal, memperlihatkan kepada penulis yang ‘sudah jadi’. Insya Allah akan dimotivasi. Jangan meminta motivasi kepada ‘penulis’ (dalam tanda kutip) yang hanya pandai teori. Tetapi, mintalah kepada mereka yang betul-betul menulis.
Banyak kecelakaan terjadi ketika karya tulis sampai ke tangan mereka yang tidak biasa menulis. Sebab, mereka akan melihat kelemahan-kelemahan atau membanding-bandingkan dengan karya tingkat dunia. Edan opo.
Dus, persoalan penilaian suatu tulisan sangat berbeda dengan apa yang dihasilkan penulis (pemula). Akan lebih tidak positif manakala dibandingkan dengan karya-karya terbagus di dunia. Tidak cocok takarannya.
Anjuran saya, tulis saja apa yang hendak ditulis. Dulu, ketika kita lahir, tidak dilengkapi oleh Allah SWT dengan pakaian. Ketika kecil pakaian dikenakan orang tua, lalu dilatih memakainya, lalu merawatnya, lalu memilih, lalu mencari untuk mendapatkannya. Artinya, segala seuatu itu ada tingkatannya. Kenapa harus malu menjadi anak SMA saat kita duduk di bangku SMA.
Yang ingin saya tandaskan, mampu menuangkan apa yang ada di pikiran menjadi tulisan sudah merupakan sesuatu (tindakan) yang hebat. Dari 230 juta penduduk Indonesia berapa orang sih yang mampu membuat cerpen? Ini telah melahirkan karya, kog ngak percaya diri.
Prolem kepercayan diri harus dipulangkan kepada diri itu sendiri. Saya berpendapat, berkarya, sejelek apa pun, jauh lebih baik dari tidak berkarya. Kenapa?
Karena dengan berkarya kita berpeluang memperbaiki, dan atau, melahirkan karya berikutnya. Ingat, deret angka itu 1,2,3, 4 dan seterusnya. Begitu Sampeyan menelorkan karya pertama, peluang ke karya berikutnya sudah mengangga. Kata orang, memulai itu yang sulit.
Tepatnya, siapa saja yang telah menulis, padang lapang dunia karya sudah menanti. Tanami lapangan itu dengan rumput yang sesuai dan cocok dengan kebutuhan dan yang dibutuhkan orang. Ringkasnya, mari berkarya, karya yang dibutuhkan, dan selalu memperbaiki karya. Kalau belum berkarya, emang apanya yang mau diperbaiki.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 8 Oktober 2007.









10 Responses to “Menulis Percaya Diri”
By hanna on Oct 8, 2007 | Reply
Yup, mau menulis, tulis saja. Kita-kita ini sudah cukup pe de lagi. Buktinya, tulisan kita berani dipublish di blog.
Terima kasih, ya, pak. Akan di usahakan lebih pe de lagi, asal tidak over. Kalau over bisa bahaya, uey.
By Ahmad Nur Irsan Finzlai on Oct 8, 2007 | Reply
Sepakat PD aja lagi..
By hanna on Oct 8, 2007 | Reply
Eh, ada yang salah. Diusahakan bukan di usahakan, he he.
By mathematicse on Oct 8, 2007 | Reply
Pak, saya juga percaya diri nih menulis tentang “Menulis”
By fira on Oct 9, 2007 | Reply
Ass,hehehe tuh kan asal ada niat aja pasti terlaksana.Yup menulis ajalah dulu gak usah mikir ini itu setelah jadi tulisan kita akan tercengang sendiri dengan apa yang telah kita lakukan still believe aja deh…yang lain mah urusan nanti.Oke pak saya juga gak mau nengok kebelakang lagi ah maju terus dan belajar terus Insya Allah kita mampu..tul kan pak.Wasalam.
By mathematicse on Oct 9, 2007 | Reply
Kasus saya: Pak, saya sudah menulis “cerpen-cerpenan”. Tapi, apakah “cerpen-cerpenan” saya itu sudah bisa disebut cerpen beneran?
Apakah saya terlalu PD langsung mempubliskannya di blog?
Mohon maaf lahir bathin. Bila ada salah ucap, sepenuhnya saya mohon maaf. Bila ada perbuatan yang kurang berkenan, setulusnya saya minta maaf.
Selamat berlebaran? Selamat hari besar umat Islam, Idul Fitri.
Btw, bapak mudik engga?
By Badiyo on Oct 9, 2007 | Reply
Terima kasih pak, saya jadi ikut kecipratan ilmu yang sangat bermanfaat bagi saya sebagai seorang yang sedang belajar menulis.
By unai on Oct 10, 2007 | Reply
Maturnuwun sanget pencerahannya pak…
Besok saya mudik nih ke sumatra…tapi ada titipan buat bapak, yang saya kirim lewat kakak saya di banjarmasin, Pak Wachid. Semoga berkenan
By Ilma on Nov 7, 2007 | Reply
Hahaha..sederhana tapi tokcer ya Pak Ersis :).
Thanks Pak.
***He he .. Sampeyan itu hebat. Saya kagum. Blognya banyak membuka wawasan. Saya suka bertandang, lho
By Gadis Cantik on Jan 5, 2008 | Reply
Ya… lebih baik nulis dari diri sendiri, daripada meniru…
***Ya ya ya … sip