Menatap Matahari: Kumpulan Cerpen
3 October 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Menulis cerpen, seperti juga menulis artikel atau puisi, tidaklah sulit bilamana dimaui. Saya melakukan ekspreimen besar-besaran. Eksperimen? Ya.
Begini ceritanya. Suatu kali anak saya, Antragama EWA Abbas, pelajar SMPN I Banjarbaru mohon minta jangan diganggu. “Pak”, katanya, “Antra mau menulis cerpen”. Ya, sudah. Dia masuk kamar. Saya gembira saja, soalnya kerjanya hari-hari berselancar di internet. Mencari bahan tugas sekolah, katanya.
Sedari SD sudah ditanamkan, membaca atau menulis, lakukan kapan saja dan bila mau. Jangan sampai, waktu, kondisi, susana, dan tetek bengek lainnya menjadi belenggu. Membaca dan menulis jangan membeban, tidak membelenggu. Senangkan pikiran, gembirakan hati, manjakan imajinasi ketika menulis. Enjoy aja.
Katanya —mungkin kata gurunya— harus mempersiapkan diri, menunggu mood, mempelajari sedalam-dalamnya apa yang akan ditulis, dan … jangan lupa pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya tekankan, untuk mencapai syarat tersebut, bisa jadi sampai berjanggut dan uban menguasai kepala. Jadi, kapan (belajar) menulisnya?
Kini dia menulis sesuai dirinya, ala anak SMP. Kalau kuliah ya setingkat orang kuliah, dan … nantinya mengalahkan Bapak. Pokonya tulis. Jangan sampai terjerumus ‘menbantai’ karya orang dengan melihat kelemahan-kelemahan. Kalau ada guru atau siapa saja yang mengarahkan demikian, segera tinggalkan. Kalau tidak, nanti jadi orang yang kerjanya mencela karya orang, sampai mati. Plus, tidak melahirkan karya apa pun.
Buku Mahasiswa
Sekalipun sharing menulis dengan puluhan mahasiswa, Suciati dan Syamsuwal Qomar saya proyeksikan langsung menulis buku. Alhamdulillah, siap cetak. Kini lebih seratusan mahasiswa di berbagai tempat sedang mengalami proses demikian.
Untuk umum, sebenarnya memproyeksikan Rahmadona Fitra sebagai penulis buku. Dia sarjana psikologi dan nulisnya bagus. Latihan Dona sedikit ringan dan kini puluhan tulisan siap diolah setelah dimuat media cetak. Pada jajaran ini ada Irzan Finazli. Al Jupri dan Swali T. nampaknya bergabung. Bahan-bahannya kini tengah dikumpul. Proyeksi untuk tahun 2008.
Dalam pada itu ada dua orang wanita nekad, Hanna Fransisca dan Magfira Mimi. Keduanya memulai dengan menulis cerpen. Ada potensi dan kekuatan dahsyat terpendam. Perlu dilatih memang, tetapi saya berpendapat, terbitkan buku, dan dari kekurangan nanti belajar untuk lebih baik. Kalau membuat buku pertama langsung sempurna, ya jarang orang yang mampu melakukan.
Yang mengecewakan, ketika sudah didisain, tinggal beberapa cerpen lagi, Hanna bilang: Belum berani. Kecuali kalau karya bersama. Nah, lho. Saya tidak mau menyia-nyiakan rencana. Apalagi, disamping semangat dan potensi, mereka punya bakat (…) he … he …
Jadi, saya comot saja apa yang sudah ada dan dijadikan kumpulan cerpen bersama. Ya itu tadi, Menatap Matahari. Besok saya krim contoh bukunya. Kalau mereka OK, segera dikirim ke percetakan.
Nah, itu sebagian eksperimen yang sedang saya jalankan. Membiasakan dan memasihkan menulis. Untuk itu tidak diperlukan kualifikasi sarjana, apalagi embel-embel ekonomi, etnik, umur, pengalamanan dan seterusnya. Asal mau dan bertekat menuls, Insya Allah bisa.
Landasan semua itu adalah, Menulis Sangat Mudah. Setiap hari, setiap otak melakukan kerjanya sebenarna proses menulis sedang terjadi.
Apalagi, proses itu adalah kehidupan itu sendiri. Artinya, Ersis Writing Theory bertumpu pada patokan kuat, menulis menuangkan apa yang ada di pikiran. Karena itu, jangan pernah memikirkan apa yang akan ditulis, tetapi … tulis apa yang ada di pikiran.
Ya, hasilnya jadi lain, karya tulis. Tambahan pula, semakin ‘bodoh’ —dalam arti belum pernah menulis— lebih memungkinkan untuk menjadi penulis sukses. Tapi, kalau sudah terdistrosi teori konvensional menulis, ya orang pintar seberapapun akan susah menjadi penulis. Belenggu-belengghu pagutannya terlalu berat.
Jadi, bagi siapa yang ingin memanfaatkan EWT, menulis akan menjadi perkara sangat mudah. Yang mudah kog disulit-sulitkan. Aya-aya wae.
Bagaimana menurut Sampeyan?










17 Responses to “Menatap Matahari: Kumpulan Cerpen”
By fira on Oct 3, 2007 | Reply
Ass,wah jadi tersanjung nih pak…ini rupanya eksperimen bapak saya hanya bisa bilang apa lagi nih pak selain oke dan oke plus terimakasih atas perhatian bapak pada tulisan-tulisan saya yang belum bisa di sebut cerpen saya hanya mengikuti kata hati menulis menuangkannya dalam bentuk tulisan entah apa itu namanya yah hanya ada niat dan menyalurkan karena virus bapak gak hilang-hilang dari otak saya ini hehehe.Skali lagi terimakasih banyak pak saya senang mimpi apa semalam nih…(pak menyenangkan orang adalah pahala juga ya kan?).Wassalam.
By mathematicse on Oct 3, 2007 | Reply
Bikin semangat nih…
By hanna on Oct 4, 2007 | Reply
Makasih ya, pak.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Oct 4, 2007 | Reply
Untuk umum, sebenarnya memproyeksikan Rahmadona Fitra sebagai penulis buku. Dia sarjana psikologi dan nulisnya bagus. Latihan Dona sedikit ringan dan kini puluhan tulisan siap diolah setelah dimuat media cetak. Pada jajaran ini ada Irzan Finazli. Al Jupri dan Swali T. nampaknya bergabung. Bahan-bahannya kini tengah dikumpul. Proyeksi untuk tahun 2008.
Alhamdulillah… Mantap banar… Sepakat… dan Luar biasa… Allahu Akbar…
Mungkin ini salah satu buah dari menulis, yang diberikan ALLAH SWT agar kita tetap mau membaca dan menulis, Amin.
By sawali tuhusetya on Oct 4, 2007 | Reply
Kerja yang luar biasa, pak Ersis. Tidak egois, hehehehe
Tidak cukup untuk eksis bagi Pak Ersis sendiri, tapi juga mengeksiskan orang lain. Wah, ide yang luar biasa dan layak diapresiasi. Jadi tambah semangat nulis, nih.
By sQ on Oct 5, 2007 | Reply
terima kasih banyak atas apresiasinya pak, terutama perhatian terhadap kawan-kawan di kampus yang suka menulis.
terus terang juga saya masih harus belajar banyak dari hal ini. Sering ditemui bahasa yang terlampau kasar dan tidak jelas maknanya. tapi disadari, menjadi lebih baik jelas perlu proses dan untuk mencapainya, terus menulis sudah pasti.
By meiy on Oct 5, 2007 | Reply
senang membacanya pak, bikin semangat. semoga saya dapat giliran juga
By icha on Oct 6, 2007 | Reply
Top Markotop degh …
btw …lam kenal yah pak
By unai on Oct 6, 2007 | Reply
saya sudah menulis beberapa cerpen pak, hanya saya baca dan kumpulin sendiri. Tau kalau karya saya jelek dan sayapun semakin banyak membaca semakin minder. Duh ada yang salah sama saya. Suatu saat saya ingn tulisan saya dibukukan. MOhon pencerahan pak…gimana proses pencapaiannya
By Dewi Indah on Oct 6, 2007 | Reply
Saya termasuk orang yang senang berimajinasi dan menjadikannya sebuah tulisan(cerita),tapi saya merasa masih belum bisa mengeluarkan unek-unek saya dengan baik seperti halnya karya orang lain. Saya akan mencoba lagi,mudah-mudahan suatu saat nanti bisa buat kumpulan cerpen yang diterbitkan,seperti bapak,he…!Amien.
By ogi fajar nuzuli on Oct 7, 2007 | Reply
Jadi pengen nulis cerpen juga nich…..
By Rahmadona Fitria on Oct 8, 2007 | Reply
Assalamualaikum. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau saya sekarang tergabung dan berada dilingkungan komunitas penulis dan dibimbing langsung oleh seorang penulis senior terkenal diBanua yang produktif dalam aktivitas menulis dan aktif memotivasi untuk gemar menulis. Yang dulu menurut saya adalah kesempatan langka, tidak semua orang dengan mudah mendapatkannya. Hal ini berujung pada rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah SWT, yang telah memudahkan dan memilihkan jalan ini untuk saya sebagai hambaNya
By da3nk limpo on Oct 16, 2007 | Reply
menulis menuangkan apa yang ada di pikiran. Karena itu, jangan pernah memikirkan apa yang akan ditulis, tetapi … tulis apa yang ada di pikiran.
@da3nklimpo
benar bang Ersis, kalau saya memikirkan apa yang akan saya tulis malah gak bisa nulis. Tapi kalau saya menuliskan apa yang ada dipikiran saya memang agak mudah walaupun saya harus menyusunnya kembali. Senang sekali dapat kesasar ke blog abang nih. Salam
***Mas Daeng, Insya Allah, Sampeyan sudah memagut hidayah menulis. Tulis, tulis, dan terus tulis apa yang ada dipikiran, ntar lebig mudah menulis. Selamat, dan mohon maaf lahir batin.
By echa on Jan 15, 2008 | Reply
saya punya banyak cerpen dan puisi
tapi saya ndaka tahu gimana cara nerbitinnya???
***Punya blog ngak? Saya mau liat.
By vie citra aerynz on Apr 21, 2008 | Reply
gimana cara karya kita dapat di baca semua orang?
***Kan dah di tulis di banyak bagian blog ini … cari please
By vie citra aerynz on Apr 21, 2008 | Reply
gimana juga supaya kita bisa terus bisa menulis,padahal bidang yang sekarang kita jalani bertolak belakang dengan menulis,saya sekolah di jurusan kesehatan..please kasih tao solusinya dunkz…dilema ney
***Malah bagus … orang yang ahli di bidangnya justru takut menulis bidangnya he he
By vie citra aerynz on Apr 21, 2008 | Reply
bpk emang sosok yang pantas banggain dwehh..karya bapak emang top banget..pengen deh suatu hari nanti seperti bpk.
***be yourself