Surat dari ‘Rumah’ Paus Sastra Jakarta
2 October 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Saya merasa berdosa kepada Bapak Slamet Rahardjo Rais. Beberapa kali Beliau mengirim surat, tidak pernah dibalas. Apakah bercerita tentang ‘kondisi’ Masyarakat Sastra Jakarta, di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, memberikan informasi kesastraan, atau hal-hal lain yang menyentuh.
Surat terakhir, tertanggal 21 September 2007, sungguh menggugah. Pak Slamet Rahardjo bicara tentang puasa lengkap dengan salam doa untuk keluarga, teman-teman, dan seterusnya. Perasaan berdosa semakin menjadi-jadi. Tapi, belum mampu melawan tabiat buruk, malas menulis surat. Yah sudah, menulis di blog saja. Toh, nanti Beliau membaca.
Ada beberapa hal yang membuat anggau ‘berhubungan’ intens. Saya bukan seniman. Hanya, pencandu sastra. Dalam pada itu, faktanya menerbitkan beberapa buku atau membidani penerbitan karya sastra. Entah kenapa, tidak suka mendengar sastrawan —teman-teman saya— mengeluh kesulitan menerbitkan karya. Sekalipun bukan orang kaya, mengusahakan sebisanya.
Nah, di akhir surat Beliau: Eh, puisi-puisi religiositas Anda sering saya sorongkan kepada Panitia Lomba Baca Puisi maupun sebagai materi lomba musikalisasi puisi antar pelajar/remaja yang diselenggarakan institusi di lingkungan Pemda Provinsi Jakarta. Memang bagus dalam usaha memahami dan menggali Asmaul Husna.
Menulis Buku
Ya, tentu Pak Slamet Rahardjo bukan sekonyong-konyong ‘mendapatkan’ karena saya mengirim beberapa buku sastra-sastraan (ingat: sastra-sastraan). Beliau senang. Menambah kasanah Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Jakarta. Kalau tidak pernah menulis karya (sastra-sastraan), bagaimana mau mengirimkannya. Iya, kalo?
Begitu buku Surat Buat Kekasih dan lainnya terbit banyak hal aneh yang datang. Asrizal Nur, penyair beken itu, berkehendak memenataskan saya baca puisi religius di TIM. Tentu, ditolak. Begitu juga undangan lainnya. Satu-satunya yang dilakukan, meminta teman-teman dari berbagai daerah mengirimkan karya lalu dibukukan. Saya keberatan ketika ‘Urang Kampuang’ menggolongkan ke seniman. Saya bukan sastrawan, tidak pula seniman. Pencandu sastra, yes. Titik.
Pesan yang ingin disampaikan, setelah membaca banyak puisi, cerpen, dan esai sastra di banyak blog, saya kepincut. Bagi saya, jarak pemisah antara ‘sastrawan’ dengan ‘sastrawan internet’ tidak ada. Patokan saya hanya karya. Soal disoal jelek atau bagus itu kan kerjaan orang yang menyoal. Prinsip saya, tidak usah bersoal sebab soal tidak menyelesaikan soal. Karya membungkam semua itu. Mari berkarya, menulis, menulis, dan menulis.
Pendek kata, saya mulai mengunduh beberapa karya ‘sastra internet’, membaca dan memilih-milah. Kira-kira, bagaimana kalau dibukukan? Kalau ada yang tertarik, silahkan kirim ke ersis_wa@yahoo.com atau www.webersis.com. Minimal supaya saya lebih sering dihubungi Puat Dkumentasi Sastar HB Jassin he … he …
Bagaimana menurut Sampeyan?









7 Responses to “Surat dari ‘Rumah’ Paus Sastra Jakarta”
By mathematicse on Oct 2, 2007 | Reply
Waduh puisi ya?
Bisa engga ya saya bikin? Kok rasanya, pikiran ini kelu kalau mau nulis puisi. Apa karena saya tak romantis? Tak mampu merangkai kata yang mengungkap rasa hati? Entahlah. Saya tak tahu. Rasanya saya tak sanggup menuangkan kata-kata indah memikat hati. Atau gara- gara terlalu kaku menggunakan bahasa? Entah juga tuh…
Ah, sebagai langkah awal mah, saya baca-baca puisi-puisi punya orang saja ah… Siapa tahu nanti virus kata-kata indah itu akan menulari saya. Dan saya bisa menulis puisi.
Tapi, dua pargraf komenatar saya tadi, ini menunjukkan kepesimisan saya.
Padahal harusnya optimis ya? Formula ajaibnya saya tahu…, ya tingggal tulis-tulis dan tulis. Perkara bagus tidaknya itu nomor ke sekian. Hahahaha… (dasar ya saya ini. Udah tahu, tapi ga mau ngelakuin. Ya ga bakal jadi-jadi puisinya!)
By SQ on Oct 2, 2007 | Reply
setuju pak, sekarang saya juga gak mau repot. Yang penting nulis, tapi kayaknya mesti satu-satu dulu..he..he
By unai on Oct 2, 2007 | Reply
saya juga mencoba menulis puisi pak, tapi kok belum bisa nulis puisi yang religius gitu yaaa..harus banyak membaca lagi. MOnggo pak, mampir ke blog puisi saya…http://myrealsolitude.blogspot.com
By hanna on Oct 2, 2007 | Reply
Mau nulis , nulis aja.Mau menulis kok di bikin susah,he he he.
By fira on Oct 3, 2007 | Reply
Ass,lihat dan rasakan lalu tuliskan seperti itulah awalnya,tapi kalau cuma lihat dan merasakan doang gak ditulis ya mana bisa…pokoke judulnya ya tulis ajalah…ya gak pak.Wslm.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Oct 4, 2007 | Reply
IDem…
By sawali tuhusetya on Oct 4, 2007 | Reply
Pencandu sastra, idiom yang rendah hati. Pak Ersis yang sudah menulis nejibun puisi, cerpen, dan esai, malah nggak mau dibaptis sebagai sastrawan atawa seniman. Padahal, mereka yang baru satu dua puisi dimuat di koran aja sudah ngebet pingin disebut sastrawan. Benar-benar kontradiktif, nih!
*Kalau undangan ke TIM ditolak, lemparkan saja ke saya, Pak, hehehe*