Dosen Koran Dosen Buku

1 October 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas*

TULISAN Daud Pamungkas Dosen Koran (Radar Banjarmasin) nampaknya lebih menarik di ‘belakang koran’ dibanding di koran. Tanggapan lebih ramai dibicarakan dalam betuk rasan-rasanan. Inilah penyakit bawaan banyak orang. Menelepon, SMS, me-email, dan tentu saja mengutarakan pendapat dan analisis yang tajam-tajam. Menulis? Ya, kenapa tidak. Tanya kenapa?

Lebih celaka, ada yang memprovakasi, ditujukan buat Sampeyan (Ersis) agar menulis. Apa sih hebatnya tema tersebut? Tidak ada yang baru. Paling-paling analisis Daud, menulis di koran berkonotasi negatif. Dan, … kalau itu benar, bisa jadi pihak koran tersinggung dan bisa berbuntut panjang, lho.

Bagi saya menulis di koran sangat positif. Bisa mengemukakan pendapat, memberi masukan, membuat buku, dan seterusnya. Tulisan ini saya tulis dengan alasan sederhana. Banyak orang yang bertanya, kenapa tidak menulis lagi (di koran)?

Menulis Buku
Belakangan sibuk menulis buku dan memelihara blog, www.webersis.com. Semua itu, justru dipacu karena menulis di koran. Ambil buku Menulis Sangat Mudah (Gama Media, 2007). Cetakan kedua nampaknya habis dan sedang proses cetakan ketiga. Tentang menulis sedang diproses cetak Menulis Mari Menulis, Menulis dengan Gembira, dan satu buku yang sedang diselesaikan. Bulan Ramadhan ini, buku Hidup Nyaman mendekati penyelesaian akhir. Dari mana pemicunya?

Ya, tulisan di koran. Buku Menulis Sangat Mudah yang digandrungi banyak orang di penjuru tanah Air merupakan kumpulan tulisan di HU Radar Banjarmasin. Dus, menulis di koran sangat positif. Terima kasih Radar Banjarmasin. Dengan kata lain, menulis buku merupakan elaborasi menulis di koran.

Mengkritik Fakultas
Ya, terkadang tulisan saya bermuatan kritik. Misalnya tentang FKIP Unlam. WC FKIP kotor. Kalau tidak percaya buktikan saja sendiri. Belakangan kepada dekan FKIP Unlam, Acmad Sofyan bilang: Pak tolong buatkan WC baru untuk mahasiswa. Rasionya tidak logis. Di FKIP (baru) ada 4.000 mahasiswa, WC untuk mahasiswa hanya 2 (dua).

Yap, kata Pak Dekan, dalam waktu dekat akan dibuat (diaktifkan) 12 WC. Baguskan? Bukan untuk saya kog, untuk mahasiswa. Begitu juga tentang IT. Bersama teman-teman kami datangi: Pak apa sih susahnya memberi layanan internet gratis? Lalu dipasang speedy yang Rp1,5 jutaan. Mudah-mudahan bulan depan menjadi unlimited.

Begitu juga komputer, kami minta 10 unit, sekalipun baru dibelikan 5 unit. Alhamdulillah. Mahasiswa harus paham, semua itu untuk mahasiswa. Mereka yang membayar (plus dosen dan karyawan).
Perhitungan kami sederhana saja. Ada 500 mahasiswa mandiri masuk FKIP tahun ini (2007) membayar uang pengembangan Rp3.000,000,00 (baca tiga juta). Uang kuliah Rp1,150 juta per semester. PT swasta saja kalah banyak bayarannya dibanding FKIP Unlam.

Kalau fakultas menganggarkan untuk pengembangan IT Rp300 juta, wah luar biasa. FKIP fakultas kaya, kog. Jalur mandiri sudah beberapa tahun. Akan lebih bangga kalau Senat Fakultas, merencanakan akan diapakan uang sebanyak itu. Kepada M. Zainal Anis diutarakan, Sampeyan wakil dosen di Senat Fakultas. Tolong bicarakan, rencanakan. Transparan. Tahun ini fakultas punya rencana ini-itu, program ini-itu.

Memang, dulu pernah disidang Senat Fakultas yang membuat panitia adhock segala untuk membahas tulisan saya. WC, IT, meja kursi dosen —aneh di FKIP kog tidak ada, wong guru SD saja punya. Mungkin, menyuarakan kebenaran tersebut yang dianggap berisiko. Yah, sudah.

Apalagi, Pak Dekan sepaham saja. Senat Fakultas memang perlu merencanakan sebaik mungkin, lalu memberi tahu sivitas akademika, dikawal bersama-sama, pancangkan tranparansi. Audit. Kalau terbuka, semuanya jadi enak. Tidak ada orang yang takut transparan kalau berjalan di jalan yang lurus. Pak Dekan yang menjanjikan transparansi sebelum dilantik. Tinggal menagih saja lagi. Apa susahnya.

Harapan Harap
Di atas semua itu, khususnya FKIP Unlam, kalau tranparansi dan sikap auditif berkelangsungan, apanya yang mau dikritik. Wong program untuk kebaikan semua kog. Tapi, kalau untuk WC dan fasilitas olah raga saja dibiarkan sejak berdiri sampai kiamat tidak terbenahi, ya apa itu baik?
Lagi pula, melalui komunitas EWA’MCo. ada seratusan lebih orang bergabung, terutama anak-anak muda (mahasiswa) dari berbagai PT dan institusi. Saya lebih tertarik sharing menulis dengan anak-anak muda itu. Targetnya?

Kalau kalian jadi guru, apalagi dosen, jangan seperti Ersis. Menulis saja payah, kurang bermutu. Sudah setua ini masih dalam taraf belajar. Dulu, bertekad tidak akan naik pangkat ke golongan IV kalau belum menulis (membidani) 20 buku. Setelah terpenuhi baru mengajukan naik pangkat. Kan malu, kalau ditugaskan memeriksa tulisan dosen di koran, di jurnal, buku, tidak piawai melakukannya. He … he … Supan.

Oh ya, seorang teman mencandai: kenapa tidak mengambil program Doktoral. Ya, dalam tahap pendaftaran. Hanya saja, tidak akan menjadi Doktor kalau belum menulis 40 buku. Tidak Doktor gak patekan kog (ini alasan orang tidak mampu he … he …)

Setidaknya, ikut sedikit barang mempopulerkan Unlam, jangan sampai lagi ada yang ‘melecehkan’: Pak Ersis, Bapak di Universitas Lampung ya. Dasar. Unlam itu Universitas Lambung Mangkurat, di Banjarmasin-Banjarbaru, tau. Padahal mereka bertanya dengan baik sehabis membaca buku saya.

Yah, masyak sih berniat, mimpi saja disoal. Mana tahu jadi kenyataan. Selamat Ramdhan, mohon maaf lahir batin. Dosen koran, dosen buku.
Bagaimana menurut Sampeyan?

*Ersis Warmansyah Abbas, petambak ikan.

  1. 11 Responses to “Dosen Koran Dosen Buku”

  2. By Willy Ediyanto on Oct 1, 2007 | Reply

    Tulisan hangat, komentar hangat. Gimana hasil tambaknya. Nih menjelang hari raya, sudah layak dipanen belum. Kan tentunya banyak yang cari ikan, karena mau beli daging sapi takut PMK dan Anthrax.
    Nulis di koran, ya sekedar mengumpulkan tulisan untuk nantinya dibukukan. Sebulan sekali menulis saja, dua tahun sudah layak jadi buku. Bukan begitu, Bang?
    Kritik selama tidak merendahkan, selama itu berdampak positif tentu bermanfaat.
    Masalahnya mungkin masih banyak yang antikritik, alergikritik. Nah yang seperti ini harus banyak dikritik biar lebih bertanggungjawab. Seperti anggota dewan sekarang banyak yang bebal ya. Lha di koran hari ini diberitakan sidang dewan hanya dihadiri sedikit anggotanya. Sibuk cari kerja sampingan kali ya?
    met berpuasa untuk semuanya.

    ***Ha… ha … Kepada Bambang S, ketika dia ke kantor Radar Banjarmasin saya bilang: Pak Menteri, sekali saja ya menjadi Mendiknas. Lebih baik jago keuangan mengurusi keuangan negara yang morat marid. Di depan Rektor, Guburnur, dan Kadinas Pendidikan Kalsel. Mereka diam saja he he. Mendiknas membalas: Tuh dosen kayak Sampeyan ini kan yang mendidik guru? Jadi kalau kualitas guru payah, salah Sampeyan. Kini, Pak Gubernur sering meledek: Wui disariki (dimarahi) Mendiknas. Ha … mana peduli saya. Yap, trus menulis. Ngak percaya tanya Erwin DN, ketika itu dia GM dan Pemred Radar Banjarmasin.

  3. By unai on Oct 1, 2007 | Reply

    Ambil Program Doktor di tempat saya kerja aja Pak.hehe promosi nih..

    ***Wah menarik juga. Tapi, saya lagi dalam proses mendaftar di luar nich.

  4. By warmorning on Oct 1, 2007 | Reply

    sampeyan itu masih suka merendah aja pak, asal jangan merendahkan diri meninggikan mutu :)
    terusin saja pak Doktor dan nulis di korannya, terutama untuk kebaikan Unlam yg *ternyata* masih ada yg mengira ada di LAmpung

    *** Begitulah, kasihan kami. Begitulah nasib kampus kurang populer, tapi … Ersis kan cukup populer he he

  5. By Ma'ruful kahri on Oct 1, 2007 | Reply

    Ass. Ww. Bang EWA. Terus berjuang menyuarakan kiat-kiat khusus sebagai sebuah (TIPs)demi kemajuan FKIP Unlam. Mari kita belajar terus terang dan terang terus. di Penghujung bulan Ramadhan ini, kami sekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir dan bathin. Ok. Thanks.

    ***Sama-sama. Mudah-mudahan setelah jadi Doktor, bukan Doktor mandul he he … Buat teman-teman, Si Makru’pul ini teman akrab saya yang saya dorong-dorong jadi Doktor. Mudahanaselamat, dia tabah kog.

  6. By mathematicse on Oct 1, 2007 | Reply

    Wah bagus Pak! Saya setuju kritikan-kritikan itu perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan (khususnya pelayanan).

    Saya sendiri ingin mengkritik (institusi saya), namun belum sanggup menyuarakannya. Bukan tidak berani! Tapi perlu strategi. Maklum masih anak kemarin sore, yang belum tahu apa-apa. Melihat kemampuan diri masih belum memadai. (Belum kuat….).

    Tentang menulis koran dan menulis buku, waduh saya juga mau jadi penulis, Menjadi penulis adalah cita-cita saya sejak kecil (sekarang lagi belajar merintisnya nih…). :D

    Ya sudah segitu dulu komentarnya, selamat berpuasa, mohon maaf lahir bathin. :D

    ***Sip, ciri saya ya itu, yang pentingkan Sampaikan. Sampeyan lebih beruntung, saya kenal petinggi-petinggi UPI. Sewaktu kuliah di IKIP Bandung (UPI) saya diminta bikin suplemen Lustrum VII IKIP Bandung. Asyikk … dibayar Rp10 juta. Beasiswa S2 ketika itu Rp100 ribu. Wah UPI itu majunya seperti roket. Ngak usah segan, hajar saja. Banyak orang waras lho, kalau ngritik petinggi di Kalsel, kadang saya dibayar lho. Orang saja yang tidak tahu.

  7. By hanna on Oct 1, 2007 | Reply

    Baca2 dulu ya, no comnet.

  8. By syaharuddin on Oct 2, 2007 | Reply

    bagi saya menulis di koran merupakan sebuah keharusan, baik di kolam opini maupun surat pembaca. Melalui tulisan itu, maka kita dapat mengungkapkan berbagai unek-unek baik yang sifatnya kritik (kepada penguasa atau pejabat –decission maker–)maupun informasi ilmu pengetahuan apa saja. Ya saling membagi ilmulah. Tapi memang apa yang dikatakan Daud di penghujung tulisannya itu perlu juga diwaspadai. Sebab, kata orang “tajamnya pisau tidak setajam lidah”. Oleh itu, maka bahasa yang kita sampaikan itu setidaknya bahasa tersirat, agar tidak menyinggung peraasaan orang lain. Tapi kalau sudah terlalu ya tersurat juga gak apa-apalah….selamat berpuasa mohon maaf lahir dan bathin semoga Ramadhan ini dapat memberikan pengaruh yang cukup berarti dalam hidup kita pada 11 bulan ke depan..amin

  9. By Yari NK on Oct 3, 2007 | Reply

    Huahahaha…. 2 WC untuk 4000 mahasiswa? Nggak kebayang kalo pada banyak yang mules! Kebayang joroknya kayak gimana! :mrgreen:

  10. By SQ on Oct 3, 2007 | Reply

    kan lumayan pak, sejak pertama kali kuliah di FKIP, teman-teman lebih suka pipis di tempat lain, (maksudnya di wc lain) sekarang sejak pa sofyan jadi dekan, bagus bila sudah aktif 12 wc. Meskipun saya udah jarang ke kampus, h3w

    begitu juga dengan internet, waktu ngomong-ngomong dengan pak Daud, katanya alumnus boleh pake. Berarti kita-kita boleh donk mampir gratisan kalo mau (dasar watak gratisan, h3w). Terobosan yang bagus buat FKIP, meskipun banyak juga yang mengkritik, “kenapa baru aja ? harusnya dari dulu-dulu, FKIP tu udah ketinggalan jauh”

    kalo kita ngomong tentang keburukan sesuatu, kayaknya gak ada habis-habisnya ya? saya setuju, lebih baik memperbaiki yang ada dan mengejar ketertinggalan, apalagi bila ada pendidikan internet, saya jadi bisa banyak belajar mengelola web ? juga teman-teman yang lain pasti.

  11. By yunizar on Oct 3, 2007 | Reply

    Selamat Berpuasa, semua nya ..

  12. By Udo on Nov 20, 2007 | Reply

    saya jadi ikut tertawa nih, pak.

    saya punya cerita juga. waktu masih mahasiswa dulu, saya pernah ke semarang, jawa tengah.

    ada yang nanya dari mana.

    saya jawab, “dari unila.”

    “universitas islam lampung?” tanyanya lagi.

    oalah, saya tertawa kecut dibuatnya.

    unila itu universitas lampung, almamater saya.

    unila memang sering ketukar dengan unlam.

    (ah, itu kan bukan karena unila yang nggak ngetop. tapi, orang itu aja yang nggak gaul.)

    ***Ha ha … hidup ini banyak menyimpan lucu yang beramnafaat

Post a Comment