Ikhlas Meraih Nilai Tambah (1.10)

27 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MEMPRAKTIKAN IKHLAS. Saudara-saudara sekalian. Pada contoh terdahulu, sengaja digambarkan dengan memahami dalam kontek manusia, kandungan kebahagiaan pada dan di dalam diri sendiri. Sebagai makhluk yang mengerti, tentu akan lebih bermakna manakala kesemua itu kita sandarkan hanya pada Allah SWT semata.
 
Harap dicatat, kalau landasannya hanya kemanusiaan, sama saja dengan apa dilakukan siapa pun di muka bumi ini. Bedanya, sebagai Muslim, kita mendapatkan value added amal ibadah ikhlas, apabila hanya karena Allah SWT. Pemikiran, perbuatan, dan aktivitas menjadi lebih bermakna karena sandarkan Allah SWT semata.
 
Jadi, keikhlasan dalam berbuat adalah hanya karena Allah SWT. Tentu saja, dimulai dari niat, dilakukan dengan jujur hati, dimaknai sebagai aplikasi perintah Allah. Dalam buku-buku Iman Ghazali, banyak ditulis perbuatan-perbuatan sedemikian akan mendekatkan kita pada Sang Pencipta. Intinya, berbuat sesuatu, apa pun bentuknya, hanya karena Allah.
 
Hanya saja terkadang kita abai memaknainya. Kuncinya barangkali yang tidak pernah dipakai atau  disadari. Betapa tidak. Kita melakukan ‘kebaikan’ dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Ketika menghidupkan mesin mobil berangkat kerja lalu menyetir dan sampai di kantor menunaikan tugas keduniaan bukankah sebenarnya kita melakukan perintah Allah SWT. Lalu, kenapa tidak kesemua gerak kehidupan kita landaskan kepada melakukan amar-Nya? Kenapa, hayo?
 
Sering kita lupa, tugas ya tugas, kewajiban ya kewajiban, tanggung jawab ya tanggung jawab, yang kita lakukan berdasarkan pemahaman sesuai kesepakan sesama manusia. Padahal ada yang lebih mulia yang dapat menuntun sekaligus melakukan kewajiban kepada Sang Mahakuasa, yaitu niat tulus, ikhlas, hanya karena Allah SWT. Melakukan apa saja dimulai karena Allah SWT.
 
Artinya, kita ‘memotong’ mata rangkai awal melakukan sesuatu hanya karena harus melakukan. Pasti sudah, melakukan sesuatu dengan ikhlas berakibat positif bagi diri sendiri, bagi yang terkena perlakuan, bagi solidaritas, bagi kemanusiaan, bagi hubungan manusia, tetapi ada yang tertinggal.

Jujur saja, bukan maksud menggurui. Saya sadar, sebagai manusia tidak steril dari riya, belum lagi hidup dan berkehidupan hanya demi Allah. Tetapi, saat ini sedang mabuk membaca buku-buku menggugah tentang kehidupan Muslim. Ada yang mengeliat, ada yang protes dalam diri, ‘kelakuan’ selama ini, masih jauh dari ridho Allah. Introspeksi adalah tancapannya, bermimpi hidup dan berkehidupan ideal adalah cita-cita maknawinya, dan menyebar secuil pemahaman yang terlambat mungkin tidaklah salah. Ringkasnya, sekalipun masih dalam tataran mencari pemahaman hakiki tidak ada salahnya dinikmati para ikhwan.

Setidaknya, dalam melakukan apa saja kita memulai kepada ridho Allah SWT. Tidak penting sedikit atau banyak. Dengan memulai Insya Allah semakin hari semakin menggunung dan muaranya kita ‘bersatu’ dengan yang dititahkan Sang Mahapemberi. Kita belajar sembari melakukan dari waktu ke waktu.

Iklhas berbuat, bertingkah laku, berperan, dan apa  saja dengan niat ikhlas, melakukan ikhlas, berlandaskan kuasa Mahapengasih adalah tujuan. Visi kehidupan kita menuju kepastian sesungguhnya, berjumpa Allah pada kehidupan sesunguhnya di akhirat. Untuk itu, satu-satunya jalan berbuat sesuatu dengan ikhlas, hanya demi dan untuk Allah semata. Itulah keihlasan dalam arti sesungguhnya.

Jangan ragu jangan bimbang. Aluran kehidupan adalah perjuangan. Kita tidak dapat serta merta menjadi manusia idaman, menjadi Muslim sejati. Nabi Muhammad SAW saja melakukan perjuangan agar kita jadikan tauladan. Dengan kata lain, kehidupan harus diisi dengan pencarian, pencarian yang bermakna.

Berniat ikhlas, berlaku ikhlas, harus dilatih dari waktu ke waktu, dibiasakan hingga menjadi habit. Percaya, nilai perjuangan mencari adalah ibadah itu sendiri. Bukankah hidup ini perjuangan? Perjuangan ke arah lebih baik, ke arah ideal, memuju Muslim sejati. Thee life is change, change in progress. Insya Allah.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 4 Responses to “Ikhlas Meraih Nilai Tambah (1.10)”

  2. By hanna on Sep 28, 2007 | Reply

    Nilai keabsahan ibadah seseorang di pengaruhi oleh tiga syarat.Pertama, iman kepada Allah,para malaikat,litab-kitab,para rasul-Nya, hari akhir,takdir baik,da takdir buruk.
    Kedua,ikhlas semata-mata karna Allah.Ketiga, mengikuti sunnah Rasullah saw dan menghindari bid’ah.

    “Sembahlah Allah secara ikhlas dan jalankan agamanya.”(QS AL-Zamar :2)

    Itu yang saya baca dari buku islam ,pak.(Boleh ya, meskipun bukan muslimah ?)

  3. By warmorning on Oct 1, 2007 | Reply

    intinya ikhlas adalah berbuat bahkan niat-pun tanpa dan gak boleh mengharap timbal balik -sekecil- apapun, begitu ya pak?

  4. By mr_ilham on Oct 10, 2007 | Reply

    link exchange with me

  5. By Cak TO on Jun 21, 2008 | Reply

    Memang begitulah seharusnya sesuatu itu tergantung niatan kita ,dan yang penting niat karena Allah S.W.T .Bukankah pepatah sufi mengatakan “Inna A’malu binniat” semua tergantung dari pada niat kita.mulai dari bernafas sampai bekerja ataupun aktifitas lain semunya seharusnya karena niat ridha Allah ,marilah kita mulai koreksi diri apakah aktiitas kita selama ini banyak riyaknya ato sudah susuai niatan sanubari kita sebetulnya kalo kita mau jujur kita ini masih banyak perbutan ato niat yang melenceng dari line dari hati kita cobalah mulai saat ini kita niat ini manusia di ciptakan utk menjadi “Kilafah” dan mencintai Allh dan rasulnya kalo kita sudah terbiasa menghitung -hitung dosa Insya Allh hidup akan terkontrol begitu juga biasakan melupakan perbutan baik itulah kunci jadi seorang yg mendapat rahmatan Lil’alamin jadi Sufisme sejati.Ammin

    Wabilahitaufik walhidayah Assalamu’laikum Wr.Wb
    Dari/Sohib

    ******Sip … makasih Mas. Pas banget.

Post a Comment