Ikhlas Menulis Riya Memotivasi (1.8)

27 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

IKHLAS DAN RIYA. Dalam praktik kehidupan, ikhlas dan riya barangkali bak two side in one coin dalam arti di satu sisi ikhlas, di sisi lain riya. Apabila sesuatu dilakukan murni ikhlas, ya sungguh luar biasa. Apabila dilakukan karena sesuatu sebab demi kemasyhuran diri, bukan karena  Allah SWT, ya sungguh termasuk perbuatan riya. 
 
Logika tulisan berikut berdasar asumsi ringan, karena itu jangan dipahami terlalu serius dan mendalam, anggaplah segala perbuatan kita riya. Kini mari coba melakukan pergeseran, melakukan change agar perbuatan menjadi ikhlas. Tepatnya, mari berlatih ikhlas dalam perilaku dan tindakan. Setapak demi setapak.
 
Ambil misal posisi dalam menulis. Menurut saya, saya menulis karena ingin menulis dengan alasan sangat kuat, ingin memotivasi orang. Sikap sedemikian bukan didapat bak sim salabim tetapi berdasarkan sintesis pemahaman, banyak orang berkehendak menulis namun berbagai kendala mengayuti yang terkadang tidak dipahami.
 
Dalam benak saya, tidak ada yang salah. Masak sih memotivasi tidak boleh. Saking kemaruk banyak orang diseret-seret, mahasiswa diberondong habis-habisan, siapa yang mau sharing disambut gembira. Untuk semua itu perlu contoh nyata. Kalau teori saja, guru-guru kita sudah melakukannya sejak jauh hari. Formulanya, tulis, tulis, dan tulis, pasti jadi tulisan. Campaknya segala hal selain menulis.
 
Saking bersemangatnya, yang menurut saya dimulai dari niat baik, lahir dari keikhlasan, sampai-sampai dipatok: Nih saya menulis sambil chatting, nih saya tulis begitu ada pertanyaan, begitu ada komentar. Tidak usah berpikir panjang-panjang atau merenung dalam-dalam, jadi tulisan.
 
Maksud saya memberi contoh nyata. Sungguh bukan selain itu, nih Contohnya. Ersis melakukkan. Bukan, coba lihat Ersis menulis cepat, hebatkan. Tidak. Saya mencontohkan, memberi contoh, menulis itu sangat mudah.
 
Benar, memberi dengan tulus. Dalam hal ini memotivasi menulis. Tidak mempertimbangkan apa penilaian orang. Dianggap tulus atau tidak terserah. Nah, apakah pamer atau memamerkannya sehingga tergelincir menjadi tidak ikhlas, ya tidaklah. Setidaknya menurut saya.
 
Saya sadar, akan ada yang menganggap melenceng dari apa yang dimaksud. Tetapi, kalaupun itu terjadi, biar saja. Dalam memotivasi sangat penting contoh meyakinkan. Anjuran, ide, atau begini, begitu, begana, dan begene yang bagus, rasa-rasanya sudah usang. Jadi, beri saja contoh nyata.
 
Soalnya, bisa jadi ada yang memindai itu pamer. Perhitungan saya, mamfaat memotivasi mengalahkan mudharat pamernya. Saya bukan pamer, namun dalam memotivasi diperlukan contoh. Begitu kerangka pikirnya.
 
Atinya, kalau memakai logika matematika bisa jadi ada perhitungan balansing atau kurang-lebihnya. Saya mengambil posisi, yang penting orang termotivasi. Terkadang perlu pemilihan kerangka tulisan dan pilihan diksi membuai, menghentak, memaki, menyanjung, membenarkan, sampai membosankan. Plus, contoh yang dialami. Dus, kalau dikatakan tidak ikhlas, ya ngak apa-apa. Namanya saja penilaian orang.
 
Dengan kata lain, ada tonjolan debating ikutan ikhlas ketika dikonfrotatir dengan riya. Sah-sah saja. Hanya saja niat berangkatnya memotivasi bukan hendak berbanggaria. Kalau begitu nilai ikhlasnya memudar dong dan yang menonjol pernik-pernik riayanya. Kata siapa?
 
Kata saya sih tidak, kalau ada yang menilai riya, kan tidak perlu dipersoalkan. Menulis dan memotivasi adalah nayata adanya, dan Insya Allah, ada yang mengambil manfaatnya. Soal dikatakan riya, itu penilaian. Penilaian kan bukan hal nyata. Penilaian persepsi seseorang tentang sesuatu sesuai pemahamannya.
 
Lebih mendasar, monitor riya sudah terpasang ketika kita akan melakukan sesuatu. Ketika sesuatu yang diniatkan menyata, antara niat dan penilaian adalah dua hal yang berbeda, dan … tidak ada sangkutkaitnya dengan niat.
 
Sekali lagi, niat ada dalam diri kita, penilaian riya atau tidak, bukan urusan manusia. Kita tidak berbuat karena manusia, tetapi karena memaknai firman Allah dan hadis Raslullah, sekalipun obyeknya manusia. Kembali ke khittah lebih afdol.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 5 Responses to “Ikhlas Menulis Riya Memotivasi (1.8)”

  2. By mathematicse on Sep 27, 2007 | Reply

    Kalau begitu, bagaimana kalau kita saling “pamer” tulisan? Pebanyak-banyak tulisan, dan pebagus-bagus tulisan? Ayo kita ‘pamer”kan kemampuan menulis kita, kita berlomba-lomba meningkatkan kualitas dan kuantitas tulisan kita. Hehehe… :D Bukankah berlomba-lomba dalam hal kebaikan itu dianjurkan oleh agama kita? Iya kan? :D

    Tujuannya, biar saling termotivasi. Setuju? Boleh-boleh saja kan? Kan niatnya bukan pamer beneran, tapi cuma pamer-pameran doang gitu loh. Mudah-mudahan dengan cara begini kita makin termotivasi deh dalam menulis. Hehehehe… :D

  3. By hanna on Sep 27, 2007 | Reply

    Wah, kalo memberi contoh tuk memotivasi di anggap riya, repot juga ya ? Tapi, sekali lagi tidak usah peduli penilaian orang, yang penting berbuat baik dengan ikhlas.Insyah Allah akan dapat pahala dan balasan yang baik dari-Nya.

  4. By fira on Oct 1, 2007 | Reply

    Ass,wallahualam deh…

  5. By Mega on Nov 8, 2007 | Reply

    gimana kalo kita menulis riya ntuk diri sendiri..?
    saya sering sehabis menulis save dan sharing,, tapi saya sendiri suka baca ulang dan memahami ulang isi tulisan sendiri..jadi saya puas menulis untuk diri sendir dulu,,dan ntuk orang lain nmr 2 dech..yuhuuu…narsis boo..:D

  1. 1 Trackback(s)

  2. Aug 6, 2008: Sulitnya ikhlas berkarya « Manajemen Amal

Post a Comment