Ikhlas Berbuat Belajar Ikhlas (1.11)

27 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansya Abbas

IKHLAS ALA AA GYM. Pada satu tulisannya di harian Waspada, Abdullah Gymnastiar membahas tentang ikhlas dengan sangat menyentuh rasa. Saya penikmat siraman ruhani dan pembaca karya AA Gym.
 
Hanya mohon maaf, tidak menulis di awal namanya, KH —Kiai haji— sebab menurut saya ‘kiai’ bukan gelar, dan haji adalah ibadah. Kalau Syahadat Sholat Puasa Zakat Haji Abdullah Gymnastiar mungkin logis. Saya tidak pernah menulis Haji Muhammad SAW. Bukankah Rasulullah yang ‘mengajarkan’ kita berhaji? Baginda Rasulullah tidak memakai ‘gelar haji’, begitu juga para sabahat, dan seterusnya. ‘Gelar haji’ adalah fenomena Melayu, ntar takut terseret-seret riya. Jadi, sekali lagi, maaf.
 
Semoga Allah mengaruniakan kita hati yang ikhlas, karena walau menghabiskan tenaga, terkuras pikiran kalau tidak ikhlas tidak ada nilainya disisi Allah. Sungguh suatu keberuntungan yang besar bagi yang ikhlas. Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya dalam kondisi ada atau tidak ada orang yang memperhatikan adalah sama.
 
Berbeda dengan yang kurang ikhlas, ibadahnya justru lebih bagus dilakukan ketika ada orang lain yang memperhatikan. Lalu seperti apakah tanda-tanda orang yang ikhlas itu? Begitu tulis AA Gym mengawali tulisan sambil bertanya untuk menjawab. Sangat indah dinikmati.
 
Tanda-tanda orang ikhlas, tidak mencari popularitas dan tidak menonjolkan diri, tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian, tidak silau dan cinta jabatan, tidak diperbudak Imbalan dan balas budi, tidak mudah kecewa, tidak fanatik golongan, ringan, lahab dan Nikmat dalam Beramal, tidak egois karena selalu mementingkan kepentingan bersama, tidak Membeda-bedakan dalam pergaulan.
 
Demikianlah sepuluh tanda-tanda orang ikhlas. Kalaulah tanda-tanda tersebut dipindai lalu kalau dirasa kurang pas, diperbaiki, sungguh menjadi ‘tiket’ menuju perilaku ikhlas. Sesuatu yang mungkin sangat akrab dengan keseharian kita.
 
Tentu saja kalau ditelusuri lebih jauh, perilaku ikhlas bersumber dari perintah Allah SAW yang telah dicontohkan Rasulullah. Jujur saja, saya jadi ragu ragu dengan perilaku. Ambil misal dalam menulis dan atau memotivasi menulis. Sebagai manusia tidak steril dari, katakanlah kesenangan diri. Kalau ada teman sharing yang menyampaikan rasa terharunya karena termotivasi, ada selinap bangga ke lubuk dada. Apakah yang sedemikian riya?
 
Entahlah. Yang pasti, ketika memotivasi hanya ada satu keinginan, agar semakin banyak Muslim, bahkan siapa saja, menulis. Bagaimanapun, bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim masih banyak yang tergelincir jahiliyah menulis. Motivasi, terutama, ditujukan kepada anak-anak muda agar mempersiapkan diri menjadi penulis sedari awal, sejak masa muda.
 
Saya sungguh merasa kecele, ketika membeli sekitar seratusan buku tentang Rasullah SAW, sebagian besar buku tersebut ditulis oleh bukan orang Indonesia. Kepiawaian anak bangsa lebih terlihat dari menerjemah, bukan melahirkan karya tentang Rasulullah yang amat sangat mendasar dalam menyiarkan teladan Rasulullah. Lagi pula, bagaimana membaca akan menjadi budaya kalau tidak ada yang menulis. Sedikit penulis tidak cukup.
 
Artinya, ya kalau ada yang mengatakan ikhlas atau tidak dalam menulis dan memotivasi, sudahlah. Saya tidak memikirkannya. Minimal berusaha ikhlas, dan atau, meningkatkan kadarnya dari waktu ke waktu, dari tulisan ke tulisan berikutnya.
 
Ah, tidak menonjolkan diri, tidak rindu pujian, tidak bangga, dan seterusnya … biarlah hal tersebut berproses dalam jiwa. Saya berdoa: Ya Rabb, limpahkan keihlasan di hati hamba-Mu yang dunggu ini. Maafkanlah bilamana apa-apa yang hamba lakukan belum memenuhi kriteria yang Engkau gariskan. Terangkanlah pikiran, sinari hati hamba dalam berusaha dan belajar memaknai firman-MU.
 
Ya Allah, ya Rabb, tanamkan keikhlasan di lubuk hati hamba, di danau jiwa sahabat-sahabat hamba, agar jalan kami seayun ke mahligai ikhlas-MU. Amin.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 5 Responses to “Ikhlas Berbuat Belajar Ikhlas (1.11)”

  2. By mathematicse on Sep 28, 2007 | Reply

    Amin. Mudah-mudahan do’a di akhir artikel ini dikabulkan bagi kita semua, yang membaca artikel ini. :D

  3. By mathematicse on Sep 28, 2007 | Reply

    Tambahan (lupa euy. Mudah-mudahan penulisnya ikhlas).

    Mudah-mudahan do’a di akhir artikel ini dikabulkan bagi kita semua, bagi penulis dan juga pembaca artikel ini. Amin. :D

  4. By hanna on Sep 28, 2007 | Reply

    Kita sering di ganggu oleh pikiran kita sendiri yang akhirnya membuat kita hidup kita dalam kecemasan.Misalnya,”Jangan-jangan ntar saya di katakan riya, atau…bla…bla.”
    Saya pernah m’baca tentang Ma’rifatullah.
    (Maaf kalau tidak salah nih ya) Ma’rifatullah itu tidak peduli pada mahkluk, mereka suka atau benci. Karna kita tidak akan bisa manjadi hamba Allah yang ikhlas dan mencapai hakikat keikhlasan yang sesungguhnya , sampai kita bisa menghilangkan pandangan orang lain dari pikiran kita.Satu pelajaran lagi tuk kita belajar ikhlas terhadap pandangan orang.

    Saya juga pernah membaca kata mutiara islam,”Tjia: Jika setan mendatangimu saat engkau menunaikan shalat dan berkata,” Sungguh kamu telah berbuat riya dengan sholatmu !”,maka perpanjangkan shalatmu.

  5. By duh jungjunan on Sep 30, 2007 | Reply

    aduh rindu Aa gym “ceramahnya maksudnya” hehe dah lama gak liat :(

    gelar haji terkadang kebanyakan menjadi riya buat masyarakat indonesia :D

  6. By fira on Oct 1, 2007 | Reply

    Ass,amin amin amin…mudah-mudahan kunci ikhlasnya kita dapatkan dan kita tanamkan dilubuk hati ini.Insya Allah amin.Wassalam.

Post a Comment