Ikhlas Belajar Ikhlas (1.9)
27 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MEMPRAKTIKAN IKHLAS. Apabila kita membaca Al-Qur’an dan hadis Rasulullah, tidak pelak lagi, hati terenggut, jiwa terenyuh, qalbu tergugah, ikhlas menjadi pegangan kehidupan. Ikhlas menyamankan dan menyelamatkan kehiduan di dunia sampai ke akhirat. Sungguh indah dan memberi harap.
Tetapi, begitu dipraktikkan sekian tanya bergabung, ikhlaskah saya? Apakah betul-betul ikhlas? Itu kalau jiwa masih dalam tuntunan kalimah-kalimah Allah SWT. Kalau sudah dibelenggu iblis, ukuran ikhlas terbang entah kemana. Yang penting, asal tujuan tercapai. Sampai-sampai ada yang bilang, komitmen tidak penting. Yang abadi adalah kepentingan (dan keuntungan). Gila.
Ikhlas adalah komitmen kita pada Allah SWT, pada diri sendiri. Kita bisa menipu orang, berlaku riya, berpura-pura ikhlas. Hanya saja, selepas beriya-riya akan ada teguran ke ulu hati: kamu pamer, kamu tidak ikhlas, kamu riya. Syukur.
Yang parah, kalau tali ikhlas sudah putus, sudah tak ada lagi. Melakukan sesuatu itu seenake dewe, seenak udulne. Kalau sudah demikian, tidak usah lagi bicara ikhlas. Ikhlas sama saja dengan riya. Yang penting tampail keren, rumah berpuluh-puluh, mobil tinggal pilih, tabungan tak terhitung, sekalipun gaji PNS untuk biaya transportasi dan komunikasi saja tidak cukup. Pongah pula di Bumi Allah. Auzubillahi min zalik.
Ikhlas, selama uratnya masih ada di jiwa, sekalipun tidak serta-merta menjamin perilaku ikhlas, adalah modal dasar dalam pengabdian vertikal dan horizontal. Hanya saja, tidak dapat digapai begitu saja. Perlu perjuangan.
Coba ingat-ingat. Ketika kecil ketika ada pengemis, Ibu-Bapak melatih memberi sedekah dengan ikhlas atau mengajarkan menyumbang ke langgar. Bisa pula mendatangi panti asuhan. Makna kandungannya, perilaku ikhlas harus ditumbuhkan, dikembangkan, dilatih, hingga berkilau dalam jiwa bak intan permata.
Degan kata lain, jangan pernah surut melakukan kewajiban ibadah, melakukan kewajiban sosial, betapun kadar keikhlasannya. Pemahaman keihlasan pahami dari minimalis mencapai maksimalis. Sesuatu tidak terjadi dengan sendirinya, kecuali bagi Allah SWT, kun fayakun.
Tarohlah pada tahap awal, misal dalam berbagi untuk sesama, ada sangkutan non-ikhlas, tidak mengapa. Jangan putus asa. Berbagi saja sudah perbuatan baik. Tugas kita, semakin hari semakin tinggi kadarnya. Berbagi sekaligus menghilangkan kerak atau bercak-bercak riya, berlatih, berlatih menuju ikhlas sempurna.
Beribadah saja perlu dilatih. Ketika kecil tertatih sekadar membaca Bismilah apalagi surat Al-Ikhlas. Terus dilatih dengan melakukannya, dan … akhirnya fasih. Artinya, belajar sesuatu dengan melakukannya. Fasih jalan karena ditempuh.
Karena itu, tidak ada alasan untuk tidak belajar. Berlatih ikhlas berarti melakukan berapapun rendah kadarnya. Memangnya begitu lahir kita paham segala sesuatu? Tidak bukan? Kita bisa karena belajar. Ikhlas akan menjadi mapan apabila dilatih, terus menurus ditingkatkan mutunya. Ikhlas tidak datang sendiri. Sekalipun potensi sudah ada sejak ruh ditiupkan.
Karena itu, kalaupun ada yang mencibir saya menulis tentang ikhlas, ikhlas saja menerimanya. Begitulah risiko belajar. Ya, saya sedang belajar memamahi ikhlas, dan berupaya mempraktikkan, sekaligus memindai kadarnya untuk ditingkatkan. Ikhlas sempurna ikhlas adalah harap yang tergadai yang memerlukan perjuangan. Dalam melakukan itulah berlatih.
Tulisan ini memang bukan ditujukan kepada mereka yang sudah sangat paham makna ikhlas. Tidak pula diperuntukkan bagi mereka yang dalam kehidupan telah menyatu dengan keikhlasan. Bukan. Narasi ikhlas lebih ditujukan dalam pembelajaran pribadi. Syukur kalau bermanfaat bagi lainnya.
Ikhlas dalam belajar ikhlas adalah perjuangan. Allah SWT telah menjanjikan, pada belajar yang dipratikkan saja sudah tersedia pahala. Kalau pembelajaran berhasil mencapai sasaran ikhlas sebagai gerak kehidupan, tentu itu yang dimaui.
Mari, sama-sama memamahi, belajar, mempraktikkan, dan selalu meningkatkan kadar ikhlas dengan melakukannya.
Bagaimana menurut Sampeyan?









8 Responses to “Ikhlas Belajar Ikhlas (1.9)”
By hanna on Sep 27, 2007 | Reply
Saya sendiri tidak paham dengan kata ikhlas.
Ikhlas dalam ikhlas ialah perjuangan.Saya setuju dengan kalimat ini.
Seperti yang di tulis EWA ,”Mari, sama-sama memamahi, belajar, mempraktikkan, dan selalu meningkatkan kadar ikhlas dengan melakukannya”.
By Rahmadona Fitria on Sep 27, 2007 | Reply
Kalau bicara tentang ikhlas, jujur saja, membuat saya jadi bertanya-tanya apakah diri ini sudah ikhlas ? kalau diri masih suka marah, masih suka kecewa, berarti masih belum ikhlas kali ya ? Wah, menjadi ikhlas ternyata susah juga, tapi sekali lagi saya sependapat sama bapak bahwa perilaku ikhlas itu dapat dilatih dan melewati yang namanya proses. Semoga kita semua bisa jadi orang yang ikhlas ya, pak !
By Rahmadona Fitria on Sep 27, 2007 | Reply
Terima kasih ya pak atas kesabaran dan keikhlasannya mendukung aktivitas menulis saya, sekarang saya sudah ada kemajuan dalam menggunakan komputer dan internet. Sehingga dapat ikut menikmati komunikasi dan interaksi dengan teman-teman pencinta dunia menulis. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga ramadhan menjadi jembatan untuk melatih ikhlas dan memancing energi ikhlas dalam diri kita. Amin Ya Rabbal Alamin. Wassalam, Dona.
By fira on Oct 1, 2007 | Reply
Ass,belajar ikhlas terus menerus kunci menuju kematangan jiwa amin.
By sulaian bakri on Oct 2, 2007 | Reply
saya seorang pengelana di dunia tanpa batas.
di niche ini saya bertemu seorang filsuf abad 21.
sukses dengan karya-karya anda
By Adi Winarko on Dec 15, 2007 | Reply
Assalamualaikum Wr.Wb
Membaca ikhlas, saya jadi ingin ikut belajar , karena saya rasa saya sangat mudah mengatakan ikhlas,tapi sangat sulit mempraktikannya.mudah-mudahan saya bisa segera menemukan kuncinya.
***KIta sama-sama belajr. belajar itu pahala, mempraktikkan pahalanya ganda. Ada di hati.
By Eva H on Mar 4, 2008 | Reply
Ass wr. wb
Teman2 untuk belajar menjadi ikhlas itu memang sulit, tapi jika qt memulai dari hal yg terkecil insya allah pasti bisa asal ada kemauan dlm diri kita. Memang qt manusia jauh dr sempurna tapi setidaknya qt dpt bertingkah laku yang baik dan santun serta menghargai org lain.
***Amin.
By dyah purnawati on Apr 7, 2008 | Reply
belajar ikhlas adalah proses belajar sepanjang hayat. kita berbuat sesuatu karena AllAH semata tak peduli pujian atau cacian manusia. artinya kalau perbuatan kita benar tak mengharapakan itu dipuji atau dimaki orang. perasaan kita tak terganggu oleh komentar orang. meski sulit tetap belajar terus ya. semoga bisa.