Ikhlas Melawan Riya (1.7)

26 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

RIYA YA RIYA. Dalam praktik kehidupan, terutama dalam relasi sosial, berbeda dalam relasi vertikal dengan Sang Pencipta, nampaknya susah menerapkan ikhlas dalam arti 100%. Kalau dalam amal ibadah kita bisa langsung mendeteksinya di mata batin. Ketika melaksanakan kewajiban sebagaimana diperintahkan-Nya, hanya karena Dia, jelas dengan sendirinya. Misalnya, kalau sholat karena malu para komunitas atau atasan, sudah terang duduk persoalannya.
 
Ikhlas dalam dimensi horisontal jauh lebih sulit. Dalam melakukan ‘kewajiban’ kemanusiaan sesama manusia, mungkinkah hanya karena Allah SWT semata? Saya jadi merenung soal ini.
 
Penampakkan ikhlas, bagaimanapun berbuah tanya. Sebagaimana ditulis pada tulisan Ikhlas Kaca Keluarga, membelikan baju untuk anak-anak yang mendatangkan kebagiaan tak terkira, kenyamanan di rasa, kedamaian di hati, apakah tidak terkarena ‘memuaskan’ nafsu kemanusiaan? Apakah memang dilandaskan karena Allah SWT?
 
Kita kasihan akan korban banjir, kita berbagi, kita prihatin, empati terenggut. Tetapi, bukankah semua dalam dimensi horizontal menunaikan kewajiban kemanusiaan? Atau, Sampeyan orang yang beruntung secara ekonomis, lalu membatu yang membutuhkan, bukan tidak mungkin yang didapat pertama kali —setelah melakukan— kepuasaan di batin, kebanggaan di diri. Soal yang mendapatkan berkah kebaikan yang tertimpa musibah, kolamnya tentu lain lagi.
 
Yang pasti, kalau dalam sikap membantu dan bebagi kalau ada tumpangan harap, ingin populer, mengharapkan balikan, agar dianggap bersikap sosial dan seterusnya, jelas sudah, rusak sejak awalnya. Tetapi, ketika berbagi betul-betul tulus dari labuhan nurani, dimana terkadang bukan Allah SWT yang menjadi landasan, justru sikap dasar sebagai manusia dalam empati pada manusia lainnya, apakah keikhlasan?
 
Jawaban tentatif di pikiran, perilaku sedemikian, termasuk kategori ikhlas. Pertama, berbagi sesama manusia adalah perintah Allah SWT. Melakukan tanpa embel-embel, menjalankan perintah-Nya. Kita ikhlas pada posisi sedemikian.
 
Kedua, begitu roh ditiupkan, kita diberkati sifat-sifat keilahian, Asmaul Husna. Artinya, built in terlekad ‘maunya’ Allah SWT yang bisa dipindai dari sifat-sifat Allah SWT. Misalnya Ar-Rahman-ArRahim. Kita menyayangi anak, bahagia apabila darah daging bahagia. Kita terenyuh dan empati terkeluar melihat sesama manusia ditimpa musibah, kita mau berbagi, bukankah pantulan sifat sayang dan kasih?
 
Kalau demikian posisinya, naga-naganya tidak perlu dipersoalkan. Berbagi, suruhan Allah SWT, hadis Rasulullas SAW. Melakukan berarti menunaikan kewajiban. Barangkali yang perlu dikaji adalah kadar keihlasannya. Bisa jadi pada level 10 dalam skala 100, 20, 30, 40, dan setersunya.
 
Tugas kita adalah selalu dan selalu menuju kesempurnaan. Yang penting, kuncinya sudah didapat, berempati, bebagi bukanlah sebuah kesalahan apalagi kejahatan. Minimal, anggap latihan. Bukankah ketika kecil dilatih bersedekah kepada fakir- miskin? Karena itu tidak usah risau disoal tentang ikhlas atau tidak oleh orang lain.
 
Kitalah yang tahu kadar isi hati kita. Jangan sampai, karena takut disoal orang atau ketika berbagi lalu disoal, kita jadi mundur. Lucu jadinya, kita berbagi dengan pemahaman keikhlasan —walaupun mungkin belum sempurna— tidak eloklah terhenti gara-gara penilaian orang lain … yang mana tahu justru enggan berbagi.
 
Menegakkan dan melakukan sikap ikhlas memang tidak mudah. Lebih mulia melatih dengan melakukan, bukan memperdebatkan hakiki atau kebermaknaannya. Berbagi jauh lebih baik dari memperdebatkannya. Dan, mari kita berbagai dalam melawan riya, bukan memperdebatkan riya, apalagi menyoal oran-orang yang mau berbagi.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 3 Responses to “Ikhlas Melawan Riya (1.7)”

  2. By mathematicse on Sep 26, 2007 | Reply

    Memang riya, ingin dipuji oleh manusia lain itu sukar sekali kita hindarkan. Seringkali, kita sudah sekuat tenaga untuk tidak menceritakan amal baik kita pada orang lain. Tapi itu tidak mudah. Butuh kemampuan tawadhu, rendah hati yang sesungguhnya.

    Kita beramal baik, seringkali ingin dilihat dan dipuji orang. Duh…. mungkin amal baik kita (saya khususnya) cuma bagai fatamorgana.

    Oh, iya. Yang terpenting itu berbuat baiknya. Tidak usah memperdebatkan riya tidaknya apa yang kita lakukan. Karena yang tahu riya tidaknya amal perbuatan kita, hanya Allah semata. Yang penting, kita beramal saja, dan sekuat tenaga untuk tidak mendapat pujian dari orang, tidak pamer gitu loh… :D

  3. By hanna on Sep 26, 2007 | Reply

    Ada yang menarik dari tulisan ini. Benar, memberi dengan tulus tidak usah mempertimbangkan apa penilaian orang, dianggap tulus ato tidak terserah. Tapi, klo setelah memberi lalu memamerkannya
    itu bukanlah keikhalasan.

  4. By rahmadi on Oct 4, 2007 | Reply

    terkait masalah riya, memang sulit untuk menghilangkan sifat tersebut.. kadang2 kita sudah berniat untuk tidak memperlihatkan suatu amal kepada orang, tapi biasanya orang2 sekitar itulah yang membuat kita riya,, sehingga dalam benak kita muncul “sudah ikhlaskah pemberianku tadi??” sulit untuk menjawabnya..
    tapi, membandingkan antara riya dengan takaabur atau istilah kerennya sombong, atau menyombongkan diri, mana yang lebih berat?? keduanya hampir mirip, tapi berbeda.. sombong, apalagi dihadapan banyak orang menjadikan banyak diantara orang2 tersebut menjadi patah arang dan benci, sehingga kadang2 menjadikan batu lemparan tersendiri bagi orang tersebut..
    disisi lain, kita bisa merubahnya jika kita berusaha dan bersifat rendah hati dan tidak membanggakan diri, bukankah itu mungkin jika seandainya dicoba??

Post a Comment