Ikhlas Berbagi Ikhlas Menerima (1.6)

26 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MENERIMA PEMBERIAN. Dalam menyelami samudera ikhlas yang sebenarnya mudah dipahami dalam arti konseptual ada hal tergayut yang tak kalah rumitnya. Bisa jadi kita sampai pada pemahamannya, tetapi bagaimana memonitor perilaku ikhlas tersebut? Berhakkan kita memantapkan peletakkan kriteria ikhlas terhadap apa yang kita perbuat?
 
Bagi saya cukup sulit. Bukan saja menyangkut niat dan atau ketika sesuatu dilakukan, tetapi bagaimana memindainya. Apa ukurannya, apa kriterianya, bagaimana penampakkannya. Dalam ‘kepusingan’ tersebut seorang kawan mengatakan: “Semoga Pak Ersis ikhlas menerima”. Nah ini rada-rada ruwet dicerna. Ikhlas menerima?
 
Ikhlas dalam berbuat, dalam  tindak pribadi bisa dimonitor dari hati kecil, dari niat. Apabila menyangkut ibadah kepada allah SWT atau menjalankan perintah-Nya dalam relasi sosial kehidupan, pulangkan ke nuarani. Tetapi, ikhlas menerima? Sebetulnya belum siap menerima pernyataan dan pertanyaan tersebut.
 
Tetapi begini. Setelah melalui ‘perjalanan’ cukup berliku, saya menerima pemberian yang setelah ditimbang-timbang tidak melanggar perintah agama dan tidak melanggar hukum. Yang penting tidak merampok, tidak ‘menjual’ pengetahuan dan keterampilan ketika orang membutuhkan. Bagaimanapun kita punya filter penjaring, mata hati.
 
Ndilalah, ketika berbuka bersama dengan seorang teman —mantan mahasiswa—, 25 September 2007, saya memepertanyakan pemberiannya. Saya bertanya soal ikhlas menerima pemberian (zakat?) yang sebenarnya tidak terduga-duga. Sebenarnya, ceritanya bukan lagu baru.
 
Bulan puasa tahun lalu, saya dan keluarga diundangnya berbuka bersama. Kami bercerita tentang banyak hal, dari masa-masa kuliahnya sampai sukses memimpin empat perusahaan. Ujung-ujungnya, berniat membantu tiap bulan.
 
Kontan saya tolak. Katanya: “Saya mendukung kegiatan kepenulisan Bapak”. Saya terdiam. Dia mengaku mengkuti tulisan saya di media cetak, dan kini selalu mengintip www.webersis.com. Saya tergugah ketika dia sampai pada kisah seru, Bapak pernah saya ‘curangi’ ketika mengklirkan permintaan bantuan kepada seorang kepala daerah —teman saya. Sungguh, saya terdiam.
 
“Saya tahu saja”, kata saya. “Pertama, target terpenuhi, kalau melebihi target itu hak Sampeyan. Kedua, mana tahu Sampeyan sedang membutuhkan. Jadi tidak ada persoalan. Saya sudah lupa”. Dan, kami terbahak-bahak. Entah kenapa, suasana begitu indah. Saya tetap tidak mau menerima. “Kalau butuh, nanti minta”.
 
Saya tidak ingat lagi. Dia mengrimkan cek lebih besar dari gaji saya. Semula saya katakan, belum membutuhkan. Dan, … tidak berterima kasih. Nah, kemaren itu sebelumnya dia mengirimkan cek lagi. Culasnya mengirimkan pada orang lain. Ya sudah, ikhlas —atau lebih tepat— senang saja menerima. Bisa berpuas-puas membeli buku.
 
Setelah direnung-renung, ikhlas menerima (pemberian) ternyata lebih mudah. Kalau memberi kita harus mengkaji ke inti niat. Persoalannya, kenapa orang mau berbagi?
 
Ada satu ‘kunci’ yang saya temukan. Ketika kita memberi, apa pun bentuk dan jenisnya, apabila dimaknai sebagi kewajiban dan kita tidak tahu ujung pangkalnya, e … tanpa diduga-duga suatu ketika bukan tidak mungkin mendapatkan hal yang sama sekali terbayangkanpun tidak. Saya mengalami hal sedemikian beberapa kali.
 
Katakanlah ketika mengajar (mendidik) mahasiswa dengan Ersis Style ternyata ada yang begitu berkesan dan melekad yang bisa jadi menjadi pemicu untuk maju. Ujung-ujungnya mereka sukses jauh melebihi dosennya. Dan … ingat akan gurunya. Apa ada yang salah?
 
Kalaulah misalnya, ketika menolong mahasiswa atau melakukan kewajiban sebagai dosen ‘membisniskan’ sampai memalak mahasiswa, tentu ceritanya akan lain. Entah betul atau tidak, apa-apa yang didapat belakangan tidak lepas dari perilaku kita di masa lalu.
 
Ikhlas memberi ikhlas menerima. Ho oi, saya belum mantap benar mejadikannya sebagai sebuah lahiran pemikiran.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 6 Responses to “Ikhlas Berbagi Ikhlas Menerima (1.6)”

  2. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 26, 2007 | Reply

    Ikhlash itu harus selalu diperbaiki, tatkala diawal kita ikhlash. Tapi setelah selang beberapa waktu terbesit ketidak-ikhlashan, maka harus diputus dengan Istighfar.Karena hal ini penting dan penting.

    Ada pepatah Jawa atau kata-kata yang perlu kita perhatikan :
    Bahasa jawanya, “jalukan karo wenehan”. buka sebaliknya, “jaluka-an ra wenehan”. he..he..he..

    Salam.

  3. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 26, 2007 | Reply

    Kalau saya lihat dari judul per judul, nampaknya sudah tersirat maksud dari penulis membuat buku ini. Mau tahu, Tanya aja sendiri ke EWA.
    Menurut ‘ilmu kiro-kiro’ saya nih atau bahasa kerennya kirologi, yang semoga hasilnya tidak keliru terlampau jauh,
    begini : “kita digiring oleh penulis untuk memahami arti ikhlash dan diharapkan bisa meningkatkan keikhlasan tatkala musibah ataupun kebahagiaan menimpa kita, lalu nikmati saja, insya ALLAh hasilnya akan kita rasakan, sebagaimana pengalaman EWA. Ikhlash dalam berbagi karo wenehan. Oh, ternyata ikhlash itu memang harus dibangkitkan dengan energi keikhlah-an. Atau buah dari ikhlash itu akan memantik energi keikhlash-an yang selama ini tertidur atau belum muncul dalam kenyataan.”
    Ini menurut saya. Semoga dimaafkan.

  4. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 26, 2007 | Reply

    Kita renungkan saja, perilaku kita keseharian dlm kehidupan ini. InsyaALLAH kan ketemu jawabannya, apakah kita sudah ikhlash dalam menerima. Muhasabatun nafsi, kali ye..

  5. By mathematicse on Sep 26, 2007 | Reply

    Memang seringkali kita lebih mudah ikhlas menerima pemebrian.

    Yang lebih ssusah itu ya memberi dengan ikhlas.

    Saya tertarik dengan salah satu kalimat di akhir tulisan ini.

    “Entah betul atau tidak, apa-apa yang didapat belakangan tidak lepas dari perilaku kita di masa lalu.”

  6. By hanna on Sep 26, 2007 | Reply

    “Entah betul atau tidak, apa-apa yang didapat belakangan tidak lepas dari perilaku kita di masa lalu.”

    Dalam ajaran Budha yang ini di benarkan.Di masa lampau banyak beramal berbuat kebaikan ,di kehidupan ini atau kelahiran nanti akan menuai hasil dari kebaikan itu sendiri.

    Memberi dengan ikhlas tidak bisa di lukiskan dengan kata, tapi bisa dirasakan di hati kita.Memberi dengan ikhlas tidak pernah mengharapkan balasan atau imbalan apapun bentuknya, kecuali pahala.

    Dalam ajaran Budha, pahala akan berkurang kalau setelah memberi kita memamerkannya.

    Ikhlas menerima dalam arti mensyukuri dan memanfaatkan dengan baik apa yang di dapat.Apapun yang kita terima hari ini, terimalah dengan ikhlas.Ada saatnya kita khilaf, merasa tidak puas.Rasa ketidakpuasan ini merupakan bagian dari tidak ikhlas menerima pemberian Tuhan.Ikhlas menerima dalam bisa mensyukuri.

  7. By esa on Sep 18, 2008 | Reply

    Mmm..ikhlas menerima ya. Kadang secara tidak sadar kita juga mengatakannya pd orang yg kita beri. Soal apa yg kita dapet, sangat mungkin itu karena apa yg pernah kita beri. Kitanya udah lupa, yg diberi belum tentu. Seperti halnya ketika zakat buku, Bapak mungkin ga kenal sy dan bahkan lupa bukunya dikirim ke siapa saja..tp orang-orang yang menerima buku bapak [sy misalnya], kemungkinan besar ga akan lupa. Jadi, ikhlaslah menerima Pak :mrgreen: meski memang betul apa kata bapak..kadang sulit mengukurnya krn parameter pastinya tidak ada. Logika transdensetal ..

Post a Comment