Ikhlas Berbagi (1.5)

26 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

IKHLAS NI YE. Ikhlas berbuat berarti mensucikan perbuatan dari cacat-cacat pamrih perbuatan hanya demi Allah semata. Dalam menunaikan tugas kemanusiaan sebagai makhluk Allah SWT kita tidak menyandarkan kepada apa pun, kecuali karena-Nya.  Tidak selain karena Allah SWT.  
 
Dalam kandungan demikian, kalau ditelisik sunguh-sungguh, sungguh tidak mudah mendeteksi atau pun sekadar melihat, apa yang dilakukan dalam keseharian, apakah benar-benar ikhlas. Apalagi  dalam berbagi. Ada saja hal-hal pengikut serta yang berbau perhitungan ‘keduniaan’. Tidak mudah mengkajinya. Sekalipun demikian, tentu bukan berarti tidak ada.
 

Katakanlah ketika memberi sesuatu kepada seseorang atau sekelompok orang. Saya punya sahabat yang dipercaya memimpin suatu daerah. Sejak tujuh tahun lalu ‘menyerahkan’ sejumlah uang untuk ‘dibagikan’. Tadi malam (24 September 2007) sengaja bertanya: Berapa sih gaji Sampeyan?
 
Rp7.6 juta alias tujuh juta enam ratus ribu rupiah. Dana taktis? Rp8,160 juta atau delapan juta seratus enam puluh ribu rupiah. Sebenarnya merasa kurang sopan menanyakan hal tersebut, tetapi apa boleh buat, saya bertanya, gara-gara ingin menulis artikel ini.
 
Begini ceritanya. Terkadang merasa risih, bahkan pernah marah-marah. Tentu bukan kepada sahabat yang mau-maunya berbagi setiap bulan tersebut, tetapi kepada yang dibagi. Pemicunya hal sepele. Apa itu?
 
Setelah membagi-bagi uang tersebut setiap bulan, sering pula dikirimkan kepada teman-teman, minta si penerima me-SMS saya dan Si Teman. E … ada yang ogah-ogahan. Menurut saya uang demikian cukup berarti, bayangkan seluruh gajinya, terkadang melebihi bila digabungkan dengan dana taktisnya sekalian. Apalagi menjelang lebaran begini. Mau tau reaksinya?
 
Biar saja. Tugas kita memberi. Soal mereka bersyukur atau tidak, bukan persoalan kita. Kalau dihitung-hitung atau pakai persyaratan segala rupa, nanti malah tidak ikhlas lagi. Kalau sudah beriya-riya kan hasilnya jadi nol. Nah, lho.
 
Itu belum seberapa. Terkadang menyalurkan puluhan juta untuk sekadar memenuhi permintaan bebagai orang atau organisasi atas berbagai keperluan. Mulai dari bantuan sakit sampai … aduh ngak usah ditulis deh. Hitungan saya sudah sekian milyar. Itu yang melalui tangan saya saja. Saya berani taruhan, gaji dan dana taktisnya selama ini tidak cukup untuk hal-hal sedemikian.
 
Pernah saya katakan, kalau uang itu digunakan untuk membuat sekolah atau perusahaan kecil-kecilan, kita sudah punya sekolah unggulan atau usaha yang bukan tidak mungkin mendatangkan laba. Dia ketawa enteng saja. Sudah ada rizki masing-masing. Oh ya, sejak tahun ketiga jabatannya, terkadang sampai pagi belajar tentang hakikat dan perilaku beragama menurut versi kami.
 
Tidak pelak lagi, apa yang dilakukanya saya kategorikan ikhlas. Memang, pemberian —sikap berbagi tersebut— tentu berkaitan dengan jabatannya. Namun saya tahu persis, sebelum jadi pejabat dia memang sudah berpunya.
 
Saya menyadari, tidak punya hak memvonis ikhlas atau tidak. Analisis sedemikian dimaksudkan dalam mencari pemahamam ikhlas. Setidaknya, mendeteksi pancaran keikhlasan. Belajar dari apa yang dilakukan, bukan dalam tataran ajaran atau konsep. Dari pengalaman nyata.
 
Saya mohon maaf, kalau apa yang ditulis kurang berkenan. Kesemua ini tidak lebih dalam belajar memahami ikhlas. Syukur menjadi cermin bagi lainnya.
 
Minimal, berbagi itu perbuatan terpuji. Soal apakah itu 100% ikhlas atau dari niat yang tulus, mana mungkin manusia bisa menyelami sampai inti hati seseorang. Itu sudah urusan Allah SWT.
 
Dengan kata lain, banyak hal di sekeliling kita mencerminkan perilaku ikhlas. Apakah kadarnya 100, 50, 25, 10, atau 1 persen, bukanlah hal yang terpenting. Seperti juga, apakah Allah SWT melalui malaikat-Nya akan mencatat sebagai pahala, sudah jauh dari wewenang kita.
 
Yang pasti, berbagi adalah perbuatan terpuji dan berpahala. Akan menjadi sempurna manakala sandaranya ikhlas.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 3 Responses to “Ikhlas Berbagi (1.5)”

  2. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 26, 2007 | Reply

    Masyarakat sedang butuh apa yang disebut sebagai teladan dalam perilaku keikhlashan, yang dicontohkan dari manusia yang dekat dengan kehidupan dirinya. Mari jadikan diri kita sebagai salah satu teladan dalam berperilaku ikhlash.

  3. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 26, 2007 | Reply

    Wadamu tawasurinnafsi, jangan mempersulit diri-lah tatkala kita mendapat musibah atau kebaikan, ya belajarlah untuk ikhlash dan sabar. Jadi, cocok banget tema yang EWA angkat melalui buku ini. Semoga bisa memantik penulis2 baru untuk menggoreskan tinta emasnya guna kemajuan kasanah keislaman. termasuk Ikhlash dalam berbagi kebahagiaan maupun curhat permasalahan -qodhoya, bhs.arabnya-.

  4. By mathematicse on Sep 26, 2007 | Reply

    Ikhlas? Apa sebetulnya ikhlas itu ya? (Kok jadi bertanya ya?) :D

Post a Comment