Ikhlas Memancing Energi Ikhlas (1.4)

22 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

YOHA, IKHLAS TU PANG. Saya punya pengalaman cukup unik. Sebagai lanjutan beredarnya buku Menulis Sangat Mudah (2007) banyak hal ‘rada aneh’ hampir. Suatu ketika di-SMS seseorang yang tidak saya kenal sama sekali. Intinya dia nekat belajar menulis. Saya katakan, saya bukan guru menulis hanya motivator penulisan. Dia nekat.
 
Dikirimnyalah contoh tulisan yang sungguh tidak karu-karuan. Mau tak mau saya terbahak-bahak sendirian. Tulisan tangannya sangat nyeni dan susah dibaca. Terpaksa minta tolong kepada seseorang mengetiknya baru diedit dan dipoles. Hasilnya bagus. Dia tersenang. Lalu, saya mau dibayarnya. Berapa saja katanya.
 
Semula saya tersinggung. Kalau kamu mau belajar saja mengetik. Kalau punya duit beli laptop dan menulislah terus menerus. Saya cukup rizki untuk hidup dan beraktivitas. Dia tidak menyerah. Di buku saya kan ada alamatnya, dikirimnyalah wesel. Ya sudah, Nabi Muhammad SAW juga tidak mengajarkan doa menolak rizki. Uang itu saya gunakan untuk menolong yang lain dalam menulis.
 
Saya mau membantu karena ‘melihat’ potensi menulisnya kuat. Tidak seperti kebanyakan yang sharing menulis: akan, akan, dan akan menulis. Akan menulis anu, ani, ane, ano dan segudang akan lainnya. Yang satu ini, langsung tulis. Dalam hati terbesit —kalau baca bisa geer nih kawan— orang ini bisa jadi penulis sungguhan.
 
Karena tulisan tersebut ditayangkan di web, rupanya saudaranya membaca di Taiwan dan di Australia. Kawan-kawannya merespon positif. Dalam pada itu dia sudah pandai menulis di laptop dan fasih beremail segala rupa. Dengan caranya dia minta nomor rekening saya dan tentu mengirim uang.
 
Ndilalah. Di komunitasnya pada satu acara tulisannya dibacakan. Direspon gegap gempita ‘orang sekampungan’. Saya yang jadi korban. Acaranya pagi siang hari rekening saya bertambah lagi. Dia yang senang saya yang kecipratan.
 
Debatan saya jadi percuma. Saya ikhlas katanya, sungguh ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Padahal dia seorang penganut Budha, kog hapal-hapalnya konsep ikhlas. Kini dia mengambil paket C he … he … Pingin pintar katanya. Ketika saya berkhabar mau mencetak buku, dia mengirim uang lagi.
 
Saya sudah wanti-wanti, saya tidak bisa dihargai dengan uang. Sejak awal membantu dengan ikhlas, tulus. Bukan kamu saja yang saya bantu, banyak orang. Malahan saya kirimi buku yang ongkos kirimnya saja mencengangkan. Ada puluhan orang.
 
Nah, lho. Seperti Bapak, ikhlas. Masa sih berkontribusi saja tidak boleh, beramal tidak boleh. Ya sudah. Gunakan untuk menunjang aktivitas menulis. Beberapa paket buku dikirimnya pula.
 
Para ikwan yang mulia. Sejak awal tidak ada bayangan untuk membisniskan sedikit pengetahuan tentang menulis. Ingin sangat kuat di batin adalah menyebarkan virus menulis (dan membaca). Ayat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW kan membaca, membaca, dan membaca. Masa itu belum ada komputer atau alat tulis memadai, Beliau menyuruh para sahabat menulis di tulang binatang, daun lontar, atau pelepah kayu. Kini, apa sih susahnya menulis?
 
Saya mengambil jalan menulis dan menyebar luaskan virus menulis. Mana tahu bermanfaat buat manusia. Yah, tulus ikhlas berbuat sedemikian. Kalau ada yang bersimpati, syukuri saja. Habis perkara.
 
Yang ingin saya sambungsampaikan, saya mengalami balikan tak terduga. Berharap, kawan saya yang satu ini, betul-betul ikhlas sebagaimana dikatakannya. Saya ikhlas dan dia ikhlas, ngak ada yang salah kan?
 
Satu lagi yang membuat jiwa saya semakin kuat, ketika buku pertama tentang menulis akan diterbitkan, banyak ‘teman’ yang memandang sebelah mata. Saya tak peduli karena memang, sekaipun belum terlalu disadari, dari awalnya ditulis dari hati yang tulus, ikhlas. Terlepas isinya banyak juga yang maulu-maulu. Itu sekadar penyedap.
 
Ikhlas memancing energi ikhlas lainnya yang disambungkan oleh Allah SWT. Hingga, hikmah dan nikmatnya melampaui apa yang dibayangkan. Tidak percaya? Itulah pengalaman nyata saya. Allah SWT adalah Yang Mahaikhlas.
 
Bagimana menurut Sampeyan?

  1. 18 Responses to “Ikhlas Memancing Energi Ikhlas (1.4)”

  2. By hanna on Sep 23, 2007 | Reply

    Ikhlas memancing ikhlas energi ikhlas, percaya ato tidak begitulah adanya. Keikhlasan hati EWA tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Mulai dari melandeni seorang wanita nekad yang banyak maunya sampai mengajarkan dia berkomputer ria.

    Keikhlasan hati EWA saya baca sejak hari pertama saya mengirim tulisan tangan saya.Tulisan panjang yang lebih mirip cacing kepanasan.Tulisan seorang anak sltp yang masih miskin kosakata.EWA melakukan semua itu tanpa meminta imbalan, sungguh mengugah hati saya.Satu ketulusan yang memancing energi ketulusan.

    Email saya dengan tulisan yang berantakan, sms dengan bahasa semberautan, yang kadang membuat EWA kebingungan masih di layani dengan baik.

    Sungguh EWA sosok yang sangat saya kagumi dan patut di acungi jempol.Satu pahala tak terhingga ketika tulisan saya yang bertujuan memotivasi agar anak-anak dari keluarga tak mampu tetap bersemangat belajar dan tidak memilih berputus sekolah.Tulisan itu di bacakan di depan para pejabat daerah, dan di hadiri 500 siswa setempat,kepala sekolah dan para guru dari berbagai sekolah juga warga setempat hadir di sana.

    EWA mungkin tak pernah tau, yang membaca tulisan itu sampai menitikkan air mata dan berkata,”Saya kagum sama penulisnya.saya berasal dari keluarga yang katakanlah mampu malas bersekolah.Tapi seorang anak dari keluarga susah malah jauh lebih semangat dari saya.Saya malu”.

    Tepuk tangan meriah dan decak kagum hanya saya dengarkan saja.Tulisan itu tanpa nama penulisnya.

    Apa yang saya beri tidaklah sebanding dengan keikhlasan hati EWA.Sama halnya menulis.Saya belajar menulis , mau bersusah-susah karna di hati saya tersimpan keikhlasan tuk berbagi sesama.

    Rasanya tak pantas saya membahas ini di sini.Tapi , saya memberanikan membuka diri jua. Sangatlah berdosa bila tulisan EWA ini sampai di anggap mengada-ada.

    Apa yang EWA tulis adalah apa adanya.Sekali lagi EWA, Semua yang saya lakukan dengan Iklas, seikhlas-ikhlasnya.Tanpa adanya maksud tertentu.

    Salam tuk EWA.Postingan ini membuat saya terharu.Kita sama-sama ikhlas, seiklhas persahabatan kita.

  3. By hanna on Sep 23, 2007 | Reply

    Karna saking terharunya dengan tulisan EWA dan terburu-buru menulis koment , ada beberapa kalimat di atas yang salah.Mohon maaf, penyakit yang sama dengan gurunya , malas membaca kembali, he he he.Tapi, tuk ke depannya diusahakan teliti kembali.

    Btw, saya jadi bingung nih, katanya buka puasa bersama tau-tau lahir dua tulisan sekaligus.Gimana caranya ???

  4. By mathematicse on Sep 23, 2007 | Reply

    Saya jadi bersemangat nih melihat dua orang yang hebat menulis.

    Yang pertama, EWA sang motivator yang pandai dan berani memotivasi. Dengan lontaran khas-nya, walau terkesan gemana gitu.. tetap cuek dan terus memotivasi banyak orang. Saya pun termotivasi sekaligus tertantang untuk menjadi penulis beneran.

    Walau dengan kemampuan seadanya begini. Dengan terus berlatih menulis, saya yakin insya Allah bisa produktif menulis, lebih hebat dari sang motivator-nya. Harus PD dong… iya engga? (mumpung masih “anak” kemarin sore, jadi insya Allah lebih punya banyak waktu dan kesempatan untuk menjadi lebih baik. Hehehehe… (maaf) :D )

    Yang kedua, Hanna Fransisca, ketika pertama kali saya baca tulisannya, yang dipublikasi di blog ini, saya juga sangat tercengang, terkagum-kagum membaca tulisannya. Punya kekhasan tersendiri, ada bakat emas yang terpendam. Saya “iri” melihatnya, saya “iri” membacanya, saya “iri” ingin bisa menulis sebagus tulisannya. Kok bisa ya?

    Sepertinya saya harus belajar dari keduanya. Lewat membaca karya-karyanya, lewat berdiskusi dengan mereka. Setuju?

  5. By toni februari on Sep 23, 2007 | Reply

    ikhlas…makna yang sangat susah untuk diterangkan…ikhlas adalah suatu keinginan seseorang yang menginginkan suatu hasil tertentu namun tak mengharapkan apapun dari hasil tersebut.
    banyak cara untuk menunjukkan ikhlas yang sebenarnya seperti artikel di atas, ketika pian mengatakan bahwa ikhlas menyebarkan virus menulis, dengan sendirinya keikhlasan yang pian miliki menuai sesuatu yang sebenarnya bisa pian gunakan kembali untuk memupuk keikhlasan yang lainnya yang akan pian berikan kepada yang lain. uang yang pian dapatkan dari seseorang yang telah merasakan keikhlasan pian, bisa digunakan untuk apa saja misalnya mendanai atau untuk membeli buku apa saja yang sifatnya membantu orang yang ingin belajar menulis.
    Dengan begitu pian bukan hanya menyebarkan virus menulis tetapi sekaligus menyebarkan virus keikhlasan dalam membimbing dan memotivasi orang lain……Yaapp
    Wassalam….

  6. By fira on Sep 24, 2007 | Reply

    Assalamualaikum, wah wacana pertama saya dendangin lagu aja deh ” Ooo kamu ketahuan sebar virus ikhlas nambah virus EWA jadinya klop” he3… mudah-mudahan yang ciptain lagu aslinya gak marah.Ya,tanpa saya sadari teman saya dan my angel EWA sama-sama ikhlas memberikan sesuatu yang mulia Insya Allah mempermudah langkah kedepannya Amin. Saya juga tak bisa lupa sama pak Ersis karena beliau sudi memperhatikan orang-orang yang seperti saya dan yang lainnya.Tanpa keikhlasan beliau menuangkan waktu nya memberikan dorongan kritikan yang membangun tak mungkin saya bisa seperti sekarang ini bisa punya blog menyalurkan hobby tulis menulis yang tlah menjadi virus tetap di otak ini.Saya bukan menyanjung tanpa arti tapi ini bukti nyata keikhlasan beliau pada anak didiknya.
    ‘Tuk Hanaku tanpa dirimu pula saya tak mampu lama bertahan dalam dunia tulis menulis ini.Semangatmu selalu memacuku kita bertukar pikiran hampir setiap waktu.Saat down kau selalu berkata “Ah kamu pasti bisa Fir” itulah yang slalu kuingat.Keikhlasan memberi bantuan buku juga saran dan kritikmu adalah suatu kemuliaan han…kini hana sudah diambang keberhasilan doaku selalu menyertaimu kawan tulisan-tulisanmu semakin maju dan mencerahkan.Keep writing sister.
    Inilah keihklasan yang saya dapat dan saya minta maaf buat EWA dan Hana kalau tidak membaca tulisan ini saya tak menyadari betapa tulalitnya fira ini( yah maklum penyakit saya tuh).Berikhlas hati tak merugikan kok kita bisa merasakan betapa indah hidup ini berlandaskan keihklasan.
    Wassalam.

  7. By unai on Sep 24, 2007 | Reply

    Dan pak EWA telah menularkan virus kebaikan…Ikhlas membantu dan memotivasi. pasti yak hanya Hanna saja yang merasakannya..sayapun begitu.

  8. By ichal on Sep 25, 2007 | Reply

    mohon maaf sebelumnya!!
    saya adalah seseorng dari keikhlsan pak ersis, kebetulan jug paket yang saya dapatkan sudah saya baca 4 buku dari 7. dan yang pertama saya lahap adalah “menulis sangat mudah”.

    kebetulan juga,,, pas saya mendapatkan paket itu pas juga menjadi pengangguran, jadinya saya lebih khusuk selain berpuasa juga bisa menikmati buku2 dari bapak ini.

    secara tidak langsung,,, saya juga ikhlas dalam menerima status baru!!! karena ada penawar lamun yaitu pket buku2 tadi.

    hahahahaha

  9. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 25, 2007 | Reply

    Yah, alhamdulillah itulah buah dari keikhlasan. OKI (oleh karena itu) syukurilah, maka akan ditambahkan oleh ALLAH SWT, Amin.

  10. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 26, 2007 | Reply

    Wah bicara mengenai energi, ternyata sadar memang harus dibangkitkan. Ya bisa melalui sebuah tragedy yang sedang menimpa diri atau menimpa sesama umat manusia. Tatkala menimpa diri, berkaca-lah pada teladan dari para pendahulu yang notabene baik akhlak-nya dalam arti memaknai sebuah keikhlashan tatkala suatu hal menimpanya. Tatkala menimpa saudara2 kita, ya kita mencoba ikut merasakan perasaan hatinya, Tetapi ingat, hal ini sangat berat. Empati itu berat. OKI, kudu latihan, tadi.

  11. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 26, 2007 | Reply

    Bujur banar. Ikhlash itu harus dipantik oleh salah satu sebab dari beberapa penyebab, diantaranya tatkala mendapat buah –kebahagiaan/ kebaikan- , mendapat musibah –ketidakbaikan menurut kacamata makhluk- , artinya kebaikan dan musibah yang menimpa baik kita atau orang diluar kita, bisa memantik energi ikhlah kita

  12. By nella on Sep 26, 2007 | Reply

    baca tulisan2 pian ni seperti baca buku harian ajah..
    ngalir………..
    tapi full pesan….

  13. By Rahmadona Fitria on Sep 27, 2007 | Reply

    Tentang ikhlas memancing energi ikhlas, membuat saya benar-benar kagum sekaligus malu. Kagum atas keikhlasan bapak dalam memberi dukungan dan bimbingan gratis kepada para penulis pemula, terlebih kagum terhadap keikhlasan bapak dalam menebar virus ilmu menulis itu mudah dan menyenangkan, sehingga memancing banyak orang tergerak untuk berani dan cinta menulis.

  14. By Rahmadona Fitria on Sep 27, 2007 | Reply

    Rasa kagum juga tertuju kepada sosok seorang Hanna Fransisca. Salut sekaligus terharu atas kegigihannya dalam hidup dan menulis dan keberaniannya berbagi pengalaman tentang pahitnya kehidupan. Kagumku juga atas keberaniannya untuk belajar dan kemauan untuk maju dibidang menulis. Mengenalnya memberi begitu banyak pelajaran berharga. Jadi malu, ternyata diri ini belum seberapa jika dibandingkan dengan seorang Hanna Fransisca.

  15. By M Shodiq Mustika on Nov 21, 2007 | Reply

    Kami mengundang Pak Ersis menjadi juri di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/11/19/pemilihan-top-posts-september-oktober-2007/

    Sebagaimana juri lain, boleh memilih postingan sendiri, boleh pula postingan orang lain. Terima kasih.

    ***Terima kasih. Tapi, ada tulisan saya masuk nominasi, jadi terasa kurang pas, kan bisa bias. Saya merasa terhormat deh.

  16. By nopoi on May 14, 2008 | Reply

    aku sangat antusias stiap membaca buku2 motivator.
    dan aku pun tertarik untuk menjadi seorang penulis buku motivator dengen ide2 yg sudah menumpuk di kepalaku.
    tp aku butuh penuntun,
    mohon di bantu
    nopoi_159@yahoo.com

    ***Bagus. Siaaaaaaaaaaaaap.

  17. By Aling on Dec 13, 2008 | Reply

    Salam kenal mas Ewa…

    Saya seorang pendatang baru diblog…saya ingin sekali bisa menulis dengan baik…walaupun saya akui,saya tidak memiliki pengetahuan yang cukup baik dalam hal menulis,penggunaan kosakata yang baik dan benar atupun apa yang saya tulis apakah sesuai dengan logika atupun tidak,saya tidak tahu …

    Tapi jika keinginan menulis saya datang…saya harus menulis…walaupun apa yang saya tulis tidak tahu apa artinya…kalau tidak bathin saya dikejar-kejar oleh keinginan itu.Semacam ada panggilan jiwa untuk kesana.

    Maka saya beberapa bulan lalu membranikan diri menulis diblog…jujur pertama kali saya membuat blog,kosakata saya sangat terbatas,saya sudah sekitar 8 tahun tidak diIndonesia,penggunaan bahasa indonesia dalam kehidupan sehar-hari ,jarang sekali digunakan.Ini masalah utama buat saya.Tapi suport dan dukunggan sahabat-sahabatkulah yang membuat aku ingin terus belajar…

    Hari ini saya diberi alamat blog ini supaya saya bisa belajar dari sini.Disini saya mengahturkan salam…semoga mas Ewa berkenan juga memberikan masukan buatku.Thanks untuk segalanya.

    ***Ling … jangan dibalik ya. Saya dah ke blog Sampeyan, duh bagus benar tu tulisannya. Saya yang harus belajar. Cuman kalau komen ribet … saya kan gaptek. Capek-capek nulis … ditolak ama blognya he he.

  18. By yg kpengin bisnis ga pake modal,asyik on Nov 14, 2009 | Reply

    subhanallah..
    entah napa sy bergetar ktika bc postingan ini,energi iklas bener2 ngalir di dlm hati..
    oya,sy jg ingin belajar nulis gmn crnya,klo berkenan ajari saya,ini emai sy
    misbahulmunir40@yahoo.com
    trmksh..

  1. 1 Trackback(s)

  2. Nov 26, 2007: perang blog (Multiply vs Wordpress) « Salafi Liberal

Post a Comment