Ikhlas Karena Allah SWT (1.3)

22 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

YA, SAYA IKHLAS. Begitu yang kita ucapkan manakala suatu ketika kurang berkenan dengan kelakuan seorang teman, ikhlas memaafkan. Hati yang dongkol terobati, dan teman yang bersalah hilang rasa bersalahnya. Persahabatan kembali terjalin normal.
 
Ikhlas berarti: (dengan) hati yang bersih (jujur); tulus hati (KBBI, 1988: 322). Mengikhlaskan memberikan atau menyerahkan dengan tulus hati; merelakan. Pendefinisian sedemikian dalam praktik kehidupan sudah benar dengan sendirinya. Kalau teman meminjam buku, misalnya, buku yang dipinjam hilang atau robek, kita memaafkan, merelakan dengan tulus. Itulah Ikhlas. 
 
Pengertian ikhlas dalam katup relasi sosial, sebagaimana diintrodusir, sungguh begitu indah. Keindahaannya dalam praktik menyamankan pikiran, membuai rasa, dan menghilangkan bercak-bercak di hati. Kehidupan menjadi lebih bermakna.
 
Ikhlas, dalam pengertian ibadah kepada Allah SWT lebih dalam dan lebih tinggi. Dalam beribadah, ikhlas berarti tidak ada peruntukkan selain kepada Allah SWT. Murni, tulus, hanya kepada Allah AWT. Tidak ada selain itu. Tujuan tunggal itulah yang diistilahkan Al-Quran dengan ikhlas.
 
Kuncian Al-Quran dengan jelas-sejelasnya, ibadah bukan karena atau dipersembahkan kepada malaikat, presiden, orang tua, dan seterusnya. Ikhlas adalah menghadapkan seluruh amal perbuatan batiniah kepada Allah semata, demikian pula dengan amal perbuatan lahiriah (Umar Sulaiman ‘Abdullah al-Asqar: 14).
 
Pemahamannya tanpa perlu ditafsirkan merujuk tak bergoyang, keseluruhan ibadah yang kita lakukan hanyalah demi dan kepada Allah SWT. Tiada keraguan barang sedikit. Kalaulah misalnya, lantaran malu kepada pimpinan atau kaum kita melakukan sholat, maka palu tidak ikhlas terpukul otomatis. Ikhlas beribadah adalah implementasi keimanan.
 
Jangankan dalam beribadah, mengadu kepada Allah SWT dengan setulus hati, misalnya ketika otak dan rasa sudah demikian membeban, semua kita serahkan kepada Yang Mahakuasa, apa yang dirasakan? Kedamaian. Menurut petuah ulama, kalaulah hati lagi gundah-gelana, berwuduk tengah malam, hamparkan sajadah, sholat malam total berserah diri, hanya satu yang kita peroleh; damai di hati. Itu dalam meminta.
 
Nikmat tak terhingga tentunya dalam beribadah. Kita sholat, kita puasa, kita bersedekah, dengan hanya dan demi Allah SWT semuanya menjadi sempurna. Dalam pandangan ‘biasa-biasa’ saja, ada yang mempertanyakan tidak logis menyerahkan nyawa atau megorbankan nyawa orang lain karena Allah SWT. Pada kenyataan, lelakon tersebut dijadikan jalan bagi banyak orang.
 
Akhir-akhir ini kita sering mendengar, demi menegakkan keyakinan, apalagi ditambah embel-embel jihat fi sabilillah, siap membunuh dan terbunuh. Padahal, terkadang sasarannya orang-orang yang tidak ada sangkut-pautnya dengan keyakinan yang diperjuangkan. Ada yang mengatakan melenceng dari ajaran agama. Tapi, tidak bagi yang berkeyakinan. Mereka yakin seyakinnya, jalan tersebut jalan yang benar, jalan yang lurus.
 
Keyakinan yang dipupuk berdasarkan keikhlasan hanya kepada Allah SWT semata. Apabila bersemayam tangguh di sanubari, apa pun tidak akan menggoyangnya. Dan, … apa pun tak akan menjadi penghalang. 
 
Karena itu, ikhlas dan keikhlasan adalah ‘ideologi’ yang jangan sekali-kali dipandang sebelah mata. Siapa yang menyangka, siapa yang bisa memprediksi, bangsa Arab yang jahiliyah begitu diimankan Rasulullah SAW menjadi bangsa yang beriman tangguh tak tergoyahkan. Ikhlas kepada Allah dan menjalankan perintahnya sebagaimana diamanahkan melalui Rasulullah.
 
Tugas kita semua adalah ‘memurnikan’ keihlasan secara kaffah, dalam kandungan ajaran Islam sebagaimana dipantulkan Rasulullah. Kesemua itu dimulai dengan keyakinan, ikhlas kepada Allah SWT. Pun, tanpa ragu meningalkan larangan-Nya. Ikhlas secara kaffah.
 
Itulah tugas kita. Ikhlas beribadah kepada Allah SWT, ikhlas meimami Rasulullah, ikhlas dalam implementasi iman Islam dalam praktik kehiduan, iklas hanya karena Allah SWT.
 
Bagimana menurut Sampeyan?

  1. 8 Responses to “Ikhlas Karena Allah SWT (1.3)”

  2. By hanna on Sep 23, 2007 | Reply

    Ikhlas beribadah, ikhlas memberi, ikhlas menolong sesama, semua hal di lakukan dengan ikhlas, kadonya sebuah hati yang penuh kedamaian dan hati yang damai tidak bisa di tukarkan dengan harta benda.

  3. By mathematicse on Sep 23, 2007 | Reply

    Ikhlas itu ketika kita tidak mengharap pengakuan dari siapapun, bahkan terhadap Allah SWT sekalipun. (Walau saya masih sangat jauh dari yang saya ungkapkan ini. Maklum masih anak kemarin sore… :D)

    Termasuk juga beribadah. Ya beribadah saja dengan benar, sesuai yang diajarkan agama kita (Islam), sesuai yang dicontohkan oleh Rasullullah. Karena pada hakikatnya ibadah yang ikhlas itu bukan untuk Allah, tapi untuk kita sendiri. Perkara apakah Allah akan menerimanya atau tidak, itu bukan urusan kita. Hanya Allah yang Maha Tahu. Yang pasti kita mnejalankannya. (Correct Me If I am Wrong. Wallahu a’lam. :D )

  4. By fira on Sep 24, 2007 | Reply

    Ass,Bila kita berbuat baik dengan ikhlas,maka kita akan menikmati kebaikan tersebut dan hati kita pun terasa sejuk,akan tetapi jika kita berbuat baik tanpa keikhlasan niscaya akan banyak mengeluh dan kecewa. tul kan pak…Wasalam.

  5. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 26, 2007 | Reply

    Ikhlash itu memang karena ALLAH semata, dalam apapun dan tentang kebaikan apa pun dalam berkehidupan manusia. Tidak melatih diri dalam ke-ikhlash-an, sama saja menjerumuskan diri dalam ketidakbaikan. Untuk ikhlas itu perlu sebuah ‘tadrib’ atau latihan yang terus menerus, sehingga berhasil. Wallahu a’lam.

  6. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 26, 2007 | Reply

    ALLAHul Mustawanu, Allahlah satu-satunya penolong. Tatkala muncul sebuah masalah, maka yang terbesit pertama kali dalam diri kita ya ALLAH lah yang akan menolong kita. Semacam reflek-lah. Karena masalah atau musibah atau kebahagiaan itu muncul karena izin ALLAH.

  7. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 26, 2007 | Reply

    I’dad listiqbalil hayati atau siap dalam menghadapi kenyataan hidup. Juga Arridho biwaqi’ul hayati artinya ridho dalam menghadapi kenyataan hidup. Intinya, yang terbaik menurutku belum terbaik menurut ALLAH, oleh karena itu Terimalah apa yang dianugrahkan ALLAH SWT kepada kita, InsyaALLAH itu yang terbaik bagi kita. Tentu saja, jika hal itu masalah, ya kita harus mencarikan solusi2nya.

  8. By Rahmadona Fitria on Sep 27, 2007 | Reply

    Mengenai ikhlas karena Allah, semua setuju kalau itu harus. Tapi mungkin ukuran dari keikhlasan tersebut hanya Allah yang bisa menilainya. Bisa jadi seseorang mengatakan kalau ia ikhlas tapi Allah tentu lebih tahu kadar dari keikhlasan orang tersebut.

  9. By syaharuddin on Sep 28, 2007 | Reply

    ikhlas karena Allah, ya sebuah kalimat yang mudah diucapkan, tapi tidak semudah menjalankannya. Saya hanya berharap semoga saya termasuk orang yang selalu ikhlas dalam beramal –apa saja. Karena ikhlas merupakan pekerjaan hati, dan hanya Allah yang mengetahui sejauhmana kualitas keikhlasan kita itu. Yang jelas mari kita selalu berusaha berbuat ikhlas agar amal kita tidak sia-sia…amin

Post a Comment