Ikhlas Keduniaan (1.2)

21 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

IKHLAS NILAI TAMBAH. Pada sajian terdahulu, digambarkan aksi ikhlas dalam kontek manusia, kandungan kebahagiaan pada dan di dalam diri sendiri. Sebagai makhluk yang mengerti, tentu akan lebih bermakna manakala kesemua itu kita sandarkan hanya pada Allah SWT semata. Tidak ada cela dan celaan ketika berikhlas dalam kemanusiaan.
 
Tetapi, kalau tapaknya hanya kemanusiaan, sama saja dengan apa siapa pun di muka bumi ini. Sebagai Muslim, kita akan mendapatkan value added, amal ibadah ikhlas, apabila hanya karena Allah SWT. Ikhlas dalam pengertian umum dan keduniaan yang tidak hanya diandalkan pada ‘kebaikan’ kandungan kemanusiaan.
 
Jadi, keikhlasan dalam berbuat adalah hanya karena Allah SWT. Tentu saja, dimulai dari niat, dilakukan dengan jujur hati, dimaknai sebagai aplikasi perintah Allah. Dalam buku-buku Iman Ghazali, banyak ditulis perbuatan-perbuatan sedemikian akan mendekatkan kita pada Sang Pencipta. Intinya, berbuat sesuatu, apa pun bentuknya, hanya karena Allah.
 
Hanya saja terkadang kita abai memaknainya. Kuncinya barangkali yang tidak pernah dipakai atau  disadari. Betapa tidak. Kita melakukan ‘kebaikan’ dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Ketika menghidupkan mesin mobil berangkat kerja lalu menyetir dan sampai di kantor menunaikan tugas keduniaan bukankah sebenarnya kita melakukan perintah Allah SWT. Lalu, kenapa tidak kesemua gerak kehidupan kita landaskan kepada melakukan amar-Nya? Kenapa, hayo?
 
Sering kita lupa, tugas ya tugas, kewajiban ya kewajiban, tanggung jawab ya tanggung jawab, yang kita lakukan berdasarkan pemahaman sesuai kesepakan sesama manusia. Padahal ada yang lebih mulia yang dapat menuntun sekaligus melakukan kewajiban kepada Sang Mahakuasa, yaitu niat tulus, ikhlas, hanya karena Allah SWT.
 
Artinya, kita ‘memotong’ mata rangkai awal melakukan sesuatu hanya karena harus melakukan. Pasti sudah, melakukan sesuatu dengan ikhlas berakibat positif bagi diri sendiri, bagi yang terkena perlakuan, bagi solidaritas, bagi kemanusiaan, bagi hubungan manusia, tetapi ada yang tertinggal.

Jujur saja, bukan maksud menggurui. Saya sadar, sebagai manusia tidak steril dari riya, belum lagi hidup dan berkehidupan hanya demi Allah. Tetapi, saat ini sedang mabuk membaca buku-buku menggugah tentang kehidupan Muslim. Ada yang mengeliat, ada yang protes dalam diri, ‘kelakuan’ selama ini, masih jauh dari ridho Allah.

Introspeksi adalah tancapannya, bermimpi hidup dan berkehidupan ideal adalah cita-cita maknawinya, dan menyebar secuil pemahaman yang terlambat mungkin tidaklah salah. Ringkasnya, sekalipun masih dalam tataran mencari pemahaman hakiki tidak ada salahnya dinikmati para ikhwan. Kita berbagi rasa, berbagi cinta.

Setidaknya, dalam melakukan apa saja  memulai kepada ridho Allah SWT. Tidak penting sedikit atau banyak. Dengan memulai Insya Allah semakin hari semakin menggunung dan muaranya ‘bersatu’ dengan yang dititahkan Sang Mahapemberi.

Iklhas berbuat, bertingkah laku, berperan, dan apa  saja dengan memulai niat ikhlas, melakukan ikhlas, berlandaskan kuasa Mahapengasih adalah tujuan. Visi kehidupan kita menuju kepastian sesungguhnya, berjumpa Allah pada kehidupan sesunguhnya di akhirat. Untuk itu, satu-satunya jalan berbuat sesuatu dengan ikhlas, hanya demi dan untuk Allah semata. Itulah keihlasan dalam arti sesungguhnya.

Jangan ragu jangan bimbang. Aluran kehidupan adalah perjuangan. Kita tidak dapat serta merta menjadi manusia idaman, menjadi Muslim sejati. Nabi Muhammad SAW saja melakukan perjuangan agar kita jadikan tauladan. Dengan kata lain, kehidupan harus diisi dengan pencarian, pencarian yang bermakna.

Berniat ikhlas, berlaku ikhlas, harus dilatih dari waktu ke waktu, dibiasakan hingga menjadi habit. Percaya, nilai perjuangan mencari adalah ibadah itu sendiri. Bukankah hidup ini perjuangan? Perjuangan ke arah lebih baik, ke arah ideal, memuju Muslim sejati. Thee life is change, change in progress. Insya Allah.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 5 Responses to “Ikhlas Keduniaan (1.2)”

  2. By fira on Sep 22, 2007 | Reply

    Assalamualaikum,ikhlas harus di topang dari keluhuran niat ya pak. Niat karena Dia sang Pencipta sebagai muslim yang baik kita amalkan apa yang Allah berikan pada kita Hati ini…bersihkan dari percikan prasangka yang membuat keikhlasan itu mengendap.bersama kita perjuangkan terus kebaikan dalam hidup ini.Wasalam.

    ***WWW … Inamalakmalu bin niat

  3. By hanna on Sep 22, 2007 | Reply

    Melakukan apapun mang harus dengan keikhlasan.Tanpa keikhlasan bathin kita yang tersiksa.

  4. By unai on Sep 22, 2007 | Reply

    dan difinisi ikhlas itu kadang kita kurang memahaminya. Kalau saya menganalogikannya seperti kita buang air, besar ataupun kecil. Tidak usah dilihat apa yang keluar, apalagi diingat ingat apa yang sudha dimakan. Buang saja…begitu mungkin sederhananya.

    Ah pak tulisannya bikin saya addict pingin baca dan baca lagi.

  5. By yung mau lim on Sep 22, 2007 | Reply

    Selamat Siang Pak!Kita sebagai manusia kadang2 bersikap terlalu jumawa sehingga lupa dengan Sang Chalik.Mari letakkan kening kita di atas lantai,tuluskan hati kita untuk berbuat hal2 yang diridhoiNya.Selamat Berpuasa Pak!

  6. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 26, 2007 | Reply

    Ikhlash tidak harus terucapkan dan lafaz dua katub bibir kita, keikhlashan adalah nilai yang ada di dalam lubuk hati kita, hanya diri sendiri dan ALLAH sajalah yang mengetahuinya. Semoga mendapat keridho-an Nya, Amin.
    Dan juga semoga, buku ini nantinya bisa menambah kasanah buku-buku ke-Islaman yang telah ada.

Post a Comment