Ikhlas Kaca Keluarga (1.1)
21 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MENJELANG IDUL FITRI. Suatu kali, menjelang hari raya Idul Fitri, saya dan isteri, membawa anak-anak ke mall di kota kami membelikan pakaian dan perlengkapan sholat. Si Buah Hati senang tak terkirakan. Rona muka mereka berbunga-bunga, senyum dan tawa pancarannya. Mobil seolah bergoncang menampung dendang gembira mereka ikut bersuka cita.
Sesampai di mall, ketiga anak kami berpindah dari satu kounter ke kounter lain mencari apa yang diinginkan. Setelah menghabiskan waktu sejaman waktu berbuka pun tiba. Kami ke kounter makanan. Riang mereka terlihat semakin sempurna ketika menyeruput minuman dan makan dengan lahap.
Tidak ada guratan minus, hanya satu pancaran, senang. Mereka bercerita dan ‘mendongeng’ tentang banyak hal. Kami tentu lebih senang. Kebahagian di relung hati mengaliri aliran darah. Nikmat.
Sebagai orang tua, momen tersebut dirasakan puncak kebahagian, membahagiakan anak-anak. Momen-momen seperti itu, apabila diurai dalam rentang kehidupan akan banyak sekali. Kebahagian terdepan adalah ketika melihat ‘orang lain’ bahagia, yaitu darah daging sendiri.
Suatu kali, seorang teman mengirim email dengan permintaan agar tulisannya minta dieditkan dan dikirimkan ke media cetak. Setelah dimuat tiga hari kemudian dia mengucapkan terima kasih teramat sangat. Hati sangat bahagia melihat wajahnya riang tak terperikan. Entah apa yang bergulat di pikiran dan perasaannya, tidak tahulah. Saya menikmati, dan itu mendatangkan perasaan bahagia, pancaran rona wajah bahagiannya.
Hal sepadan akan kita temui, manakala suatu ketika saat terjadi bencana banjir misalnya, memberikan beberapa lembar pakaian atau makanan yang diterima korban banjir dengan teramat senang. Senang berbagi rasa, menolong mereka yang terkena musibah. Empati kata orang.
Kita membantu, korban banjir membutuhkan, bak mur dengan baut, padu. Jalinan koneksi kemanusiaan ‘hati’ ke ‘hati’, aplikasi kepedulian, tolong-menolong. Padahal yang diberikan hanya secuil dari yang dipunyai, tetapi sangat berarti bagi yang membutuhkan.
Ternyata ‘berbahagia’ bersama-sama tidak sulit, dan … tidak mahal. Empati solidaritas melahirkan kebahagiaan. Hadis Nabi Muhammad SAW: Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, menampakkan kenyataan sebenarnya. Apa kunci dibalik semua itu? Dibalik kunci tersebut ternyata ada yang lebih hebat. Apa itu?
Ketiga contoh di atas menampakkan ketika melakukan sesuatu apabila kita melakukan dengan ikhlas, luhur dari nurani, sungguh dahsyat. Tidak ada muatan agar dipuji, dikagumi, dianggap dermawan, atau apalah begitu. Pokoknya, berdasarkan pertimbangan, sesuatu yang harus dilakukan, ‘kewajiban’ yang harus ditunai.
Tetapi saudara, kalau diikuti muatan kepentingan, selinap bahagia di relung hati tidak akan tertuai. Itulah yang dikatakan ikhlas; melakukan sesuatu dengan hati yang bersih, jujur, dengan hati tulus. Tidak peduli akan dipuji atau dicaci orang yang penting hati tertaut menolong sesama.
Dalam pemahaman lebih tinggi seperti diutarakan para ulama, ikhlas berarti melakukan sesuatu hanya karena Allah semata, perbuatan hanya untuk-Nya; melakukan sesuatu hanya karena Allah SWT; tidak membutuhkan saksi atau pujian manusia. Perbuatan dilakukan hanya demi Allah sekalipun obyeknya manusia.
Bagaimana menurut Sampeyan?









9 Responses to “Ikhlas Kaca Keluarga (1.1)”
By fira on Sep 22, 2007 | Reply
Asalamualaikum,betul pak saya setuju sekali memberi sesuatu dengan ikhlas lahir dari lubuk hati tanpa embel apa-apa terasa indah didalam sini(hati) kita pasti akan terenyuh bahagia ada sesuatu didalam ini yang merasakan. nikmat senang bahagia tak terkira…karena membuat orang lain bahagia apalagi orang dekat sendiri,kita pun ikut merasakan apa yang mereka rasakan.Subhanallah…Wassalam.
***Yoha, itu pemahamannya, bila mersakan satu-satunya jalan melakukan, dan … sering dilakukan, tapi … adakah kita bersyukur? Coming so on bersyukur.
By mathematicse on Sep 22, 2007 | Reply
Hmmmm, begitu ya Pak rasanya bila punya anak yang senang, maka orang tua pun jauh lebih senang lagi.
Pantas saja orang tua saya, dulu sewaktu saya kecil, hampir selalu menuruti keinginan anaknya yang bandel ini (tentunya keinginan anak-anak), rupanya begitu senang ya perasaan orang tua kita bila anaknya senang. Jadi kangen sama orang tua (pengen manja-manjaan ke mereka, ingin sedikit merengek seperti dulu… hihihi… malu ah…
)
Saya baru merasakan kesenangan serupa seperti itu, ketika saya bisa menyenangkan adik-adik saya. Ketika mereka senang, saya pun sebagai kakaknya juga jauh ikutan senang dan bahagia. Rasanya gemana gitu…
Oh, iya. Memang ketika kita berbuat baik ke seseorang tanpa dilandasi niat ini-itu (untuk mengambil keuntungan misalnya), rasanya senaaaaang banget. Dan yang dibantu pun sangat senang sekali.
Tapi, jaman sekarang, amat jarang ditemui orang yang mau membantu tanpa ada embel-embel-nya, ada pamrih dibaliknya. Saya gak suka orang-orang semacam ini. Bikin sebel, menyebalkan.
Betul, tangan di atas lebih baik dibanding tangan yang dibawah. Memberi lebi baik daripada menerima. Karena makin kita banyak memberi (uang, ilmu, dlsb), maka Yang Maha Memberi, Allah SWT pun akan lebih banyak memberi pada kita. Setuju?
***Yoi, dimulai dari aliran darah, melebar … melebar … melebar … we are the people, bratherhood (?) he he
By unai on Sep 22, 2007 | Reply
wah setuju pak, berbahagia berjamaah itu bisa kita raih, asalkan ada ruang hati kita untuk memberikan sedikit dari yang kita punya. indahnya hidup ini ya pak
By dinna b on Sep 24, 2007 | Reply
Betapa senang membaca suatu wacana yang berisi tentang kebahagiaan sebuah keluarga. Saya jadi teringat kakek dan nenek saya di sumatra yang sudah beberapa tahun lalu meninggalkan kita, mereka rela berkorban apa saja demi kebahagiaan anak dan cucunya. Tidak seperti kakek dan nenek saya yang disini,selalu ada maksud tersembunyi jika telah memberi,ingin selalu di ingat,dan sangat menyebalkan. Padahal ingin rasanya bermanja dengan mereka, tapi lain ceritanya.
Ada saat memberi,ada juga saat menerima. Tapi kadang kebahagiaan yang kita beri, pahit yang kita dapat. Namun juga, semoga dengan keikhlasan, masih banyak orang yang perlu di beri dan menghargai arti terimakasih.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 26, 2007 | Reply
Yah, itulah keikhlashan, memang memerlukan perjuangan. Ternyata akan menghasilkan buah yang mungkin tidak kita ‘nyana-nyana’ –berbahagia bersama sesama-.
Salam.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 26, 2007 | Reply
Mari galakkan keteladanan kebaikan dalam keluarga, mulai dari kita dulu dan dari lingkaran yang terdekat atau terkecil. Kita sebagai anak, mari berikan contoh pada anggota keluarga kita, perilaku ikhlash.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 26, 2007 | Reply
Mungkin ikhlash bisa disebut sebagai perilaku juga, karena yang namanya perilaku itu adalah dipelajari. Nah Ikhlash itu kan juga harus dipelajari dengan latihan2, artinya ikhlash itu juga merupakan sebuah perilaku.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 26, 2007 | Reply
Mari galakkan keteladanan kebaikan dalam keluarga, mulai dari kita dulu dan dari lingkaran yang terdekat atau terkecil. Kita sebagai Ayah, mari berikan contoh pada anggota keluarga kita, perilaku ikhlash.
By Rahmadona Fitria on Sep 27, 2007 | Reply
Assalamualaikum. Membaca tulisan bapak tentang ikhlas kaca keluarga, saya jadi merasa terharu. Saya sependapat banget, tiada kebahagiaan dan kenikmatan yang lebih besar selain ketika kita sebagai orangtua melihat ekspresi kebahagiaan dari wajah-wajah polos anak-anak kita. Kebahagiaan yang tidak tertandingi, kebahagiaan yang benar-benar terasa mengalir dan memenuhi aliran darah , nafas dan hati kita. Wow, inilah nikmatnya jadi orangtua ketika melihat anak-anak kita benar-benar menampakan kebahagiaannya.