Belajar Matematika di Bulan Ramadhan

20 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MATEMATIKA. Berbicara tentang matematika, tepatnya pendidikan matematika, membuat gregetan. Betapa tidak. Capaian prestasi pendidikan matematika —SD-SMTA— sungguh tak elok. Selidik punya selidik, … nya banyak yang payah atau parah. Buktinya? Capaian pengajaran matematika anjlok.

Bak menakar ‘benci’ ketika, misalnya, berbagai keluhan matematika jeblok, tidak ada usaha serius signifikan yang dilakukan lembaga terkait mana pun. Tiap tahun anjlok, ditanggapi biazza-biazza sazzza. Coba selidiki formula apa yang dilahirkan pengajarnya (guru), juga dari LPTK, atau matematikan. Muaranya satu: keluhan dan pengeluhan.
 
Banyak pelajar bingung di sekolah,  bertanya pada orang tua, tidak paham. Jadilah pendidikan matematika bak pembingungan massal. Berjalan sebagaimana biasanya dan yang benar-benar paham barangkali segelintir ‘warga matematika’.
 
Lebih celaka, mudah-mudahan tidak, karena diujikan pada UN, e … hasilnya bagus-bagus? Konon, ada yang menenggarai sukses besar pelajaran matematika di UN justru karena guru ikut menjawab soal untuk siswa. Kalau yang belakangan saya tidak usah membahasnya, itu pekerjaaan setan. Ih … mana tahu … siapa saja yang menjawabkan soal-soal UN untuk siswa, apakah Matematika, Bahasa Ingris, atau Bahasa Indonesia, adalah orang pertama masuk neraka. Menitipkan perilaku curang, koupsi, dalam dunia pendidikan. Dosa ‘besar’ yang sulit diampuni Allah SWT. Semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian (hayo … lagu siapa?).
 
Akan halnya saya, pendidikan formal tidak bertautan dengan matematika secara lengket. Saya sekolah di PGAN kemudian masuk IKIP. Karena satu kebutuhan belajar setelah sarjana muda. Saya beli buku Matematika jilid IX mulai dari diagram Venn. Menurut saya asyik belajar matematika.
 
Ketika kuliah S2 baru belajar agak serius untuk berbagai keperluan. Lalu, mengajar mata kuliah Logika dan Metode Peneltian di PT yang ada bau-bau matematikanya. Ketika aktif berselancar di dunia maya, menemukan web yang membahas matematika dengan cara ‘jalan yang benar’ lebih giat baca-baca. Selama ini, apakah Doktor Matematika yang bicara, tidak membuat tertarik. Terlalu ‘ilmiah’ keterangannya. Semakin sulit dimengerti semakin ilmiah kali ya … he … he …
 
Hal lain yang juga memicu, ketika anak saya kelas 5 SD dia mencapai juara 3 tingkat provinsi (IPA). Saya semakin kepincut. Apalagi ketika pakar matematika Islam Fahmi Idris dari UIN Jakarta menghadiahkan kepada seorang kawan sekeping CD Flying Book. Wuaw apa saja, terutama kekuasaan Allah dan ciptaannya, bacaan sholat dan pola amalan, disajikan dengan angka-angka yang saling bertautan. Matematika itu menarik tergantung siapa yang menyajikan.
 
Perhatikan kutipan sampul belakang buku Matematikan untuk Kelas IV SD/MI berikut: Kamu mempunyai 5 kelereng dalam kantong. Kamu membagikan kelereng tersebut kepada 5 orang. Setiap orang mendapat sebuah kelereng. Bagaimana caramu membagi sehingga masih ada satu kelereng di dalam kantong? Mungkinkah?
 
Pertanyaan kedua: Seorang ibu mempunyai 5 orang anak. Setengah dari jumlah anak adalah laki-laki. Mungkinkah?
 
Jawabannya gampang (dan terkesan konyol): Sediakan 5 kelereng dalam satu kantong. Ajaklah 5 temanmu. Mintalah 4 temanmu mengambil masing-masing sebutir sebutir kelereng. Sekarang di dalam kantong masih ada 1 kelereng. Berikan kantong yang berisi 1 kelereng tersebut kepada temanmu yang ke-5. Mudah, kan?
 
Jawaban pertanyaan kedua: Mudah sekali, karena anak ibu tersebut laki-laki semua. Kalau semua anak itu laki-laki, mau setengahnya, sepertiganya, atau seeperempatnya, tetap saja laki-laki. Ya, kan?
 
Pernah dengar nama Shri Dattathreya Ramachandra Kaprekar? Itu tu matematikan dari negeri Syahruk Khan yang berjaya dengan Operasi Kaprekarnya. Coba: pilihlah suatu digit empat bilangan yang terdiri atas beberapa angka berbeda. Misal seorang siswa lahir tahun 1996. Urutkan angka tersebut dari yang terbesar sampai terkecil, 9.961.
 
Sebaliknya, 1.699. Kurangi  bilangan kedua terhadap pertama sehingga diperoleh angka 9.961-1.699 = 8.262. Hasil pengurang diperlakukan sama seperti bilangan sebelumnya sehingga didapat perhitungan:

 9.961 - 1.699 = 8.262
 8.622 - 2.268 = 6.354
 6.543 - 3.456 = 3.087
 8.730 - 0.378 = 8.353
 8.532 - 2.358 = 6.174
 7.641 - 1.467 = 6.174

Setelah didapat bilangan 6.174 maka hasilnya selalu 6.174. Itulah matematika, sebuah ilmu yang penuh misteri dan keajaiban. Anehnya lagi, hasil penggurangan itu jika angka-angkanya dijumlahkan hasilnya selalu 9. Mari kita lihat:

 8.262 — 8+2+6+2 = 18 — 1+8=9
 6.354 — 6+3+5+4 = 18 — 1+8=9

 Bagaimana ekplanasinya, mana saya tahu. Itu terserahlah pada guru-guru matematika internet saya yang menyebarkan visrusnya sehingga tertarik belajar. Minimal, tidak malu lagi kalau anak-anak bertanya dan mampu menjawab berbagai hal.
 
Yoha, matematika itu sungguh menarik. Kenapa jadi momok? Ada pepatah: The man behind the gun. Yah, kalau hal sangat menarik dan menyenangkan menjadi momok manakala diajarkan, siapa yang salah?

Mumpung guru-guru pada libur di bulan Ramadhan yang banyak hal dimudahkan ini mengajarkan anak-anak di rumah tentang matematika, ngak berdosa kan? 
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 20 September 2007.

  1. 17 Responses to “Belajar Matematika di Bulan Ramadhan”

  2. By mathematicse on Sep 20, 2007 | Reply

    Lho kok jadi ilang ya koment saya? Test (ulangi)

  3. By mathematicse on Sep 20, 2007 | Reply

    Pak, kok koment saya kalau kepanjangan ilang ya? Maaf. :D

  4. By Ersis W. Abbas on Sep 20, 2007 | Reply

    Ah ngak tu … banyak juga kog yang panjang-panjang he he

  5. By mathematicse on Sep 20, 2007 | Reply

    Serius nih, Pak. Saya sudah koment berulan-ulang. Kok Ga muncul-muncul ya…? :D
    Nih dia koment saya itu:

    Duh harus saya ulangi deh kalimat yang saya tadi. Begini.

    Wooow, kereeen Pak, saya acungi dua jempol deh buat bapak… :D
    Saya pun jadi tertarik membaca artikel ini. :D
    Iya, saya juga heran. Kenapa setelah diberlakukan UAN, nilai matematika siswa-siswi kita bagus-bagus. Sebetulnya bila memang benar begitu, saya sangat bersyukur. Cuma gara-gara ada bergelintir oknum yang tak bertanggung jawab terhadap mutu pendidikan kita, saya jadi meragukan hasil yang bagus-bagus tersebut.

    Btw, saya juga pengen baca/lihat CD karya Pak Fahmi Idris itu… :D
    Oh, iya. Saya pun bisa menjelsakan kenapa hasil suatu operasi aritematika (di sini pengurangan) bila angka-angkanya dijumlahkan hasilnya selalu 9. Cuma penjelsannya butuh ilmu yang “rada-rada” tinggi, yakni Teori Bilangan, sehingga cakupan pembacanya kurang luas. Salah-salah nanti matematika dicap angker lagi… hehehe

  6. By mathematicse on Sep 20, 2007 | Reply

    Alhamdulillah sekarang sudah muncul… :D (kayaknya ada yang aneh nih… :D )

  7. By hanna on Sep 21, 2007 | Reply

    Tu master matematikanya dah muncul.Saya suka mumet lihat angka-angka, tapi si Mathematicse sudah membuat saya tertarik tuk terus mengikuti cerita matematika dengan tokoh Tom nya.
    Wah, kalo semua blog isinya itung-itungan , saya tambah cepat tua nih, hi3. Habis tiap kali harus berpikir-pikir sambil mengkerutkan dahi.Tambah kerutannya aja .Jangan2 kerutan di dahi saya di jadiin matematika juga sama dia.Kabur dulu ah… sebelum Pak Juprinya datang.Wa ka ka ka ka

  8. By unai on Sep 21, 2007 | Reply

    Matematika..duh kebanyakan anak ngeri denger judul mata pelajaran ini, tapi banyak cara untu membuat belajar matematika menjadi mudah…tergantung kreatfitas gurunya. SUdah pelajaran sulit, gurunya pun tak enak membawakannya…

    Kalo saya melongol blog tetangga sebelah (mathematicse) wah bakal banyak nih penggemar matematika…gak takut lagi

    ***Barnag menarik kog jadi momok, ya … tegantung gurunya, Ibunya he … he … Matematika itu tidak lebih keras dari kolangkaling to.

  9. By adi fitriansyah rizqoni on Sep 22, 2007 | Reply

    Belajar matematika memerlukan konsentrasi yang tinggi, untuk itu diperlukan suasana yang tenang agar lebih mudah mencerna matematika itu sendiri. Belajar matematika dibulan ramadhan? its OK.. Ide yang bagus. Matematika memang pelajaran yang sulit, momok yang sangat menakutkan bagi siswa, tak heran kalau nilai-nilai yang didapat oleh siswa kebanyakan anjlok. Kenapa bisa begitu? menurut saya, jawabannya adalah siswa kurang mengerti, atau kasarnya lagi siswa itu tidak paham. bahkan bagi siswa yang tidak senang pelajaran matematika, akan mencoba untuk menghindari pelajaran tersebut. Nah disini guru matematika dituntut untuk mengembangkan kreativitasnya, jangan sampai siswa itu jenuh karena gurunya tidak enak dalam membawakan pelajaran. Gunakan strategi yang tepat dalam mengajar matematika, guru juga harus benar- benar menguasai materi pelajaran. Bagaimana siswanya mau paham kalau gurunya dalam menyampaikan pelajaran tidak menguasai materi.

  10. By M. agustiannur on Sep 22, 2007 | Reply

    Memang kalau ilmu itu semakin berkembang maka ilmu itu semaikin sulit dimengerti. Seperti matematika, pada tahapan dasar kita diajarkan mengenai tambahan, kalian, bagian dan pengurangan yang dilajarkan dengan menggunakan metode alami yang menyenagkan seperti bermain. Sehingga dengan santai anak bisa menguasai masalah itu, sedang memasuki tahapan lanjutan, yang dipelajari tidak hanya sebatas persamaan - persenan, tapi juga sudah membahas tentang logaritma, kalkulus, dan lainnya dengan menggunakan metode yang tidak lagi menyenangkan serta seakan dipaksakan. Oleh karena itu banyak yang kurang suka belajar matematika, sehingga hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
    Jadi menurut saya, matematika dapat di buat seperti permainan yang menyenangkan agar anak tidak lagi dibuat takut dengan pelajaran matematika sehingga hasil yang diinginkan dapat tercapai.
    Terima kasih!!

  11. By yung mau lim on Sep 22, 2007 | Reply

    Hanya satu kata yaitu Tuhan sudah mengatur jalan hidup manusia.Semakin lama saya semakin yakin akan kebenaran kata2 ini.Menurut hemat saya disiplin ilmu apapun tidak dapat dipaksakan kepada seseorang untuk dapat menguasainya dengan fasih,termasuk matematika.Setiap individu di alam fana ini sudah diberi bekal yang berbeda-beda oleh Allah SWT,tujuannya untuk saling melengkapi hidup manusia.Orang2 seperti Newton,Archimedes,Albert Einstein dan ilmuwan besar lain,bahkan kita semua adalah hadiah Allah untuk umat manusia itu sendiri.Dengan adanya kelebihan dan kekurangan kita masing2 maka kita saling mengisi,mencintai,menyayangi,menghargai dan merasa diri kita makhluk yang amat lemah di depan Allah.Kita hanya dapat berikhtiar untuk berusaha lebih baik sambil meminta belas kasihan Allah agar usaha kita diridhoi,jangan jadi jagoan ya he5.Maaf ya Pak,jika ada pendapat saya yang tidak berkenan di hati Bapak.Jika Bapak senang itu semata-mata bimbingan Allah.Terima kasih Pak,selamat berpuasa !

  12. By Yari NK on Sep 22, 2007 | Reply

    Hmmm… saya heran kenapa matematika selalu dijadikan momok ya? Padahal menurut saya, pelajaran yang paling ‘menyeramkan’ itu adalah…. SENI RUPA!! Huehehe… :D

  13. By Angki Hardanika on Sep 22, 2007 | Reply

    pelajaran mate-metika menjadi momok yang menakutkan bagi orang-orang pada umumnya, tapi jangan dipandang sebelah mata saja , mete-matika juga adayang menyenanginya bahkan tergila-gila akan ilmu pasti ini. ilmu mate-matika ini di sekolah-sekolah di jauhi dan di takuti para siswa yang berkemampuan kurang, tetapi walaupun siswa yang cerdas sekalipun belum tentu menyukai mate-matika ini, itulah mengapa ada jurusan IPA dan IPS,walaupun di IPS ada juga ilmu menyangkut angka-angka tapi minat setiap orang berbeda- menurut saya mate-matika merupakan ilmu yang dibutuhkan hanya seperlunya saja(hanya untuk kebutuhan sehari-hari), karna apabila para siswa terjun ke masyarakat nantinya, ilmu yang lebih banyak terpakai nantinya adalah ilmu Sosial, sedangkan mate-matika hanya seperlunya saja, misalnya dalam belajar “Integral” dalam mate-matika apakah nantinya akan terpakai dalam masyarakat? memang belajar mate-matika ini sangat diperlukan, apalagi di era globalisasi seperti sekarang ini, kalau bapak memang berpihak pada ilmu mate-matika dan ingin membuat negara atau daerah sendiri agar tidak payah seperti yang bapak bilang, sudahkah bapak memasyarakatkan mate-matika dan mematimatikakan masyarakat dengan usaha anda sendiri selain dari tulisan ini????

  14. By helmiansyah on Sep 23, 2007 | Reply

    Belajar matematika buat banyak orang adalah hal yang sangat membosankan karena harus mempunyai ketelitian dan kecermatan yang ektra. Kebanyakan orang yang sangat benci dengan pelajaran tersebut dikarenakan momok sang pengajra (guru matematikanya)juga sangat menakutkan.
    Kalau ingin nyaman belajar matematika maka kita harus terlebih dahulu menyenangi sang guru.

  15. By hanik puspitasari on Sep 24, 2007 | Reply

    berbicara matematika … mengingatkan saya pada 2 tahun yg lalu … matematika adalah pelajaran yang menyenangkan ketika pembawaan sang guru sesuai dengan keinginan kita. guru SMU saya berhasil membuat saya menyukai pelajaran tersebut, alhasil akhirnya saya memilih pendidikan matematika pada urutan teratas pilihan SPMB. tapi kesenangan saja ga cukup karena saya sendiri ga pernah melatih ketelitian . ya, angka2 itu memusingkan dan memerlukan ketelitian kejelian . tapi jangan salah, bukan berarti orang sejarah terlepas dari matematika, buktinya ada banyak rentetan angka tahun yg harus dihafalkan orang sejarah … so, menjadi orang matematika atau orang sejarah tetep aja orang …

  16. By Edwin Norjami on Sep 25, 2007 | Reply

    Belajar matematika dibulan Ramadhan…Hemmm..tidak ada salahnya juga,tapi..walau dalam bayangan kita hal itu memang bisa diwujudkan dalam kenyataannya banyak orang ga belajar pada bulan Ramadhan,Jangankan matematika,mata pelajaran yang lain pun juga sama nasibnya…selain itu karena sikap malas yang mendarah daging,juga disebabkan karena kebiasaan atau gaya hidup yang tidak bisa dibuang.Mau apa lagi..?
    Matematika memang menarik bagi sebagian orang,tapi..bagi sebagian BESAR orang,matematika itu tidak menarik sama sekali,bahkan menganggapnya sebagai mata pelajaran hantu,sadis,seram,angker,dll..Dari pengalaman-pengalaman yang ada,banyak dari teman-teman saya yang tidak suka dengan matematika,ini kenyataannya..dari 1 kelas yang dihuni rata-rata 30-40 murid yang pernah saya tempati,yang suka akan matematika cuma 2-3 org saja,atau barangkali malah tidak ada yang suka.Ini bukan kejadian aneh,dan tidak bisa disebut sebagai kejadian aneh..karena banyak orang yang berpendapat sama,kalau matematika itu sulit karena banyak rumusnya,sulit dipahami,gurunya killer,dan tidak menarik minat sama sekali.
    Tapi..walaupun begitu,menghilangkan image matematika yang sulit itu bukan lah mustahil,asalkan dengan sungguh-sungguh melakukannya.”Dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan”:)

  17. By akhmad fauji on Sep 25, 2007 | Reply

    mengenai belajar matematika di bulan Ramadhan…ya.,,ga masalah lah bagi mereka yang emang bener-bener suka end niat.
    because,misal kan dalam mengerjakan suatu soal matematika bagi mereka yang memang suka’terkandung suatu mesteri yang harus dipecahkan,dan apa bila ia berhasil menjawab soal tersebut maka akan terasa suatu kepuasan batin tersendiri.so jadi tdak akan terasa menjenuhkan bagi mereka yang emang suka.
    bicara matematika ini saya teringat waktu kejayaan masa lampau saya pada mata pelajaran matematika ini,tepat nya waktu kelas 3 SMP.itupun dikarnekan guru nya yang keras dan kejam,setiap hari dikasih PR yang besok nya harus dijawab di depan kelas,apa bila tdak dapat menjawab maka dapet hukuman.
    Dari sini dapat saya ambil pelajaran,apabila kita rajin and disiplin+keras mka kita akan bisa mengerjakan nya.
    Namun skarang ini jujur saja saya tdak terlalu suka dengan matematika,dan berhubung sudah lebih dari 3 tahun tidak belajar matematika jadi geto deh,sampai-sampai penjumlahan yang biasa pun kudu pakai kalkulator.yang paling susah dari matematika itu ADALAH “RUMUS-RUMUS NYA”yang kudu dihapal.Coba bayangin kalo mau ujian smester berapa banyak rumus yang kudu dihapal???gila lalu kan???

  18. By HELMA NOVIEANTY on Sep 25, 2007 | Reply

    Belajar matematika di bulan ramadan?? ya ngga masalah sich bagi mereka yang emang bener2 senang sama yang namanya matematika. tapi jujur (puasa ngga boleh bo’ong…he)aq ga suka matematika so ngapain di bikin pusing la wong ga di bulan ramadhan aja udah males aplge mikirin wktu puasa2 kaya gene jadi jgn dibuat alasan dunk’zzz
    so dari pada puyenk nyookk qtha nambah2 pahala ajha deich……… he he buat bekal bekal diakhirat

Post a Comment