Menulis di Bulan Ramadhan

19 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

SAAT berpuasa di bulan Ramadhan adalah saat paling kondusif menulis. Mungkin, ada orang yang berpendapat, puasa heregene kog menulis. Puasa ya leyeh-leyeh dong. Menghormati bulan puasa. Ya santailah, jaga ‘kemurnian’ puasa.
 
Bisa jadi yang berpendapat demikian adalah ‘korban latihan’ guru atau birokrat pendidikan yang berpendapat, puasa dihormati dengan libur aktivitas formal. Misal, sejak SD kalau bulan Ramadhan sekolah libur. Tak terpikirkan bagaimana bingungnya siswa bebas mendadak. Konon katanya, demi menunjukkan sikap religius. Duh … Engkang.
 
Kalaulah membaca sirah nabi Muhammad SAW secara radiks mungkin akan berpikir lain. Islam mengistimewakan bulan Ramadhan, dan … memuliakannya. Memuliakan bukan saja dengan mengisinya dengan kegiatan agamis, tetapi lebih meningkatkan, memutukan, dan mendayagunakan potensi keimanan menuju ketaqwaan.
 
Rasulullah justru melewati berbagai perang besar. Susah sih memasukkan ke kepala orang yang tidak pernah perang, termasuk dengan bacaan dan pemikiran, bahwa energi puasa melipatkgandakan energi manusia. Bayangkan, Rasulullah meninggalkan Raqayah puteri kesayangan Beliau yang sedang sakit untuk berjihat di medan Perang Badar di bulan Ramadhan. Perang dimana nyawa taruhannya.
 
Kunyah-kunyah pesan Rasulullah, buah hati yang memerlukan didampigi ditinggalkan demi berjihat. Emang di zaman serba aman ini kita menghadapi hal lebih berat dari perang? Puasa adalah lahan tak terbatas menuai keridhoan Allah SWT dengan berbuat, kog dimelencengkan dengan libur, libur, dan libur. Demi, mengormati dan penampakkan sikap religius. Aya aya wae.
 
Ya sudahlah. Lalu, apa hubungannya dengan menulis? Begini sanudara-saudara sekalian. Saya pernah menulis, menulis menuangkan apa yang ada di kepala (otak). Ada dua saluran, berbicara atau menulis. Kalau kita amati, tidak usah pakai riset ilmiah segala macam, kebanyakan kita lebih piawai bicara dari menulis. Nah, ada yang sangat ingin menulis, namun susah katanya.
 
Saya pernah menganjurkan. Kalau ingin menulis, tapi susah, masuk kamar kerja, isolatip mulut, hidupkan komputer, lalu menulis. Apa-apa yang terpikir tumpahkan. Bukan saja akan menjadi tulisan tetapi sekaligus —setelah menulis— pikiran lebih nyaman. Katakanlah termasuk katarsis.
 
Bukankah pada bulan Ramdahan kita dituntun untuk lebih mengendalikan diri. Ya dalam bicara, bersikap, dan seterusnya. Pengendalian diri totalitas berarti pula pengendalian berbagai komponen diri untuk ditujukan kepada aktivitas peningkatan mutu keimanan. Pada posisi demikian bertemulah mur dengan baut. Pemikiran yang terarah lebih baik tentu lebih mudah diarahkan, dan semua itu ditulis. Jadi, potensi menulis lebih diuntungkan.
 
Tidak usah pakai teori canggih-canggih. Coba praktikkan. Setelah menahan lapar seharian lalu berbuka, meminum segelar air putih, apalagi es dawet, duh alamaaak, enak nian. Sensasi yang dinikmati banyak orang namun ada yang alpa menjiwainya. Merasakan kenikmatan yang jauh lebih nikmat dari nikmat, menunaikan perintah Allah SWT.
 
Sehabis berbuka, setelah makan, sebelum tarawih, dimana nikmat segelas air belum terkikis dari rasa di tenggorokkan, tulis jadi puisi. Dijamin hasilnya bagus. Sampeyan tidak perlu semedi atau berpikir ‘keras’ dan ‘memeras’ otak untuk membuat puisi. Pengalaman nyata itu yang ditulis, wuiiw, hasilnya Sampeyan sendiri tidak akan percaya. Begitu hebatnya karya puisi Sampeyan.
 
Puisi saya Surat Buat Yang Maha Pengasih (Surat Buat Kekasih, 2006), saya tulis sembari mendengar lantunan suara anak saya dari penggeras langgar komplek kami. Walaupun bukan kelas juara MTQ namun suaranya terdengar itu jauh lebih merdu dari suara Britney Spear. Maklum lantunanan anak sendiri. Puisi itu banyak diapresiasi. Ada pula tentunya yang menyoal. Sah-sah saja. Yang tahu makna terdalamnya ya saya, si penulis.
 
Atau begini. Baca buku-buku Agus Mustafa yang setiap serinya sangat menarik. Insya Allah akan banyak ide-ide dari pemahaman ‘baru’ tentang bagaimana mencerna Islam dalam hidup kekinian. Apa yang bergelora di otak tulis, jadikan tulisan.
 
Saat-sata puasa di bulan Ramadhan, banyak potensi buruk diri —disadari atau tidak— otomatis terbelenggu. Potensi dan energi baik secara Islamis sedang mekar-mekarnya. Harap maklum, bulan latihan bo. Menulis dalam suasana kebatinan sedemikian, tidak usah disoal lagi, sangat kondusif bagi aktivitas dan kreativitas menulis.
 
Kalau dibiasakan selama bulan Ramadhan, mudah-mudahan selepas Ramadhan menjadi habit. Kalau demikian ceritanya, bukan tidak mungkin Sampeyan menjadi penulis besar. Selamat tinggal Ersis yang hanya baru bisa menulis hal-hal sederhana. Saya cukup bahagia bila Sampeyan termotivasi.
 
Menulis adalah kekuatan batin melalui kekuatan pikiran. Kekuatan pikiran didapatkan dari kuatnya kita mengisi dan mengasah pikiran. Ia akan menjadi sangat dahsyat manakala disandarkan kepada ajaran Allah SWT. Dus, berpuasa bukanlah tiket untuk bermalas-malas.
 
Kita tidak perlu melakukan perang fisik seperti Rasulullah, cukup memerangi diri menjauhkan hal-hal yang negatif. Membaca, berpikir, dan menulis pada hakekatnya juga berperang dalam bentuk lain. Selama apa yang kita tulis memberi manfaat tentunya.
 
Mari menulis di bulan Ramdhan dalam katup meraih ridho-Nya. Amin.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 20 September 2007.

  1. 12 Responses to “Menulis di Bulan Ramadhan”

  2. By hanna on Sep 20, 2007 | Reply

    Setujuuuu !! Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan.

    Menulis sama dengan berbicara.Yang hoby berbicara pasti lebih cepat menulisnya.Tinggal menulis apa yang ingin di bicarakan.Coba di biasakan di latih menjadi bahasa tulisan.Isyah Allah, pasti terasa bedanya.

    Btw…, “leyeh-leyeh” itu apa, pak ?

    ***Pekerjaan bermalas-malas

  3. By Yari NK on Sep 20, 2007 | Reply

    Di bulan puasa ini kita memang udah berperang dengan berbagai macam fihak. Berperan dengan hawa nafsu termasuk lapar, syahwat dll. Berperang lawan kemalasan, berperang lawan kepanasan, berperang lawan kantuk kalau pagi, dll.
    Kalau menulis di bulan puasa…. ya… lebih banyak lagi kita berperang… berperang menemukan ide…. apalagi sambil lapar2, kadang2 yang kepikir lapernya bukan idenya huehehe…. :D

  4. By unai on Sep 20, 2007 | Reply

    hehe…bagus juga ide untuk menyelotip mulut, kemudian menulis dan menulis…Jari jangan mau kalah dengan bibir. sebetulnya banyak sekali hal sederhana yang bisa ditulis, dan betul Pak..menulis di bulan Ramadhan rasanya lebih ringan..karena banyak hal yang bisa kita ceritakan.

  5. By mathematicse on Sep 20, 2007 | Reply

    Perkataan berikut ini banyak benarnya,

    “Saya pernah menganjurkan. Kalau ingin menulis, tapi susah, masuk kamar kerja, isolatip mulut, hidupkan komputer, lalu menulis. Apa-apa yang terpikir tumpahkan. Bukan saja akan menjadi tulisan tetapi sekaligus —setelah menulis— pikiran lebih nyaman. Katakanlah termasuk katarsis.

    Tapi saya tidak mengisolatip mulut.

    Dan lega rasanya, plong pikiran ini dibuatnya. Fresh gitu loh… hehehe… :D

  6. By Suci on Sep 20, 2007 | Reply

    Setelah membaca artikel ini saya jadi termotivasi menulis lagi. sebelum ini karena terlalu banyak masalah(itu kalau menurut saya ya) saya jadi lebih sering menulis untuk diri sendiri. Ketika ingin membuat artikel atau cerpen, rasanya ide saya mandek.
    Mungkin ide pakai selotip bisa saya coba:)
    Maaf Pa, Baru bisa nongol sekarang….

  7. By Rahmadona Fitria on Sep 20, 2007 | Reply

    Sepakat..
    Pak Ersis.
    Terima kasih atas segala kesabarannya dalam mensupport, memotivasi, dan memberikan reward pada aktivitas menulis saya. Terima kasih karena bersedia melihat ‘bintang’ dalam diri saya, memberi motivasi untuk maju dan mandiri, serta kesempatan untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi diri. Sungguh merupakan penghargaan yang luar biasa berarti buat seorang dona. Sekarang saya merasa hidup saya jadi lebih hidup dengan aktivitas menulis.

  8. By fira on Sep 20, 2007 | Reply

    Assalamualaikum,ya pak saya setuju lagi nih…rasa malas kadang menghantui tapi kita harus punya obat penawarnya agar malas itu tak bersarang lama.Menulis membuahkan hal yang sangat memuaskan sudah terbukti saya contohnya walau tulisan hanya begitu-begitu saja toh saya tetap bangga bisa menulis.Biar kata orang tulisan kamu begini dan begono ah sebodoh teuing yang penting tulis dan tulis aja lagi…ya kan pak… Wassalam.

  9. By Ganda Resnadi on Sep 24, 2007 | Reply

    Assalamualaikum. Sangat memberi motivasi kepada diri saya yang terkadang sangat malas mengerjakan sesuatu saat puasa, selalu ingin tidur. Sangat mengena di hati, ada keinginan di hati untuk merubah diri. Kalau malas dipelihara, kapan majunya! Iyakan Pak? Terima Kasih banyak kepada Bapak. Wassalam.

  10. By Willy Ediyanto on Sep 25, 2007 | Reply

    Menulis menumbuhkan kegilaan. Ya, Bang Ersis gak marah kan kalau saya katakan Abang sudah gila menulis. Nyata hasilnya dan bisa dipertanggungjawakan. Coba lihat di pinggir-pinggir jalan yang gilangnya ngoceh. Ngomong ke sana ke mari tanpa arah. Siapa yang mau dengar.
    Sutarji Calzoum Bachri dengan kegilaannya dalam menulis menjadi bentuk puisi malah jadi pelopor puisi. Kalimat-kalimat puisinya kan asal berirama, berbunyi.
    Yok nulis lagi ah.

  11. By nella on Sep 26, 2007 | Reply

    setuju banget Pak!
    Bulan Ramadhan adalah bulan perjuangan. kita harus berjuang demi kemuliaan agama ini.
    bukannya tidur…or malas2an…
    Ramadhan juga bulan training. mudah2an kita bisa merubah diri dan mempunyai habit yang lebih baik pasca Ramadhan dan seterusnya.
    Rasulullah dan kaum muslimin sering mendapatkan kemenangan di bulan Ramadhan, karena bulan Ramadhan bulan yang istimewa.
    raihlah kemenangan Ramadhan….

  12. By lisna on Sep 26, 2007 | Reply

    yup, sepakat banget!!
    ramadhan harusnya m3enjadi bulan untuk meningkatkan ketakwaan. makanya kudu semangat. bukannya mengisolasi diri. berdiam dan malas2an, kayak marmut berhibernasi.
    tulsan bapak bapak benar2 memotivasi.
    semangat! chayoo!!!

  13. By sabar on Sep 28, 2007 | Reply

    kalau di bulan Ramadhan, belajar apapun jadi. jangankan matematika yang dianggap agak mudah. nulis puisi yang agak sulitpun pun bisa jadi. alhamdulillah puisinya ikut lomba dan hasilnya ??? belum di umumkan la yau

Post a Comment