Renungan Ramadhan Guru

18 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

OEMAR BAKRY Oemar Bakry pewaris Nabi
berjalan gagah ke luar mercy masuk kelas berdasi
selamat tinggal kapur penyakit hati
percaya diri Internet makanan pagi

Mendidik anak negeri berdagang amalkan kerja Nabi
menuai berkah bimbingan belajar sendiri
menulis di media mengarang buku bergizi
gagah berani melawan diri tidak jadi buruh lagi

Oemar Bakry Oemar Bakry tidak mengeluh lagi
menentukan siapa menteri dan anti korupsi
bersedekah tak menadah tak mengeluh lagi
merubah diri jadi pemberi dan anti maki-maki
Oemar Bakry Oemar Bakry presiden hati nurani

YAP, kalau pendidikan betul-betul dimaknai sebagai tulang punggung kemajuan, amar agama, pilar penentu masa depan bangsa, guru (dosen) dan pelibat pendidikan, pertama-tama harus menatap diri. Introspeksi menggali kaji peran dan fungsi selama ini. Kunci utama ada pada pendidik itu sendiri.
 
Ambill misal hal paling kontroversial, mengeluh kenapa para pengambil kebijakan negeri ini kurang perhatian pada pendidikan sampai-sampai amar UUD 1945 (amandemen), anggaran pendidikan di APBN 20% tidak dipenuhi. Itu betul. Mengeluh dan menuntut saja. Kuno.
 
Introspeksi. Bukankah pengambil kebijakan, pejabat publik, orang-orang pintar sampai begajul negeri ini hasilan didikan guru? Menanya diri: Kenapa sih orang-orang yang dipintarkan ketika bernasib baik, mendapat berkah kekuasaan, kemuliaan, dan harta, tidak memperhatikan kesejahteraan gurunya?
 
Jangan salah, jangan-jangan kesalahan bukan pada mereka, tapi guru. Ya, guru salah didik misalnya. Atau salah dalam mendidik. Dalam dunia nyata, tidak mungkin mendidik anak harimau. Ini kejadian. Merenunglah wahai para pendidik.
 
Saya jadi curiga, jangan-jangan hal yang jarang dipikirkan orang tersebut menjadi penyebab carut-marut pendidikan, dan tidak pernah terbenahi kesejahteraan guru plus pendukung kondusif kerja profesional guru, karena ada something wrong dalam mendidik (pendidikan). Ya, guru perlu merenung, kenapa anak didiknya banyak yang terjerumus jadi perusak kemakmuran bersama. Jangan-jangan, sekali lagi, jangan-jangan ada saham guru?
 
Saya tak hendak berdebat, hanya minta para sejawat (guru dan dosen) memikirkannya, bukan mendebat. Sebab, hal tersebut sangat faktual. Lagi pula, kalau beragumen, beralasan, termasuk pidato berapi-api di depan kelas, yakin kalah. Saya tak pandai akan hal sedemikian. Seperti dendangan Alda: Aku tak biasa …
 
Dalam pada itu, entah bagaimana ceritanya, pada hari ke 5 Ramdhan, tergeletak begitu saja buku karya M. Hasyim Ashari, Siapa Bilang Jadi Guru Hidupnya Susah, ke kelompok buku bacaan prioritas Ramadhan. Ya, saya baca ulang buku tersebut, dan … semakin menguatkan, guru terlalu banyak mengeluh, bukan berbuat.
 
Perhatikan, hidup guru itu lebih ‘asyik’ dari PNS lainnya. PNS umum bekerja dari jam 08.00 sampai jam 16.00. Ramadan saja libur. Banyak liburnya. Mengajar setengah hari (18-24 jam per minggu), tersedia banyak hitungan libur. Ditambah pula pemerintah kini lincah memaknai hari libur, banyak waktu luang bagi guru untuk berbenah diri.
 
Lagi pula, bukankah guru seharusnya akrab dengan pengetahuan dan informasi sebagaimana tuntutan profesinya? Lalu, dikemanakan waktu luang guru yang demikian banyak. “Menyiapkan satuan pembelajaran”, bela seorang teman. Apa iya? Penelitian yang saya lakukan berbukti lain, copy paste lebih disukai. Ya, yang dulu-dulu juga. Ngak percaya?
 
Coba. Sejak awal gegap gempita sertifikasi sudah didengungkan beberapa komponen materi uji sertifikasi, e … sertifikasi yang begitu mahal tersebut melenceng menjadi ‘penlaian’ fortopolio. Apa-apaan. Menjadi sangat sepele. Soal administratif belaka. Tinggal menyodorkan apa-apa yang dilakukan dengan bukti nyata. Ambil bekas naik pangkat, selesai. Gampang. Tapi, dari mana-mana ciri khas guru terkeluar, ngeluh ini, negluh itu, dan seterusnya.
 
Oh ya, saya anjurkan guru membaca karya Hasyim. Sepakat dengan logikanya, banyak cara memantapkan diri dan menggapai kesejahteraan. Kata Hasyim, bikin privat keg, bimbingan belajar keg, menulis di media cetak, menulis buku, wirausaha, dan seterusnya. Hanya saja, kalau mentalnya menjadi ‘guru’ di lembaga bimbingan belajar yang dikelola —terkadang oleh orang yang tidak berakar pendidikan— yah susah. Kenanya di mentalitas.
 
Artinya, guru harus menjadikan dirinya pribadi unggul. Itu kata Hasyim. Kalu tidak percaya atau kalau mau mendebat, ya debat saja Hasyim, atau saya he … he … Hanya saja saya melihat dari sisi lain: dikemakan waktu luang yang begitu banyak?
 
Saya sering dihubungi, bagaimana melakukan pekerjaan profesioal, memelihara tambak, meneliti, sampai membuatkan blog puluhan orang. Atau, bagaimana bisa menulis buku dan membaca aneka bacaan, lalu menuliskannya?
 
Bingung menjawabnya. Yang pasti tidak memikirkan hanya melakukann saja. Tidak terbeban, tidak menderita, atau menelantarkan anak-isteri. Mengisi waktu saja. Enteng saja tu.
 
Resepnya, kurangi bicara, kurangi mengeluh atau mendebat. Tidak usah menghabiskan waktu berabad-abad membicarakan karya J.K. Rowling atau Soetan Takdir Ali Syahbana. Mendingan melatih menulis —apanya gitu— setelah membacanya (menikmati). Lancar-lancar saja. Kalau di otak dikembangkan mencela, membedah, mendebat, dan sepupunya, kapan menulisnya he … he …
 
Seorang teman bercerita seorang guru (dosen) yang tidak mau mengambil jabatan apa pun. Cukup menulis buku pelajaran. Dari royalti menulis hidup (lebih) berkecukupan. Dia sudah ‘bicara’ berderma, membantu sesama. Saya baru belajar menulis. Saya iri, iri positif, dan … berusaha meniru.
 
Bila mengembangbiakkan mengeluh, merasa kurang selalu, ya akan menjadi belenggu kehidupan. Karena itu, apa tidak lebih baik waktu digunakan untuk (membaca) menulis? Pilih yang lain juga bagus supaya jangan jadi pengeluh sejati.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 17 September 2007.

  1. 13 Responses to “Renungan Ramadhan Guru”

  2. By mathematicse on Sep 18, 2007 | Reply

    Hahaha…betul juga ya… sebetulnya guru itu banyak waktu luangnya dibandingka PNS lain, bahakan dibanding pekerja lainnya. Tapi kenapa kurang dimanfaatkan? Kenapa? Kenapa? Tanya kenapa?

    Sibukkah? Sibuk apa ya?

    Ya mungkin betul, kenapa masalah pendidikan di negeri kita msih carut-marut begini jangan-jangan guru-guru itu ada andil di dalamnya. Salah mendidik! There is something wrong! I do not know yet!

    Terus juga, fenomena akhir-akhir ini, banyak guru yang mengeluh. Kurang inilah, kurang itulah (padahal mereka sudah PNS, mungkin bagi yang masih honorer ada betulnya). Kurang besar gajinya! Hehehe…. :D (Sebetulnya kalau gajinya naik, saya pun ikut senag sih… :mrgreen: )

  3. By utomo on Sep 18, 2007 | Reply

    Bener juga bung, saya pernah iseng dan coba-coba bikin angket pada seratusan guru yang ikut pelatihan saya. Saya coba untuk mengungkap 10 kegiatan yang selalu dilakukan dalam seminggu. Eh ternyata nggak ada yang mencantumkan membaca sebagai kegiatan mereka. Gawat bukan?

  4. By GuruBashid on Sep 18, 2007 | Reply

    Ya saya setuju dengan anda. Bukankah debat tidak pernah menyelesaikan masalah-masalah kita sejak dulu. Debat cuma menjadikan yang seinci sekaki, yang setetes dilautkan, yang sekepal digunungkan. Yang pasti lalang tak kan bertukar padi jika terusan berdebat. Bukan gitu guru?

    ***Yup Pak Cik, saya pernah ke Malaysia, dan kagum dengan kemajuan serumpun. Plus, benci dengan ‘pertengkaran’ serumpun. Kita jalin silaturrahmi.

  5. By Willy Ediyanto on Sep 19, 2007 | Reply

    Ya saya setuju. Guru lebih banyakngibul di kantor. Klaulibur gak baca. Malah merasa lebih bebas. Lebih suka daripada anak-anak didiknya. Anak didiknya diberi segumpal tugas selama libur. Secara batiniah maupun fisik sebetulnya siswanya gak libur. Yang libur yan gurunya itu. Libur total. Anak didik bukannya jadi senang dengan adanya libur. Malah banyak yang stress karena harus menyelesaikan tugas.
    Gurunya pulang kampung, temu rindu dengan emak babenya. Ya ini mungkin yang termasuk andil gurudalam dunia pendidikan yang salah itu.

  6. By arief akbar on Sep 19, 2007 | Reply

    kang kumaha ntek aya’ aktiviti lg di rektorat , ok salut kang terus ……….sukses selalu

  7. By meiy on Sep 19, 2007 | Reply

    bagusnya ya diliat dari berbagai hal, bukan hanya karena gaji kurang, guru2 sendiri banyak yg nggak berkualitas kalee ya…mungkin kalau disurvey baru dapat data yg valid, tapi kalo nyewa ac nielsen, manalah sanggup guru pak heheh, denger2 ratusan jut2…

  8. By meiy on Sep 19, 2007 | Reply

    eh salah ya, yg nyewa mestinya pemerintah apa ya?

  9. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 19, 2007 | Reply

    Sebaiknya terus berkarya dalam wujud nyata aja. Tentu bagi semua saja.

  10. By sawali tuhusetya on Sep 19, 2007 | Reply

    Hahahahahaha :D Suntikan moral yang bagus buat para guru. Pertanyaan penting dan relevan untuk direnungkan dan direfleksi, setelah itu dilaksanakan: Dikemanakan sebagian besar waktu guru setelah mengajar? Pertanyaan simpel tetapi susah dijawab. Agaknya guru memang tak boleh berhenti belajar. Membaca dan menulis adalah senjatanya.
    Cuma yang jadi persoalan, jumlah guru itu ternyata ada jutaan, Pak, hehehe. Tak mudah untuk “mengindoktrinasi” mereka.
    Celakanya, di era IT semacam ini, –saya sering berdiskusi dengan teman-teman guru di MGMP– bisa dihitung dengan jari jumlah mereka yang punya alamat e-mail, apalagi bergabung dalam millis pendidikan, apalagi punya blog. Menggerakkan mouse di search engine mencari bahan ajar yang relevan aja seperti diminta untuk mengangkat keranda mayat, :mrgreen:
    Ini sebuah tragedi, parodi, ironi, atawa apa Pak Ersis.
    Ini sebuah realita. Untuk melakukan perubahan kultural, terutama bagi guru penganut paham “status quo-isme”– ternyata nggak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh sekian generasi untuk melahirkan guru yang benar2 genius, paham IT, visioner, dan tak suka mengeluh, hehehehe :D
    Bagaimama menurut Samnpeyan, hehehehehe :D

    *Maaf pinjam kalimat penutup yang inspiratif dari Pak ERSIS, hehehe :D *

    ***Ya, tapi kalau virusnya ngak disebarkan kapan menjadi epidemi atau endemi, he he

  11. By haryani on Sep 24, 2007 | Reply

    Yup!!!sistem pendidikan di Indonesia memang semrawut, hal itu bisa dilihat dari beberapa sudut pandang tergantung siapa yang menanggapinya. Kalo saya pribadi memandang persoalan ini,saya lihat dulu dari akarnya yakni sesuatu yang menjadi pijakan dari segala macam kebijakan. saya melihat kekacauan yang ada di Indonesia khususnya pendidikan dikarenakan sistem yang di pakainya tidak jelas plus dari sistem itu juga melahirkan orang-orang yang tidak bertangguang jawab yang saat ini menjadi juru kunci permainan pendidikan Indonesia.UU pendidikan penuh dengan tipu muslihat dan kerancuan.Pendidikan indonesia diperjual belikan melalui BHP_BHMN, Wal hasil dari “solusi” yang diberikan pemerintah maka akan melahirkan generasi yang kapitalistik yang hanya memikirkan bagaimana supaya “modal” yang dikeluarkan untuk biaya pendidikan cepat kembali.
    Oke……..dari sekelumit uneg-uneg ini sekiranya dapat dijadikan renungan di bulan yang penuh maghfiroh ini sehingga bulan romadlon tidak hanya dijadikan tempat untuk memperbaiki ibadah mahdhoh saja tetapi juga dijadikan tempat untuk berjihad di jalan Alloh yakni dengan cara memperbaiki kondisi ummat dan memperhatikan permasalahan ummat.Wallohu’alam bisowwab

  12. By Ridhani R. Utami on Sep 24, 2007 | Reply

    Memang tidak disangkal bahwa pekerjaan sebagai seorang guru dipandang sebelah mata oleh berbagai pihak sejak dari dulu. kenapa ya kok bisa dianggap seperti itu? apa karena jam kerja ya tidak full seperti PNS lain? atau jangan-jangan terinsipirasi oleh lagu Oemar Bakrinya Iwan Fals? bukan Oemar bakrinya EWA lho,,, Nah sekarang justru pekerjaan sebagai guru menjad rebutan dan prioritas bagi kebanyakan orang saat ini karena kesempatan untuk menjadi PNS lebih besar. Lihat saja mahasiswa FKIP UNLAM sekarang berjumlah 8000 orang. sungguh angka yang menakjubkan. Apa mungkin karena isu-isu mengenai taraf hidup guru yang didengungkan pemerintah dinaikkan? namun, kita lihat walaupun isu-isu itu sering terdengar namun masih banyak saja para guru yang mengeluh dan menuntut. masalah kenaikan gaji lah, pengangkatan menjadi PNS lah, dan berbagai masalah lainnya. saya setuju, sebaiknya sekarang ini guru harus bisa lebih termotivasi untuk menjadikan dirinya unggul dan siap bersaing dengan bidang-bidang pekerjaan lainnya. yah, salah satunya guru harus bisa memperdalam ilmunya dengan membaca. tidak usah lagi lah mengeluh tentang gaji guru yang kecil kalau guru tersebut mau berusaha diluar bidangnya, misalnya menjadi wirausaha ataupun menjadi pengajar di luar jam sekolah. toh itu bisa menutupi kekurangan gaji yang ada bahkan mungkin bisa lebh. tidak usah lagi lah terlau berharap sama pemerintah. mandiri lah sendiri. guru emang pantas dihargai lebih daripada pekerjaan lainnya karena bila suatu negara hendak maju harus bisa memperkuat SDM nya dengan cara memantapkan pendidikannya dan hal itu tergantung pada guru sebgai pengajar. semoga bisa seperti itu. Amieeennn,,,,,,,

  13. By Novi Dahliani on Oct 3, 2007 | Reply

    Agree dengan pendapat bapa diatas kalau pendidikan betul-betul dimaknai sebagai tulang punggung kemajuan,amar agama, dan pilar penentu masa depan bangsa.(Semoga para pendidik / guru N’para cagur yang melek IT pada baca)
    coz kejayaan dan kehancuran suatu bangsa tergantung kepada kualitas generasi yang mengembannya.
    dan tentu saja peran pendidik sangat berpengaruh dalam mencetak generasi tsb.
    hal lain yang sangat menentukan kualitas sebuah generasi adalah pemikirannya.pemikiran yang cling N’ cemerlang aan mengantarkan suatu bangsa untuk mencapai keunggulan dan kejayaan, dapat memimpin umat manusia dan mensejahterakan kehidupan dunia.
    tapi sayang seribu kali sayang negeri kita yang kaya ini belum mampu memproduk generasi yang seperti itu.
    pemikiran yang cemerlang pastinya merupakan produk sistem pendidikan generasi yang tepat yang mampu melahirkan generasi yang berkualitas, unggul dalam berbagai aspek kehidupan N’ tentu saja tidak akan seperti potret buram generasi ita saat ini. so… untuk mencapai suatu kejayaan bagi anak bangsa muslim terbesar di dunia ini, mungkin ada baiknya kalo kita kenali realitas generasi ini, akar masalahnya, so memberikan solusinya dengan sistem pendidikan Islam yang telah terbukti nyata melahirkan generasi nomor wahid di dunia dan yang belum pernah tertandingi keunggulan kualitasnya oleh generasi anak manusia sepanjang SEJARAH….

  14. By Mega on Jan 9, 2008 | Reply

    hehehe..baru sempat baca tulisan ini,,ingat kakakku dulu,,aku selalu perhatikan dia karena ikut sekolah dan tinggal bersama kakak..
    Waktu luangnya bikin diktat trus dicopi nya dan dijual ke murid2..
    wah ..bisnis ilmu deh..kejam ga tuh ya..?

    ***Jangan-jangan bagus. Semua hal dibisniskan, kalau ilmu kenapa tidak boleh? Hayo …

Post a Comment