Surat Buat Yang Mahapengasih
17 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas*
Malam ini, Ya Allah
asma-Mu bahana puncak-puncak gunung
lampaui pucuk langit menaik ke arasy-Mu
dari julang menara-menara gema
berirama melayang lampaui lembah-lembah
dari relung hati hati menggapai fitrah
menyapu awan menghalau hujan membunuh sepi,
hanya nama-Mu, Ya
Al-Rahman, Al-Rahim, Al-Malik
Menuai ujian, wahai Yang Mahaterkasih!
dalam kalah dalam menang
qalbu terguncang damai
dalam renung pada sujud
pada dahaga uji asih-Mu
bersimpuh nyaman
di bulan penuh berkah,
Ramadhan ya Ramadhan, Ya
Al-Quddus, Al-Salam, Al-Mui’min
Pada pertempuran akbar limpahan rahmat, maaf
perjuangan belum seujung rambut dibelah seribu
ujian-Mu pada penyadaran
agar mantap kuala jiwa pada tatapan danau rindu
hanya pada-Mu, hanya untuk-Mu, Ya
Al-Muhaymin, Al-Azis, Al-Jabbar, Almutakabbir, Al-Khaliq, Al-Bari’,
Al-Muhawwir, Al-Ghaffar, Al-Qhohhar
Langkah belum lurus, ya Al-Wahab
tangan belum menggapai
anggukkan belum sempurna
niat belum berbaris
bibir-bibir tersalah
abai mampir tak tertendang,
kasih-Mu tak putus, ya
Al-Razzaq, Al-Fatah, Al-Alim
Cibir-cibir enggan ke laut lepas, ya Al-Qabidh
sayang-Mu tak henti
lihatlah, juang tak lelah
selama firman-Mu ke dada
kesempatan jangan dipalang
biarlah matahari tetap berkhabar
bulan merindu mengirim pertanda
kirim pesan menuju persuaan abadi
di rumah-Mu yang di atas segalanya, ya
Al-Basyith, Al-Khafidh, Al-Rafi’, Al-Mu’iz
Ya Al-Mudzil
kalau ada pongah menggoda
sombong hadir tanpa diminta
beraja diri pada buhul tali imam-Mu, tersalah
maaf kirimkan pengingat
agar terpana diam dan terhenti, ya
Al-Sami’, Al-Bashir, Al-Hakam, Al-Adl
Bagaimana lagi, ya Al-Latif ya Al-Halim
durjana bersarang laba-laba menjerat laku
Si Pungguk rindukan bulan
Petruk mimpi dadi raja, lancung hina
maaf dipinta
kuasa kerajaan-Mu
yang tidak berbatas, ya
Al-Azhim, Al-Ghafur, Al-Syakur, Al-Aliy
Hati ini tergadai luluh, Ya Al-Kabir
walau tangan masih berlumpur
telinga belum bening
qalbu bersandar
mata mengelana ke dimensi tak terbatas
pelajaran jangan dihentikan
rindu jangan dicabut
kesempatan bukalah lempang
hari-hari biarlah menyapa
agar ada waktu untuk bercumbu
dalam asih-Mu yang tak putus,
wahai, penentu segala yang baik, ya
Al-Hafizdh, Al-Muqid, Al-Hasib
Kemana-mana langkah diayun, Ya Al-Jalil
jangan kikirkan percaya
pikir dibentuk dan dibentuk, ya Al-Karim
limpahkan rasa aman di dada, ya Al-Raqib
pelihara, lindungi raga dan jiwa, ya Al-Mujib
Ya Al-Wasi’
kuatkan bathin tegarkan semangat
dunia fana bukan tujuan
agar perjalanan tak bernoda berbuah petaka
jalan lurus sebagaimana telah Engkau berikan
perkasakan rona tegarkan jiwa, ya
Al-Hakim, Al-Wadud, Al-Majid, Al-Bai’it
Ya Al-Syahid, Al-Haq, Al-Wakil, Al-Qawi
petuah disambut sudah
gerak terbata-bata
rimbun petunjuk limpahkan sempurna
jangan turunkan kehendak-Mu pada nestapa
seperti Kau janjikan ketika roh ditiup
seperti Kau vonis ketika nyawa dicabut
impian baru bermula nyata dalam lingdungan-Mu, ya
Ya Al-Matin, Al-Wali, Al-Hamid, Al-Muhshi
Wahai Kekasih, Yang Memilki Kebesaran
permainan ini ciptaan-Mu
kedunguan milik kami
Iblis Kau biarkan bersenda gurau, berkeliaran
mengoda jiwa-jiwa rapuh
disitu kami berjuang tidak berpaling
dada kami tidak dibedah Rasulullah
ketidaktahuan dari keterbatasan, penyebab alfa
Kebesaran dan Keangungan-Mu, pengampunnya, ya Al-Mubdi-u, Al-Mu’id, Al-Muhyi
Ya, Al-Mumit
sajadah dihampar tangan memanjat hati berhikmad
nama-Mu dalam bisik dalam bunyi dalam terang
hamba belahan titik di ciptaan tak terhingga,
dari tiada menjadi ada, ya
Al-Hayy, Al-Qoyyum. Al-Wajid, Al-Majid
Wahai, Yang Mahaesa, ya Al-Ahad
kesendirian berkelana mencari sua
Kau datang dalam rasa
lebih banyak hilang dalam dunia
helaan nafas aliran darah kendali pikir bisik hati
masih bergelombang
ku rindu, bersatu dalam genggam, ya
Al-Shamud, Al-Qodirt, Al-Muqtadir
Maafkan, Ya Al-Muqaddim
usaha ditancap memancang harap
upaya tak henti dikibar dari pagi ke sore
dari senja ke Subuh, sepanjang udara ada
agar titik-titik menyatu pada garis-Mu
perjuangan panjang,
selama hayat bersama roh, ya
Al-Mua’akhir, Al-Awwal, Al-Akhir, Al-Zhahir, Al-Bathin, Al-Wali, Al-Muhta’ali, Al-Barr,
Al-Tawwab, Al-Muntaqim, Al-Afuww, Al-Rauf, Al-Malik Al-Muluk, Dzu Al-Jalal wa Al-Ikram
Janji atas nama-Mu, ya Al-Muqsith
takkan pernah tercabut, firman-Mu ladang hidup
padang merdeka kiprah
tercatat di tangan malaikat-malaikat,
menjadi bekal kelak saatnya tiba, menemui-MU
ya Al-Jami’, Al-Ghaniyy, Al-Mughni, Al-Mani’
Ya Al-Dharr, Al-Nafi’, Al-Nur, Al-Hadi
kemanakah lagi tangis kan dikirim
rintihan sayat-sayat kerinduan simponi jiwa
derai kelopak mata rindu buah pikir
rindu serindu-rindu dendam asal bermula
ikhlas berserah lautan cinta samudera ingin
kalau bukan ke haribaan-Mu,
di sorga, rumah yang kau janjikan
Ya Al-Badi
Ya Al-Baqi, Al-Warits, Al-Rasyid
riak riuh tawa bukanlah nafsu
senyum menang madah-madah gembira
syukur diucap senang dipangku
ketika tugas membawa ke medan arti
saat petuah menjadi nyata
serpihan tugas baru tertunai,
intinya di dalam angan di awal juang,
sabar ku pulangkan pada-Mu,
Ya Al-Sahbur
Ya Allah Ya Allah
sumber terang segala terang, pohon ampun maaf
sumber energi sumber sukses sumber bahagia
dari hati yang tenang
awal aman di lubuk batin,
ya Yang Mahatahu
Jauhkan hempasan bosan, Ya Yang Mahapenyayang
fatwa Rasulullah memelihara-Mu
nebula rindu inti jiwa
hanya pada-Mu
hanya untuk-Mu
ampun mohon berlabuh
cengkerama damai abadi bersama-Mu
Ya Allah
Yang Mahapengasih.
*Kutulis Ramadhan lalu, Surat Buat Kekasih (2006). Aku senang membaca di Ramadhan 1428 ini.









4 Responses to “Surat Buat Yang Mahapengasih”
By hanna on Sep 18, 2007 | Reply
Wah !!, puisinya panjang benarr. Mang Puisi bapak selalu panjang-panjang koq. Apalagi yang surat tuk kekasinya.
Coba buat ah ! Tapi, hanya mampu segitu,pak.
Terang temaram malam bulan Ramadhan.
Dalam khusyuk doaku
Aku memanggil-manggil Nama-Mu,
Ya Robbih, aku rindu dalam peluk-Mu.
***Membuat puisi itu paling mudah kalau ditelorkan dari jiwa atau setidaknya dari olahan pola pikir, kalau mengada-ada, itu yang sulit. Buktinya empat bait puisi Samopeyan bagus kan?
By unai on Sep 19, 2007 | Reply
wah sepertinya ringan seklaki jemari Bapak mengetikkan kata2 indah yang panjang ini…
By fira on Sep 20, 2007 | Reply
Assalamualaikum,pak ampe basah dan perih mata ini membaca puisi bapak. Saking asyiknya saya terlena untaian kata yang mengalir dari jiwa tanpa terasa tangan tak mampu tuk berhenti menekan tuts.Saya merasa hanyut dalam keindahan bak aliran air yang mengaliri hasrat menghilangkan dahaga sejuk sekali.Wassalam.
By Ade herman surya direja on Nov 12, 2007 | Reply
Ass….Ehh luar biasa sekali pak…?semoga bermanfaat bagi kita semua Amiin…
***Amin. Sering-sering kunjungi saudaramu ini ya.