Menulis Hidayah Allah
17 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
RAMADHAN HARI KE-4. Akhir-akhir ini, apalagi dalam lindungan Ramadhan, kegiatan semakin padat. Waktu nampaknya semakin termanfaat. Kegiatan rutin semakin terhimpit pencarian aktivitas nilai tambah. Akibatnya, waktu berbincang dengan teman semakin berkurang. Kami membangun tradisi baru. Apa itu?
Berdiskusi di mobil? Di mobil, ya iyalah, emang salah apa. Saya punya seorang teman yang Doktor Bahasa Indonesia. Sekembali S3 membawanya membangun majalah UnlamView. Dia penulis. Buku-buku karangannya, Bahasa Indonesia untuk SMTP, diakui Depdiknas. Dia juga telah menulis beberapa buku akademik. Saya cemas. Cemas?
Saya tidak mau dia tergelincir menjadi ‘munafik menulis’. Kesalahan saya ikut-ikut mendorongnya menjadi pejabat kampus. Jabatannya Asisten Direktur Pascasarjana Unlam Banjarmasin. Sejak menjadi pejabat sibuknya alang kepalang, mana rajin mengajar atau menjadi nara sumber di banyak tempat. Kekuatiran menjadi nyata.
Kawan yang satu ini tidak menulis. Alasannya, sibuk dan sibuk. Saya tidak tahan. Harap pula maklum, di lingkungan kami menulis bukanlah pekerjaan terhormat. Sampeyan bisa menulis ratusan artikel atau puluhan buku, tapi jangan harap dapat reward. Bisa-bisa berbalik arah. Terkadang saya merasa a lone wolf. Saya tidak mau kehilangan teman yang suka menulis. Kalau yang pintar diskusi bejibun, yang menulis susah dicari.
“Bos. Sampeyan sedang digayuti dosa besar”, kata saya membuat dia tercengang.
“What’s wrong?”, tanyanya setengah membelalakkan mata
“Kata Sampeyan, hidayah itu dicari, bukan datang sendiri, kan. Saya berusaha meraih hidayah sholat dengan melakukannya. Sampeyan khianat?”.
Ya, sahabat saya ini mengingatkan arti penting sholat dengan melakukannya hingga dapat hidayah. Ok saya berterima kasih. Kami saling mengingatkan. Perkawanan sejati saling memberi bukan saling ‘memukul’. Kami ke toko buku seminggu sekali dan tidak lupa mampir ke bioskop.
Pendek kisah saya ingatkan bahwa semasa kuliah S3 mampu menulis sekian banyak buku. Sampai-sampai kembali sekolah dia membawa mobil dari royalti buku. Nah, hidayah dan berkah menulis itu kog ya ditinggalkan. Nyata-nyata bermanfaat dan membawa kebaikan ekonomis, kog diabaikan. Mengabaikan hidayah Allah SWT ‘munafik’ dan ‘dosa besar’. Dia tentu senyum kecut mencerna kata-kata provokatif saya.
Alhasil, dia berjanji akan menulis lagi. Kami merencanakan menulis rutin sembari saling mengingatkan. Kebetulan dengan satu instansi bersepakat menulis sesuatu. Dus, akan mengurangi capaian jam terbang mengajar, membatasi bergaul dengan teman-teman yang tidak menulis karena tidak kontributif bagi semangat menulis, dan … mencari uang dari menulis. Siiip.
Alhamdulillah, saya dapat (beli) buku Misteri Hidayah karya Wawan Susetya bersama beberapa buku lainnya. Segera kami ke bioskop. Sambil menunggu jam tayang bersandar di tembok bioskop membaca buku. Yah, untuk ukuran kota Banjarmasin, tentu pemandangan yang aneh. Kami cuek saja membaca, membaca, dan membaca.
Hidayah, begitu tulis Wawan, artinya petunjuk. Setelah membahas panjang lebar, baik secara etimologis, definisional, dan operasionalnya, artinya ya petunjuk Allah. Pada hakekatnya kita telah diberi petunjuk. Kalau boleh saya tambahkan, langsung ke jantung kesadaran.
Masalahnya, apakah kita mengikutinya? Kalau diikuti seksama, melaksanakan alurnya, barulah ketemu hidayah sebagaimana kita pahami secara umum; mendapat sesuatu. Misalnya petunjuk tentang membaca (juga menulis) sudah merupakan risalah Rasulullah. Bahkan, petunjuknya sudah sangat lengkap. Persoalannya, kita pahami apa tidak? Kita asah apa tidak? Kita laksanakan apa tidak? Apabila mengetahui sesuatu tetapi tidak melakukan, jangan-jangan yang hinggap dosa, berbuah dosa.
Dengan kata lain, coba tanya dalam hati terdalam, Sampeyan pasti ingin membaca. Sampeyan pasti ingin menulis tentang beragam hal. Itulah petunjuk. Apabila dilakukan, dilatih terus-menurus akan berbuah mudah membaca dan menulis. Itulah hidayah.
Jangan sampai tanpa usaha berharap hidayah Allah turun dari langit tiba-tiba. Berdoa juga berusaha lho. Hidayah harus dijemput dengan usaha. Kalaulah latihan terus-menerus, membaca dan menulis jadi mudah, dimudahan Allah, berati dapat hidayah. Alhamdulillah, saya merasa meraihnya. Benar atau tidak, entahlah. Yang pasti dengan izin Allah mendapat kemudahan.
Dalam balikan begini. Kita ‘melatih’ atau menjadi ‘juru bicara’ pikiran orang bicara sepanjang hari. Atau, mengeluh kondisi pendidikan yang begini-begitu, yah buahnya mengeluh melulu, merasa kurang melulu, Allah tidak akan memberi hidayah. Aha, sebenarnya dapat hidayah Maz, hidayah iblis.
Mumpung kini Ramadhan, ada baiknya lebih banyak membaca. Bukan buku saja tetapi tanda-tanda kebesaran Allah dimana saja dan kapan saja.
Lanjutan membaca ya menulis olahan bacaan. Tidak penting berbobot atau bukan, menyentuh atawa tidak, berbahasan sedalam Lautan Teduh atau sedangkal rawa. Bukankah Ramadhan bulan penuh berkah yang juga bulan latihan? Apa salahnya melatih keterampilan membaca dan menulis yang akhirnya berujung hidayah Allah SWT.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 17 September 2007.













7 Responses to “Menulis Hidayah Allah”
By ichal on Sep 17, 2007 | Reply
yah !!!
emang si kalo keinginan menulis itu pengennya yang berbobot, kl gak berbobot takut gak ada yang baca,,,, takut inilah,, itulahhh!!!
jujur emang masih mengendap di kepala perasaaankaya gitu, tapi pasti harus mencoba biar nambah pede!!!
By Ahmad Nur Irsan FInazli on Sep 17, 2007 | Reply
Yah, benar adanya.
Memang hidayah itu kudu dijemput.
Selamat menulis lagi bagi yang baru berhenti menulis, smoga smakin oke.
By Farhat Tifani on Sep 17, 2007 | Reply
Assalam mualaikum wr. Wb. selamat menjalankan ibadah puasa ulun ucapakan semoga selalu dalam rahmat Allah SWT sagan pian wan keluarga.
Bos kaya apa habar ? ulun lihat tulisan pian makin banyak variasinya , himung ulun bacanya lawas pang kada bajalanan kesini. Bos ulun pina sulit banar mangambangakan tulisan tugas yang pian barikan baulah proposal, Minta bimbinganyalah ?
By hanna on Sep 18, 2007 | Reply
Mari tulis, tulis, dan tulissssssss.
By unai on Sep 19, 2007 | Reply
wah bapak hobi nonton juga..tos deh..bapak yang gaul deh TOP
By mathematicse on Sep 19, 2007 | Reply
Hidayah memang perlu dicari, diusahakan, dan tentu dengan do’a pula.
Begitu pula dengan hidayah = petunjuk menulis. Dengan makin banyak membaca, hidayah untuk menulis itu sebetulnya akan selalu ada, tak ada habisnya. Tinggal bagaimana kitanya, apakah mau memulai menulis atau cuma berniat-berniat saja (tapi tidak mau mulai menulis).
Yang terkadang jadi kendala menulis itu bagi orang awam seperti saya, ya memulainya = beeerat = ada rasa malas menggelayut. Padahal kalau sudah mulai, insya Allah akan mengalir lancar, ide-ide akan berseliweran buanyak jumlahnya, tinggal menangkap dan menuangkannya saja dalam bentuk tulisan. Saya sudah tahu hal ini, tapi seringkali kesibukan = ngerjsakan tugas kuliah, jadi alasan.
Seperti teman bapak itu tadi,.. hehehe…
.
***Tinggal melawan beratnya itu saja, sangat gampang. Pokoknya ngak boleh beralasan —peninggalan nenek moyang kita yang harus kita lawan.
By fira on Sep 20, 2007 | Reply
Assalamualaikum,pak he3…gak bisa banyak koment deh soale ngerasa juga nih…sip sekali menulis tetap menulis jangan biarkan kemalasan menghampiri dan jangan pelihara ia walau seujung kukupun….he3 saya akui diri ini masih terlalu kurang so perbanyak doa dan asah terus biar sip dan semakin sip ya pak.Wassalam.