RamadhanMu Ramadhan Kami Ya Rabb
16 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
PUJI-PUJIAN membahana dilepas dalam alunan nyaman di telinga. Ya Rasulullah, Ya Allah melantun sambung menyambung mengetuk dari bilik-bilik hati mengedor pintu maaf. Doa-doa tak berpenghambat Ya Ar-Rahman, Ya Ar-Rahim dari hamba-hamba-Mu yang patuh.
Tiada ruang tiada tempat tiada ketika tanpa harap. Semakin lama semakin menggugah semakin merenggut semakin meresap semakin memantap fitrah di jantung hati. Tertumpah tercurah dalam pinta dalam harap dalam dendang hati suci menyangkau pintu arasy ridhoMu, ya Allah. Allahu Akbar. Allahu Akbar.
Dalam naungan Rumah Allah di padang lempang atau di rumah-rumah suka. Mata terpejam, mulut memuji memohon tanpa nada-nada keluh menanti detik-detik berbuka. Tertip, aman, damai, tiada riak tiada suara parau. Disiplin. Buk …buk … buk … tabuhan tabuh sirene alunan azan menyinar batin membuka dahaga raga. Penantian lewati ujian dalam perintah-Mu ya Rabb.
***
YA, saat-saat memanti berbuka, semua kita, Muslim yang berpuasa, secara serempak dalam buaian waktu tertip tak alang kepalang. Tak hendak barang sedikit ketinggalan. Tak mau barang sesaat ditinggal kesempatan … dan Alhamdulillah ketika seteguk air becumbu di kerongkongan. Itulah penampakkan disiplin paling tinggi aplikasi sabar bermakna syukur.
Tidak heran, para ulama mengatakan, berpuasa adalah medan latihan. Artinya, perilaku positif selama bulan puasa semoga menjadi kebiasaan berkutnya. Dalam tulisan ini khusus menyoroti makna hakiki latihan disiplin sebagimana kita praktikkan ketika menunggu saat-saat berbuka. Detk-detik sangat berharga.
Kita melatih fisik menahan haus lapar, melatih batin mengendalikan diri, memupus marah, menghapus dengki, menjauhi ajakan-ajakan dan keluarga. Kita mantapkan pujian, kita jalankan perintah menjauhi larangan. Hidup nikmat dan ternikmat dalam disiplin tinggi tertib tak tergadai.
Semua dimulai dari diri dielaborasi dalam keluarga pada lingkungan dalam katup mayarakat, berbuat yang terbaik dikandungan ridho-Nya. Apakah ada kehidupan yang lebih baik dari sedemikian? Jangan-jangan surga sesungguhnya adalah kedamaian yang bersarang dalam jiwa yang kita latih di Ramadhan terkasih.
Kita berperang dalam meraih kebaikan melawan diri berdamai di hati meraih ridho Allah SWT. Latihan dalam helaan nafas dalam hidutungan waktu tanpa hendak menyoal segala rupa. Tangan terangkat mengaju sembah, kepala tertunduk hati berserah, waktu diraih agar tak mubazir, tak ada yang tersisa dalam belenggu malasa, Ramadhan ya Ramadahn.
Pada ketika hati sebening kalimah Allah, tak hak lagi ada tanya: apakah fisik dan psikis perlu dibincang. Kaffah berserah makna.
Heran mungkin pantas dikumndang, kenapa harus ada keluhan-keluhan rasa. Tidak hal kiranya anak-anak sekolah dilatih berlibur diri dengan alasan mengormati puasa. Tidak pantas jam kerja direduksi memangkas kiprah. Tidak elok derita tenggorokkan sayat-sayat usus manakala deritanya tergadai dalam firman Yang Mahamengetahui. Apatah lagi, maaf: “Saya berpuasa”.
Shaum tawarkan kepastian di ujung gaung laallakun tataqun manakala proklamasi perang memenej diri dirakit ampuh dalam dada. Tak hendak bermalas-malas atau beralasan. Kehidupan bergulir seperti biasa, tapi … ada terselip nilai tambah manakala dipagut erat di rumah jiwa. Manalah mungkin menyata manakala dilecehkan berbaju alasan: demi puasa kita libur sekolah. Demi puasa libur membaca, libur bekarya.
Wahai saudara tercinta, bila malas iblis menguasa bagaimana produksi akan bersisa, bagaimana mungkin santun dan peduli dikibar kalaulah tidak berbuah pasak lebih besar dari tiang. Maknanya, berlebih barulah memberi. Tangan di atas lebih mulia dari penadah. Mungkinkah bertukar makna bila dielus letih lelah?
Nehi. Mari. Sempurnakan tegak tegap, mantapkan tekad, teriakkan tarian perang melawan durjana diri memutar roda produksi berlipat-lipat kali agar limpahan menjadi makna. Pahala-pahala diri, kasih-kasih peduli serpihan rupiah pada senyum-senyum empati bungkusan damai ke relung-relung hati. Kita hidup sendiri-sendiri dalam bersama, bersama dalam kebersamaan nan berarti. Ramadhan perang semesta dalam diri dalam kauam dalam kefanaan menuju keabadian.
***
Ya Allah Ya rabb, kikiskan kerak-kerak hati, alirkan air kasih banjir tunduk dalam lipatan berkah rahmat-MU. HambaMu pencari ridho tiada bertepi, mendaki gunung mengharungi samudera, melintas puncak-puncak gunung melayang ke singasana Intan Abadi di kursi Sindratul Muntaha.
Ya Allah, Ya Yang Mahapemberi, pengemis hati pengemis cinta-Mu tak hendak berhenti selama tangan-Mu belum mencabut roh. Selama nafas masih menjalani aliran darah, pencarian takkan berakhir, Ya Yang Mahamemberi. Dari Ramadhan ke Ramadhan rindu ini tidak bertepi takkan berakhir.
Berilah Ya Ar-Ramhan, segala milik kami yang Kau janjikan. Limpahkan Ya Ar-Rahim kemurahan-Mu agar jiwa ini menyatu di ujung jubah damai-Mu. Rindu kami adalah rindu serindu-rindu dalam naungan-Mu, Ya Yang Mahatiadaakhir.
Doa-doa kami menjangkau singasana-Mu dari hati-hati yang bening. Amin ya Rabb Alamin.
Bagaimana menurut sampeyan?
Banjarbaru, 15 September 2007









7 Responses to “RamadhanMu Ramadhan Kami Ya Rabb”
By hanna on Sep 16, 2007 | Reply
Seandainya kita semua bisa begini, bukan hanya dalam bulan Ramadhan saja mungkin surga itu ada di dunia.
***Insya Allah. Amin.
By sawali tuhusetya on Sep 17, 2007 | Reply
Untaian kata-kata mutiara, sarat doa, menyentuh qalbu. Semoga mampu membakar kerak-kerak nasfu yang bersarang di hati dan pikiran. Semoga lagi, latihan di bulan Ramadhan akan berlanjut pada bulan-bulan yang lain, sebab kalau hanya latihan terus, kapan kita melakukan “perang” dan “jihad” yang sesungguhnya. Allah Maha Besar dengan segala kebesaran-Nya, Allah Maha Mulia dengan segala kemuliaan-Nya.
Salam.
***Amin. Perang dan jihad sejak memula tak pernah berhenti dalam dibawah lindunganNya.
By windede on Sep 17, 2007 | Reply
selamat berpuasa om lah…
By Ahmad Nur Irsan FInazli on Sep 17, 2007 | Reply
Amin yarobbal’alamin.
By unai on Sep 19, 2007 | Reply
Amien….
Selamat menunaikan ibadah puasa yah Pak, dan terimakasih kiriman bukunya sudah saya terima..lonjak lonjak kegirangan saya dibuatnya. Sekali lagi terima kasih…ya pak
By fira on Sep 20, 2007 | Reply
Assalamualaikum, kata-kata bertajuk doa bermuara kasih sangat menyiram isi qalbu pak…ya ingin sekali ramadhan ini menemani kita semua bukan hanya dibulan ini tapi dibulan-bulan selanjutnya memberi ketenangan jiwa kekuatan iman melawan hawa nafsu.Insya Allah kita selalu menghidupkan jauh dalam qalbu cahaya Ramadhan agar menyinari hari-hari bulan-bulan selanjutnya hingga kita bertemu kembali sang Ramadhan jaga terus cahaya jangan biarkan padam dalam jiwa,amin. Wassalam.
By Anton Wiranata on Sep 22, 2007 | Reply
Allah SWT menyatakan bahwa apabila seseorang senang dan bahagia menyambut datangnya bulan ramadhan, maka haram jasadnya dimakan api neraka. Dari situ kita bisa mengambil suatu hikmah dari datangnya bulan ramadhan, karena di bulan inilah segala amalan dilipatgandakan. Maka seharusnya kita berlomba-lomba untuk berbuat amalan dan amalan-amalan kebajikan lainnya agar nanti kelak kita memetik hasil yang memuaskan. Ketika kita memasuki bulan ramadhan hendaknya kita meningkatkan kualitas amalan kita kepada Allah SWT. Telah dinyatakan bahwa sebuah amalan wajib akan dilipatgandakan menjadi 70 kali dan amalan sunat menjadi pahala wajib. Oleh sebab itulah kita harus intropeksi diri kita apakah dengan datangnya bulan ramadhan ini kualitas serta keimanan kita kepada sang khalik juga meningkat. Di bulan suci ini marilah kita jadikan momentum untuk meningkatkan amalan kita agar Allah SWT menjadi cinta kepada kita dan kelak di hari akhir mendapatnan syafa’at dari Nabi Muhammad SAW, amin ya rabbal alamin…