Muhammad Sang Panglima Perang
12 September 2007 | Ditulis oleh: EWA |
008-0008-2006
Pustaka Ersis Warmansyah Abbas
Afzalur Rahman, 2006.
Muhammad Sang Panglima Perang. Judul asli Muhammad as Military Leader, penerjemah Joko S. Kahhar, Tajidu Press, Yogyakarta. Cetakan III, 444 + xix; 14 x 20,5 cm. Rp55.000,00
Brifis: Ya, Rasulullah adalah panglima perang brilian. Tetapi, ingat. Rasulullah bukanlah manusia perang. Bukan manusia yang dilatih sejak kecil, apalagi masuk akademi militer, hingga menjadi jago perang.
Rasulullah jauh dari semua itu. Kalau beliau ahli perang, karena memang manusia yang unggul, manusia teladan, hingga dalam perang mengandalkan rasional. Rasululah adalah nabi damai, nabi kedamaian. Tetapi, kalau harus perang, ya perang.
Pada awalnya, membaca judul buku saya agak risau, jangan-jangan digambarkan menandingai Jengis Khan atau Napoleon Bonaparte, sekalipun realitas menjadi fakta, Rasulullah lebih piawai dari ahli perang mana pun. Motif perangnya yang istimewa, bukan kekuasaan atau demi kejayaan dan harta, tetapi syiar dan mempertahankan agama Allah dalam menyeru kebaikan.
Kesimpulan Afzalur mendamaikan hati: Beliau adalah seorang dari (dunia) kedamaian, bukan (dunia) peperangan (h.415). Betapapun, ketika rasulullah dipaksa ke dalam peperangan … dengan ketetapan hati dan kecakapan … Beliau memperlihatkan kebijakan yang unik dan tak ada bandingnya, serta kecakapan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian dari rencana perangnya, gerakan-gerakan strategis dan manuver-manuver beliau sederhana dan praktis tetapi konprehensif dan realistik … (h.416).
Anjuran saya, membaca buku ini lebih nikmat manakala dimulai dari bagian terakhir, Penilaian Terhadap Muhammad Sebagai Pemimpin Perang. Setelah itu secara runtut baru memulai dari awal untuk melihat strategi Rasulullah dalam perang-perangnya yang berlandaskan perdamaian dan syiar agama, bukan, sekali bukan demi kekuasaan atau demi kekayaan. Kalau boleh memakai istilah, perang Rasulllah adalah perang kemuliaan (Islam).








