Menulis: Mood dan Calling

31 August 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis warmansyah Abbas*

KASUS: Nampaknya kalau dihitung-hitung, ada belasan pertanyaan yang masuk baik melalui SMS, email, atau  www.webersis.com, bagaimana mendapatkan mood dalam menulis. Maaf, saya harus memberi ‘bentakan’ dalam bentuk tulisan yang sedikit keras. Sebab, hantu mood itu rupanya bergayut di pikiran banyak orang. Entah siapa yang menyebarkan virus ngak karu-karuan tersebut.
 
Seiring dengan hantu mood, rupanya ada lagi hantu saudaranya, calling. Pembaca tulisan dan peminat sharing menulis nampaknya perlu hantu atau virus tandingan kuat untuk melawan hantu-hantu tersebut. Hantu-hantu lainnya kita diskusikan pada kain kesempatan.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Ersis di Banjarbaru.

SAYA merasa beruntung, tidak terlalu diganggu teori-teori menulis. Barangkali karena mendapatkan guru-guru terbaik ketika SD. Setiap libur, bahkan libur hari Minggu, diwajibkan membuat karangan selama libur. Di suruh bercerita di depan kelas, tetapi yang diceritakan apa yang ditulis.
 
Agak berbeda dengan anak-anak sekarang dengan guru lebih modern. Anak-anak SMP banyak yang membaca Harry Porter. Pertanyaannya, gurunya membaca apa ngak? Saya meneliti sekolah-sekolah di kota saya, bahkan di kampus, bukunya saja tidak ada.
 
Begitulah kondisi obyetifnya. Apalagi mereka rajin berselancar dan main game di internet. Bayangkan, kalau guru tidak membaca buku, tidak paham internet, kira-kira bagaimana kondisi pembelajaran di sekolah. Kalau bicara bacaan dan internet, bisa-bisa bawaannya suka marah. Kurangnya pengetahuan mudah memantik marah.
 
Sampai hari ini belum ada penelitian kemampuan guru menulis dan IT. Kalau dilakukan, bisa runyam akibatnya. Bayangkan, heregene kita masih mempunyai guru-guru kolokan. Bagaimana ‘menggadaikan’ mempersiapkan generasi IT kepada orang yang tidak paham IT. Ih … ngeri.
 
Seorang kawan, pegawai Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) berkeluh-kesah, sekolah yang dapat hibah ICT, e … malah dikorup. Ya, begitulah mental oarng yang untuk UN saja curang, apalagi proyek. Lalu apa hubungannya dengan mood dan calling?

Mood dan Calling
Mood adalah … the way you are feeling at a particular time; She’s in a good mood today —happy and firendly (Oxpord Advanced Leaner’s Dictionary, 2000: 824). Menurut Kamus Ingris-Indonesia (1996: 385): keadaan jiwa, suasana hati.
 
Calling (2000: 167) adalah … a strong desire or feeling of duty to do a particular job … atau (1996: 95) … panggilan. Dalam kalimat lain, keadaan yang nyaman dan atau panggilan dalam menulis, emang datang begitu saja? Tidak kawan.
 
Bagi saya, setelah direnung-renung, mood dan calling itu telah diletakkan tapak-apaknya sejak jauh hari. Begitu juga orang lain, semua orang punya kadar tingkat masing-masing. Yang diperlukan menemukan peta kapasitas dan intensitasnya. Jangan menunggu, emang menuggu Codot?
 
Artinya, mood itu bukan pasif. Ini yang saya katakan, salah memaknai, salah mencerna. Mood harus diciptakan, calling harus disuburkan. Masih ingat tulisan saya tentang Teori Berak? Kalau banyak makan, asupan gizi akan memenuhi kebutuhan tubuh, ampasnya jadi tahi. Banyak makan mendorong berak, kalau tidak makan yang dikeluarkan dubur hanya angin alias kentut.
 
Dalam kaitan menulis, bila banyak membaca, mengamati, menganalisis, memberdayakan otak, berfantasi, melamun dan seterusnya akan mempertebal mood, suasana hati untuk menulis, memperkuat calling, panggilan untuk menulis.
 
Artinya, kita bicara prasyarat sebelum menulis. Implikasinya, bukan menunggu mood, berharap ada hibah calling (entah dari siapa). Ciptakan dan perkuat mood dan calling di diri. Itu kuncinya. Saya berani bertaruh, jangankan serius berlatih menulis, rajin menjelajahi blog teman-teman, akan muncul ide ini, ide itu, keinginan ana, keinginan ane, yang ujung-ujungan membuahkan panggilan untuk menulis lebih hebat (memperbaiki), dan kondisi nyaman menulis. Sampeyan bergaul dengan orang suka menulis dibanding yang suka membantai tulisan orang, hasilnya akan berbeda.
 
Di tangan guru-guru yang suka ‘membedah’ karya-karya orang atau menceritakan karya penulis-penulis besar dalam bandingan dengan karya murid-murid, akan sangat berbeda hasilnya, dibanding guru-guru yang melatih muridnya (langsung) menulis. latihan menulis dengan menulis.
 
Dalam satu tulisan saya, orang Indonesia itu kalau mengomentari sepakbola kelas dunia luar biasa hebatnya sementara prestasi sepakbola kita, yah sama-sama tahulah. Tanpa, ya tanpa muncul kesadaran, siapkan dululah lapangan yang bagus, kalau perlu sampai setiap kecamatan.
 
Cara berpikir ‘bangsa kurang belajar’ ini kan lain. Diputar kompetensi sepanjang tahun, disewa pemain luar negeri, dananya … minta di APBD, lapangannya berlubang-lubang. Diprediksi bola meluncur ke kiri e … ke kanan karena lobang.
 
Persis dengan pendidikan, siswa-siswa akan kita latih berpikir dan melahirkan pikiran atau menjadi ahli teori bertandakan ijazah? Kalau Sampeyan guru, coba data, dalam setahun —misalnya di kelas mengajarkan keterampilan menulis— berapa orang siswa yang mampu menulis yang baik dan benar itu. Banyak penulis bagus bukan karena belajar di bangku sekolah.
 
Inti yang ingin saya katakan, apa yang kita dapat dari pendikan formal tidak maksimal, tetapi jangan salahkan guru (pendidikan). Hanya begitulah kemampuan pendidikan formal, dan ‘gaya’ tersebut dipertahankan sepanjang tahun. Ini masalah keterbatasan kemampuan.
 
Bersyukurlah kita masih punya lumayan banyak guru-guru kreatif dan inovatif sekalipun banyak yang masih jahiliyah. Buktinya kualitas pendidikan memprihatinkan. lalu apa yang harsu dilakukan?
 
Hal-hal fundamental seperti pemahaman huruf a sampai z, kan didapat di sekolah. Kini, tinggal kreasii dalam gabungan hingga menjadi kata, kalimat, paragraf, dan berhalaman-halaman tulisan. Semua itu mudah saja. Lalu bagaimana dengan mood dan calling?
 
Kan sudah dibahas. Mood dan Calling adalah proses dalam diri yang hanya bisa ‘dirasakan’ sendiri. Dan, tidak datang dari langit. Kitalah yang menciptakan, memupuk, mengembangkan dan mempersiapkan untuk dimanfaatkan. Jangan pernah menunggu mood apalagi sampai ‘dipanggil’ Yang Maha Kauasa, ntar tida ada kesempatan menulis.
 
Pernah mendengar kisah Umar bin Khatab? Betapa kerasnya lelaki Arab tersebut. Ketika berbudaya jahiliyah dia sudah sangat konsisten, tetapi begitu masuk Islam, dan menjiwai Islam mantaplah mood dan calling di dasar jiwanya sebagai pembela Islam di garda terdepan. Mari menjadi Umar-Umar Abad Informasi, merebut mood menyaringkan calling dalam menulis.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 31 Agustus 2007.

*Ersis Warmansyah Abbas, motivator penulisan.

  1. 9 Responses to “Menulis: Mood dan Calling”

  2. By hanna on Aug 31, 2007 | Reply

    <p><p>Maaf pak, saya pernah cerita sama bapak pada awal perkenalan kita bahwa menjadi penulis bukanlah cita-cita saya.<br /><br />
    Tapi kenyataannya saya lebih serius mengeluti dunia tulis menulis.Jujur saja , saya menulis karna panggilan nurani.<br /><br />
    Saya ingin berbuat banyak untuk orang-orang kecil yang jarang di perhatikan orang.So, saya mulai dari menulis.Berharap agar bisa menulis sesuatu yang berguna untuk orang-orang kecil suatu hari nanti.Orang-orang kecil yang saya maksudkan ialah orang-orang seperti saya, miskin, berpendidikan minim.Tapi syukur kepada Allah saya di beri jalan , akhirnya satu per satu apa yang menjadi impian saya bisa terwujud.Dan kekuatan-kekuatan itulah yang ingin saya tulis dan saya bagi,semua dari pengalaman hidup.Karna pengetahuan saya yang masih jurang,saya belum memiliki kemampuan menulis ilmiah, menulis secara akademik.Inilah perbedaan menulis antara yang berpendidikan formal dengan yang nonformal.Tentu semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin memungkinkan dan memudahkan mereka menulis asal mereka mau menulis.</p><br />
    <p>Menulis juga harus punya tujuan yang jelas.Kalau saya hanya ingin berbagi sesama.Saya merindukan dunia yang penuh kedamaian, di mana satu sama lainnya mau saling membantu.Dengan adanya tujuan dan panggilan nurani , saya percaya , Insyah Allah bisa menulis dengan lebih baik lagi.</p></p>
    <p><p>Mood kadang memang mempengaruhi dunia tulis menulis.Kalau moodnya baik , tulisannya akan baik, kalau lagi be te tulisannya akan lebih terkesan marah-marah, he he…<br /><br />
    Ini juga pengalaman yang saya dapat lho dari sharing menulis.</p><br />
    <p>Yang terakhir , saya ingin menyampaikan berjuta-juta rasa terima kasih saya kepada bapak yang sudah membimbing dan memotivasi saya tuk menulis.Rasa terima kasih itu tidak bisa di ungkapkan dengan kata, juga di tidak bisa di wakili dengan benda.</p><br />
    <p>Wasalam</p></p>

    ***Orang besar, kecil, hebat, dungu, cerdas, culas … itu kan soal label. Ya, saya setuju menggali kekuatan dalam diri kita. Pancangkan niat dan tekad untuk berbuat bagi sesama, da … lakukan. Bangsa kita ini terlalu banyak berteori dan bicara, akan … akan … Kini, lakukan saja. Mulai ………..

  3. By hanna on Aug 31, 2007 | Reply

    Ralat: Kurang terketik jurang., he he.

  4. By erander on Aug 31, 2007 | Reply

    <blockquote>Mood dan Calling adalah proses dalam diri yang hanya bisa ‘dirasakan’ sendiri. Dan, tidak datang dari langit.</blockquote>

    Saya jadi ingat buku The 7th habit-nya Steven Covey .. bahwa manusia yang unggul adalah manusia yang tidak terpengaruh oleh lingkungannya tapi justru dapat memperbesar lingkar pengaruh .. atau bisa juga dengan istilah reaktif dan pro aktif.

    Orang2 yang berhasil adalah orang yang bisa menimbulkan dari dalam diri sendiri. Tidak karena stimulus dari luar. Kira2 begitu tambahan saya pak.

    ***Persis, hampir semua buku berlabel ‘change’ berangkat dari prinsip demikian, dan … lebih dahsyat lagi konsep hijrah, kebetulan saya sedang membaca sembari meresume ala EWA sekitar 50 buku tentang Rasulullah. Jauh lebih hebat dari Steven Covey … Brian Tracy … Kasali … dan seterusnya. Cuman, dlupakan orang kali he … he …

  5. By mathematicse on Aug 31, 2007 | Reply

    Ya, agar mood dan calling itu datang setiap “saat” ke kita, maka kita perlu asupan “gizi” pada akal dan pikiran kita.

    Asupan “gizi” itu bisa kita peroleh lewat membaca (buku, blog, dll), bisa juga lewat merenung, berimajinasi, mengamati, dan berfikir mendalam.

    Sepertinya kecil sekali kemungkinannya mood dan calling itu datang bila asupan “gizi” nya kurang, apalagi tidak ada sama sekali. Jadi, mood dan calling itu bisa kita usahakan dan “mereka = mood dan calling” akan datang dengan segera, tak perlu ditunggu berlama-lama. Daripada cape nungguin mood or calling, mendingan senang (ga cape) memenuhi asupan “gizi” buat akal dan pikiran.

    Bagaimana menurut bapak? Hehe… :D

    ***Yap, menulis dan membaca itu ibarat ‘two side in one coin’, tidak bisa dipenggal. Dan … mendapatkan gizi (membaca) dalam sejarah dunia inilah era paling mudah, gampang, dan cepat. Kecuali … bagi kalangan penegluh. Semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian (Ini syair lagu siapa, hayo?).

  6. By Shirei on Sep 2, 2007 | Reply

    wah artikelnya bagoos bgt ^^

    weis….. kdg bukan kolokan jg sih. kdg masalah uang jg loh. wehehehe kalau internet ad brp kota yg ga dpt T__T komputer ga smua guru sanggup beli T__T kasihan bgt (inget guruku saoalnya)

    ***The life is problems, problem must be solved. Di kota saya walaupun kota kecil, ada pembagian latop untuk guru berpestasi, ada program ICT/IT di sekolah, dan seterusnya … Saya pernah survey, rumah dan kehidupan guru, bagus. Saya (dosen dan petambak ikan) kalah jauh. Tapi, ya banyak juga yang kasihan. Coba deh tolong pemikiran saya … ke depan anak2 hidup di era informasi, era IT, gurunya membedakan email dg website (situs, portal) saja ngak paham. Dikira kue kali ya … Tapi, kan banyak juag yang jago, baca saja blog guru2, saya belajar pada mereka.

  7. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 4, 2007 | Reply

    Yaah, memang benar. Yang akan membedakan cara pandang cara pikir cara problem solving kita pada 5th atau 10th y.a.d atau lebih, adalah kualitas dan kuantitas buku-buku bacaan kita. Berapa banyak buku yang kita baca dan buku2 apa yang kita baca, yang terpenting lagi adalah berlatih menulis.
    So.. mari jemput mood and calling.
    Sepakat.

  8. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Sep 4, 2007 | Reply

    Jangan menunggu mood tapi sebaliknya, mari jemput apa yang namanya ‘mood and calling’. Semoga saya bisa menjemputnya, Amin. Semoga Sampeyan juga.
    Oh iya lupa, dengan siapa kita bergaul juga akan sangat mempengaruhi cara-cara kita berpikir dan lain-lain.
    Makasih motivasinya.

  9. By unai on Sep 4, 2007 | Reply

    wah membaca tulisan Bapak ini membuat saya bener bener tergugah. Saya banyak membaca tapi sulit menelurkan kata. thanks ilmunya pak

    ***Saya ngak percaya … pasti bisa menulis, sebab Menulis Sangat Mudah. Saya berani bertaruh … kalau sharing dengan saya tiga kali bahas pasti keluar bak lahar gunung Merapi he … he …

  10. By meiy on Sep 4, 2007 | Reply

    saya bawa pulang pelajaran menulisnya pak. moga memotivasi. never too old to begin kan pak :D

    ***Yoi … tapi saya bukan guru menulis, kalau motivator ya, kalau teman sharing ya. Koloner Sander pendiri Kentucky Fried Chicken baru mualai umur 64 he he he …U a young women, toh

Post a Comment