Menulis yang Enak

30 August 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas*

KASUS: Menulis dengan gembira dan berbunga-bunga, menurut saya, menulis dengan segenap perasaan (wawasan, pengalaman, dan hati).
 
Ketika saya menulis hanya dengan dua komponen (wawasan dan pengalaman) saja, yang saya tuliskan itu terasa nga enak, suka banyak pikiran ini-itu, kurang nyaman, tidak lancar menuliskannya, kaku, kurang mengalir, ngak enak dibaca, dan suka gagal di tengah jalan (banyak pikiran). Pokoknya, menulis itu setidaknya ketiga aspek yang saya tulis tadi itu perlu ada.
 
Bagaimana menurut Bapak?
 
Someone in somewhere.

MENULIS yang enak, ya kenapa tidak? Mau enak atau nyaman, menyenangkan atau membahagian, mengembirakan atau memuaskan, terserah kita. Itu soal persepsi. Yang penting kan menulis. Tidak enak pun (emang masakan Padang), kalau bisa menghasilkan tulisan, kenapa tidak?
 
Saya sering mengatakan dan menuliskan, menulis itu urusan pribadi. Bila kita ingin menulis, lalu dilakukan, pasti jadi tulisan. Sederhana saja caranya, dan mudah syaratnya. Asal punya otak, bisa menulis, dah, jadilah. Lalu bagaimana dengan menulis sepenuh jiwa?
 
Boleh-boleh saja. Kita kan punya jiwa, bukan raga saja. Ahli-ahli ilmu sosial mengatakan, manusia punya unsur akal dan jiwa (kalau mau membahasnya baca buku-buku psikologi). Susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan tiap-tiap individu manusia disebut kepribadian alias personality.
 
Unsur-unsur kepribadian terdiri dari pengetahuan, perasaan, dan naluri. Pengetahuan terbentuk atas ‘gambaran’ di luar diri. Misal begini, Sampeyan suka membaca tulisan Ersis, nah apabila ‘masuk’ ke otak melalui proses (kesadaran) akan membentuk persepsi. 
 
Ketika hal itu berproses dan menghasilakn penggambaran baru akan menjadi apresiasi. Kalau difokuskan, misalnya memperhatikan ‘gaya’ bertutur (tulisan) Ersis karena tertarik —sebab memang bagus he … he … berarti pengamatan. Lalu, penasaran dan melakukan perbandingan, menganalisis lebih tajam, atau apalah hingga didapat pengambaran abstrak, berarti sampai pada konsep. Kalau dilebih-lebihkan, misalnya Ersis pastilah hebat, membaca jutaan buku, sangat tidak realistik, itu masuk area fantasi namanya.
 
Saya mau mengatakan dalam pemahaman kepribadian —atau lebih tepatnya proses kerja di otak dalam memindai sesuatu— ternyata begitu rumit dan (mungkin) menyenangkan. Kalau diputar secara slow motion, mungkin sangat seru. Maksud saya, kalau kita jeli, bisa ditulis sangat menarik.
 
Ingat, itu proses belajar dari lingkungan yang sederhana, apalagi yang lebih rumit di laboratorium misalnya. Lalu, kenapa kog menjadi susah menulis apa yang berproses di otak hingga membentuk pengetahuan. Kalau tidak bisa ditulis, jangan-jangan pengetahuan yang bersemayam adalah pengetahuan instan atau bohong sama sekali. Persis seperti Doktor yang meraih gelar tanpa belajar. Beli gelar.

Perasaan
Alam kesadaran manusia bermuatan perasaan. Coba amati tulisan Ersis tentang guru. Disitu ada pesan, guru berbenah diri memantapkan kompetensi profesionalnya. Ada muatan pesan etika (dan agama), jangan curang seperti ‘menolong’ siwa menjawab soal-soal UN. Itu bukan menolong, tetapi menanamkan dan memantapkan perilaku curang yang akibatnya buruk dan dosanya besar. Iblis pendidikan ya kecurangan.
 
Perasaan selalu subyektif karena berlandasan penilaian yang memantik kehendak. Misal Sampeyan memang pecurang UN dan tersadar, akan muncul perasaan positif. Oh ya … ada benarnya tulisan Ersis, saya mau meninggalkan praktek curang. Kalau dalam menulis, saking senangnya (perasaan) dengan tulisan sesorang —Ersis misalnya— terbit air liur hendak menulis seperti itu. Baguslah.
 
Sebaliknya, bila dianggap menghina, menghujat, atau melecehkan (padahal benar-benar curang nih) muncul kemarahan. Timbul kemuakan, benci, iri, dengki dan seterusnya. Tanpa disadari, (diri/guru) yang memang salah dibenarkan, (tulisan) yang benar disalahkan. Karena … perasaan (negatif).
 
Nah, baik ke kiri atapun ke kanan, positif dan negatif, akan memunculkan keinginan. Kalau dianggap positif akan berusaha memperoleh atau berbuat lebih baik, sebaliknya kalau negatif berusaha menghindar atau membenci. Namanya keinginan.
 
Kalau keinginan begitu kerasnya, namanya emosi. Kalau sudah begini, kita sampai pada ranah apa yang diperingatkan oleh agama (Islam), nafsu. Berhati-hatilah. Nafsu adalah musuh kebaikan.

Naluri
Soal naluri dalam menulis seperti juga dalam  kepribadian sudah teinstal dari sononya, tinggal mengendarainya saja. Misal, ketika perut ‘menyanyi’ tersebab lapar, secara naluriah kita akan makan atau mencari makan. Kalau pingin menyalurkan keinginan sex, kalau tanpa filter pengetahuan dan perasaan, kita kembali ke khittah (sori bercanda), ke prilaku binatang.
 
Sebaliknya, apabila sejak pemerolehan pengetahuan, pemupukkan perasaan, dan ‘pembinaan’ naluri telah benar caranya, semua jadi mudah. Dus, kalau mau menjadi penulis silahkan cerna teori psikologi tersebut. Kenapa?
 
Jangan-jangan dari proses awal memang ada kekeliruan mendasar yang dilakukan. Sehingga, untuk sekadar mengeluarkan apa ang ada di pikiran yang berproses begitu rumit —tetapi karena kemampuan otak begitu canggih— berlaku begitu kencang, menjadi sulit dan menyulitkan.
 
Mungkin, seperti ditulis oleh sesorang sebagimana judul tulisan ini, kalau mau menulis yang enak, berdasarkan kekompakkan unsur-unsur kepribadian, ya pengetahuan, ya persaan, ya naluri. Ketiga unsur itu, harus selalu diasah dan dikembangkan kapasitasnya dalam bingkai positif.

Menulis, menulis, dan Menulis
Sintesis semua itu, berdasarkan pengalaman pribadi yang belum tentu valid, membawa saya  pada smpulan, belajar menulis, ya dengan menulis. Teori sih OK, tetapi kalau salah masuk atau salah persepsi dan konsep, bisa berakibat kerancuan.
 
Dalam bahasa komputer, kalau terjadi kesemrautan akan berakibat hang. Jangan-jangan kesulitan menulis diakibatkan berbagai kerancuan yang bersarang di kepribadian. Tapi, jangan takut. Saya sekadar menakut-nakuti saja, he … he …
 
Lebih penting dari itu, manakala kita mampu memetakan kepribadian, terautama dalam kaitan menulis, kemampuan dan sistem belajar akan terpola menuju menulis mudah, menulis enak.
 
Dengan kata lain, menulis yang enak itu, ya yang sesuai dengan kepribadian. Kepribadian bisa dikembangkan, seperti juga menulis, dengan mengasahnya. Khusus menulis, mengasahnya ya dengan membiasakan menulis. Tulis, tulis, dan tulis. Kalau sudah begitu, pada waktunya akan sampai pada tingkat menulis itu enak.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 30 Agustus 2007.

*Petambak ikan.

  1. 7 Responses to “Menulis yang Enak”

  2. By hanna on Aug 30, 2007 | Reply

    Menulis yang enak ? resepnya kan sudah ditulis tu ,tinggal memasak saja terus di bumbuin. Jadi deh tulisan yang enak seenak masakan padang di Sari Bundo, tul ga ,pak ?

  3. By ichal on Aug 30, 2007 | Reply

    yah pengen, membangun mood bir bisa menulis yang enak….

  4. By Maghfira Mimi on Aug 30, 2007 | Reply

    Assalamualaikum, menulis adalah hal yang menyenangkan.menulis memang kalau diasah terus ya semakin bagus,menulislah terus dengan perasaan dengan naluri dan dengan pengetahuan…maka jadilah tulisan.setuju banget.begitukan pak??? Wassalam.

  5. By sawali tuhusetya on Aug 30, 2007 | Reply

    Setuju banget, Pak Ersis, resep yang Bapak sampaikan. Tapi ada yang kurang disebut, yakni dunia panggilan. Sehebat apa pun dia punya kemampuan menulis kalau dia tak memenuhi panggilan dalam naluri dasarnya untuk menulis, satu huruf pun bisa jadi nggak akan muncul di kertas atawa layar monitor, Pak, hehehehehe :D

    OK, Pak, Salam hangat

    *Tidak akan marah meski guru sering dikuya-kuya lantaran kedunguannya*

    ***Orang pemarah karena kurang paham, kurang pengetahuan, kurang arif, dan … kurang he … he .. Maaf kalau kata-kata saya agak keras dalam artikel, dibaliknya saya ingin menggugah, memotivasi. Salam

  6. By mathematicse on Aug 31, 2007 | Reply

    Sepertinya, saya kenal dengan “someone in somewhere” itu. Hehehe… :D (maaf bila saya salah).

    Ya, betul walau kita menulis tidak dengan segenap perasaan, mungkin sekali tulisan itu akan jadi. Tapi, ya itu tadi, kurang lengkap rasanya, kurang mengalir tulisan itu tentunya. Ujung-ujungnya tulisan itu kurang enak dibaca. Betul, Pak?

    Ibarat masakan, semua bahan ditumplekkan, kemudian direbus atau digoreng, tapi tidak dikasih bumbu, jadinya, makanan itu kurang lezat deh rasanya. Begitu kira-kira.

    ***Kira-kira begitu he he

  7. By Yari NK on Aug 31, 2007 | Reply

    Saya lupa lagi…. kenapa saya kok jadi suka menulis. Yang masih saya ingat waktu dulu…. saya ingin curhat tapi nggak ada yang bisa dicurhatin. Jadinya saya menulis di buku harian seadanya, waktu itu belum ada blog sih. :D
    Tapi saya akui memang antara ’suka menulis’ dan ‘dapat menulis’ apalagi dapat menulis dengan baik dengan teknik2 yang baik adalah 2 hal yang berbeda. Pertama-tama kali saya menulis, rasa-rasanya kok tulisan saya amburadul gitu, alurnya agak acak2an dan dibacanya nggak enak. Tetapi akhirnya lama-kelamaan sampai sekarang……. tetep acak2an! Hehehe… :D (Saya masih harus banyak belajar).

  8. By salman on Dec 31, 2007 | Reply

    menulis yang enak itu, adalah menulis dengan seluruh jiwa dan pengetahuan.
    tulisan yang enak bisa lahir dari jiwa yang kreatif, penuh wawasan dan memiliki kemampuan untuk menguraikan apa yang terpendam menjadi intan-intan indah, bukankah kata inayat khan, tulisan yang mencerahkan itu lebih berharga dari intan mutiara.

    umumny tulisan yang tersendat-sendat, tidak logis, terbentur pemilihan kosa kata yang tidak tepat, karena kualitas inheren dan actuality.
    semoga

    ***Ya ya setuju, dan itu dapat dilatih dengan menulis, menulis, dan menulis.

Post a Comment