Menulis, Sekolah, dan Sekolah Kehidupan
27 August 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas*
KASUS: Saya tidak berpendidikan tinggi, hanya tamatan SLTP. Sangat paham betapa sulitnya menulis karena tidak bersekolah (tinggi), kata seorang teman. Teman yang lain justru terbalik, kuliah sampai S3, tetapi sulit ‘mencari waktu’ untuk menulis.
Kata yang pertama, bagaimana mengejar ketertinggalan pendidikan formal. Ujar yang kedua, bagaimana membiasakan menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Dua orang di tempat berbeda.
JUJUR saja, saya ngakak dalam hati (ngakak dalam hati gimana tu rasionalnya he … he …). Betapa tidak, pada orang pertama ada kerancuan persepsi. Apa hubungan tegas antara pendidikan formal dengan menulis? Penyakit bawaan yang melilit masyarakat kita, kalau mau berbuat sesuatu harus berpendidikan tinggi. Aya-aya wae.
Pernah baca buku Annimal farm Goerge Owel? Buku itu diterjemahkan Mahbub Djunaidi menjadi Binatangisme. Saya ingat —bukunya hilang— pada kata pengantar Mahbub menulis … orang-orang cerdas di Inggris pada ke luar dari perguruan tinggi. Sekolah kehidupan, belajar di dan dari dunia nyata lebih afdol.
Sudahlah, Albert Einstein, Thomas Alfa Edison dan bejibun lainnya, bahkan ketika SD saja sudah dicap bodoh, mereka di tolak. Ingat, ditolak karena dianggap idiot. Kalau tidak pernah membaca tentang para penemu, ilmuwan, dan filsuf hebat-hebat yang tidak bersekolah, jangan sampai memaki diri dungu ya. Tidak produktif itu.
Pada tingkat paling radikal, saking sekolah dianggap kuno, membelenggu, Ivan Illich menulis buku fenomenal, Deschooling Sosiety. Bubarkan sekolah, katanya garang. Masyarakat cukup membuat jaringan belajar.
Illich tentu berpikir radikal, seperti juga Faulo Preire tokoh pemikir Amerika Latin yang kesohor itu. Apa pun jadinya, saya termasuk orang yang tidak puas dengan sekolah formal. Hanya saja tidak mengeluh, yang tidak didapat di sekolah dicari di sekolah kehidupan. Faktanya, banyak guru yang dungu —yang cerdas lebih banyak lagi— dengan tindakan mengajar yang jauh dari edukatif. Tapi, mau bilang apa, begitulah kenyataannya.
Lebih parah dan membuat gregetan, guru dikeluhkan dan mengeluh karena kualifikasi tidak memadai, kompetensi perlu ditingkatan, sarana dan prasana mengajar harus dilengkapi, metode dan inovasi harus dilakukan, dan harus-harus lainnya. Kenyataannya?
Konstitusi saja dilanggar bejamaah. Yang lebih lucu, dengan segala kekurangan itu, ambil contoh Ujian Nasional yang salah kaprah tersebut, justru hasilnya bagus. Tingkat kelulusan di atas 90%. Luar biasa. Kalau capaian hasil belajar sedemikian namanya sukses besar. Ngapain ribut-ribut tentang banyak hal. Tinggal perbaiki sana sini. Lain halnya kalau curang. Nah, ini memerlukan pembasmian guru dan birokrat pendidikan. Kalau curang sudah menjadi pegangan, payah itu. Perlu waktu.
Bagi saya pendidikan formal penting dalam mendapatkan hal-hal mendasar. Tetapi, bukan satu-satunya ‘tiket’ untuk mengembangkan potensi. Pada banyak kasus, justru menghalangi pengembangan potensi, karena di pendidikan formal susah berpikir merdeka. Ya, anggap tempat melatih diri hal-hal dasar. Pengembangan di sekolah kehidupan.
Dengan kata lain, dalam kaitan menulis, pendidikan formal bukan satu-satunya tiket memasuki gerbang menulis. Saya ambil contoh Muhammad Arsyad Al-Banjari penulis abad ke XIX. Bayangkan bagaimana beliau menulis di Kalimantan dimana ketika itu mesin tik belum ada, komputer apakah lagi, mana ada buku-buku bertebaran —sekarang saja di Indonesia buku begitu sulitnya— mampu menulis puluhan buku. Karena sekolah? Ya ngaklah. lalu?
Pasti karena berkeinginan menulis. Menulis dijadikan sarana dakwah untuk menyiarkan yang hak dan melawan kemungkaran. Buku-buku beliau di pakai, terutama dalam kajian keagamaan di Asia Tenggara. Artinya, menulis itu adalah keterampilan yang diasah. Toh, sampai hari ii tidak ada sekolah khusus bagi penulis. Ingat, penulis-penulis besar karena dia menulis, bukan diajarkan menulis.
Kurang Waktu Apaan
Saya bersahabat dengan seorang Doktor. Ketika sekolah dia telah menulis beberapa buku, tetapi begitu kembali ke kampus, jangankan buku menulis artikel saja tidak. Kalau diminta sebagai pemakalah atau penatar baru menulis. Alasannya, tidak ada waktu.
Suatu kali saya diskusi agak serius. Saya tidak mendukung kamu jadi pejabat. Tugas seorang Doktor meneliti. Ini kan terbalik, semakin banyak doktor pendidikan (juga Magister) semakin jelek kualitas pendidikan. Kita banyak punya ahli-ahli kehutanan, tetapi justru hutan gundul. Semakin banyak PT pertanian, kita semakin rajin mengimpor beras, sampai durian dari Thailand. Sekolah tehnik menjamur semenjamurnya produk mancanegara yang kita impor. Penegak hukum dididik di PT bagus-bagus, membantas korupsi duh sulitnya.Ngapain ekonom mengurus pendidikan, urus saja masalah ekonomi yang tidak kunjung beres. Lalu sibuk?
Kalau para Doktor melakukan penelitian, banyak hal bisa ditulis. Tulisan ilmiah menyangkau Hadiah Nobel atau yang ringan yang bermanfaat langsung. Kawan saya, sibuk mengajar kesana-kemari, ya kapan meneliti dan menulis.
Dus, menulis tidak ada hubungan pasti dengan menulis. Orang yang tidak berpendidikan tinggi bisa produktif menulis sementara yang bersekolah ke S3 bisa mandul. Menulis, sekali lagi, tidak ada hubungannya dengan capaian pendikan.
Karena itu, mari menulis. Setidaknya melatih menulis dengan menulis. Lupakan pendidikan, lupakan satus sosial, lupakan. Luangkan waktu untuk menulis. Syukur kalau ‘berani’ menjadi penulis seperti Ihza yang keluar dari SMP lalu berketetapan hati untuk menjadi penulis. Berbagai bukunya kini siap masuk pasar. Kalau saya menulis menjadi ‘pekerjaan’ sampingan saja he … he …
Sebagai contoh, sehabis mengerjakan tugas rutin hari ini, selepas zuhur ke kolam menangkap ikan haruan bersama anak-anak. Menjelang magrib membuka www.webersis.com membaca beberapa komentar, lalu ada ide menulis. Jadilah tulisan. Begitu mudahnya.
Kalau demikian waktu untuk apa yang perlu diluang-luangkan. Menulis saja selagi ada waktu, sekalipun sangat pendek. Hanya saja, memang harus membaca. Untuk membaca dalam pengertian menimba informasi, bukankah kita hidup di era informasi? Semuanya serba mudah.
Dengan kata lain, baca apa saja, dimana saja, dan kemudian tulis apa saja dan dimana saja. Kalau sudah demikian semuanya menjadi mudah. Sekolah penting dan tidak penting, he … he …
Yang pasti, kalau berniat menjadi penulis, tidak perlu sekolah tingg-tinggi ntar ngak bisa mendarat, cukup menjadi pembaca saja. Kalau mau meraih gelar Doktor, yang harus kuliah sampai S3. Kecuali, membeli gelar.
Menulis jauh lebih mudah dibandingkan sekolah, pada tingkat mana pun. Tapi, banyak Doktor kalah produktif dari tamatan SD dalam menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 27 Agustus 2007.
*Petambak ikan dan Tenaga Edukatif FKIP Unlam banjarmasin.









11 Responses to “Menulis, Sekolah, dan Sekolah Kehidupan”
By SQ on Aug 27, 2007 | Reply
pak, ada yang berkomentar lebih kejam lho ? katanya sekolah sekarang sudah ketinggalan zaman, sudah tidak relevan lagi dengan zaman kita yang sekarang bisa dibilang hi-tech.
Pendidikan di Indonesia masih begitu-begitu saja, ribut masalah guru, sarana/prasarana dll. Akibatnya, sekolah malah cuma jadi tempat berpolemik. Itu alumnus-alumnus FKIP lho yang bilang.
mungkin mereka baru tahu setelah merasani “sekolah kehidupan” yang punya kurikulum asli menulis, kan diwaktu sekolah formal jarang yang diajari nulis, kecuali belajar tata bahasa dulu yang benar..he..he
By sawali tuhusetya on Aug 27, 2007 | Reply
Pak, mohon izin comment, ya, Pak! Carut-marutnya dunia pendidikan kita agaknya tak lepas dari “kemauan politik” orang-orang yang kini berada dalam link kekuasaan. Ada banyak orang yang salah ditempatkan dalam wilayah birokrasi kependidikan kita. Mulai dari bawah sajalah, Pak, di tingkat Dinas P dan Kabupaten Kota.Yang seharusnya mengurusi masalah bal-balan, voly, atau basket, ee, lha kok diminta ngurusi seni dan budaya. Sebaliknya, mereka yang layak ngurus kesenian, justru ditempatkan di bidang olahraga. Pantas saja kalau prestasi olahraga nggak pernah maju, demikian juga keseniannya, lantaran diurus oleh orang-orang yang bukan ahlinya. Di tingkat atas juga sami mawon. Kalau ekonom mengurus masalah pendidikan, ya kiat dan strategi pengelolaannya akan menggunakan kacamata ekonomi. UN saja, misalnya, trend-nya kan sudah mengarah pada pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa. UN diselenggarakan bukan sebagai media evaluasi, melainkan lebih dimanfaatkan untuk menjaga gengsi bangsa yang selama ini kalah jauh kriteria kelulusannya dibanding negeri jiran. (wah, kok jadi ngelantur, maaf saja, ya, Pak). Agaknya, negeri kita membutuhkan orang-orang yang punya “wisdom” dan visioner. Mereka harus mampu menjadikan pendidikan di negeri ini sebagai “panglima” peradaban. Hilangkan semua praktik birokrasi yang ruwet dan rawan KKN, pangkas habis jual-beli ijazah dan gelar, lakukan rekrutmen pejabat pendidikan secara fair, dan yang tak kalah penting, setiap ranah pendidikan harus diurus oleh orang-orang yang ahli di bidangnya.
)
*Maaf sambil merokok nih, Pak.
By hanna on Aug 27, 2007 | Reply
Siip !! Salut tulisannya, menyenangkan.Yup,sekolah sesungguhnya ialah sekolah kehidupan.
Saya juga salut sama Izza.Karna Izza bisa mengenal potensi dirinya dan memfokuskan diri dengan baik.Izza punya kemauan yang keras,punya semangat, berani berjuang, juga percaya diri.Nah, bagi siapa saja yang tidak memenuhi syarat yang dimiliki izza itu jangan sekali-kali mengikuti jejaknya.
Sekolah formal lebih disiplin, lebih terarah.
Kalau yang ini bercanda lho ya.
Kalau saya punya duit yang banyak saya sekolahin anak saya disekolah formal yang kwalitasnya bagus dimana banyak anak-anak orang kaya yang belajar disitu.Nah , kan bagus tuk pergaulan dan bila nanti mau buka usaha atau bisnis relasi yang baik sudah menanti.Kalau ketemu jodoh disekolah itupun ga rugi ketemunya anak orang kaya, he he…
Mungkin ini juga salah satu fungsi sekolah formal selain banyak teman, banyak bertemu guru-guru yang pintar,lebih terarah proses belajarnya, lebih disiplin diri.
Tentang negeri kita yang memang memprihatikan ini marilah kita bersatu-padu berjuang bersama.
By hanna on Aug 27, 2007 | Reply
Eh ketinggalan, Kalau menganggap diri sendiri dungu malah bagus.Ini menurut saya lho.Kalau menganggap diri sendiri pintar bukan saja sombong malah jadi dungu nantinya.
Saya memang merasa diri saya dungu, tolol makanya saya belajar dengan lebih giat.Sudah belajar masih juga merasa belum pintar so belajar lagi,lagi dan lagi.
By mathematicse on Aug 28, 2007 | Reply
Sekolah formal memang seringkali menghambat kebebasan berpikir kita, karena banyak aturan yang sudah menjejali pikiran. Apalagi dalam hal menulis. Harus tahu tata bahasalah, perlu tahu dulu aturan tanda baca lah, perlu ini-itu, dst. Akibatnya, seseorang makin tinggi tingkat pendidikannya, bukannya makin produktif menulis, malah makin merasa kesusahan dalam menulis.
Tak terkecuali bagi mereka yang sudah bergelar doktor, sudah pernah menulis formal ratusan halaman disertasi. “Beliau-beliau” itu makin mantap tahu aturan ini-itunya. Akibatnya, mereka merasa sulit bila menulis karena mereka selalu berpikir serius bila akan menulis. Mereka berpikir ulang, lebih dari dua kali bila akan menulis sesuatu. Sebelum tulisan jadi, mereka sudah ngebayangin tulisannya mau seperti apa. Makanya susah jadinya. Bila asal menulis, mereka akan takut tulisannya itu tidak ilmiah, gampangan , seenaknya (tanpa referensi yang memadai), dan takut dianggap tulisan kacangan. Akibatnya lagi, ketika mereka mulai sibuk (apalagi bila sudah jadi pejabat, pejabat struktural), waktu luang mereka yang sebentar itu tak sanggup mereka manfaatkan untuk menulis (karena merasa dan dianggap tak cukup untuk menulis sesuatu, karena alaan harus banyak baca beragam referensi ini-itu, dst). Makanya tak heran mereka berkilah mengatakan tak ada waktu untuk menulis. (Hahaha… ini cuma dugaan saya saja kok, Pak. Bila salah, mohon maaf. Bila benar, mudah-mudahan ada manfaatnya. Amin).
Sedangkan bagi mereka yang bersekolah rendah, mereka merasa minder, merasa bodoh, merasa kurang dst. Akibatnya, mereka benar-benar seperti yang dipikirkannya. (Maaf ini juga dugaan saya saja).
Ya sudah segitu saja.
Mohon maaf bila ada perkataan yang kurang berkenan.
By julfan on Aug 28, 2007 | Reply
aslm,
saya sangat senang membaca blog ini. Terima Kasih atas berbagai infonya.
By kangguru on Aug 28, 2007 | Reply
saya heran kalo ngomong orang pada suka tapi menulis tidak, kenapa ya??
By mitra w on Aug 28, 2007 | Reply
hmm, setuju dengan opini bapak… padahal menulis itu adalah sarana buat belajar…
By Yari NK on Aug 29, 2007 | Reply
Sebenarnya yang penting bukan sekolahnya ya? Tapi pendidikannya. Pendidikan bisa saja terjadi di luar gedung sekolah atau kampus. Banyak juga lho yang ‘tidak sekolah’ tapi banyak mengenyam ‘pendidikan’ di luar pendidikan formal menghasilkan sesuatu yang sangat istimewa! Bukankah begitu?
By fira on Aug 29, 2007 | Reply
Assalamualaikum, wah hebat oi tulisan bapak memacu andrenalin saya. Bertambah parah deh virus yang sudah bersemayam.Yoi pak skali lagi tulis dan tulis belajar dari kehidupan pengalaman lebih sipp tambahannya luangkan waktu buat membaca walau hanya sejam dalam sehari itu salah satu manfaat juga kan pak. Nikmat deh senikmat sayur asem dan ikan teri sambal terasi yang sedang saya lahap sekarang hehehe. Wassalam.
By Hendra Sapoetra on Feb 8, 2008 | Reply
Assalamu’alaikum
Saya sangat senag membaca tulisan bapak.
ini sangat menjadi pertimbanan untuk selalu berkreasi walau tanpa pendidikan formal. orang berpendidikan tidak selalu pintar. tapi orang pintar akan selamanya terdidik… wassalamu’alaikum
***Ya ya. Aku dah ke blog Sampeyan, maaf ngak bisa komentar di blogspot, aku gaptek.