Menulis Setelah Membaca

23 August 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas*

Axtaraneta EWA Abbas baca Mind SetKASUS: Pagi ini, 23 Agustus 2007, pukul 11.00 Witeng kurir Tiki menyerahkan paket dari seorang teman di Jakarta. Isinya buku Rhenald Kasali, Re-Code Your Change DNA dan buku John Naisbitt, Mind Set. Buku Rhenald sudah lama dibaca, buku Naisbitt belum sampai ke TB di Banjarmasin.
 
Pertama ‘berkenalan’ dengan Naisbitt melalui buku spektakularnya, Mengatrends. Buku terbitan Warner Book, Inc. 1982 itu saya beli di Bandung (7-7-1984). Era itu era kejutan para futuris. Saya terpesona, dan ingin bercanda menulis di halaman buku: Isi buku untuk kalangan berotak encer, banyak membaca dan berwawasan ke depan, dan sudah banyak informasi di memori otaknya. Apa fasal?
 
Soalnya banyak yang minjam, he… he …

MEMBACA, ya membaca, satu kunci menulis. Setiap membaca, apakah membaca buku atau tanda-tanda kebesaran Allah SWT di alam semesta, apabila ‘diproses’ di otak pada dasarnya kita sedang menulis. Dalam pemahaman menulis tradisional —sebelum Ersis Wrting Theory (EWT)— apa-apa yang ada (diproses) di otak oleh sebagian orang terkadang sangat sulit dituangkan, ditulis. Hingga, menulis dikatakan susah dan menyusahkan.

Kini era EWT, jadikan semuanya mudah. Caranya? Tulis. Kan sudah membaca. Kalau sudah membaca kita sudah menulis, katakanlah dalam bentuk konsep di otak, nah tinggal ditukar rupa bentuknya menjadi tulisan melalui tust komputer. Kalau itu dilakukan akan sangat menjadi mudah, Menulis Sangat Mudah.
 
Menuliskan apa yang beproses di otak, disamping menyenangkan, membuat otak menjadi fresh, juga menyehatkan. Bukankah menulis hanya bisa dilakukan oleh orang yang otaknya masih sehat? Jadi, bukan sekadar penanda otak masih sehat saja, tetapi juga demi menjaga agar otak tetap sehat. Ya, bahkan, kunci pendukung otak sehat, obat mujarabnya, membaca dan menulis. Sebab, dengan demikian otak bekerja. Akan lebih sehat kalau dilengkapi dengan melamun, berimajinasi.
 
Pada tingkat paling sempurna, barangkali kalau apa yang bergelora di otak dicurahkan, ditulis. Masih ingat ranah psikologi, katarsis? Itu dia, menulis adalah katarsis, membersihkan kerak-kerak  pendapat sampai kedongkolan di otak. Marah saja kalau ditumpahkan akan menyehatkan, tapi kalau selalu marah pastilah orangnya penyakitan. Wah, kalau tidak dihentikan bisa berkembang menjadi teori nich, mari kembali ke buku Naisbitt.

Dari Utah
Buku setebal 352 halaman berukuran 19 x 24,5 cm ini dimulai dari kisah kecilnya di komunitas Marmon, Glenwood, di Utah USA. Harap maklum itu kampung kecil hingga Naisbitt menulis: Sejak meninggalkan Utah, dunia bagaikan buku yang saya baca. Wah saya terperangah simpulan Naisbiit. Luar biasa kalimat tersebut. Dunia bagaikan buku.
 
Lalu mulailah dia bercerita saat-saat menjadi Marinir, menimba ilmu di Universitas Utah, menjadi asisten komisaris pendidikan Presiden John F. Kennedy, bekerja di IBM,  dan setersunya. Saya bisa merasakan kegundahan Naisbitt takkala AS dilanda masa kerusuhan sosial dengan puncaknya ketika Martin Luther King, Jr. terbunuh.
 
Pada kondisi sedemikian, Naisbitt tersadar setelah membaca Seattle Times. Dengan membaca koran lokal, sekai lagi koran lokal, berkesimpulan: Dengan membaca koran-koran lokal ini setiap hari, saya bisa menangkap pola-pola perubahan yang terjadi di seluruh negeri. Saya bisa menyibak apa yang sedang terjadi di AS. Saya pun menemukan kunci yang selama ini dicari-cari —sebuah ilham.
 
Pendeknya Naisbitt mendirikan Urban Crisis Monitor. Lanjutnya, disamping menjadi perusahan besar —hanya mengumpulkan informasi— Naisbitt diminta bukan saja pendapatnya, tetapi berceramah ke mana-mana. Akhirnya sampailah dia ke kesimpulan: Dengan bingkai sederhana, kita mulai memahami dunia. Dan kita bisa mengubah bingkai itu, karena dunia pun berubah. Semua ini akhirnya membawa saya mengeluarkan buku Mengatrends.
 
Luar biasa, dari hal-hal kecil, dari hal-hal yang lokalis, pada perjalanannya Naisbitt justru dinobatkan sebagai futuris sangat andal. Era informasi, ketika dia melihat kecenderungan itu, akhirnya kini betul-betul menjadi kenyataan. Tahun 1980-an saya tidak membayangkan ‘kekuasaan’ informasi sedahsyat saat ini. Naisbit telah ‘meramalkannya’ beberapa dasa warsa lalu.  

Pola Pikir
Pekerjaan mengumpulkan informasi (baca: membaca) setiap hari itulah yang ditancap dengan kalimat sangat bagus: Masa depan tertanam di masa kini. Lalu, perbedaan bukan pada apa yang saya pelajari, tetapi pada bagaimana saya memikirkannya (h. 18). Dus, pertimbangan dalam hampir setiap bidang didorong oleh pola pikir.
 
Kalau sudah demikian, tentu Sampeyan sudah bisa berkesimpulan, pola pikir (mind set) bukan saja bermuatan bagaimana kita memandang dunia ini, tetapi terlebih bagaimana kita melihat diri diri kita.
 
Katanya, Anda dapat menciptakan pola pikir yang mampu mengistruksikan dan mengatur Anda dalam kehidupan pribadi maupun bidang usaha Anda. Saya pikir, pelajaran Naisbitt tinggal kita reguk dan cobaterapan dalam kehidupan.
 
Saya tidak tertarik menulis 11 pola pikir bahasannya pada bagian pertama buku tersebut, begitu juga gambaran masa depan yang dipaparnya sebagai seorang futuris. Bagi saya, terutama dalam kaitan menulis, seperti yang telah diutarakan pada buku-buku menulis terdahulu, pola pikir sangat menentukan.
 
Artinya, kalau di pikiran ditanamkan, menulis itu susah dan menyusahkan, maka akan susahlah. Kalau ditanamkan, bila hendak menulis harus menunggu mood, harus membaca segerobak buku, harus memakai kalimat begini-begitu, aturan bahasa begana-beganu, struktur kalimat begite-begene, ya ribet deh.
 
Padahal menulis itu sederhana saja. Tulis apa yang ada di pikiran, apa yang hendak ditulis, habis perkara. Ngapain bersibuk-sibuk diri dengan segala macam anjuran orang, yang menulis itu kan kita. Ya ngak? Wong yang menganjurkan saja terkadang ngak bisa kog. Heran, kog mau-maunya diperbodoh dan membodoh diri.
 
Inga’, inga’, Naisbitt memulai hanya dari megumpulkan informasi hal-hal sederhana dari koran lokal dan … hasilnya karya tingkat dunia. Saya pernah sebel dikritik seorang kritikus (kacangan), menulis bersaya-saya itu tidak sesuai kaedah, tidak etis. Dasar kurang baca nih kritikus.
 
Saya membaca buku sekelas 7 Habits of Highly Effetive People (1993) dan The 8th Habit (2005), Stephen R. Covey, Chaneg Your Thinking Change Your Life ( 2003), Brian Tracy dan lainnya yang ditulis dengan bahasa sedehana.
 
Enak dibaca, tidak membuat kening berkerut, tidak pakai aturan begini-begitu, mengalir begitu saja. Maksud saya, kita tidak sedang membicarakan dan atau melatih menulis gaya sekolahan. Tidak sedang membuat paper atau disertasi dengan aturan kakunya. Kita sharing menulis agar mudah dipahami dan dilakukan.
 
Bukankah dengan demikian intinya adalah mengembangkan gaya dan cara masing-masing? Kalau demikian, tidak perlu berguru, kembangkan kemampuan dan gaya masing-masing. Tapi, ingat, membaca sangat fundamental. Guru menulis adalah diri sendiri, papan tulisnya adalah membaca.
 
Setelah membaca, setelah melakukan pekerjaan rituin, e … jam 14.15 saya bisa menulis satu tulisan dari bacaan buku Naisbitt. Mudah bukan? 
 
Pasti mudah kalau langsung menulisnya. Tulis, tulis, dan tulis.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 23 Agustus 2007.

*Ersis Warmansyah Abbas, petambak ikan dan tenaga edukatif FKIP Unlam banjarmasin.

  1. 15 Responses to “Menulis Setelah Membaca”

  2. By hanna on Aug 23, 2007 | Reply

    Hebat euy !! Membaca dan menulis dengan sangat cepat.Luar biasa ! Pak, saya tertarik dengan tulisan bapak di sekitar pendidikan.Belakangan ini banyak yang berpendapat bahwa kalau mau kaya , mau hebat ga perlu sekolah yang penting belajar.Ada juga yang bilang kehidupan itulah sekolah yang sesungguhnya.Saya setuju dengan itu karna saya salah satu pelajar kehidupan dan pengalaman adalah guru saya.Tapi bagi saya belajar di sekolah itu lebih terarah,lebih disiplin.Mungkin ada baiknya kita tetap memotivasi agar anak-anak dinegeri ini tetap mencintai lingkungan sekolah,belajar dengan serius tanpa merasa tersiksa.Ingat tulisan bapak tentang keterpaksaan.Keterpaksaan memang mempunyai kekuatan yang luar biasa.Contohnya saya,kalau tidak didesak terus sama bapak bisakah saya tetap menulis sampai hari ini.Meskipun tulisan saya masih jauh dari kata bagus.Nah, begitu juga bagi yang ingin belajar.Yang sudah bersekolah tinggi bolehlah teriak-teriak ngapain sekolah,yang penting belajar.Tapi sekali-kali dengarkanlah,lihatlah yang belajar tanpa dunia sekolah. Saya rasa bapak sendiri sudah bisa membedakan hasilnya. Bagi orang seperti saya menulis yang mestinya ngampang saja sudah menjadi susah.Mau kasih tanda baca saja masih bingung.Belajar sendiri ?Mengamati ?Bagaimana kalau yang kita amati itu ternyata salah juga ? Siapa yang memberitahu saya ? Coba kalau dulu saya bisa sekolah saya akan mengatakan saya ingin belajar sekolah terus dan terus.Disekolah banyak materi yang bisa yang pelajari dan saya kembangkan.Kalau ada yang tidak saya ngerti bisa saya tanyakan sama guru saya.Sekali lagi pak, hanya yang tidak duduk dibangku sekolah yang tau bagaimana rasanya tidak bersekolah. Bukan bapak, bukan para mahasiswa,bukan para yang sudah sukses lho ya.

  3. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Aug 23, 2007 | Reply

    Bujur ai, yang terpenting berani tulis dan tulis, titik.
    Yaah bikin aja tulisan ‘menu si fulan’ , jadi kan aman. Gak ada yang berani komplain.

    Tapi yah benar juga kog, waktu saya mikirin aturan dalam tulis menulis, malah gak jadi-jadi tulisan. Tapi setelah dibraiwashing sama EWA disuatu tempat yang nyaman (ICES/RM.Padang/Rumah Sang Motivator/net/etc), yah ternyata mudah banget nulis, tuh. Saya buktinya…ya walaupun tulisan menu Irsan style.
    Jazakallah Sang Motivator EWA..

  4. By hanna on Aug 23, 2007 | Reply

    E… jadi ragu tu.Mestinya sesekali bukan sekali-kali atau bagaimana yang benar pak ?? Belajar disekolah bukan belajar sekolah.Maklum beginilah akibatnya tidak sekolah. Satu lagi kalau dulu saya sempat belajar disekolah kejenjang yang lebih tinggi saya tidak akan payah menulis kaya begini.Ini fakta lho ya.Dalam dunia bisnis tentu saya tidak akan berhadapaan dengan kendala susahnya berbahasa.Bayangin aja hanya karna kekurangan saya dalam berbahasa sudah menyebabkan keragu-raguan client atau relasi saya , Jangan-jangan saya ini orang yang tidak berpotensi.Akibatnya ya belajar lagi.Kan jadi lamban jalannya.
    Ada juga yang memaki-maki gurunya killer.Ketika bapak terus memaksa saya nulis apakah saya juga harus menganggap bapak killer.Buktinya ?

  5. By friend on Aug 23, 2007 | Reply

    asalamu alaikum,walaupun saya bukan dosen, tapi saya sepakat dengan artikel anda, seandainya artikel anda di baca oleh dosen, saya yakin tidak ada dosen di negeri ini yang bergelar GBHN (guru besar hanya nama) alias cuma bisa cuap-cuap (maaf saya tidak menghina atau menyinggung perasaan, saya cuma berpikir merdeka ) mungkin dosen malas berkarya karna tunjangan 20% tidak tergapai, harga buku mahal apa lagi beli texs book, apa lagi kalau kuliah bayar sendiri(alias tidak dapat beasiswa) maka lengkaplah sudah penderitaannya…….. menulis bukan persoalan yang gampang jika tidak di dukung dengan referensi yang cukup, menulis tanpa membaca ibarat mengulang kata, susah mengolah makna menjadi kata. membaca bukan persoalan muda di negeri ini, negara tidak memberi subsidi harga buku(tidak sama di india kata teman saya yang mengambil s3) dan orang pintar malas menulis buku karna pembajak buku susah ditangkap, mahasiswa lebih suka photokopi daripada membeli buku, mendingan harga buku digunakan untuk pacaran, mahasiwa paska sarja malas beli buku, karna rata-rata sudah tua, dan tidak kuat lagi belajar apalagi begadang (kata teman saya yang kuliah di amerika doktor rata2 umur 35 tahun kebawah, tapi di indoensia 4o tahun baru kuliah gimana tidak loyo belajar apa lagi membaca kecuali baca cerpen kali.!) saya suka karya anda apa lagi membaca perjalanan hidup anda lewat biodata yang anda tulis @ semoga karya anda tidak di bajak apa lagi diplagiat orang yang mau pintar tapi malas berusaha, dan tidak mahal harganya alias terjangkau di kantong para mahasiwa, yang kata orang aset bangsa. (maaf kalau yang saya ulas membuat hati mau muntah, itu hanya hasil membaca kehidupan)

  6. By mathematicse on Aug 24, 2007 | Reply

    Ya saya sependapat bila dikatakan bahwa agar kita “gampang” menulis, maka tanamkan bahwa kita bisa. Bagi saya perkataan ini berarti rasa optimisme dan keyakinan yang tinggi. Apapun bila diyakini dan diusahakan, insya Allah, biasanya akan tercapai. Begitu juga dengan menulis. Bila kita yakin bisa, ya insya Allah bisa. Betul?

    Nah, agar lancar menulis, membaca adalah syarat perlunya. Artinya, bila kita sama sekali tidak pernah membaca, bagaimana bisa kita menulis. Membaca bukan hanya berarti baca buku, merenung/tafakur terhadap alam sekitar ciptaan Allah juga termasuk membaca.

    Bagi mereka-mereka yang menganggap bahwa agar mampu menulis itu, sudah harus pernah membaca segerobak buku, mungkin itu benar adanya. Kenapa saya katakan benar. Bayangkan, minimalnya kita kan lulus SD/madrasah Ibtida’iyah, yang biasanya ditempuh selama 6 tahun, bila dikumpul-kumpul buku yang dibaca selama menempuh jenjang tersebut, mungkin sudah segerobak kan? (kecuali bagi mereka yang sekolahnya jarang membaca). Jadinya, benar, kita sudah punya modal dasar, syarat perlu untuk menulis, setidaknya telah membaca segerobak buku pelajaran sejak SD. Betul tidak, Pak? Hehehe… :D
    Di artikel ini, bapak menyatakan bahwa, guru menulis adalah diri sendiri, membaca adalah papan tulisnya.

    Saya sepakat bila dikatakan bahwa guru menulis itu adalah diri kita sendiri, tapi saya tidak sepakat bila dikatakan membaca adalah papan tulisnya. Menurut saya, membaca adalah bahan baku pena (tinta) untuk menulis. Sedangkan papan tulis adalah tempat untuk menulis itu sendiri (misal: kertas atau komputer tempat kita mengetikkan kata-kata yang kita tulis). Hehehe… :D

  7. By ichal on Aug 26, 2007 | Reply

    walah ,,, saya malah lagi mikirin,,,, saya termasuk yang berotak encer apa yan bebal ya, heheheh
    tapi tetep senang mbaca lho pak!

  8. By sawali tuhusetya on Aug 26, 2007 | Reply

    Ok dan setuju banget, Pak. Menulis memang nggak butuh teori macem2. Yang penting tuh, nulis, nulis, nulis. Apalagi kalau diawali dengan aktivitas membaca. Bahan tulisan akan makin mudah didapat.

    Persoalannya sekarang, bagaimana cara membudayakan tradisi menulis ini di kalangan generasi muda kita. Menulis pada hakikatnya juga membangun sebuah peradaban. Saya pikir, hal itu bisa dibangun apabila guru yang menjadi “patron” siswa didik mesti bisa jadi teladan. Apalagi kalau bisa “pamer” blog kepada murid-muridnya! Ini bisa menjadi sebuah media yang efektif untuk membudayakan tradisi menulis.

    Sayangnya, kondisi semacam itu hingga saat ini belum bisa terwujud. Memang sudah banyak sih, Pak, guru yang dengan amat sadar untuk mencoba kreatif dengan menulis, entah untuk dikonsumsi terbatas atau dipublikasikan. Namun, jika dipersentase, mungkin bari sekitar 5% dari sekitar 7 juta guru di negeri ini.

    Saua juga salut kepada Pak Abbas yang telah berkenan menularkan ilmunya lewat blog ini. Paling tidak bisa dijadikan sebagai referensi bagi mereka yang memiliki “dunia panggilan” untuk menulis, menulis, dan menulis.

    Ok, salam, Pak.

  9. By Suluh on Aug 27, 2007 | Reply

    Nulis tuh sulit sulit sulit sulit sulit n sulit; rasanya gimana mbaca koment ini

  10. By Suluh on Aug 27, 2007 | Reply

    lah kok koment saya kesunat sedih, udah nulis kok akhirnya ngilang sendiri?? ada apa???

  11. By Suluh on Aug 27, 2007 | Reply

    oh ngerti saya karena ada tanda buka tutup

  12. By kangguru on Aug 27, 2007 | Reply

    <blockquote>dunia bagaikan buku yang saya baca.
    hmm ruuaaarrrr biasa

    ***Buku adalah dunia yang sempat saya baca … he … he ..

  13. By fira on Aug 29, 2007 | Reply

    Assalamualaikum, betul sekali tuh dimana ingin menulis disitu ada membaca yup hidup ini juga adalah bagian dari menulis menulis keseharian yang terjadi pada kita.Memandang langit sejenak merenungi kekuasaanNya juga sudah termasuk membaca alam semesta menyimak pengalaman juga adalah membaca so tinggal tulis dan tulis. Akan tetapi memang lebih afdol jika kita juga barengi dengan membaca buku-buku kan bertambah lengkap sedap dan nikmat. Wassalam

  14. By agung on Oct 20, 2007 | Reply

    Setuju Cak…(Eits )Saya senang baca di forum ini karena membuat cara berpikir kita merdeka dan yang paling penting nilai-nilai kreativiatas kita dalam menulis bisa terus diasah…

    ***Amin

  1. 2 Trackback(s)

  2. Aug 28, 2007: Benarkah Pelajar Kita “Rabun” Sastra? « JALUR LURUS
  3. Aug 29, 2007: Kang Sakri Weblog » Blog Archive » Benarkah Pelajar Kita Mengidap “Rabun” Sastra?

Post a Comment