Menulis Menjemput Peluang
22 August 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas*
KASUS: Bang, saya berkolaborasi dengan … redaktur media anu yang terbit di … Tujuannya mencari bibit penulis dari kalangan pelajar. Temanya mungkin sastra, mungkin jurnalistik. Masih mau dibicarakan sambil berjalan.
Untuk itu minta izin beberapa tulisan dan buku dijadikan bahan untuk memotivasi anak-anak bangsa ini agar mau menulis. Menurut informasi susah sih cari penulis di kota kami, apalagi mencari sastrawan.
Menurut Abang kan belajar menulis dengan menulis, bukan dengan teori tentang menulis.
Bagaimana Bang?
Someone in somewhere.
BARANGKALI dalam beberapa tulisan dan buku saya ada yang menyindir ‘metode’ guru dalam mengajar murid-murid menulis. Sebenarnya bukan menyindir, tetapi memperlihatkan fakta, bahwa pengajaran di sekolah memerlukan inovasi-inovasi. Kata Gde Prama: inovasi atau mati.
Tidak heran banyak guru, dari Aceh sampai Kendari berkomunikasi dan melakukan perubahan. Seorang guru dari Jakarta melakukan ‘pengakuan dosa’, padahal beliau lulusan publistik sebuah PTN di Bandung dimana selama ini hanya pintar meminta muridnya menulis, kemudian mengoreksi. Dia tidak pernah menulis. Tidak ada contoh karyanya.
Setelah membaca tulisan saya, katanya membiarkan siswa-siswa menulis bebas, berekspressi tanpa mengenakan pisau analisis cara menulis yang baik dengan segudang aturannya. Hasilnya pelajar kecanduan menulis. Alhamdulillah.
Lebih hebat lagi Si Bu Guru mulai menulis. Katanya pula, biar tulisan saya tidak hebat-hebat benar, namum mampu memotivasi. Saya ingin Bu Guru lebih maju, sama-sama menulis dengan murid. Buang gengsi atau pengelabui ketidakampuan. Hasilnya pasti lebih bagus. Tidak ada salahnya (belajar) menulis bersama siswa. Bukan tidak mungkin hasilnya lebih bagus.
Bagaimanapun masih banyak simpanan guru, baik pengetahuan, pengalaman, dan kedudukan yang tidak mungkin dikalahkan murid. Bayangkan, berpuluh tahun bersembunyi dari ketidakmampuan namun ‘bergaya’ mengoreksi tulisan anak didik, kemudian membandingkan dengan karya Pramudya Ananta Tour sampai Kahlil Gibran. Lebih celaka mencari-cari kesalahan siswa, kalau perlu titik-komanya. Guru yang mematikan.
Suatu kali, seorang mahasiswa sastra ‘membantai’ karya sastra saya (puisi). Saya tanya, pernah menulis puisi? Dijawab belum. Oh hebat, kamu tidak bisa menulis tetapi bisa mebantai karya orang. Ya, kami ada mata kuliah kritik sastra Pak, jawabnya enteng.
Pasti sudah, dalam perkuliahan digiring mencari dan menganalisis kelemahan tulisan orang. Tidak salah memang. Hanya saja, titik tekan pendidikan justru ‘menghidupkan’ potensi menulis di jiwa anak-anak muda itu. Kalau demikian, yang berkembang adalah daya kritik dalam mencari kelemahan, bukan mencari hal-hal positif. Lagi pula, akan dikemanakan potensi menulis yang seharusnya dikembangkan? Jadilah, pendidikan formal tidak menghasilkan penulis. Pendidikannya begitu sih.
Dalam pemahaman bandingan, kalau suka menonton bola, perhatikan betapa hebat-hebatnya komentator sepakbola di TV-TV nasonal. Sampai-sampai mampu menilai kemahiran Beckham sampai Ronaldinho … sembari ‘memerintahkan’ pelatih menukarnya. Padahal, hanya sebagai penonton nun beribu-ribu kilo meter jauhnya. Mengomentari sungguh paling jago, main bolanya? Sampeyan tahulah prestasi sepakbola kita.
Pesan yang ingin saya sampaikan kepada guru-guru di sekolah, kurangi menitip sikap hobi mengomentari dan atau mengritik karya, tetapi mulailah beralih kepada tindakan berlatih menulis dengan menulis. Memangnya mau menjadikan bangsa ini sebagai bangsa komentator?
Kolaborasi Menulis
Tulisan ini merupakan elaborasi dari kasus atau tepatnya program seorang teman, guru Bahasa Indonesia di Kalimantan Tengah. Saya sangat atensif atas inisiatifnya, dan kepada media yang berbaik hati menampung karya-karya siswa, memberi penghargaan tinggi (tanpa sertifikat he … he …). Hal-hal konkret semacam ini yang diperlukan. Memberi ruang bagi anak-anak bangsa menulis.
Wadah, ya wadah. Motivasi, ya motivasi. Itu yang diperlukan generasi muda. Contoh, ya contoh. Itu yang lebih baik diberikan guru-guru. Bukan, pencarian kesalahan ke kesalahan berikutnya. Saya curiga, ‘matinya’ daya mampu menulis, tidak mekarnya potensi menulis, dikarenakan salah kaprah pendidikan formal.
Akibatnya, banyak lulusan sekolah menengah sampai perguruan tinggi, untuk menlis lamaran kerja saja tidak bisa. Padahal, apa sih susahnya menuliskan apa yang ada di pikiran? Menuliskan apa yang diinginkan. Lucu. Begitulah kenyataan hasilan pendidikan. Koreksilah kawan.
Kawan kita yang di Kalteng, sungguh lebih maju berpikirnya. Saran saya, jangan terlalu galak mencari kesalahan tulisan siswa, tetapi tekankan pada ‘memperbaiki’ dengan cara-cara edukatif. Mudah-mudahan semuanya sudah dimulai dengan majalah dinding di sekolah.
Ok, kalau memang serius, kalau memang memerlukan bahan selain tulisan-tulisan di www.webersis.com saya akan megirim beberapa buku. Percayalah, apa yang Sampeyan lakukan sekarang, 10 dan 20 tahun ke depan akan sangat berarti. Saat-saat mereka menjadi penulis handal.
Oh ya, dalam tulisan ini lebih menekankan pemberian peluang dalam arti memotivasi bagi guru-guru dalam memperbaharui metode pengajaran menulis di sekolah. Sekalipun demikian, pada hakikatnya menjadi renungan bagi yang sudah lulus sekolah formal. Begitulah kondisi obyektif di sekolah dan dalam kaitan menulis, terkadang apa-apa yang didapat di bangku sekolah tidak banyak faedahnya.
Karena itu, kembali ke khittah, menulis adalah urusan pribadi. Pendidikan atau pelatihan tidak lebih tidak kurang sekadar pemotivasi saja. Apa tidak celaka selama ini, diajar oleh mereka yang tidak mampu menulis, menjuruskan pula kepada lihatan kelemahan tulisan orang, dan lebih memberi punishment dibanding reward. Sesuatu yang bertolak belakang dari inti sari pendidikan.
Karena menulis urusan pribadi, sejatinya tidak perlu mencari guru sebab yang belajar adalah diri sendiri, apalagi dalam menggali potensi diri. Guru, sih boleh-boleh saja, tetapi hanya sebatas pemotivasi. Dengan kata lain, mari menggali potensi menulis dengan menulis. Kalaulah mau lebih dalam lagi, berkolaborasi dengan pihak lain. Dengan apa, siapa, dimana, dan kapan, sejauh ada peluang untuk menulis, jangan dilewatkan.
Bagi yang sudah ‘bebas’ dari belenggu sekolah, kini tersedia banyak ruang. Kalaulah belum mungkin menulis buku atau artikel di koran, salurkan melalui blog. Tidak satu jalan untuk menulis, dan … menjadi penulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 22 Agustus 2007.
*Petambak ikan dan tenaga edukatif pada FKIP Unlam banjarmasin.









8 Responses to “Menulis Menjemput Peluang”
By unai on Aug 22, 2007 | Reply
Menjemput peluang…penuh muatan motivasi pak.
BTW, kakak saya dari Banjarmasih baru saja datang ke Jogja..ada kepingin apa piyan dari Jogja pak
***Wow … memotivasi nih … tolong bilang Om Wahid … saya nulis tentang PDAM tapi ketika mau konfirmasi ngak ditanggap ulang he he … sure saya ngak minta imbalan. Dari Yogya? Kabar apik-apik wae cukup he he
By hanna on Aug 22, 2007 | Reply
Pak, kalau memberi komen ke tulisan lewat tulisan bukankah termasuk belajar menulis juga ?
Lucunya negeri kita ini justru Di rame-ramein dengan tulisan yang menghina, menghujat, meneriak-riakan kejelekan negeri sendiri.Kalau memang mencintai negeri tulis,tulis dan terus tulis yang membangunkan,yang memberi solusi tuk negeri kita ini.Pendidikan dinegeri kita ini memang menyedihkan tapi akan yang lebih menyedihkan lagi bila para Dosen,para guru, para mahasiswa, para murid ikut meneriak-riakan kejelekan pendidikan kita.Bila ingin perubahan tulis,tulis yang membangun,yang menyadarkan,yang menyentuh agar kita semua bisa bergerak bersama.Jangan hanya menulis saja praktekan apa yang ditulis.(maaf saya sendiri sedang belajar sebisa/semampu saya).Maaf pak,Kalau ada yang kurang berkenan.
Salam dan tengkyu.
*** Ya. Misal Sampeyan kalau menulis koma beri spasi he he
By mathematicse on Aug 23, 2007 | Reply
Memang seringkali secara tak disadari, guru-guru kita itu “membunuh” keinginan besar siswa-siswanya dalam menulis.
Penilaian terhadap hasil karangan/tulisan siswa, masih belum memberi motivasi, malah merusak, membuat siswa enggan untuk menulis lagi.
Tak hanya di sekolah, di perguruan tinggi apalagi. Daya kritis dosen yang hebat-hebat itu cenderungnya bersifat destruktif, mematikan semangat mahasiswanya untuk menulis dengan baik. Sedikit salah saja, cercaan dan kritikan pedas sering kali keluar, dilontarkan. Akibatnya, mahasiswa tak bersemangat menulis dengan baik, semangatnya hancur diluluh-lantahkan kritikan dosen (yang ia sendiri belum tentu bisa menulis sebaik karya mahasiswanya).
Kondisi seperti itu pun pernah menimpa saya. Ketika dulu saya begitu bersemangat menulis, saya pernah dapat kritik tajam: kurang inilah, kurang itulah, dst. Hampir-hampir saya putus harapan, hampir enggan menulis lagi.
Ketika menulis skripsi, tulisan saya seperti diobrak-abrik dengan coretan-coretan kritikan pedas. Apakah saya kecewa? Mulanya saya kecewa berat, ada sedikit rasa sakit hati, kesal, kecewa, tak mau menulis lagi. Tapi, saya berfikir positif saja waktu itu, saya telan saja perlakuan seperti itu. Pokoknya saya harus menyelesikan skripsi saya. Saya manfaatkan saja kekritisan pembimbing saya untuk mengoreksi mengkritik tulisan saya. Saya terus saja menulis. Dicoret-coret, dikritik, itu akhirnya jadi biasa bagi saya. Beliau pandai mengkritik, saya alhamdulillah menulis jadi lancar menulis. Beliau tak berkarya, saya punya bukti karya tulis. Haha…
Sekarang, saya baru sadar, baru menyadari bahwa kritikan beliau-beliau itu sebenernya bagus (cuma saya harus tahan, untung waktu itu bisa bertahan. Duli saya belum tahu maksud baik beliau-beliau itu). Kritikan mereka bagus untuk memperbaiki kualitas tulisan saya. Tak hanya dari segi isi, pun dari hal-hal kecil, yang saya anggap sepele, seperti salah ketik dan tanda baca. Sekarang saya sangat bersyukur pernah dibimbing olehnya.
Katanya, bila kita ingin menilai tulisan seseorang, salah satu cara terampuh itu bisa kita lihat dari penggunaan tanda bacanya. Apakah sudah benar atau belum. Bila sudah (relatif) benar, artinya tulisan itu layak dibaca olehnya. Baru setelah penggunaan tanda bacanya itu baik, penilaian itu dilihat dari segi isinya. (Saya merasa aneh pola pikir seperti ini, karena saya pikir ide seperti ini tak sepenuhnya benar. Mungkin banyak benarnya, tapi saya yakin ada juga salahnya. Dan, tak semua orang setuju dengan cara ini.)
Tapi, bila dipikir-pikir, cara tersebut ada benarnya juga. Rasional, masuk akal. (Waduh, sudah ya Pak, kepanjangan nih komentarnya….). Nanti saja deh kapan-kapan saya bercerita kenapa cara seperti ini masuk akal dan bisa dibenarkan, tapi kapan ya?. Atau bapak punya alasan?
By mathematicse on Aug 23, 2007 | Reply
Waduh, setelah saya baca ulang koment saya di atas, ternyata masih banyak juga salahnya ya…? Haha… terlalu cepat saya menulis…. Haha… (jadinya tak terkoreksi dengan benar…).
Dan juga, kenapa tiba-tiba komentar saya jadi formal begini ya? (kata orang-orang sih, emang tulisan saya kesannya formal banget. Iya gitu? Ah ga apa-apa, yang penting menulis saja. Pokoknya menulis!!! Titik!)
By Kelik on Aug 23, 2007 | Reply
Salam kenal Mas,
Membaca tulisan diatas saya sangat terkesan dengan cara Anda mengupas suatu masalah, menyampaikan kritik yang dibungkus dengan apik dan elegan.
Saya baru mulai untuk belajar menulis. Apakah ada kiat-kiat khusus untuk menulis?
Terimakasih atas bantuannya…
By hanna on Aug 23, 2007 | Reply
He he… Makasih pak sudah diingatkan.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Aug 25, 2007 | Reply
Benar sekali, kita memang harus jemput bola alias jemput peluang. Atau dengan kata lain jangan menunggu peluang, bisa-bisa peluang gak datang-datang.
Salam.
By Maghfira Mimi on Aug 26, 2007 | Reply
Assalamualaikum, yup memberi peluang atau motivasi ya pak…oyah salam jumpa lagi nih…beberapa hari lalu sibuk jadi suster dadakan.Jadi rindu baca tulisan bapak hehehe. Wassalam