Menulis Kembali ke Jalan yang Benar
21 August 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas*
KASUS: Pak, saya pembaca buku Menulis Sangat Mudah. Sejak SD sudah bercita-cita menjadi penulis, tetapi salah memilih profesi. Sekarang setelah berusia 25 tahun dan sangat menyesal telah membuang cita-cita tersebut.
Kini sadar, cita-cita sebagai penulis tidak bisa dikubur begitu saja. Semangat dan ide-ide dari ‘sleeping giant’ menggeliat bangun, namun … nampaknya seakan-akan menjadi sampah belaka.
Harus mulai dari mana merealisasikannya? Mohon saran, dan buku apalagi yang bisa membantu. Saya betul-betul ingin menjadi penulis.
Someone in somewhere.
A … HA saya suka membaca SMS seseorang yang telah terpuruk ke jalan sesat namun tiba-tiba sadar dan ingin kembali ‘ke jalan yang benar’. Sayangnya, jangankan memberi informasi lumayan, menulis namanya saja tak hendak kawan kita ini. Tidak mengapa, ada orang yang sharing menulis sampai mengirim uang segala, tidak saya tanya siapa gerangan dia.
Yang paling penting dia telah kembali ‘ke jalan yang benar’. Permintaan saya sederhana saja, kirimkan tulisan ke email saya setelah itu baru diskusi. Saya banyak ditipu orang, katanya ingin menjadi penulis, bahkan dengan kata membuai, e … mengirim contoh tulisan tidak pernah. Dia me-SMS, segera (akan) mengirim tulisan.
Mengikhianati cita-cita hanya dapat dilakukan oleh orang yang sangat kuat mentalnya. Tidak gampang mengkhianati diri sendiri. Sebaliknya, bercita-cita menjadi penulis, karena berbagai alasan memilih profesi lain, sebenarnya tidak perlu disoal. Apa pun profesi yang dipilih, tidak sepantasnya mengkhianati menulis.
Lagi pula, kenapa menulis ‘dipisahkah’ secara tegas dengan profesi lain. Sebagai petambak ikan, saya happy Salmah … e maksudnya happy-happy saja menulis. Yang penting kan menulis.
Hal ini perlu disadari banyak orang. Mau menjadi hakim, guru, pengusaha, atau penarik becak, digandeng dengan menulis tidak ada salahnya. Malahan sangat bagus. Jangan sampai pikiran dimakan jebakkan, karena pegawai, cita-cita menulis ditawar setelah pensiun. Sangat sedikit orang setelah pensiun yang mampu menulis. Menulis bukanlah pekerjaan dadakan.
Yang ada adalah gelombang semangat yang turun naik sesuai perkembangan kematangan diri. Dalam kerangka ini, harap disadari, pada hakikinya setiap saat, setiap berpikir, setiap menggunakan pikiran, pada dasarnya kita sedang menulis. Jadi, tidak ada istilah memula atau mengakhiri.
Dus, yang dimaksudkan adalah ‘melahirkan’ yang dipikirkan. Melahirkan atau menuangkan yang ada dipikiran, apa yang dipikirkan tidaklah susah. Mudah sangat mudah. Dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Proses menuangkan itu yang perlu dilatih, dibiasakan.
Perbedaan manusia justru terletak disitu. Banyak orang cerdas, mampu berpikir brilian, tetapi tidak menuangkan. Menuangkan pikiran, ya dengan menulis. Bukan membaca buku atau belajar teori. Tetapi, menulis. Melatih menulis dengan menulis.
Dengan kata lain, pada kasus kawan kita ini, masalahnya sudah sangat ringan. Sudah sadar diri, kini tinggal melakukan saja. Buat apa lagi mencari atau belajar teori menulis. Jangan, sekali-kali lagi jangan. Tidak usah lagi belajar teori atau mencari guru, gurui saja, didik saja diri sendiri menulis dengan menulis.
Sudah sejak SD belajar (teori) membaca dan menulis, bahkan sampai di perguruan tinggi belajar. Lebih celaka kalau sampai ke tingkat doktoral ke luar negeri pula. Emangnya piawai? Tidak kan? Gara-gara belajar terus kehilangan waktu menulis.
Belajarlah dari Hamka, Rosihan Anwar, atau banyak penulis lain yang bukan orang sekolahan, tetapi piawai menulis. Kenapa? Karena belajar (teori) ini itu? Pasti tidak. Lalu?
Ya, karena melakukan. Belajar menulis dengan menulis, melatih menulis dengan menulis. Jangan bertanya lagi, bagaimana memulainya, kapan memulainya, oi kog susah amat menulis kalimat pertama. Ya iyalah, namanya saja memulai. Sulit dan kesulitan bukan berarti tidak bisa. Menulis saja terus. Kenapa berhenti pada kalimat bertama? Ya, karena dihentikan. Coba terus, pasti jadi tulisan. Yang berhenti itu siapa? Sampeyan kan?
Peganglah kiat berikut sungguh-sungguh. Kalau menulis sesuatu jangan berhenti sebelum selesai. Tulis, tulis, dan tulis saja apa yang ada di pikiran. Teruuuuuuuuus sampai selesai. Kalau sudah selesai baru berhenti. Kalau mau koreksi, koreksilah. Kalau mau diperbaiki, perbaiki.
Intinya, kalau sudah jadi baru ‘ditimbang’ ini itunya. Penyakit banyak orang, belum selesai sudah ‘dinilai’. Itu menakar awan namanya. Setelah membaca tulisan ini, jangan pernah berhenti menulis sesuatu sebelum tulisan itu selesai.
Mastery Learning
Ada konsep pendidikan, mastery learning alias belajar tuntas. Kalau membiasakan menulis ala Ersis Writing Theory, dimana titik tekannya pada menulis, menulis apa saja, belajarlah atau belajarkan diri sendiri sampai tuntas.
Artinya, fasihkan menulis, jadikan menulis sebagai kebiasaan. Jangan cepat puas, jangan pernah putus asa, fasih jalan karena ditempuh. Ada orang yang belum fasih beralih ke lain, nah jelas ai kada tuntung-tuntung (Bahasa Banjar: tidak selesai-selesai, tidak selesai, tidak tuntas).
Pengalaman saya menunjukkan, ada yang sharing menulis, baru saja menulis beberapa tulisan, sudah merasa hebat. Misalnya, kalau saya anjurkan menulis satu sehari dalam sebulan, pada bulan pertama, satu tulisan dua hari pada bulan kedua, e … tidak konsisten. Kalau demikian, saya jamin tidak akan jadi penulis.
Latihan menulis dengan menulis adalah memenej diri. Melatih diri konsisiten, tidak khianat, tidak beralasan, tidak sok pamer, sebab … panah tembakannya adalah habit, menjadikan menulis kebiasaan, keseharian.
Banyak yang lulus tahap awal, tetapi tersungkur pada tahap kedua karena tidak disiplin. Menulis pantangannya berdusta, membohongi diri. Menulis adalah pekerjaan dari lubuk hati, kuala pikiran, langit cita-cita yang hanya di ketahui oleh masing-masing kita. Jadi, tanyailah diri sendiri dulu sebelum berlatih menulis.
Kalau lulus tahap sedemikian, menulis akan dirasakan sebagai sesuatu yang tidak membeban. Sebab, dapat dilakukan dimana dan kapan saja, pada kondisi dan situasi apa pun. Tidak memerlukan mood, suasana, tempat, atau aturan-aturan ‘kuno’ teori menulis, sebab sudah menjadi keseharian.
Kalau yang terakhir memang perlu waktu cukup lama sebab berjalan sesuai perjalanan hidup dan kehidupan. Kesituliah kita melangkah.
Saya akan sangat senang dan merasa berarti, manakala semakin banyak orang —yang sharing menulis— apabila sampai kepada tahap dimana menulis tidak menjadi beban.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 21 Agustus 2007.
*Ersis Warmansyah Abbas adalah petambak ikan dan Tenaga Edukatif pada FKIP Unlam.













One Response to “Menulis Kembali ke Jalan yang Benar”
By mathematicse on Aug 21, 2007 | Reply
Ya benar, Pak. Belajar segala sesuatu, baiknya harus tuntas. Tidak tanggung-tanggung, tidak setengah-setengah, apalagi cuma sepertiga-sepertiga, hehe…
Belajar menulis dengan terus menulis adalah kunci terampuh untuk melakukannya. Menulis akan lancar manakala banyak “bahan” untuk dituangkan. “Bahan-bahan” tersebut diperoleh salah satunya dengan banyak membaca, membaca, dan membaca. Membaca bukan hanya buku atau bentuk tulisan lainnya. Berfikir dan merenungi sekitar ita juga termasuk membaca.
Oh iya, seringkali (termasuk saya) memang suka tersendat di kalimat pertama bila mulai menulis. Sebabnya apa? Sebabnya karena kita terlalu memikirkan kalimat pembuka yang enak, bahakan berambisi menulis kalimat yang luar biasa.
Terimakasih, Pak. Tulisan-tlisan engaku selalu memotivasi.
***Persis … karena itu mari menulis terus … tulis dulu setelah ada tulisan baru pikirakan, gimana? Postmo he he he