Menulis, Stroke, dan Menulis Lagi

19 August 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas*

KASUS: Akhirnya saya menulis lagi. Perlu waktu agak lama seperti diucapkan EWA: “Menulis adalah keseharian…”. Oh ya, 27 Juli 2006, saya terserang stroke. Hasil CT Scan, lebih kurang 15cc darah berada di otak sebelah kiri. Saya harus berjuang mengembalikan kemampuan.
 
Rekoveri fisik cepat saja, namun non-fisik perlu waktu. Setahun sudah, dan Alhamdulillah kini dapat beraktifitas seperti sediakala, dan … kebiasaan menulis ‘terlahir’ kembali.
 
Rasa percaya diri bangkit berkat ajakan sahabat saya EWA. Thanks, tulisan Anda memberi semangat.
 
Someone in somewhere.
 
CC: Kepala Dinas satu instansi pemerintah dan kini tengah Diklat di Surabaya. Dia pulih.

SMS masuk ke HP saya: “Bang, kami dalam perjalanan ke RS Ulin Banjarmasin. Ketika memberi hadiah tinju, Bang … ambruk”.
 
Saya dan teman-teman hampir tidak percaya. Kami tahu persis kondisi kawan yang satu ini. Badannya tegap, kuat, dan sangat sehat. Bahwa dia workacholic, ya iyalah. Jabatan birokrasinya kepala dinas, jabatan keolahrgaan dari ketua Pertina —di kota kami— sampai ketua KONI, dan berjibun lainnya. Pokoknya orang sibuk.
 
Hampir sepuluh tahun kami mengerjakan banyak hal. Kalau ada yang merisaukan, dia hobi makan. Tapi, sebagai olahragawan wajar saja. Tidak ada angin-tidak ada hujan, tahu-tahu diserang stroke. Lagi pula, tadi pagi kami masih di arena PORDA di suatu daerah.
 
Yang merisaukan dia berada di ICU dan tidak boleh didekati. Kami, seperti juga puluhan teman, menggelar tikar di seputar RS. Dan, … ini lebih merisaukan … hasil CT Scan ada tiga titik pecah pembuluh darah di otak. Saya tidak mampu menggambarkan. Sedih.
 
Allah SWT Mahatahu. Semingguan dirawat dan kemudian sebulan di Surabaya, … Alhamdulllah kembali seperti sedia kala. Dan, kini kembali mampu menulis.  

Mengaktifkan Otak
Konon, stroke ‘melumpuhkan’ jaringan syaraf. Kalau berlanjut, bukan saja perintah otak tidak mampu diterjemahkan bagian-bagian tubuh, tapi bisa membuat ‘lupa diri’. Banyak varian stroke yang pada tingkat tertinggi berakibat dead.
 
Pada kasus kawan kita ini, saya memahami sebagai keajaiban, dan Allah SWT masih sayang. Betapa tidak, dia dapat dikatakan sembuh total. Mudah-mudahan dengan mengurangi aktivitasnya, bisa prima seperti sedia kala.
 
Kembali ke pokok kaitan menulis, kita tentu paham, kita hidup karena otak —tepatnya otak dan jaringan kerjanya— masih berfungsi. Konon pula, bisa diperbaharui kalau masih berfungsi. Bahkan, bisa berkembang. Sekalipun faktor umur sangat berpengaruh.
 
Dalam bandingan sederhana, saya ingat bapak saya, Ibnu Abbas, yang kini berumur 87 tahun. Umur segitu masih sehat, tidak ada hal buruk seperti rusaknya pendengaran, penglihatan, dan atau hal merisaukan lainnya. Penyakit beliau, ya katakanlah penyakit tua. Sabda Nabi Muammad SAW, satu-satunya penyakit yang tidak ada obatnya adalah penyakit tua.
 
Yang saya amati dari Bapak dan sahabat saya yang satu ini, sama-sama kuat membaca —artinya otaknya terus dipekerjakan, dan asupan makanan sangat lancar. Bedanya, Bapak aktivitasnya tidak ‘segila’ Sang Kawan dan hidup di udara yang bagus di jajaran Bukit Barisan, Muaralabuh, Solok Selatan, Sumatera Barat.
 
Maksud saya, saya berkeyakinan selama otak masih mampu beroperasi selama itu Allah SWT masih memberi berkah kehidupan. Dan, … satu jalan mengoperasikan —dan mengembangkan neuron–adalah menulis. Sebab, dengan menulis kita mempekerjakan otak, memelihara otak. Apalagi, dengan menulis kita ‘membaca’, membaca yang tersurat dan tanda-tanda kebesaran dan ilmu Allah SWT yang bertebaran di mana saja.
 
Tentu saya tidak dapat menguraikan secara teoritik ataupun empirik dalam tataran keilmuan sebab bukan ahli syaraf. Tetapi, setidaknya, selama kita bisa menulis berarti otak kita masih sehat. Menulis tentu saja hanya dapat dilakukan kalau otak ‘sehat’. Kalau otak diserang penyakit gila, misalnya, jangan berharap bisa menulis. Kalau menulis gila-gilan, boleh saja, he … he … Menulislah selagi sehat.
 
Dengan kata lain, selama kita bisa menulis pertanda otak masih sehat. Memang, tidak semua orang yang otaknya sehat mampu menulis, tetapi tidak mungkin orang yang otaknya sakit mampu menulis. Jangankan berotak sakit, yang berotak sehat saja ada yang kalau menulis susah dipahami.
 
Menulis adalah satu indikator otak sehat. Kata orang bijak, dari tulisan seseorang, kita bisa mengetahui dan bahkan ‘menyelami’ otak sesorang. Ingat psikolog atau psikiater bila melihat ‘sehat’ atau ‘tidak sehat’ seseorang dari kerja otaknya, dari penampakkan dan perilaku; dari bicara atau tindakan.
 
Nah, kalau menulis kan sudah beberapa tingkat tanda-tanda yang dilalui. Menulis pertanda otak sehat. Karena itu jangan perna takut menulis. Ada selorohan … orang-orang pintar yang tidak mau menulis, karena dengan menulis hakikinya akan ketahuan tingkat kecerdasannya. Apa iya atau tidak, entahlah. Lagi pula, apa perlunya dibahas.
 
Jadi, inti motivasinya adalah mari menulis karena dengan menulis kita sekaligus memelihara otak, mengembangkan syaraf-syaraf, dan dengan menulis kita bisa mengukur tingkat ‘kesehatan’. Mana tahu.

Menulis Selagi Sehat
 
Saudara-saudara sekalian, selama kita masih sehat, marilah menulis. Atau dalam bahasa saya, berlatih menulis dengan menulis. Menulis itu tidak saja bermuatan pembelajaran diri, tetapi bisa jadi bermakna positif baik bagi diri sendiri sampai keberkahan bagi banyak orang. Hal ini saya tulis di bagian lain buku ini.
 
Bayangkan saja, betapa kita mampu belajar dari sahabat saya yang pernah diserang stroke. Kini mampu beraktivis lagi sebagai birokrat. Derita beberapa bulan menimbulkan kesadaran diri lebih prima, bijak memaknai hidup dan kehidupan, dalam relasi hamblumminannash dan hambulmminallah. Kini, tampil sebagai manusia lebih sempurna.
 
Sebagai birokrat, kami menginginkannya jadi walikota. Dia mengonsep banyak hal, menulis beragam masalah, dan ketika Diklat tentu menulis berbagai tugas, dari tugas harian sampai makalah. Kesemua itu menandakan pengaktifan syaaf-syaraf otak. Pertanda sehat walafiat.
 
Bagi saya, yang lebih mengembirakan dia kembali menulis. Seuatu yang selalu saya ingatkan sebagai sahabat, dan bahkan pada waktu tertentu saya paksa dia menulis.   
 
Oh ya, saya banyak dapat pertanyaan, kenapa begitu bersemangat memotivasi menulis? Jawabannya sederhana saja, dari tulisan Al-Gazali sampai Goenawan Mohammad, membelajarkan diri. Saya banyak kehilangan waktu ‘mematangkan’ diri, setua ini baru muncul kesadaran.
 
Dus, wajar berharap, terutama bagi yang muda-muda, menulislah, karena dengan menulis itu kita dapat menyadarkan banyak hal, mewakafkan ‘ilmu’ yang mana tahu bermanfaat.
 
Jadi, menulis itu sangat positif manakala dimaknai dengan tepat.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 19 Agustus 2007.

Ersis Warmansyah Abbas, petambak ikan dan Tenaga Edukatif pada FKIP Unlam Banjarmasin.

  1. 8 Responses to “Menulis, Stroke, dan Menulis Lagi”

  2. By mathematicse on Aug 19, 2007 | Reply

    Kutipan:
    “Dengan kata lain, selama kita bisa menulis pertanda otak masih sehat. Memang, tidak semua orang yang otaknya sehat mampu menulis, tetapi tidak mungkin orang yang otaknya sakit mampu menulis. Jangankan berotak sakit, yang berotak sehat saja ada yang kalau menulis susah dipahami.”

    Saya setuju dengan kutipan tersebut. Dan bila boleh saya tambahkan, orang-orang yang secara fisik otaknya sehat, tetapi tak mau menulis, hakikatnya ia itu sakit. Setuju ga, Pak?

    Sedangkan orang-orang yang katanya pintar dan jenius, tapi tak mau menulis itu, saya melihatnya karena mereka itu terlalu perfectionis, ingin sempurna apa yang ditulisnya, sukar menerima kritik, ingin benar sendiri. Nah, daripada mendapat kritikan (apalagi koreksian), daripada ketahuan ketaksempurnaan dalam tulisannya, mereka lebih memilih untuk tak mau menulis. Biar selalu kelihatan sempurna, perfect. Untuk menambah ketampak-sempurnaan mereka itu, biasanya mereka itu pandai mengkritik (tulisan) orang lain. Seringnya mencari-cari kesalahn tulisan orang, menjelek-jelekan pemikiran dan tulisan orang, dll. (Mudah-mudahan ini analisa saya yang salah).

  3. By EWA on Aug 19, 2007 | Reply

    Sangat setuju … oh ya maaf Al Jupri … dari komen sampeyan saya bikin satu artikel, boleh ya

  4. By mathematicse on Aug 20, 2007 | Reply

    Silakan Pak, dengan sangat senang hati. :D

  5. By aarif on Aug 20, 2007 | Reply

    semoga lekas berkarya lagi pak

  6. By SQ on Aug 20, 2007 | Reply

    saya bisa mengerti kalau inti dari menulis adalah berbagi ilmu pengetahuan, penyampaian saran dan makna, juga memonitor perkembangan pola pikir diri sendiri. Sungguh hal yang begitu sederhana tapi membawa banyak kebaikan. Saya pernah belajar kalau motivasi itu katanya juga obat. Tidak mustahil bila motivasi dalam menulis akhirnya mampu menyembuhkan sifat malas dan membenahi cara berpikir yang negatif dan sempit.

    ***Amin

  7. By hanna on Aug 20, 2007 | Reply

    Ada juga yang berpendapat bahwa Writing skill sangat berpengaruh dengan karier profesioanl kita.
    Kalau boleh tau pernah ga EWA mandeg atau macet didalam menulis ? Lalu apa kiat-kiatnya kalau tiba-tiba kehabisan ide atau macet menulis ?

  8. By kangguru on Aug 21, 2007 | Reply

    menulis tanda sehat… hmmm indikator baru nih kayaknya
    semoga lekas sembuh buat yang ngak sehat… atau menulis itu jadi terapi???

    ***Yap, indiakator sekaligus obat, beleive it or not

  9. By Maghfira Mimi on Aug 26, 2007 | Reply

    Assalamualaikum, jadi ingat sama abah saya yang stroke pak. Beliau tidak bisa ngapa-ngapain sekarang semuanya harus di tuntun bak anak kecil lagi. Pikiran dan kemampuannya tidak seperti saat dia sehat. Betapa ngeri bilamana kita tak dapat lagi berpikir dan menuangkan dalam tulisan jika stroke bersarang di tubuh kita. Mumpung selagi sehat pergunakan waktu sebaik-baiknya. Terus berkarya tulis dan tulis.

Post a Comment