Menulis Memotivasi Diri
18 August 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas*
KASUS: Yah … thank’s buat motivasinya. Saat ini saya dalam bimbang —dalam arti self-image— yang semakin hari-semakin menurun. Hal itu berawal dari suatu peristiwa yang tidak bisa saya tulis di sini.
Uhm… saya sangat berkeinginan menjadi penulis. Yah memang saya pernah puas ketika karya tulis dimuat di rubrik school magazine. Hanya itu!
Tapi setelah membaca artikel-artikel Sampeyan, tidak pantas puas hanya dengan satu karya tulis saja. Saya jadi sadar, harus berlatih dan berlatih … agar manpu menulis tulisan brilian dan membentuk sel-image positif.
Bagaimana Pak?
Someone in somewhere.
SEBENARNYA saya sangat ingin berkomunikasi dengan someone penulis komentar curhat di www.webersis.com. Tetapi, setelah berkomentar dia menghilang bak ditelan bumi. Padahal, dalam psikologi menulis yang sedang saya kembangkan, Ersis Writing Theory, kawan yang satu ini berada di jalan ‘yang lurus’.
Pertama, dia tahu persis posisi psikologis dirinya yang sedang (pernah) dilanda trauma. Hal tersebut sangat berarti dalam modal menulis. Apabila kita telah tahu diri kita sedang dimana dan mengapa, dan hendak kemana, tujuan sudah terpetakan, tinggal melakukan saja.
Maaf, banyak orang sebelum menulis tidak mampu mengukur bayang-bayang diri hingga yang berkembang adalah angan-angan yang susah digapai. Tepatnya, tidak jujur dengan diri. Atau, katakanlah antara kondisi obyektif dengan keinginan terdapat diskrapensi lempang. Kalau demikian, keinginan menulis akan menjadi khayal belaka.
Kedua, telah mantap dengan visi menulis. Lagi pula sudah punya bekal penah menulis di school magazine. Yang celaka, kawan kita ini berpuas diri sudah. Tapi, untunglah menyadari hal tersebut tidak konstruktif-kontributif dalam menulis.
Ketiga, kawan kita sedang termotivasi menulis karena membaca tulisan-tulisan saya tentang menulis. Dan … ini lebih penting, dia akan berlatih menulis, menulis, dan menulis. Apalagi terbetik menulis tulisan brilian agar self-image terbentuk dengan gagah. Menurut saya persoalan sudah tuntas. Kalau tidak khianat yakin dia jadi penulis.
Berlatih Menulis
Kalau kesimpulan sesorang yang merindu jadi penulis sudah dipatok pada latihan menulis dengan menulis, gerbang penulis sudah menganga menanti kehadirannya. Orang sering berteduh di terminal tekad tidak melanjutkan ke tujuan sesungguhnya dengan menulis.
Padahal puncak lihatan menulis paling ambak adalah menulis itu sendiri. Ibaratnya, ketika berdiri di Sitinjau Lawik —ini panorama di atas Bukit Barisan Sumatera— memandang kota Padang lepas melampaui samudera Hindia. Wui … sedapnya. Ketika menulis sudah dilakukan, apalagi sudah ada hasilnya, hati akan berbunga-bunga. Keindahan perasaan dan ringannya pikiran adalah imbalan tak terperih; menjadi ‘manusia baru’. Nyaman.
Ingat-ingat kembali. Betapa kita berdecak kagum ketika berhasil menulis surat cinta untuk pertama kali, menulis puisi sebagi lukisan hati, atau artikel pantulan pemahaman tentang sesuatu. Hal tersebut akan menjadi-jadi manakala diapresiasi oleh teman atau saudara. Akan menjadi lebih-lebih lagi kalau ditanggap ratusan ribu pembaca.
Sekalipun saya memotivasi tidak perlu menghiraukan komentar orang lain, karena menulis sebaiknya diluncurkan dari tapak menulis karena berkehendak menulis, apresiasi pastilah memacu semangat. Bagaimanapun manusia memerlukan apresiasi dari manusia lainnya, dari sesama.
Jangankan oleh orang lain, manakala kita ‘menikmati’ karya tulis sendiri dari tahap ke tahap, kita dapat menilai kemajuan dalam menulis. Mula-mula mungkin bahasanya ngak karu-karuan, logikanya sedikit jongkok, paparan mungkin terasa kering, atau pilihan diksi terbatas, pada akhirnya akan berbuah kepiawaian. Ketika masa itu tiba, angan-angan menjadi nyata.
Dus, kebanggan —boleh saja to bangga asal jangan berlebihan— akan menjadi milik diri. Kepercayaan menyerta dan self-image berbuah positif. Terbukti saya bisa.
Kesemua itu hanya mungkin didapat dengan menulis itu sendiri. Jangan seperti ‘kebiasaan’ yang tengah melanda banyak orang atau organisasi dengan menancapkan plang bertuliskan menonjol: Di sini akan dibangun gedung anu. Di sini akan didirikan kantor anu. Akan, akan, dan akan.
Akan menulis. Cuiiih, kalau demikian ceritanya tidak akan pernah menjadi penulis. Saatnya meninggalkan kebudayaan akan. Tukar dengan yang nyata-nyata ada, menulis. Tulis apa yang hendak ditulis. Apa pun bentuk dan jadinya, jangan perdulikan. Kalau menulis sudah dijadikan sebagai kebutuhan, menjadi kebiasaan, hal-hal pengendala akan hilang tanpa diusir.
Menulis dan self-Image
Ringkasnya, tinggalkan filsafat akan, tukar dengan menulis. Latihan menulis dengan menulis, bukan angan-angan dan atau akan menulis hal-hal hebat. Menulislah yang dapat ditulis sekarang juga. Bukan besok, apatah lagi minggu depan atau tahun nanti. Itu gombal. Gombal yang tidak membersihkan lumut di kolam angan tetapi mengikis keinginan menulis, sebab terjerembab di kuala ingin.
Pada level itu kita sudah sampai pada tahap menyenangkan, mengembirakan, ya menulis itu sendiri. Tetapi, saudara-saudara sekalian, justru pada tahap ini banyak orang terjerembab, bak bunga layu sebelum berkembang. Apa fasal?
Begitu kalimat pertama ditulis, bahkan ada yang setelah kata pertama, mandek. Otak menjadi tumpul, tangan keluh, koordinasi pikiran melemah, seolah lebih bodoh dari orang gila. Lalu, frustasi menjadi pegangan.
Padahal, kuncinya sederhana. Teruskan saja menulis. Jangan pikirkan apa pun selain menulis. Bahkan, jangan sampai memikirkan apa yang hendak ditulis tapi tuliskan apa yang dipikirkan. Tulis, tulis, dan terus tulis.
Masih ingat ketika baru belajar berjalan? Atau, perhatikan anak atau ponakan belajar berjalan. Jangankan berjalan, berdiri saja memakan waktu latihan yang lama. Tapi, si anak tetap berlatih. Berdiri jatuh, berjalan jatuh. Tidak jarang tukang pijat harus turun tangan. Bukankah kita juga melalui fase demikian? Hasilnya bisa berdiri, berjalan, berlari, bermanuver, dan seterusnya. Kenapa? Tabah berlatih.
Menulis juga bak belajar berdiri. Jangan mimpi langsung pintar. Latihlah kemampuan, belajar menulis dengan menulis. Saya paling sebal kalau ada yang sharing menulis dengan mengajukan debat tentang teori-teori canggih menulis dan atau karya penulis ternama.
Ersis wariting theory bertumpu pada kenyataan, berlatih menulis dengan menulis, memotivasi menulis dengan menumbuhkan motivasi pada diri masing-masing, menulis, menulis, dan menulis. Kalau berterori dan atau ‘membicarakan’ karya hebat-hebat, apalagi dalam komparasi dengan tulisan penulis pemula, bukan bagian saya.
Banyak calon penulis yang dirusak guru atau dosen dengan kelemahan-kelemahan tulisan (penulis pemula) hingga mematikan motivasi. Celakanya guru dan dosen tidak dapat memperlihatkan karyanya. Akibatnya anak didiknya hanya mampu melihat kelemahan tulisan orang. Sampai mati tidak menulis satu bukupun. Begitu Si Dosen, begitu Si Guru, begitu Si Murid. Tanpa karya.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 18 Agustus 2007.
*Motivator penulisan, petambak ikan, dan Dosen pada FKIP Unlam Banjarmasin









5 Responses to “Menulis Memotivasi Diri”
By mathematicse on Aug 18, 2007 | Reply
Ersis Writing theory bertumpu pada kenyataan, fakta berupa hasil karya berbentuk tulisan, tinggalkan teory menulis!!! (Sebenernya inilah teory dari Ersis Writing Theory). Hehehe…
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Aug 18, 2007 | Reply
Tuliskan saja apa yang ada dalam benak kita, ya semcam menuangkan isi pikiranlah. Menulis dengan menulis, benar sekali.
By gita rose on Aug 18, 2007 | Reply
Great!
Sepakat.
Karena acap kali untuk penulis mula yang baru belajar menulis atau baru berkeinginan untuk menulis, seringkali ketakutan karena tidak tahu apa yang harus dituls. Pikiran mentok sementara asa menjadi penulis handal meluap-luap di ujung kepala.
Analogi EWA benar, bahwa belajar menulis sama halnya dengan belajar berjalan. Pepatah yang sering kita dengar (namun seringkali kita lupakan) “Bisa karena Biasa” mungkin dapat menggambarkan maksud EWA, -dengan catatan- ingat nasehat EWA.. “Tabah Berlatih”.
Selamat untuk kalian.. Pembelajar Sejati!
By hanna on Aug 19, 2007 | Reply
Apapun teorinya,apapun yang EWA tulis saya lebih setuju kalau kita mencontohi semangat tulis EWA.
By Sawali Tuhusetya on Aug 19, 2007 | Reply
Sejak dulu saya berkeyakinan bahwa menulis itu lebih ditentukan oleh kebiasaan, kreativitas, dan imajinasi. Kalau hanya bertumpu pada teori, sampai kapan pun nggak ada pengaruhnya kalau nggak diikuti dengan aktivitas menulis yang sesungguhnya. Salam ken(d)al, Pak.