Menulis Ketika ‘Terjepit”
17 August 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas*
KASUS: Thanks, tulisan Anda sangat memberi semangat. Saya berkeinginan menulis, namum sering ditunda-tunda dengan alasan sibuk. Terkadang, ada ide muncul, tidak ditulis, lalu menguap. Anehnya, bisa menyelesaikan tulisan kalau ‘kejepit’. Misalnya, kalau ikut lomba atau seminar atau simposium. Kok bisa gitu ya?
Padahal saya tahu, menulis akan lebih baik kalau ditulis dalam tempo waktu yang cukup panjang, tidak terburu-buru. Tapi, ya begitulah.
Akibatnya seperti anak SMA yang belajar kalau mau ujian. Begadang kalau sudah kepaksa. Kalau keinginan menulis sudah tak tertahankan, mata tidak mau terpejam, makan tak enak, duduk salah berdiri tak nyaman. Ingin menulis, dan menulis.
Sampeyan punya saran?
Someone in somewhere.
KETIKA seseorang berkehendak menulis, terkadang berbagai alasan bergabung yang datangnya entah dari mana. Saya memikirkan hal sedemikian karena sering ditanya: Pak, kenapa ya, ketika keinginan menulis datang begitu kuat, berbagai kendala datangnya tidak kalah hebatnya? Ada-ada saja kendala penyerta.
Harap dicatat, di dalam diri kita, selalu ada dua potensi berlawanan. Saya menamakan dataran potensi keseimbangan. Kita ingin berprestasi sementara ketidakinginan (atau kendala untuk tidak berprestasi) lengket seketika. Kita punya kapasitas baik seperti kapasitas buruk. Itu modal dasar.
Dalam bahasa Kazuo Murakami, The Divine message of the DNA (1997), tubuh kita ini dibangun atas susunan gen-gen. Ringkasnya, gen itu ada yang positif ada yang negatif. Tugas kita me-on-kan atau me-off-kannya. Dari pilihan on-off itulah muncul kita sesunguhnya. Bila mengaktifkan yang positif, maka positiflah.
Atau begini, dalam bahasa ajaran agama, di diri ada potensi sayang dan benci. Kalau sifat dan sikap sayang yang diasah maka kita akan tampil sebagai Si Penyanyang. Sebaliknya, kalau yang diasah benci, ya akan jadi Si Pembenci.
Dalam kaitan menulis, keinginan menulis dan ketidakinginan menulis —muncul dalam berbagai bentuk alasan— adalah dua jenis gen yang harus dipilih. Kalau betul-betul memilih untuk menulis, maka ketidakinginan akan tersingkir. Tetapi ingat, tidak semudah yang dibayangkan. Itulah yang saya maksud dengan melatih menulis dengan menulis. Tulis, tulis, dan tulis.
Karena Terpaksa
Saya bisa pastikan, penanya pada introdusir tulisan ini, bukanlah orang bodoh, bukanlah makhluk yang tidak bisa menulis, dan bisa jadi sangat berbakat menulis malahan. Punya semua hal yang diperlukan sebagai seorang penulis.
Sesungguhnya saya jadi curiga, inilah akibat salah kaprah dari sistem pendidikan. Intelektual negeri ini —terutama lulusan perguruan tinggi— kebanyakan menulis karena terpaksa. Terpaksa?
Ya. Pada dasarnya mereka adalah penulis. Sebab, sudah menyelesaikan puluhan tugas lapangan, makalah, skripsi, tesis, sampai disertasi. Itu bukti nyata kemampuan menulis. Gen menulis dipaksa diaktifkan untuk memenuhi tugas perkuliahan.
Karena dipaksa dan terpaksa, seusai kuliah, menulis tidak dijadikan pekerjaan kreatif, tidak mendapatkan tempat yang layak dalam kehidupan. Kalau ada keinginan, keterampilan menulis ketika ‘dipaksa’ akan kembali ‘bermain’ di ruang otak. Semakin mepet deadline semakin cepat menulis.
Jadi, paksa saja menulis dengan menerima pekerjaan menulis. Kalau perlu buat komitmen dengan banyak orang sampai penerbit menulis beragam hal. Bila ditagih ‘paksa’ diri menulis. Keterpaksaan menjadi baik manakala dimaknai positif. Lama-lama kalau hidup berdasarkan keterpaksaan kan bisa stres, he … he …
Sajian berikut bermuatan kiat-kiat agar menulis, sekalipun berangkat dari keterpaksaan, tidak mendenda diri, tidak menjadikan stres. Apa biasa? Kenapa tidak. Itu soal sepele dan mudah.
Mempecundangi Keterpaksaan
Pertama, sejarah keterpaksaan menulis, bagaimanapun berbuah keterampilan. Keterampilan tersebut tidak akan pupus dari memori. Karena itu beri ruang menulis apa yang disenangi. Pengetahuan dan keterampilan tidak akan menguap begitu saja.
Kedua, hargailah kemampuan menulis dengan menikmati hasil tulisan sendiri. Sederhanya, kalau orang lain tidak memuji, tidak senang, minimal diri sendiri yang menikmati dan memuji. Ingat-ingatlah diari ketika masih muda. Baca. Sampeyan bisa tertawa, merenung, memunculkan ide, dan seterusnya. Menikmati kebodohan semasa kanak-kanak bisa menyenangkan, menjadi hiburan.
Ketiga, sadarilah kehidupan ini banyak dibangun atas keterpaksaan. Ketika membuat tugas sekolah atau kuliah, bahkan sekadar makan saja waktu kecil, bukankah sering dipaksa-paksa? Seorang kawan, ketika umurnya beranjak 40 tahun ‘terpaksa’ kawin. E … sungguh menyesal katanya, kenapa tidak dari dulu. Ternyata, kawin itu —maksudnya nikah— eunak tenan.
Keempat, memaksa diri untuk berbuat hal-hal baik, baik untuk diri sendiri, begitu juga dalam kaitan sosial, bukankah juga berakibat positif? Terserah saja menamakannya, pendidikan, latihan, pencerahan, atau apa begitu, yang jelas ‘memaksa’ diri untuk hijrah, berubah ke arah kebaikan. Tidak ada salahnya dengan keterpaksaaan, memaksa diri untuk berbuat baik, lebih baik lagi. Apalagi hanya sekadar menulis.
Kelima, keterpakasaan kalaulah hasilnya positif, kenapa tidak? Suatu kali saya diminta menulis tentang The Island of Integrity oleh seorang kawan yang pejabat. Sunguh hidup, mendengarkan istilah tersebut baru setelah dia meminta menulisnya. Nekat di-OK saja.
Alhasil mencari berbagai rujukan dengan susah payah lalu menulis dengan segala kemampuan. Justru menarik sebab merupakan hal baru yang belum diketahui. Saya mendapat pengetahuan baru, dan … setelah tulisan jadi tidak jadi dipakai karena acaranya gagal. Yang untung hanya saya, mendapat pengetahuan baru.
Yang ingin saya tandaskan, menulis tidak mesti selalu mengenai apa-apa yang dikuasai. Pada buku Menulis dengan Gembira (2007) pernah saya utarakan, menulis adalah belajar. Kini, belajar karena keterpaksaan. Yang penting jadi tulisan.
Nikmatnya ‘Terjepit’
Istilah terjepit mungkin terlalu gimana gitu. Tetapi, kog menantang. Logikanya, kalau dalam kondisi terjepit saja bisa menulis, tentu kalau di waktu luang akan lebih hebat. Tapi kadang terjepit itu nyaman lho.
Nah, kalau demikian ceritanya, mengatasinya sangat mudah. Tinggal masalah memenej waktu untuk menulis. Alhamdlillah, ketika kuliah dulu manakala ada tugas biasanya langsung dikerjakan, tidak menunggu batas akhir.
Dari kebiasan itu, kalau ada ide langsung ditulis, dimana saja dan kapan saja. Dengan kata lain, kalau ada ide … ya tulis. Jangan biasakan menunggu deadline. Ingat, semakin banyak yang kita kerjakan semakin banyak yang dihasilkan. Kalau demikan tidak akan ada istilah terjepit.
Artinya, mari kita jepit keterjepitan (waktu) untuk tidak menulis dengan menulis apa yan hendak ditulis. Jangan sampai, alasan waktu menjadikan abai menulis. Menulis di ujung waktu kan karena pilihan, karena tidak diprioritaskan. Kini mari berprilaku hijrah (change) menulis di awal ketika. Bukankah sholat di awal waktu lebih baik? Kini mari ditransfer dalam menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 17 Agustus 2007.
*Motivator penulisan, petambak ikan, dan Dosen pada FKIP Unlam Banjarmasin










6 Responses to “Menulis Ketika ‘Terjepit””
By sq on Aug 18, 2007 | Reply
menulis karena senang dan menulis karena terpaksa memang sangat berbeda, tapi memang betul. Ada kalanya keterpaksaan itu diperlukan terutama untuk merubah budaya yang buruk. Memaksa juga, kalau itu demi kebaikan,kenapa tidak. Terima kasih buat bapak sudah mengajari banyak hal dalam hidup saya, di antaranya -tentu saja, lewat menulis.
***Jadi kalau kondisi normal mendukung menulis, ya Ok. Kalau keterpaksaan akan menambah lebih baik, kenapa tidak?
By mathematicse on Aug 18, 2007 | Reply
Bila kita bisa lancar menulis ketika keadaan terpaksa atau terjepit, kenapa tidak kita ciptakan saja suasana keterpaksaan itu agar menulisnya makin lancar. Hehe…
***Ya, kenapa tidak. bagi yang menulis karena terpaksa, lanjuuuut, he … he … Saya banyak memaksa orang dan atau membuat orang jadi terpaksa (tapi jangan bilang siapa-siapa ya, ini rahsia lho).
By gita rose on Aug 18, 2007 | Reply
Saya pernah menulis tugas paper hanya dalam waktu kira-kira 1 jam. Last minute. Mau tidak mau, karena paper itu harus dikumpulkan. Hasilnya, ternyata paper yang saya buat dalam waktu yang sedikit itu tidak jelek-jelek amat.
numpang…
Salah memang tidak akan berubah jadi benar, maksud saya, saya telah melakukan kesalahan karena tidak mengerjakan tugas sedini mungkin (walaupun saya bisa defence, saya sibuk dengan pekerjaan saya). maaf agak melebar.
Kembali ke persoalan awal..
ternyata memang benar, keterpaksaan bisa memunculkan potensi kita. Artinya, KITA BISA KO!
Hikmah dari ini semua adalah bahwa kita harus “Menciptakan Keterpaksaan-keterpakaan” itu. Dilandasi dengan keikhlasan dan kemauan keras untuk berkarya. Karena, -mengutip kata EWA- “Lama-lama kalau hidup berdasarkan keterpaksaan kan bisa stres”. So, keterpaksaan yang SENGAJA kita ciptakan itu dibarengi dengan -sekali lagi- keikhlasan dan kemauan keras untuk berkarya.
SEMANGAT !!!
By hanna on Aug 19, 2007 | Reply
Wah, saya salah satunya nih yang dipaksa nulis tiap hari sama EWA.bisa ga bisa, mau ga mau jadi juga tulisannya.Makasih ya,secara ga sengaja sedikit banyak saya jadi terlatih dan disiplin karna keterpaksaan yang diciptakan EWA.Boleh ya saya sapa dengan EWA ? .
By qmink on Aug 22, 2007 | Reply
<p>Artikel ini bikin saya tersindir, ‘Qmink banget gitu’, untuk ikutan komen aja kadang merasa tidak sempat. padahal saya tidak sesibuk EWA (boleh ya saya sapa seperti ini), kegiatan saya keluar dari kamar jam 7.30 dan masuk kamar lagi jam 20.15, anak kosan lagi, yang katanya punya banyak waktu. Insya Allah mulai dari tulisan ini saya menulis (bukan ‘akan’ lagi).<br />
Pagi ini saya menulis artikel tentang melakukan perubahan buat negara kita mulai dari diri sendiri, sepertinya tinggi banget ya judulnya, itu sudah saya pendam lama, karena saya gemes dengan orang2 yang berkomentar tentang keburukan masalah dinegara kita tapi tidak pernah memberi solusi, hanya berandai2 aja. Lebih baik kita berpikir mencari solusi dari setiap masalah, mungkin kita juga mesti bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah aku lakukan yang terbaik untuk negara kita? kita mungkin sudah cape melihat/mengalami akibat dari perbuatan yang tidak kita lakukan, untuk itu kita cuekin aja para penjahat negeri ini.Allah juga sudah pasti akan membalasnya, atau kalau bisa kita bantuin mereka untuk sadar dan bertobat. ngapain kita repot2 komen tentang para penjahat2 itu. ada sedikit tips berikut ini, mungkin teman2 disini bisa menambahkan juga untuk melakukan perubahn baik buat negara kita, kemudian kita kirim pada teman2 atau kalau punya dana kita bikin stiker hehe..<br />
Walaupun mungkin tidak ada perubahan besar untuk negara kita, tapi paling tidak kita sudah melakukan perubahan untuk diri kita sendiri.<br />
Mari cintai negara kita dan tumbuhkan jiwa nasionalisme.<br />
-Membuang sampah pada tempatnya, akan lebih baik sampah organik dan non organik dipisah, bila tidak ditemukan tempat sampah kita simpan dulu sampai ditemukan tempatnya.<br />
- Patuhi aturan lalu lintas termasuk pejalan kaki, sesepele apapun,bukan kecepatan yang diperluakan tapi kedisiplinan, jangan dilakukan hanya karena ada petugasnya.<br />
- Antri, berbaris dengan rapih dan rapat (jangan rapat banget ya..)<br />
- Gunakan produk negeri sendiri, mungkin kita juga perlu cari tau sebisa mungkin produk yang kita gunakan itu dari perusahaan mana, misalnya provider nomor hp, demi negeri kita ya..<br />
- Bertegur sapa dengan tetangga/sosialisasi, kadang bila bertemu dijalan (dilain tempat tinggal) kita tidak tau dengan tetangga sendiri<br />
- Buat yang muslim khususnya, bila adzan tiba, luangkan waktu untuk mengahayatinya, kemudian shalat tepat waktu, dan ketika makan juga kita luangkan waktu buat berdoa dulu, bukan baca doa sambil makan suapan pertama atau sambil cuci tangan, doa/bersyukur bukan sambilan.</p>
<p>Mari tumbuhkan kesadaran tinggi kita untuk melakukan perubahan yang lebih baik buat negera tercinta, bukan untuk negara kita aja tapi untuk akhirat juga berpengaruh bukan ?</p>
<p>Wah, komen sya kebanyakan, mohon maaf jika ada yang kurang tepat, karena kurangnya ilmu, boleh dikoreksi gar saya jadi tambah ilmunya :-).<br />
Kalau sudah menulis terkadang jadi keterusan nih, susah berhenti.</p>
<p>Terimakasih atas semangatnya.</p>
<p>Wassalam.</p>
***Good idea … en can do it
By syam on Aug 25, 2007 | Reply
Mmm… Saya suka tips ini.
Terima kasih, Bang Ewa.

Kebetulan saya sedang malas menulis, padahal juga sedang “terjepit”
Dulu saya meyakini bahwa saya seorang yang “last minutes person”, selalu malas menyelesaikan tulisan, tapi rampung sebelum garis mati. Tapi saya sangat benci dengan deadline
Saat ini saya memulai total bekerja/menulis di rumah karena membenci deadline itu. Tapi justru menjadi masalah baru, tak ada deadline justru tak ada pemicu. Jadi kalau diturutin malah jadi malas.
Beberapa hal yang Bung Ewa sampaikan sedikitnya mampu merangsang saya untuk lebih bersemangat menulis. paling tidak, menulis komentar ini.
Salam,
Syam