Bicara Lewat Aksara
9 August 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas*
Lisanku mungkin keluh pendapatku mungkin keliru. Ku tak mau diam mengendap. Bebasku dalam benak. Panorama kata tiada gelisah agar diri berbenah (Imgar).
Imgar, begitu nama pemilik homepage ‘bicara lewat aksara dan rupa’, yang menancapkan kata-kata indah itu di front offoce webnya. Sungguh memantik, sekalipun maaf, kutipan ‘disesuaikan’ dengan tulisan yang akan Sampeyan baca berikut.
Yup, bicara lewat aksara. Bahasa memang alat untuk berkomunikasi sekaligus penuangan apa-apa yang ada di pikiran dan perasaan manusia. Kalau sekadar mengungkapkan, bisa jadi pilihannya ngomong (bicara) atau dengan bofy langguage.
Yoi, aksara. Sistem tanda-tanda grafis yang dipakai manusia untuk berkomunikasi dan sedikit banyaknya mewakili ujaran. Begitu rumusan pertama KBBI (1988: 16). Definisi kedua, huruf. Ya, huruf. Sesuatu yang sederhana tetapi tidak sederhana.
Ah, banyak definisi bisa diturunkan dan atau dimaknai manakala diutak-atik. Memanfaatan Teori Relativisme Albert Einstein, e=MC2, dari aksara —kalau dalam tradisi bahasa Indonesia 26 hutuf— kita bisa merangkai kata tak terhingga, kalimat, paragraf, buku, dan eksiklopedi.
Dalam kaitan dengan menulis, dari 26 huruf, yang sering kita pakai tidak sampai separohnya. Kira-kira saya, yang paling sering dipakai 8 huruf. Artinya, ‘modal awal’ menulis adalah pengetahuan dan pemahaman huruf. Setelah itu kemampuanmerangkai dan memaknai. Jadilah tulisan. Sederhana. Mudah. Sungguh mudah, sangat mudah.
Sederhana. Mudah. Ya. Tetapi ingat, kemampuan menulis aksara itulah yang membedakan kita dengan makhluk Allah SWT lainnya. Kemampuan memanfaatkan aksara —yang sudah diciptakan pendahulu, kita hanya memakai saja— itulah yang membuat kebudayaan kita berkembang. Tanpa aksara, sungguh tak terbayangkan, kita kembali ke zaman batu.
Bahkan, manusia dikatakan punya sejarah setelah ditemukan bukti tertulis berupa aksara. Mula-mula yang sederhana seperti terpahat di dinding goa atau prasasti membatu. Kesininya, setelah kebudayaan berkembang, ditorehkan dalam naskah atau buku. Terakhir, bersilewaran di dunia maya.
Ya, sekali lagi, aksara. Merakit aksara bermakna itulah yang kita maksudkan dengan menulis. Itulah, sekalipun kemampuan baru secuil, yang kini tengah merasuki jiwa saya untuk dijadikan virus agar diakrabi banyak orang. Saya berposisi memotivasi, lewat aksara, lewat tulisan, lewat buku … menuju jantung sanubari. Siapa mau turut?
Makasih Maz Igmar.
Bagaimana menurut Sampeyan?
*Tenaga Edukatif FKIP Unlam Banjarmasin.









9 Responses to “Bicara Lewat Aksara”
By hanna on Aug 9, 2007 | Reply
Saya jadi orang pertama yang mau turut serta ah…
Tapi tolong di bimbing pak,khususnya bagi kita-kita yang sudah terjangkiti.Kalau salah susun kalimat kan salah arti. Makan tuk hidup tertulis hidup tuk makan ?????
By sq on Aug 9, 2007 | Reply
yang namanya aksara memang luar biasa, sejak zaman batu hingga ke internet mempertahankan eksistensi manusia. Menulis juga terkadang luput dari perhatian, padahal dampaknya luar biasa. Buktinya kalau tidak menulis skripsi, seorang mahasiswa tidak akan bisa dapat titel sarjana.
Buat mbak Hanna, thanks komentarnya di web
By Suci on Aug 12, 2007 | Reply
saya sudah akrab nih dengan motivasi Bapak tentang penggunaan huruf yang sangat sedikit dalam menulis. Jadi menguatkan kalau benar bahwa menulis itu mudah. Tapi kalau salah ketik huruf atau ketinggalan huruf bisa berabe juga. Jadi walaupun hanya mengotak-atik kata, menulis memlibatkan banyak elemen penting. Ide, kreatifitas, motivasi, tekad, sampai kehati-hatian, hehe. Jadi, orang yang produktif menulis bisa dikatakan pandai memanfaatkan banyak potensi dirinya.
By unai on Aug 13, 2007 | Reply
wow…”menulis itu mudah, sangat mudah. Sederhana”…
Gila, membaca tulisan Bapak ini, saya jadi termotivasi untuk menulis, heheh menulis kecil2an Pak..tularkan dong ilmunya
By imgar on Aug 13, 2007 | Reply
waduh..
terima kasih sudah pernah mampir di blogku..
ada namaku di blog ini..
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Aug 15, 2007 | Reply
Ya, mari kita merangkai huruf menjadi kata, merangkai kata menjadi kalimat, dan seterusnya.
Huruf..Kata..Kalimat…dst.
By mathematicse on Aug 16, 2007 | Reply
Saya juga boleh ikut kan Om?
Ya saya setuju! Menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan merupakan ciri budaya yang katanya berperadaban tinggi. Kenapa bisa begitu? Karena, lewat tulisan kita bisa tahu pemikiran dan karya seseorang; lewat tulisan ilmu dan pengetahuan bisa diwariskan sepanjang jaman, tak lenyap ditelan waktu. Dan gara-gara adanya tulisan pula, kita bisa seperti sekarang ini.
Ayo menulis…! Menulis sesuai minat, bakat, dan pengetahuan yang di miliki, apapun itu (diharapkan sih yang positif), insya Allah ada manfaatnya.
Sungguh luar biasa, cuma dengan 26 huruf, segala unek-unek bisa dituangkan. Apa jadinya ya bila lebih dari 26 huruf?
By hanna on Aug 17, 2007 | Reply
Kitab Sejati Tanpa Aksara
Murni dan segar adalah bunga-bunga yang berembun,
Jenih dan nyaring adalah suara kicauan burung-burung.
Awan berarak tenang,air laut kebiru-biruan.
Siapakah penulis Kitab Sejati Tanpa Aksara ?
Menjulang tinggi adalah pengunungan,
Hijau adalah pepohonan.
Dalam adalah lembah-lembah.
Yang lugas adalah arus.
Angin berhembus lembut,
Rembulan pun cerah.
Diam-diam kubaca
Kitab Sejati Tanpa Aksara.
Zenkei Shibayama, A flowers DoesNot Talk,Zen Essays,
Charless A.Tuttle.com
By Bulletin News on Sep 26, 2007 | Reply
Wonderful view discussing a Lewat Aksara at MENULIS TANPA BERGURU (Ersis Warmansyah Abbas)! I love your blog!