Nasionalisme di Titik Nadir?

8 August 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas*

Tanpa memberi tahu, cukup melalui situs, Repuklik Rakyat Cina melarang impor produk aquatik dari Indonesia. Pengusaha produk ikan-ikanan kelimpungan. Hitungan kerugian dalam miliaran dolar disuarakan oleh pengusaha sampai pakar. Kenapa Cina ‘bertindak’?

Pemerintah Indonesia merazia permen produk Cina yang konon ‘dititipi’ formalin. Tidak ada pemberitahuan, tidak ada peringatan, tidak ada negosisasi, apalagi mohon maaf. Larang impor dari Indonesia. Titik. Persis gaya Uni Eropa melarang perusahan penerbangan Indonesia terbang di Eropa.

Kita pantas kagum dengan pemerintah Cina. Soal razia permen saja dianggap sesuatu yang merugikan negaranya dan bangsanya. Sekali lagi, permen. Itu lho, gula-gulaan yang banyak merusak gigi dan tenggorokkan anak Indonesia.

Lagi pula, kalau udang yang bergizi tinggi dijual murah di dalam negeri bagus. Udang sangat bagus bagi perkembangan otak. Beda dengan terasi yang berbahan baku kepala udang, satu-satunya binatang ciptaan Allah SWT yang di otaknya berisi tahi. Ingat, tahi.

Cina hebat. Punya nyali, dan … harga diri. Indonesia? Jangankan ‘mengertak’ Cina, mengertak negara kecil Singapura saja segan. Ah masyak sih?

Tim Sepakbola
Jujur saja, saya kecewa dengan (beberapa orang) pemegang otoritas Indonesia. Ambil hal sederhana. Ketika kesebelasan Indonesia berlaga dengan semangat tinggi —soal stamina dan kecerdasan soal lain— semakin bangga sebagai warga Indonesia. Terbetik di pikiran, kalau semangat Tim Nasional itu terus dikembangkan, dijadikan virus nasioal, Insya Allah akan cepat mengatasi berbagai hal pengendala kemajuan bangsa.

Tapi, coba Sampeyan amati. Jangankan wasit, penjaga garis saja tidak ada dari Indonesia. Kalau dari Afrika yang tidak ikut Piala Asia ada. Namun, tuan rumah tidak dipercaya. Hebatnya, tidak ada keterangan dari PSSI. Lebih hebat lagi, warga bangsa tidak melihat sebagai masalah. Bahkan, ada yang tidak memperhatikan sama sekali. Keterlaluan.

Dengan kata lain, wajar Singapura cuek bebek para koruptor hidup nyaman di negara singa tersebut. Mereka —kira-kira nih— sudah memperhitungkan, toh Indonesia tidak akan ‘berani’ bersikap tegas. Mereka kan lari dengan uang Indonesia dan … ditanam di Singapura (mungkin) atau negara lain.

Malahan mereka mebeli murah bank-bank yang bangkrut (atau dibangkrutkan). Setiap Sampeyan berteleponria via Telkomsel atau Indosat, berarti menambah kemamuran Singapura. Sahamnya dimiliki perusahaan Singapura, yang dibeli murah meriah, konon lebih murah dari deviden yang mereja peroleh.

Oh ya, untuk sekadar ekstradisi koruptor —pasti susah dilakukan — ditandatangi perjanjian yang membolehkan angkatan perang Singapura latihan perang di wilayah Indonesia. Latihan perang? Ya iya, latihan perang. Lalu, koruptonya kapan diekstradisi? Kalau yang ini panjang kisahnya, kalau latihan perangnya, wah itu gampang.

Ketika ke Singapura saya keder sebab aparat keamanannya ‘serem’. Begitu menghampiri perariran Singapura kapal patroli pantai menjaga kedaulatan dengan sungguh-sungguh. Kalau menghargai Indonesia, mana mungkin bisa pasir selundupan atau berbagai barang lainnya masuk Singapura.

Perhatikan, tu ratusan ribu HP gampang masuk Indonesia dari Singapura. Saya penah berurusan dengan pabean (custom) Singapura gara-gara sebungkus rokok. Membawa rokok yang tidak dirobek bungkusnya dilarang, jadi … tangkap. Kalau penjahat yang melakukan kejahatan di Indonesia, telah diadili sekalipun, silahkan saja. Kenapa?

Ya, mereka berani saja. Indonesia berani? Indonesia, bukan RRC. Seorang kawan pernah berkhayal, tutup saja wilayah udara Indonesia kalau Singapura tidak mau ‘mengembalikan’ pelaku kejahatan. Emang pesawat mau lewat mana? Ah, ada-ada saja. Pemain sepakbola punya kiat, menyerang adalah pertahanan paling baik.

Dus, nasionalisme tidak bisa dipahami sebagai paham kebangsaan dalam arti teoritik, tetapi lebih kepada praktik nyata. Memang nasionalisme tidak selamanya positif. Semisal didengungkan para ultra nasionalisme dengan pride berlebihan. Hitler, Mussolini, atau Jepang di masa lalu, justreru membawa kehancuran.

Memperjuangkan kepentingan bangsa dengan semangat dan keberanian adalah cap sesungguhnya dari nasionalisme. Apakah nasionalisme kita sedang berada dititik nadir?

Jangan terlalu gegabah berkesimpulan. Nasionalisme Indonesia kini adalah nasionalisme yang ramah. Semua teriak musuh bangsa adalah KKN. Menuntaskan masalah BLBI saja tidak (belum) mampu. Apalagi sampai ke akarnya. Kasus diatasi oleh waktu.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 3 Responses to “Nasionalisme di Titik Nadir?”

  2. By Suci on Aug 12, 2007 | Reply

    Yang lebih lucu sering juga saya jumpai. Teman-teman saya yang wanita tetap getol memakai produk kosmetika asal Cina yang telah dilarang dan dirazia keras. Padahal jelas-jelas produk-produk kosmetika yang mereka pakai memakai bahan berbahaya. Tapi, fakta bahwa masyarakat kita yang memang sudah terlanjur korban dari budaya konsumerisme yang makin subur kiprahnya di negara kita. Bira sudah memiliki kulut yang terbilang putih masih saja tetap ingin kulit yang seputih orang Cina. Mana bisa, apa yang didapat secara genetik susah untuk dibohongi. hehe…

  3. By yung mau lim on Aug 17, 2007 | Reply

    Sebenarnya bukan masalah produk Cina atau produk negara apa,sikap kita sebagai bangsa memang masih mencla mencle.Walau mata saya sipit dan kulit kuning toh saya orang Indonesia juga,mau diakui orang apa tidak ya cuek aja.Pokoknye wa akui sendiri saya bangsa Indonesia,titik.Sebagai bangsa memang harus tegas terhadap bangsa apapun juga didunia ini. Dulu sewaktu negara kita dipimpin oleh Bung Karno kita bisa tegas,kenapa sekarang ga bisa?Idealnya kita harus pandai berdiplomasi yang santun dengan negara2 lain tetapi tetap harus pegang prinsip “Indonesia Untung,YES.Kalo RUGI,NO”.Kalau bisa ini kita jadikan saja satu slogan Politik luar negeri Indonesia.Itupun kalau kita berani ( Kalau Rakyat Indonesia saya yakin 1000% berani.Jadi apapun tindakan dan usaha kita,Indonesia HARUS UNTUNG.Sederhana saja.

  4. By Mega on Nov 14, 2007 | Reply

    Uda suka Terasi..?wak dari dulu benci ma Terasi,,hehhe..
    bener aja yah…hrs Inget Tahi…:D baru kepikiran setelah baca ini.

    ***He he he … (baru) rajin baca nich

Post a Comment