Menulis Fiksi
28 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MENULIS fiksi, kalau dipikir-pikir, dalam praktiknya lebih mudah dibanding menulis nonfiksi. Karya-karya fiksi saya, ditulis disela menulis artikel, makalah, atau buku. Dalam bahasa motivasional, melamun, merenung, membiarkan imajinasi berkelana, lalu tulis, jadilah. Begitu mudahnya.
Saya memang bukan sastrawan yang fokus menulis fiksi. Sekalipun telah menulis cukup banyak cerpen dan ratusan puisi yang telah dibukukan, baik berupa antologi pribadi atau antologi bersama. Kalau novel, belum rampung-rampung. Kekurangan waktu menulisnya. Masalah prioritas saja sebenarnya.
Memang sih dalam menulis fiksi adakalanya perlu riset. Ambil contoh Dan Brwon ketika menulis Da Vinci Code. Tapi itu kan ‘teori’. Tergantung masing-masing penulislah. JK Rowling ketika menulis Harry Potter malahan hanya sekadar ‘mengisi waktu’ sambil menidurkan anaknya di cafe. Harap maklum, dia ditinggal suami dengan satu anak, dan berkehidupan tidak berkelimpahan.
Yang ingin saya tekankan, menulis fiksi tidak usah disulit-sulitkan. Berlandas teori ini-itu, menciptakan tokoh begini-begitu, setting sedemikian, dan sebagainya. Bikin pusing saja. Pertanyaannya mana yang lebih dulu karya fiksi dari teori menulis fiksi?
Ingat, kata-kata saya ini dalam kerangka memotivasi. Itu yang pertama. Yang kedua, saya tidak bicara soal karya fiksi berkualitas. Kalau yang ini lain kali kita diskusikan. Mohon dipahami, saya tidak bicara menulis karya fiksi berkualitas, tetapi menulis fiksi.
Kalau mau menjadi penulis, apalagi kalau masih berposisi pemula, tanamkan di otak, menulis fiksi itu mudah seperti juga menulis lainnya. Dengan demikian self-image yang terbentuk tidak membeban. Jangan sampai yang ditanamkan, menulis fiksi itu susah.
Seperti telah saya tulis dibanyak tulisan, kebanyakan penulis (pemula) terlanjur memantapkan di diri, menulis itu susah. Lebih celaka, kalau dibanding-bandinglan dengan Ahmad Thohari, Taufik Ismail, Anton Chekov, Victor Hugo, atau Walmiki. Ingat, mereka adalah penulis besar, Sampeyan baru belajar menulis.
Lebih menyedihkan pula, kalau ahli teori atau kritikus memblejeti dalam komparasi dengan karya manusia-manusi hebat dan langka tersebut. Yang benar aja kawan. Tahu dirilah. Apa pentingnya disepadankan dengan karya orang-orang hebat tersebut? Mana mungkin anak balita disejajarkan dengan orang dewasa. Kritikus saja tidak sehebat mereka to. Jadi, santai sajalah, menulis sajalah.
Akan lebih konstruktif bagi pembelajaran ditanamkan di kuala pikir, menulis fiksi itu mudah, sangat mudah malahan. Menulis kog susah. Tanamkan di pikiran, tancapkan di sanubari “Saya bisa. Pasti bisa”. Lalu, tulislah apa yang hendak ditulis.
Jangan pikiran dibebani berbagai hal menggayut. Ibarat menyetir di jalan tol, tancap gas. Jangan perdulikan salah ketik, salah nalar, salah alur, atau apa pun. Itu urusan nanti. Kalau diganggu, ya ngak akan beranjak. Paling-paling sealinea, lalu mampus … maksud saya berhenti.
Kalau sudah jadi dalam bentuk ‘kesatuan’, utuh sebagai cerpen, novel, atau puisi baru dibaca ulang. Mau kata-katanya dikoreksi keg, mau kalimat dirubah keg, mau ditulis ulang keg … keg … keg terserah saja. Penyakit mendasar penulis (pemula) ketika menulis mengoreksi, yo opo rek. Pantas tidak jadi-jadi. Sungguh kebodohan yang susah dimaafkan.
Sebagaimana saya tulis pada awal tulisan ini, menulis fiksi sangat menyenangkan karena bersandar pada imajinasi. Katakanlah lamunan. Setiap orang pintar melamun, berkhayal, berkelana ke dunia ‘nyata’ yang terjangkau atau ke dunia yang ‘tidak ada’. Jangankan ’menyetubuhi’ Jenifer Lopez, ke Syorga saja sanggup. Namanya saja imajinasi.
Ada orang yang tidak bisa memejamkan mata karena lauman berkelana mendapatkan suami idola, berwisata ke Hanover, ingin mandi-madi di pantai Wakiki, menikmati embun pagi di Lengkawi, ke lembah Timbuktu, menjelajah kawasan Singa Afrika, sampai menonton bola di Manchester, bersalaman dengan Serena William di Roland Carlos. Duh, nyamannya alam khayal.
Kalau tidak mampu membeli rumah sebagus rumah Mayangsari, dalam mimpi membangun rumah seperti di Pasadena bertetangga dengan Brat Pitt atau atau Brook Shield. Tidak bisa melawan atasan yang korupsi sementara kita diperas, dalam khayal bisa mengadili dia sampai ke alam baka. Lamunan, khayalan, impian, dan … ide … ada di otak. Dan, itu dimiliki semua orang. Dan, … semua itu tinggal di tulis. Dan, … melalui media fiksi kita bisa menulis sebebas-bebasnya. Dimana susahnya?
Kita katakan susah, kita katakan berjamaah menulis (fiksi) itu susah, karena kita tidak melakukan, tidak menulis. Menulis perlu latihan terus menerus. Kita sudah memulainya dengan catatan harian, diari, atau disimpian di bilik-bilik otak, di mahligai pikiran, kini tinggal dipanggil, dikeluarkan, dijadikan tulisan, dijadikan cerpen, novel, atau puisi.
Perkara menuangkan itu yang kita diskusikan, dan saya membawa juadah berpikir; tuliskan apa yang ada di samudera pikiran tanpa harus dibebani bergabai hal yang menyulitkannya. Itulah yang saya maksud, tulis apa yang hendak ditulis, habis perkara. Jangan sampai jadi artefak di botak kepala.
Kalau sudah dituangkan, kalau berkemauan mengoreksi, ya koreksilah. Kalau dianggap pantas dilempar ke wilayah publik, lemparlah. Kalau pantas dibukukan, bukukan. Yang penting, sudah ada dalam bentuk tulisan. Mau di simpan di lemari besi karena dianggap tidak bermutu, silahkan saja, yang penting sudah jadi tulisan.
Penyakit ‘bawaan’ atau ‘turunan’ atau barangkali karena berhasil ditakut-takuti orang —apalagi orang yang tidak menulis, siapa pun dia— menulis itu harus begini, harus begitu, harus beginu, dan begita, itu yang merusak. Belajar teori, tata bahasa, pengungkapan sampai pilihan diksi, ya iyalah bagus. Itu sangat penting dan mendasar. Tapi, kita kan (belajar) menuangkan pikiran. Belajar menulis ya dengan menulis.
Cara konvesional sebagimana diajarkan di sekolah yang membuat banyak orang takut menulis. Menulis menjadi beban. Sungguh kontroversial, semakin belajar semakin takut. Kacien dech lo.
Kini saatnya melakukan change dalam induk berpikir, melakukan hijrah, dari lembah ketakutan menuju ruang keberanian. Belajar menulis, memfasihkan menulis (fiksi) dengan menulisnya. Mari menulis fiksi dengan gembira.
Menulis fiksi lebih mudah, sebab kita tinggal mengkonstruk di pikiran setelah melanglangbuana dalam imajinasi atau fantasai. Kemanapun, tentang apa pun, pada kondisi apa pun, dan dalam keadaan bagaimanapun, kita bisa memuaskan alam khayali. Tulis, tulis, dan tulis pengelanaan alam pikiran, jadi tu cerpen, puisi, atau novel. Tulis, ya ditulis, dan jadilah.
Selamat menulis fiksi. Pekerjaan mudah yang tidak meruwetkan pikiran.
Bagaimana menurut Sampeyan?










8 Responses to “Menulis Fiksi”
By mathematicse on Jul 28, 2007 | Reply
“Tulisalah, dan jadilah tulisan…”
By hanna on Jul 28, 2007 | Reply
Yuk, kita nulis lagi.Makaci banyak ya,jadi termotivasi lagi deh.Gimana seandainya dalam tulisan fiksi saya,saya kalahkan bapak dalam hal tulis menulis ?, He3.Habisnya mau saingin bapak cuma bisa dalam imjinasion saja,wa ha ha ha.
By willyedi on Jul 29, 2007 | Reply
Pak, saya berkolaborasi dengan Udo Z. Karzi, Redaktur BorneoNews yang terbit di Pangkalan Bun. Tujuannya mencari bibit penulis dari kalangan pelajar. Temanya mungkin sastra, mungkin jurnalistik. Masih mau dibicarakan sambil berjalan. Untuk itu minta izin beberapa tulisan adan buku dijadikan bahan untuk memotivasi anak-anak bangsa ini untuk mau menulis. Menurut informasi susah sih cari penulis di Pangkalan Bun, apalagi mencari sastrawan. Bagus kalau belajar menulis dengan menulis, bukan dengan teori tentang menulis. Bukan gitu bang?
By Maghfira Mimi on Jul 30, 2007 | Reply
Setuju pak, menulis dan menulis tak pernah ada habisnya.Belajar menuangkan apa yang ada di otak kita hingga mennjadi sebuah tulisan. Bapak memang penyemangat menulis buat siapa saja yang mau menulis. Wasalam.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jul 31, 2007 | Reply
Sepakat banget..
Mari ubah paradigma kita dalam menuluis, fiksi atau non fiksi. Sebagaimana kata motivator kita, EWA. Tetap semangat.. Menulis dan menulis. Jihad bil i’lan.
Wassalam.
By Al Fahm on Aug 4, 2007 | Reply
Mmmm….:) fiksi kah, kada fiksi kah…
nang panting tulis haja…iya kalo …
Salam tulis.
Wassalam
By wahyu ( ingin jadi penulis ) on Oct 19, 2007 | Reply
ha ha ha ha ha ha ha
betullllll
setujuuuuuu
ternyata gak salah aku salah aku selama ini, tulis aja mau bagus mau jelek, mau bermutu mau ndak mutu, mau jadi mau ancur terserah….
nanti-nanti kan bisa dikoreksi, bisa minta komentar perbaikan dari yg lebih pintar.
yang penting tulis aja, maka jadilah sebuah tulisan. kalau sudah ada tulisan maka tulisan memiliki pembuatnya, kalau sudah menjadi pembuat tulisan itu… maka , jadi penulislah aku…
horeeeeeeee…. aku sudah jadi penulis
By moneng on May 26, 2008 | Reply
sangat provokatif…
***Hayya