Mama Mia, Sebuah Prestasi Muslimah?

28 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh: Nellawati*

Mama Mia, program reality show Indosiar, menempati rating tertingi program favorit di TV. Yang lebih mengejutkan, tayangan ini mampu menyalip program RCTI, Indonesian Idol. Mama Mia juga diharapkan bisa menjadi jalan pembuka atau batu loncatan menapak karir yang lebih tinggi.

Ada sedikit warna berbeda dibanding ajang pencarian bakat yang lain. Mama Mia diperuntukkan hanya untuk cewek. Khususnya pasangan mama dan putrinya. Mama dan anak seiya sekata, satu hati satu tujuan. Di sini mama dan anak saling bekerjasama meraih sukses. Jika berhasil, bukankah itu sebuah prestasi.

Dibalik Mama Mia
Ajang ini bertujuan mencari orang-orang yang punya talenta di bidang menyanyi. Ternyata, mereka tak hanya dinilai dari kualitas suara, tetapi juga fesyen dan penampilan. Fesyen yang membuka sedikit atau banyak aurat, tak menjadi masalah asalkan masih terkategori ‘sopan’ menurut mereka. Penampilan yang berlebihan (apalagi dalam Mama Mia Super Dut) melibatkan gerak bebas tubuh si penyanyi. Kemudian terjadi campur baur dengan lawan jenis di luar perkara yang dibenarkan syara (pendidikan, kesehatan, muamalah, perwalian dan persaksian). Konon, ini aplikasi dari kebebasan berekspresi.

Di sini kita bisa melihat banyaknya aturan Islam yang terabaikan dan upaya penanaman benih-benih liberalisasi pada pemikiran masyarakat, khususnya kaum muslimin. Kita diajak untuk memisahkan zona agama dari aturan kehidupan. Kemudian menempatkan agama sebagai ibadah ritual semata. Padahal Islam memiliki aturan hidup yang lengkap dan solutif untuk  seluruh alam.

Dampak liberalisasi, khususnya yang menimpa keluarga, lebih parah lagi. Perempuan diajak untuk beramai-ramai ke luar rumah mengejar prestasi. Dalam kasus Mama Mia, mama dan anak kompak sekali. Sadarkah mereka, apa yang mereka lakukan sudah sangat jauh dari apa yang seharusnya mereka lakukan?

Prestasi Muslimah
Dalam keluarga, peran perempuan yakni sebagai anak dan ibu atau istri. Sebagai anak, ada tuntutan untuk berbakti pada orang tua setelah taat pada Allah dan RasulNya. Setiap anak yang menginginkan ridha Allah SWT mesti menaati orang tua selama tidak mengajak pada kemaksiatan. Sementara sebagai istri atau ibu bagi anak-anak, wajib taat pada suami sebagai pemimpin keluarga. Sebaliknya suami pun harus baik terhadap istri.

Allah SWT menyeru kepada para wanita untuk menciptakan ketenangan dalam rumahnya. Seorang ibu memelihara, mendidik dan mendampingi anak dalam masa perkembangannya. Inilah peran mulia seorang ibu. Terdengar berat mungkin, namun insya Allah nilainya sangat mulia di sisi Allah SWT.
“Tidak ada seorang anak pun yang baru lahir dalam keadaan suci. Kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi,”(HR. Muslim).

Baik buruknya keadaan rumah tangga tergantung baik tidaknya muslimah menyelesaikan tugas sebagai ibu dan pengelola rumah tangga. Ibu mendidik anak, menanamkan sifat-sifat terpuji dan akhlak yang baik. Ibu juga menjadi teladan langsung yang menunjukkan keberpengaruhannya. Subhanallah, tanpa menafikan peran ayah yang juga luar biasa, ibu yang bertanggung jawab mampu mencetak anak-anak yang baik dimana kebaikannya kan kembali kepada orang tua dan masyarakat.

Tugas perempuan di rumah tangga tak berarti membatasi aktifitasnya. Islam memperbolehkan perempuan bermuamalah di masyarakat seperti bekerja, dan lain-lain. Syaratnya, aktifitas di sektor publik tidak bertentangan dengan syariat dan tidak melalaikan tugas utamanya di rumah tangga. Bahkan perempuan juga diwajibkan untuk melakukan aktifitas amar ma’ruf nahi munkar (dakwah) dan menuntut ilmu.

Demikianlah peran penting perempuan sebagai tiang negara. Ia menjadi guru pertama dan utama bagi generasi cerdas, pencipta peradaban, pembela umat dan para problem solver. Inilah prestasi muslimah sesungguhnya.

Penghancuran institusi keluarga dengan cara perlahan-lahan adalah langkah jitu menjajah umat Islam. Racun ini dikemas dengan indah. Hendaklah kita sadar. Bahaya ini bukan Cuma bagi pribadi, tapi keluarga, masyarakat dan Negara. Liberalisasi hanya akan berujung pada kehancuran generasi.

Perlu upaya serius dan sungguh-sungguh menyadarkan kaum muslimin yang telah termakan ide liberal. Langkah yang bisa kita lakukan adalah merubah cara berpikir masyarakat agar tak mudah tersusupi nilai-nilai yang menyesatkan dengan dakwah terus manerus. Kemudian membongkar kebobrokan pemikiran seperti sekulerisme, liberalisme dan pluralisme.
Lalu, menjelaskan Islam sebagai solusi menyeluruh yang bisa dipakai siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Juga mendorong untuk menjalankannya. Upaya ini tentu butuh kerjasama sinergis antara individu/keluarga, masyarakat dan negara.

*Mahasiswa FKIP UNLAM anggota KP EWA’MCo.

  1. One Response to “Mama Mia, Sebuah Prestasi Muslimah?”

  2. By Fafa on Oct 4, 2008 | Reply

    Undian GRATIS VCD, Buruan

    Aku itukan punya VCD yang isinya profileku dari aku kecil, saat aku nyanyi, aku ikut lomba, aku sekolah, aku menari, aku wisuda sampai aku main wushu, pokoknya dan lain lain dech, yang di file PICTURE itu ada semua fotoku dan hasil karyaku plus prestasiku. Durasinya saja 43 menit.

    Buat semuanyanya yang mau tinggalin comment di blogku nanti aku undi, bakalan siapa yang menang. Semuanya gratis jadi tidak perlu ganti biaya produksi sama pengiriman, aku yang tanggung semuanya.

    Karena terbatas jadi nanti aku umumkan yang menang hanya sepuluh orang saja ya.

    Ayo buruan siapa tahu bisa menang, oh ya catatan buat muter VCDnya kalau pakai VCD Player sembarang merek bisa, tapi kalau pakai komputer jangan pakai Windows Media Player sama Winamp jadi harus selain itu. Kagak tahu tuch Oom Andi yang bikin kok bisa begitu.

    Sudah ya, aku tunggu commentnya di http://akuhomeschooling.wordpress.com. Terima kasih banyak ya.

    Cium sayang selalu dari Fafa buat semua

Post a Comment