Karya Sastra

28 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

SEORANG teman suatu malam, ketika sedang asyik menulis buku, melayangkan SMS: Bagaimana menurut Sampeyan tetang diskusi sastra? Tidak membalasnya karena memang tidak berminat. Tetapi, SMS tersebut mengelitik pemikiran.
 
Pertama, saya bukanlah sastrawan. Kalau pecandu sastra, mungkin ya. Saya mengoleksi banyak karya sastrawan nasional dan internasional. Entah kenapa, pikiran jadi ‘terhibur’ dan ‘tertantang’ manakala berkelana bersama Karl May, terkagum-kagum untaian Kahlil Gibran, terbuai ayunan kata-kata Ernest Hemingway. Terakhir digoda J.K. Rowling dan Dan Brown. Jadi makin mantap, karya sastra ada kalanya puncak intelektual.
 
Kedua, bagaimana mau ikut-ikutan polemik yang bukan wilayah penjelajahan. Tidak lucu. Tidak terlalu tertarik debat sastra karena kemampuan karya sastra belum ada apa-apanya. Entah nanti kalau sudah melahirkan banyak karya. Ideologi saya, karena kemampuan terbatas, ya menikmati saja.
 
Ketiga, memilih belajar menulis sastra dengan menulisnya. Logikanya sederhana saja, kalau sudah ada karya, apalagi banyak, kan mudah ‘dibedah’, dicaci maki, atau disilang plus-minusnya. Begitu yang dilakukan, dianjurkan pada murid dan teman-teman sepaham. Biar saja tulisan kita jelek, tidak bermutu, namanya juga belajar. Belajar menulis dengan menulis bukan mengomongkan kehebatan.
 
Sejak dulu suka membuat oret-oretan. Kalau menulis puisi dinamakan puisi-puisian, kalau cerpen cerpen-cerpenan, dan novel yang sedang diedit novel-novelan. Hal itu mungkin karena sadar, tidak pantas sebagai sastrawan. Tetapi, tetap menulis, menulis, dan terus menulis. Boleh saja kan seorang amatir berkarya?
Belajar Menulis
 
Antologi puisi Surat Buat Kekasih (2006) yang pernah dikecam seseorang kini sedang proses cetak ulang. Ketika TB Gramedia meminta untuk pajangan Valentine Day, Februari ini, tidak bisa memenuhi. Stok habis. Saya mendapatkan cukup banyak motivasi dari teman-teman dari penjuru tanah air. Gara-gara itu menerbitkan antologi puisi Kolaborasi Nusantara dari Banjarbaru (2006). Kini sedang mengedit puisi teman-teman dari Sumatera sampai Irian dan esai sastra.
 
Lucunya, seorang teman mengundang untuk membaca puisi tunggal di TIM Jakarta. Jelas ditolak. Mendapat surat dari petinggi TIM karena mengirim berbagai buku karya sastra saja sudah cukup. Begitu juga undangan berbagai pertemuan sastra di berbagai tempat. Target saya menulis, menulis, dan belajar menulis.
 
Saya memandang menulis lebih utama. Dulu, ketika di Jogja dan Bandung, aktif mengikuti berbagai diskusi. Rasanya cukup saja, kecuali yang dianggap sangat penting. Kini saatnya belajar menulis. Senang berdiskusi dan mereka yang berdiskusi. Diskusi itu bagus, sangat bagus malahan.
 
Suatu kali, seorang teman menantang, menghina, meledek, kagum,  serius, atau semuanya, tidak tahulah. Katanya: “Tulisan Sampeyan nyaman dibaca, kenapa tidak bersastra sekalian?”. Saya anggap positif berbekal positive thinking. Makin rajin menulis. Apalagi buku Menulis Sangat Mudah (2006) direspon banyak pihak dan dalam proses cetak ulang 3.000 eksemplar yang langsung ‘dibeli’ distributor.
 
Begitu kontraknya ditandatangani dalam seminggu menulis buku Menulis Mari Menulis yang kini sedang dicetak penerbit. Kalau Sampeyan mau mengintip silahkan lihat di www.webersis.com. Kata yang telah membaca, asyik bukunya.
 
Maksud saya, di tengah menulis beragam tulisan menulis sastra (sastraan). Entah kenapa, perasaan dan pikiran menjadi fresh dan melayang, gimana gitu. Mana tahu nanti teman-teman yang piawai teori menjelaskan, kenapa di tengah kegiatan menulis lalu menulis sastra (sastraan) proses kreatif menjadi semakin bergelora. Kepada murid-murid di kelas dianjurkan, latihlah diri kalian dengan menulis apa yang dipikirkan dan terpikirkan. Caranya?
 
Masuk kamar, isolatip mulut lalu apa yang ingin diomongkan ditulis. Sederhana saja. Sebagai pemanis dikatakan, kalau kalian bicara berbulan-bulan omongan akan ditelah ruang, kalau menulis akan terlihat bukti nyatanya. Kalau sudah demikian, apabila ditemukan kelemahan, perbaiki. Proses demikian apabila begulir terus-terus akan menghasilkan karya lebih baik.
 
Kembali ke karya sastra, saya pikir juga demikian. Yang utama itu menulis, menulis, dan menulis. Saya sedang dan selalu belajar menulis dengan menulis. Pada tingkat tertentu tidak terlalu peduli teori menulis. Belajar menulis koq berteori. Saya takut habis waktu dan kesempatan belajar teori dan lupa menulis, berkarya.
 
Begitulah. Bahkan untuk sastra dan kebudayaan Banjar sedang mengarap majalah sastra Urang Banjar. Versi lebih luas dalam komunikasi dunia maya telah dilaunching www.urangbanjar.com dalam bahasa Banjar. Mendapat sambutan, terutama dari komunitas Urang Banjar di Malaysia dan perantau lainnya. Sebagai penggagas bersama Erwin Dede Nugroho kami senang direspon positip.
Taufik, Sitor, dan Tour
 
Jujur saja, membaca karya Taufik Ismail, Sitor Sitomurang, Pramoedya Ananta Tour dan sastrawan Indonesia lainnya, pastilah kagum. Tetapi, kita harus sadar, mereka adalah ‘orang besar’, pekarya unggul. Saya menyadari tidak mungkin bersanding dengan mereka, karena itu memilih jalur belajar menulis.
 
Resepnya, jangan mimpi ‘sebesar’ mereka, berkarya sehebat mereka. Kepada beberapa orang yang dimotivasi menulis adalah keliru besar membandingkan karya kita, pemula, dengan mereka. Kalau ada guru yang mematikan karya ‘pelajar’ dengan karya besar tersebut, sungguh keterlaluan.
 
Jadi, menurut saya, karya sastra harus dimulai dengan belajar menulisnya. Mari menulis, menulis, dan menulis, apa pun bentuknya. Tidak bermutu, biar saja. Namanya saja latihan. Dalam dunia ilmiah ada istilah trial and error.
 
Nampaknya saya memilih posisi demikian. Mana tahu 5 atau 10 tahun ke depan mempunyai karya lumayan banyak. Mana tahu 5 atau 10 tahun lagi mampu membuat karya sastra bermutu. Mana tahu, lho. Doakan saja saja. Berkarya dengan menulis.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Ersis Warmansyah Abbas, pecandu sastra.

  1. 2 Responses to “Karya Sastra”

  2. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Aug 1, 2007 | Reply

    Amin ya robbal’alamin.

  3. By Abu Salman on Nov 6, 2007 | Reply

    Wuah, kalau menurutku diundang ya datang aja pak ustadz, kan siap-siapnya dari sekarang untuk jadi penyair besar membaca hasil karya didepan publik, dapat apreseasi atau interpretasi, bisa dipuji ata dicaci, no problem bukan?

    ***Kalau soal dipuji atau dimaki, dah … siap sebelum menulis. Cuman, kalau dijadikan sastra, penulis sastra, itu yang ngak tepat. Entah … nanti he he

Post a Comment