Bukan Sekedar Pelindung Kepala

28 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh : Mudzakkir Fahmi*

Belakangan ini, trend atau memang keinginan untuk tampil seutuhnya sebagai muslimah, menunjukkan identitas diri, pemakaian kerudung sudah merebak.  Berkerudung tidak lagi dilakukan kaum ibu disaat pengajian, tapi juga oleh kalangan remaja kita. Tak ada lagi zamannya ‘sungkan’ berkerudung. Di mana-mana sekeliling kita jumpai muslimah berkerudung, dengan beraneka model lilitan penutup kepala. “Mode!” itu katanya. Ada yang mengikuti gaya artis A, atau artis B.

Subhanallah, begitu indahnya ketika melihat suasana para muslimah baik dari anak-anak perempuan kecil mereka sekolah TK, pelajar di SD, SMP, SMA, mahasiswi di PT maupun di instansi Negeri atau Swasta. Merupakan suatu hal yang indah dipandang hal tersebut merupakan hal yang baik jika diiringi dengan pemahaman makna pentingnya seorang muslimah memakai jilbab sesuai ajaran Islam.

Kita sering terjebak dengan istilah jilbab itu sendiri. Apa sih sebenarnya pengertian jilbab itu? Menyusuri kata jilbab yang tentu saja berasal dari bahasa Arab, yang jamaknya disebut “Jalaabiib” berarti pakaian yang lapang/luas. Jadi jilbab dapat diartikan sebagai pakaian yang lapang dan dapat menutup aurat wanita, kecuali muka dan kedua telapak tangan sampai pergelangan tangan saja yang ditampakkan.

Sedangkan kerudung yang dalam bahasa Arabnya disebut khimaar, jamaknya khumur, berarti tutup/tudung yang menutup kepala, leher, sampai dada wanita. Jadi jelaslah sudah perbedaan antara keduanya. Keduanya mempunyai kekuatan hukum yang kuat langsung dari Allah yaitu wajib. Sebagai suatu keharusan yang pasti atau mutlak bagi wanita dewasa yang mukminat atau muslimat.

Pada QS. Al Ahzab (59) menegaskan “Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan para wantia yang beriman, supaya mereka menutup tubuhnya dengan Jilbab, yang demikian itu supaya mereka lebih patut dikenal (jilbab itu ciri khas wanita mukminat), maka mereka pun tidak diganggu. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Di dalam QS. An-Nuur (31) menjelaskan “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman supaya mereka menahan penglihatannya, dan memelihara kehormatannya, dan tidak memperlihatkan perhiasannya (kecantikannya) kecuali yang nyata kelihatan (muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangannya). Maka julurkanlah kerudung-kerudung mereka hingga kedadanya. Dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasannya/kecantikannya; kecuali kepada suami mereka, atau bapak mereka, atau bapak suami mereka, atau anak-anak mereka, atau anak-anak suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak-anak saudara perempuan mereka, atau para wanita mereka (yang muslimat), atau hamba sahaya kepunyaan mereka, atau laki-laki yang menjalankan kewajibannya (umpama pelayan) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mempunyai pengertian tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan (melangkahkan) kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
Kedua ayat di atas merupakan seruan Allah SWT yang mesti kita jalankan. Jelas sudah mana batasan-batasan yang mesti kita jadikan protect ketat untuk muslimah sendiri. Rasulullah mengatakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Turmidzi dari Ibnu Mas’ud bahwa “Perempuan itu adalah aurat, maka apabila ia keluar dari rumahnya syetan pun berdiri tegak (dirangsang olehnya).”

Semua hal tersebut terwujud hanyalah didukung oleh peran dalam keluarga masing-masing baik dari peran orang tua yang memberikan pemahaman bahwa ketika seorang anak perempuan muslimah harus mengetahui perihal tersebut. Sehingga, perilaku tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan pemahaman yang jelas dan dipahami dengan kesadaran yang tulus dan ikhlas untuk memberikan kesejukan iman pada diri setiap muslimah.
Saudariku muslimah, mari kita melangkah bersama menuju Islam yang kaffah, masuk dalam Islam secara keseluruhan. Bukan pelindung sekedar kepala.

Mahasiswa Fakultas Pertanian Unlam anggota Komunitas Penulis EWA’MCo.

Post a Comment