Mendadak Nulis ala EWA

21 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Erwin D. Nugroho
(Pengantar buku Menulis dengan Gembira)

SAMPAI hari ini saya belum pernah berjumpa seorang pun yang derajat keseriusannya sebagai motivator penulisan sedahsyat apa yang ditunjukkan Ersis Warmansyah Abbas. Setiap saat, setiap kesempatan, dalam tema perjumpaan seperti apa pun, pria nyentrik ini selalu memotivasi lawan bicaranya untuk menulis.

Di ranah lokal, tak seorang pun menafikkan dedikasi EWA, begitu dia disapa, terhadap dunia tulis-menulis. Di jagat nasional, buku-bukunya yang mengajak orang menulis laris manis. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan; betapa serius orang Minang yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di tanah rantau ini memikirkan dunia penulisan.

Saya termasuk yang berbangga karena mengikuti proses kontemplasi dan kegelisahan EWA, setidaknya selama lima tahun terakhir berakrab-akrab dengannya. Kadang-kadang saya suka merasa diperalat, lantas ber-su’udzhon bahwa dia sengaja mengakrabi saya, sebagai pemimpin redaksi di Harian Radar Banjarmasin waktu itu, demi memperlancar pemuatan artikel-artikelnya. Setiap pekan selalu ada artikel EWA terbit di halaman opini. Sampai-sampai ada karyawan di kantor yang nyeletuk; “Kayak nggak ada penulis lain aja.”

Padahal, meski berkawan akrab, sekali pun tak pernah saya menitip pesan kepada redaktur opini untuk memuat artikel EWA. Belakangan saya tahu, bukan saja urusan perkawanan saya dengannya yang memang tulus, ternyata dia juga merawat pertemanan dengan redaktur opini. Silaturahminya dijalin ke atas sekaligus ke bawah.

Sesekali saya sampaikan celetukan anak-anak Radar Banjarmasin kepada EWA. Dia, seperti biasa, menjawab dengan air muka tanpa mimik; “Memang penulis lain tidak ada kok, he … he …” Dan, dengan penuh percaya diri dia biasanya bilang, bahwa tulisan-tulisannya ditunggu orang, “karena saya punya pembaca fanatik. Kalau tidak menulis, malah dimarahin.”

Ya, EWA memang produktif. Saya tahu dia biasa menulis cepat, secepat ide-idenya yang memang agak liar dan berbeda dari orang biasa. Sayangnya kecepatan menulisnya itu tak diimbangi dengan kepiawaian mengetikkan jari di tuts komputer, sehingga sering salah ketik. Soal ini saya suka menggoda dia. Saya bilang, inilah akibatnya kalau kemampuan saraf motorik di jari tangan kalah cepat dengan high speed-nya otak kanan.

Kemampuannya menulis cepat, juga menemukan ide-ide “hendak menulis apa” secara cepat, membuat EWA bisa menulis beberapa artikel dalam sehari. Satu artikel di-publish di website-nya yang populer (www.webersis.com), satu lagi dikirim lewat email ke redaksi Radar Banjarmasin. Lalu untuk apa delapan tulisan yang lain? Diparkir di folder-folder komputernya yang canggih itu! “Suatu hari akan menjadi buku,” katanya.

EWA juga tak membatasi diri dalam proses kreatifnya. Kadang-kadang dia bisa menulis beberapa biji puisi setelah baru saja menyelesaikan artikel serius bertema pendidikan. Kemudian, dilanjutkan lagi dengan menulis cerpen dengan gaya dan setting cerita yang sungguh berbeda.

***

Suatu hari, di atas pesawat dalam perjalanan Kuala Lumpur-Surabaya, EWA membuka laptopnya dan menyelesaikan tiga tulisan catatan perjalanan ditambah lima puisi yang cukup panjang – dua di antara puisi itu tentang awan dan langit yang, sambil menulis, dia tengok di balik jendela pesawat. Meminjam judul lagu Mendadak Dangdut-nya Titi Kamal, proses kreatif model begini mungkin bisa disebut Mendadak Nulis. Menulis senyampang melihat.

Tak semua orang dianugerahi kemampuan semacam ini. Meskipun banyak juga kritik saya kepada EWA, terutama sekali, soal kesalahan-kesalahan kecil yang menyebalkan dalam tulisan-tulisannya. Misalnya salah ketik; sesuatu yang secara gampangan suka dibebankan EWA kepada redaktur halaman opini, atau editor dalam buku-bukunya.

Saya pernah bilang, apa ndak malu, seorang penganjur penulisan tapi tulisannya suka salah-salah huruf hehehe. “Yang penting kan yang keliru bukan alur pikir saya.” EWA memberi alasan yang masuk akal; jangan sampai proses kreatif dalam menulis terganggu oleh urusan kekhawatiran salah ketik, yang menurutnya remeh-temeh itu. Hal ini tentu dalam rangka menjaga agar keberlangsungan proses kreatif jangan sampai terganggu.

Lepas dari itu semua, karena no body perfect, yang paling istimewa adalah EWA tak pernah tidak bersemangat kalau diajak diskusi soal tulis-menulis, sesuatu yang menurut saya telah dia tempatkan pada posisi sangat istimewa, jauh lebih penting dari apa pun juga, mudah-mudahan kecuali Tuhan.

Usahanya menularkan kebiasaan menulis ditunjukkan dengan mewakafkan diri dalam komunitas penulis EWA’MCo, baik di dunia nyata maupun maya. EWA menjadi tutor bagi puluhan penulis-penulis pemula yang, hebatnya lagi, telah menghasilkan karya yang bagus-bagus. Muridnya tersebar di seantero negeri. Sebagian besar ditampilkan di www.webersis.com, sebagian diterbitkan di koran, dan sebagiannya telah disiapkan menjadi buku.

Sumbangsihnya bagi dunia penulisan di negeri ini mungkin akan lebih banyak tercatat dalam sejarah Indonesia, dibandingkan puluhan tahun pekerjaannya sebagai dosen di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin. Sepertinya kerja ndosen itu telah jadi sampingan saja. Hobi menulisnya jadi aktivitas utama, dan untuk keberlangsungan hidup keluarga, EWA sudah cukup bisa bergantung dari tambak ikan dan ternak ayam.

***

Bagi makhluk berakal seperti kita, menulis sebenarnya adalah pekerjaan lahiriah. Setiap berpikir maka kita menulis. Yang jadi soal menulisnya di mana. Banyak orang tidak menulis di kertas atau komputer, tetapi di kisi-kisi ruang benak di balik batok kepala. Disimpan, disimpan, disimpan, dan terus disimpan. Hingga, akhirnya membatu menjadi kerak otak.

Menuliskan tulisan dari benak itulah yang sedang digalakkan EWA. Sebab menulis juga membantu men-defrag data-data yang terus-menerus berebut masuk di kepala kita. Seperti file-file beragam bentuk dalam flashdisk, yang tak mungkin terekam bila tidak “ditulis”. Selalu ada dialog box kalau kita hendak menyimpan file dalam disket: write on disk? Proses alamiah kita merekam semua pengalaman hidup itu sebenarnya adalah proses penulisan.

Tingkat kepercayaan diri setiap orang berbeda-beda, dan itu berpengaruh pada kemampuan, sekaligus juga keleluasaan, menuliskan tulisan-tulisan di kepala. Dalam situasi seperti inilah, buku yang ditulis EWA, Menulis dengan Gembira, menjadi penting – bahkan sangat penting, untuk dibaca. Dia tidak mengajarkan bagaimana cara menulis, karena proses itu sebenarnya telah berlangsung alamiah dalam diri masing-masing kita.

Yang diajarkan EWA adalah bagaimana cara menumpahkan isi pikiran secara lebih mudah, bebas belenggu dan menyenangkan, karena dikerjakan dengan gembira. Ia mengistilahkannya dengan sangat keren: Ersis Writing Theory.

Buku ini, yang menyusul sukses buku-buku EWA sebelumnya, adalah juga potret perjalanan panjang EWA dalam dunia penulisan. Kita patut bersyukur karena tak semua penulis membagi pengalaman di balik proses kreatifnya sehari-hari. Apalagi, EWA adalah penulis lugas yang kurang begitu suka bermetafora. Ia bahkan kerap kelewat jujur mengungkapkan pengalaman yang sangat pribadi sekalipun. Termasuk pengalaman pribadi bersama orang lain yang belum tentu orang itu bersedia pengalaman itu dituliskan.

Buku sering disebut sebagai guru yang bodoh, karena kita kadang-kadang punya pertanyaan penting yang harus ditanyakan sementara buku tak bisa memberi jawaban. Maka EWA merevolusi proses belajar ini dengan berinteraksi kepada pembacanya lewat www.webersis.com. Dia, sejauh yang saya tahu, juga meladeni pertanyaan-pertanyaan lewat SMS, sekalipun ini tidak terlalu saya anjurkan karena biasanya perlu keahlian tertentu untuk menerjemahkan balasan SMS-nya.

Di tengah macam-macam omongan orang, yang ditanggapinya dengan cuek, EWA adalah fenomena. Saya malah khawatir, dalam waktu tak lama lagi, Indonesia akan demam Ersis Writing Theory; semua orang mendadak nulis, blog-blog pribadi bermunculan, dan rating ruang opini di halaman koran meningkat tajam. Dan semua karena EWA. Tak ada yang tak mungkin, bukan?

Erwin D. Nugroho

Jurnalis, tinggal di Balikpapan, pengelola website www.windede.com, dan penulis buku Email dari Tanah Suci.

  1. 19 Responses to “Mendadak Nulis ala EWA”

  2. By unai on Jul 21, 2007 | Reply

    wah kapan saya bisa menulis ala EWA ya?

  3. By didi junaedi hz on Jul 21, 2007 | Reply

    Apa yang dikatakan bang Erwin emang benar, Bang EWA adalah sosok motivator penulisan yang dahsyat. Meskipun saya belum pernah berjumpa langsung dengan beliau, tetapi saya merasakan secara langsung ’sentuhan’ batin beliau ketika memotivasi saya untuk tidak abai menulis dalam situasi dan kondisi apapun.

    Perkenalan saya pertama kali dengan bang EWA melalui e-mail singkat yang saya kirim kepada beliau, sesaat setelah saya browsing tentang dunia tulis menulis, dan secara tak sengaja menjumpai alamt website beliau. Dari situ kemudian keakraban mulai terjadi. Satu hal, yang sampai sekarang saya ngga habis pikir adalah, koq mau-maunya beliau yang belum kenal dan tidak tahu siapa saya mengirimkan sejumlah buku karyanya, ketika secara iseng saya memintanya untuk mengirimkan karya-karya tersebut. Ini sebuah bukti bahwa beliau adalah orang yang tulus dan tanpa pamrih dalam membagi ’setitik’ ilmu yang telah diamanatkan Allah kepadanya.

    Singkatnya, melalui sentuhan motivasi beliau, saya jadi semakin semangat dalam menulis. Bravo Bang EWA!!!

  4. By ibnusina on Jul 21, 2007 | Reply

    nah, ini pengakuan testimoni seorang yg saya tau begitu mcintai tulisan, bahkan hidup untuk dan dari menulis.. awalnya sya jg pernah mikir: apa radar bjm tak punya penulis selain EWA, he.. sya hanya ingatkan: Hari gini kita harus Waspada.. Virus nulis ada disekitar kita.. klo virus flu burung harus kita basmi dengan anggaran yang besar, maka kapan ya virus nulis kita inkubasi dengan anggaran yang juga besar.. he.. kyapa menurut sampeyan? >ibnu

  5. By hanna on Jul 21, 2007 | Reply

    pernah saya bertanya EWA itu artinya apa? tapi beliau diam aja.bagiku itu tidak penting.yang penting beliau memang benar2 seorang motivator,nyata dan terbukti. saya salut sama beliau karna tidak sengan2 buang waktu dan pulsa tuk saya.kadang2 saya suka menyahut seenaknya,”Gila nih Bapak tidak bisa lihat orang senang sehari saja.” habisnya sehari saja tidak kirim tulisan keemailnya dia akan menagih dan bertanya,”koq mandeq ?”.pendek saja smsnya.tapi agak gimana ya rasanya,he3. siapa pun sosok dirinya saya tetap salut keuletannya memotivasi.sekali lagi selamat ya…. Moga buku yang ini lebih menghebohkan lagi. saya juga ingin berterima kasih kepada Pak EWA karna selama ini terus menerus membimbing saya.dan kalau bisa beri sedikit dong obat penawarnya,agar mengurangi penyakit yang Bapak tularkan itu.kalau tidak bisa gawat, waktu istirahat saya tambah berkurang tu, ha ha ha.salam sukses.

  6. By Dp on Jul 21, 2007 | Reply

    Tulisan mas win sejauh yang bisa diikuti biasanya tersaji ringan, segar, sederhana, tapi selalu mampu meyakinkan pembaca. Ya, semoga harapan mas win jadi kenyataan, semua mendadak jadi penulis. E, tapi koq jadi teringat “seleb mendadak dangut ya. He3

  7. By Suci on Jul 21, 2007 | Reply

    mendadak nulis?mmm…inspiratif banget tuh, pa.
    setuju!!! EWA bisa dibilang the one and only man who dreams many achievements for himself and also for others.
    nggak banyak orang besar yang peduli dengan penulis muda yang bukan siapa-siapa. EWA adalah salah satunya.

  8. By SQ on Jul 21, 2007 | Reply

    saya percaya kalau EWA ingin membuat sejarah tersendiri dalam dunia tulis menulis. Meskipun didikannya terkadang sedikit radikal, akan tetapi saya percaya kalau semua itu untuk kebaikan dan demi mengubah budaya yang asal-asalan. Caranya bisa jadi lewat berbagai buku yang dihasilkan dan motivasinya terhadap penulis-penulis muda. Mudah-mudahan buku yang satu ini bisa lebih menyemangati Kalsel atau Indonesia untuk lebih mencintai menulis.

  9. By irsan finazli on Jul 21, 2007 | Reply

    Yaah…saya salah satu yang terkena virus menulis dan ternyata nyaman banar tuh, nulis. EWA patut diacungi jempol…

  10. By Maghfira Mimi on Jul 21, 2007 | Reply

    pak win…mang benar,saya termasuk kena virus pak ewa sampai sekarang virusnya masih bersarang di otak saya. dan karena beliau saya jadi punya keberanian untuk menulis.so..i call him my angel. for me ewa is the best. karena beliau di tengah kesibukannya mau membantu menyemangati para penulis pemula seperti saya, jarang-jarang lo yg kayak ewa mau berbuat seperti itu,memberikan membagi waktunya buat kami-kami yg membutuhkannya. semoga pak ewa di berikan segala kemudahan yang maha kuasa seperti kemudahan dan kelancaran beliau menulis. amin.

  11. By mathematicse on Jul 21, 2007 | Reply

    Bila saya baca tulisan-tulisan Om EWA, saya bisa dengan sangat cepat mengikuti alur tulisannya. Mungkin karena pengaruh kata-kata yang dituangkannya, mungkin juga karena pengaruh sifatnya yang tercermin di tulisannya. Saya tak tahu…. (saya seperti tertarik, terseret dengan kecepatannya.., engga tahu kalau orang lain).

    Sedangkan bila baca tulisan orang lain, saya agak lambat mengikuti alur tulisannya… (ga tahu juga kenapa? Contohnya ketika membaca artikel ini).

    Pokoknya saya senang membaca tulisan-tulisan Om EWA. Tulisannya sangat berbeda dengan tulisan-tulisan tentang “menulis” sebelumnya yang pernah saya baca(dulu).

  12. By gita rose on Jul 21, 2007 | Reply

    assalamualaikum.

    Pertama kali bertemu EWA, tepatnya tanggal 7 juli 2007 - tanggal yang cantik, 070707- di suatu mall di banjarmasin (malam ini saya MENDADAK LUPA nama mall-nya,hee). Sambil di traktir steak saya berbincang dengan beliau. Perbincangan kita tidak seputar menulis karena memang kita bertemu untuk suatu urusan lain, namun JIWA MOTIVATOR MENULISNYA SELALU MELEKAT.

    Diakhir pertemuan (mudah-mudahan itu bukan pertemuan pertama dan terakhir), beliau mengajak saya ke gramedia untuk MEMBELIKAN bukunya (membeli dan kemudian memberikan untuk saya:)). Empat buku saya peroleh dari beliau, senang rasanya mendapat oleh-oleh buku dari banjarmasin, langsung pula dari penulisnya. Dalam situasi terburu-buru (maklum, EWA kan orang sibuk, tapi masih dapat menyempatkan untuk bertemu, luarbiasa!), beliau menanyakan apakah saya sering menulis, saya jawab saya ingin sekali menjadi penulis tapi masih belum ‘menelorkan’ karya. Saya bilang saya senang berbicara. Beliau menimpali dengan santai “kalo suka ngomong berarti mudah jadi penulis”, saya kaget lalu bertanya “apa pak?!” beliau jawab -masih dengan gaya santainya- “ya, tinggal tulis aja apa yang diomongin”. saya terdiam, meresapi kata-kata ’santai’-nya..

    sekelumit cerita diatas dapat menggambarkan bahwa EWA memang LUAR BIASA, ungkapan-nya sederhana, dengan gaya santai pula!, namun mampu memberikan motivasi.. mungkin juga beliau tidak menyadari bahwa ’secara tidak sengaja’ telah memberikan motivasi.

    motivasi itu berlanjut ketika saya baru saja sampai di bandara soekarno-hatta, ada pesan singkat dari EWA “sudah buka web saya belum?”..

    EWA, mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi, yang pasti saya sudah ingatkan beliau, “jangan lupa pak, kalo ke jakarta kabari saya,mudah-mudahan kita bisa bertemu” :) jawaban beliau mudah ditebak.. “yoi!” hehe, EWA memang nyentik..;p

    mudah-mudahan EWA tetap menjadi motivator sejati, tanpa pamrih.. tanpa tanda jasa.. pahlawan tinta..

    wassalam.

  13. By windede on Jul 21, 2007 | Reply

    wah, ini bakal jadi top posting deh bulan ini. kalau kata pengantarnya saja ditanggapi sedemikian heboh, saya yakin bukunya nanti bakal lebih heboh lagi. jangan lupa om, di cover bukunya ditulisi juga nama penulis pengantar, biar numpang beken… * narsis mode on *

  14. By sandi firly on Jul 22, 2007 | Reply

    Komentar untuk buku Menulis dengan Gembira

    Bagi Ersis Warmansyah Abbas, menulis “tak ada matinya”. Dia seperti heran bila ada orang yang tidak mau menulis atau tidak bisa menulis. Barangkali itulah, mengapa kali ini dia membuat buku “Menulis dengan Gembira”, bahwa menulis itu adalah senang-senang, kegembiraan, asyik-asyik… Nah, siapa yang tidak mau?

  15. By Muhammad Arsyad on Jul 22, 2007 | Reply

    Bang Ersis, begitulah sapaan akrab saya pada sosok yang nyentrik ini. Bagi saya, dosen FKIP Unlam Banjarmasin ini tak sekadar motivator dalam hal menulis, beliau juga adalah guru saya dalam membangun kepercayaan diri, tampil pede, apa adanya.

    Pertemanan (saya lebih suka menyebutnya persaudaraan) antara saya dan bang Ersis bermula dari pekerjaan saya sebagai wartawan di Radar Banjarmasin. Tepatnya, ketika saya dapat tugas liputan di wilayah Banjarbaru dan sekitarnya.
    Seperti juga Boss Erwin (Boss saya, guru, saya, sekaligus juga motivator), pada awal-awal pertemanan, saya sempat ber-shu’uzdon kepada pria suka bercelana jeans ini kemanapun pergi.

    “Jangan-jangan dia mau berteman saya, lantaran saya wartawan Radar Banjarmasin dan kebetulan dipercaya untuk memegang halaman opini”, begitu terbersit dibenak.

    Tapi, seperti Boss Erwin bilang, pertemanan Bang Ersis memang tulus. Meski tak ada tulisannya masuk di halaman opini, Bang Ersis tetap sering menjemput saya ke kantor usai kerja, sekadar menemani makan malam atau mengajak diskusi dengan Bang Rudy (walikota Banjarbaru)

    Karenanya, bukan lantaran “disogok makan itu yang lantas memuluskan langkah Bang Ersis untuk menyalurkan, sekaligus menyebarkan “virus” menulisnya, sehingga bisa saban minggu tulisannya masuk Radar Banjarmasin, saat halamannya masih saya pegang.

    Tulisan Bang Ersis bisa sering muncul di Radar Banjarmasin, pertama, karena memang sangat susah dapat tulisan dari penulis lain di Kalsel. Kalaupun ada yang berminat, selalu diawali dengan pertanyaan “berapa saya dibayar untuk satu tulisan?”. Sementara, Bang Ersis ketika ingin mengirimkan opininya, cuma bilang, “bisa masuk ga?” atau “kapan giliran tulisan saya dimuat?”.

    Kedua, saya suka memuat tulisan Bang Ersis, lantaran isinya memang menarik, faktual, mengalir begitu saja, dan kadang sedikit “nakal”. Tema-temanya juga beragam, kadang agak provokatif.

    Menghargai karya intelektual itu penting, tapi sungguh saya tak melihat Bang Ersis begitu “bernafsu” untuk mendapatkan nilai materi dari tulisannya, seperti beberapa teman penulis yang pernah saya temui.

    Nah, kalaupun kemudian, dia minta nanti bukunya dibeli, bukan dibagikan secara gratis, saya yakin, itu bukan lantaran Bang Ersis ingin kaya dari hasil karyanya. Sebab, setahu saya, dengan hasil panen ikan di kolam dan penjualan ternak ayamnya saja, Bang Ersis sudah bisa mengepulkan asap dapurnya.

    salam dari jauh.

    Muhammad Arsyad
    Murid surawin yang sekarang lagi mendedikasikan diri untuk membangun Kalteng melalui Kalteng Pos dan Radar Sampit.

  16. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jul 23, 2007 | Reply

    Di dunia nyata saya juga mengenal virus ‘merah jambu’, biasanya menjangkiti para aktivis kebaikan yang agak ‘longgar’ keterikatannya dan kurang kontrol. Tapi virus ala EWA ini lain, saya terkena virusnya dan bahkan lebih dari itu virus nulis saya sengaja tularkan ke lingkaran terkecil saya -istri dan anak-anak- tapi juga saya tularkan ke lingkaran agak besar dan nanti bakal berlanjut terus ke lingkaran terbesar saya. Yang menarik virus ini begitu cepat merasuk ke jalma manungsa, istri saya sebagai buktinya. Dia sekarang jadi penulis yang lumayan produktif paling tidak terus menulis.
    So jangan lupa, Sampeyan yang membaca ini segera tularkan diri anda dengan virus EWA ini.

    Salam dari saya, Irsan

  17. By ahmad habol on Jul 23, 2007 | Reply

    Pak Windede, di mana saya bisa dapatkan buku beliau?

  18. By Willy Ediyanto on Jul 23, 2007 | Reply

    Menulis. Menulis menurut saya adalah sebuah kebaikan. Menyebarkan virusnya, akan menjadi lebih kebaikanlagi. Kebetulan di daerah saya juga ada sebuah koran lokal baru berusia setengah tahun yang kesulitan mencari penulis. Ssaya juga seperti EWA, diminta untuk terus menulis. Ketika suatu saat saya menanyakan “ada honornya nggak?” sesaat kemudian saya merasa berdosa. Apalagi ketika seorang wartawan dan seorang staf keuangan datang ke tempat kerja dan menyerahkan voucher makan. Malu rasanya. Tapi kemudian saya ambil hikmah dan manfaatnya untuk mengikuti jejak EWA - memotivasi orang lain untuk menulis. Setidaknya ada dua orang kawan yang mulai mengikuti menulis walaupunbelum sampai menghasilkan karya. Baru sampai mencoba menuangkan tulisan dalam konsep. Kekurangan saya adalah memotivasi dengan menanyakan tulisan yang sedang dikerjakannya. Hari ini, 23 Juli 2007, setelah sekitar tiga bulan tidak menulis untuk koran, tulisan saya muncul lagi. Ini ternyata juga memotivasi kawan yang lain untuk menulis.
    Seorang redaktur di harian lokal bahkan mengajak saya untuk membina anak-anak sekolah dalam bentuk mengadakan pelatihan kepenulisan. Segera saya menyambutnya. pada awal Agustus 2007 insya allah akan segera berjalan. Itu tadi, karena sulit mencari penulis/sastrawan.
    Ngelantur, ya? Tapi ya itu tadi. Menulis membersihkan otak kita dari beban. Tidak perlu membebani lagi dengan aturan yang diajarkan guru di kelas - lho, padahal saya kan guru Bahasa Indonesia juga - karena itu akan menghamat penulisan. Mencoret kesalahan kemudian memperbaikinya, itu lebih mendidik daripada menutupi kesalahan tulisan dengan cairan koreksi. Karena dari sana, anak, kita bisa belajar dari kesalahan. Kelemahan pendidikan menulis di sekolah-sekolah sebelum kurikulum 2004 adalah idak memberi arahan untuk memberikan penilaian proses. Saat ini pun masih banyak guru yang hanyamau menerima karangan/pekerjaan siswa yang bersih tanpa coretan. Gurauan saya untuk yang ini adalah, “Ya di tip eki (di-tipe-ex-i) saja dulu semua permukaan kertas, baru ditulisi, daripada sedikit-sedikit tip-ex.
    Serius benar ya komentarnya?!

  19. By bambang subiyakto on Jul 25, 2007 | Reply

    tulisan itu sebuah keluaran dari apa yang telah masuk terlebih dahulu pada diri manusia. manusia itu memang makhluk canggih sekaligus misterius. kalau masuk air keluar kencing, kalau masuk makanan keluar tahi, kalau masuk informasi keluar ucapan dan tulisan.inilah yang membedakan manusia dari binatang.ersis atau ewa mamang manusia, manusia sesungguhnya yang canggih sekaligus misterius itu. dia bukan hewan yang hanya bisa kencing dan berak. dia hewan plus karena bisa bicara dan menulis. dia mampu minum, makan, dan menyerap informasi sama banyaknya secara seimbang, heibatnya keluarannya pun sama banyak seimbang pula. Nah, teman-teman kebanyakan kita barangkali banyak minum dan banyak makan akibatnya banyak kencing yang bikin pesing dan pusing serta banyak berak yang bikin mual dan jijik. tetapi banyak orang juga perutnya menjadi buncit dan matanya pucat berair karena rupanya banyak menerima informasi tetapi tak satu pun dapat dikeluarkan. padahal, mulutnya tidak gagu dan tangannya tidak buntung, tetapi heibatnya walau kepalanya dibentur sejuta godam ia tidak gegar otak. ia tidak mungkin gegar otak karena otaknya tidak ada. kalau sudah begini maka tidak ada bicara tidak ada tulisan, he he he.
    maaf ya bung erwin. gimana kalau kita pesan kepad ewa. wa, kalau minum jangan sampai mabuk -terkencing-kencing maksudnya, kalau makan jangan sampai sakit perut, dan kalau menerima informasi yang baik-baik aja gitu loh, he he he. semoga kita mampu banyak menyerap informasi tetapi sekaligus juga mampu mengeluarkan banyak tulisan seperti ewa. saya memang cemas juga. banyak menyerap informasi tapi tidak pernah dikeluarkan bisa gendeng. biarkanlah saya menyamakan antara kencing, tahi dan tulisan, hi hi hi. salam untuk semua.

  20. By syaharuddin on Jul 27, 2007 | Reply

    apa yang diungkapkan windede terhadap bakal buku EWA yang baru “menulis dengan gembira” saya pikir tidak terlalu berlebihan. Saya hanya ingin mengatakan bahwa semua kita diberi potensi seperti juga potensi kehebatan EWA dalam menulis. Namun mungkin kita saja tidak mau dan mampu menjalankan potensi itu, wong sama-sama ciptaan Tuhan kok! Namun perlu juga diingat, EWA “Raja Baca” tiap hari dia harus melalap minimal empat koran (lokal dan nasional), majalah plus buku-buku terbaru dari segala jurusan –sastra, psikologi, pendidikan, politik, deelel. Oleh karena itu, sangat mustahil rasanya juga ketika kita ingin mengikuti langkah EWA namun kita malas membaca. EWA bagi saya telah banyak memberikan motivasi dalam dunia tulis menulis bagi kita semua, dan saya berharap tetap dapat mendapat bimbingan dari beliau –semoga EWA tidak bosan–

Post a Comment