Melayang Perih

18 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Hanna Fransiska 

AKU teringat adik. Menyayangi adik melebihi sayangku pada diri sendiri. Tetapi, di sisini, dari Jakarta aku mengirim marah, benci, bahagia, sayang, beraduk jadi satu. Ah … apa salah adik bila menikah? Bukan. Bukan. Bukan karena adik melangkahi. Tapi. Tapi, aku tidak bisa melihat secantik apakah adik dengan gaun pengantinnya. 
 
Aku ingin mengantarnya, ingin mengepang rambutnya, ingin merias secantik Cinderella,  mencium pipinya, mengelus rambutnya, memeluknya menyatu dalam bahagia. Lalu, biarlah dia pergi, pergi ke dunia yang dia cari, pergi menggapai mentari, keindahan pelangi.
 
Aku merintih. Sakit. Perih. Ngilu. Ingin berteriak sekencang-kencangnya. Pikiran menegur, aku bukan kehilangan adik, tapi kehilangan diri sendiri. Ah, kehilangan diri?
 
Kukirim pesan kepada angin: ”Wahai angin nan lalu … ku tak peduli seberapa jauh kau menerbangkan adikku, terbangkanlah dengan kelembutan, antarkan sampai ke pintu kebahagiaan, lalu menjauhlah darinya”.
   ***

KERINDUAN adalah hidupku. Namun, ibu tega-teganya mempermainkanku. Pikiranku melayang ke kejadian beberapa bulan lalu. Bagaimanapun aku adalah anak ibu.
 
Malam itu, ketika sedang asyik membaca telepon berdering. Ketika kuangkat suara ibu mendayu: “Pulangah. Ayahmu sakit keras. Dia ingin kamu pulang”.
 
Aku tidak bisa tidur. Pikiranku disedot ayah. Ayah yang lembut. Ayah yang tidak penah berteriak. Ayah yang selalu membendung air mata di matanya. Hanya, sekadar untuk tidak kami lihat. Ibu adalah penguasa tunggal keluarga. Aku rindu keluarga. Ingin segera sampai ke rumah.
 
Subuh aku sudah di bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Hatiku tak menentu, aku tidak menikmati perjalanan pulang kali ini. Padahal, aku merindukan keluarga, mengimpikan Singkawang. Semuanya dikalahkan bayangan ayah. Perjalanan Pontianak Singkawang begitu menjemukan, yang ada di pikiran cepat sampai di rumah dan menemui ayah. Aku ingin bertemu ayah.
 
Sesampai di rumah langsung masuk. Sepertinya tidak ada tanda-tanda merisaukan. Tidak ada yang berubah, kecuali rumah sudah diperbaiki disana sini. Yang berubah justru aku.
 
E … adengan apa ini? Begitu kakiku menginjak lantai rumah, aku muak. Tiba-tiba mau muntah. Aku disambut Si Mantu Ibu. Kenapa dia yang menyambutku? Kemana ayah. Ayah. Aku pulang karena ayah. Aku menuju kamar ayah. Tidak ada ayah disana.
 
Kukitari rumah. Ke belakang, dan …  ayah duduk diam di kursi lapuk belakang rumah. Tatapannya penuh misteri. Kesedihan membayang di wajahnya. Matanya memerah dan berkaca-kaca. Galau adalah hantaran hatinya.
 
”Ayah. Ayah baik-baik saja kan? Ayah sakit apa? Apa sudah ke dokter?
 
Pertanyaanku terhenti dipelukan ayah. Hangat kasih mengaliri jalan darah. Aku merasa begitu damai, begitu bahagia.
 
“Ayah, sakit?”.
Ayah mengeleng-gelengkan kepalanya.
”Ayah baik-baik saja. Tidak ada yang sakit, kecuali ini”, katanya menunjuk ke dadanya.
”Ada apa, ayah?”.
”Nanti kamu akan tahu”.
 
Puas bercakap-cakap dengan ayah, kutaroh tas di kamar. Baunya masih sama, dekorasinya masih sama, penuh bunga buatanku semasa sekolah. Ada kerinduaan yang tersimpan disitu. Teringat tawa adik yang manja yang selalu memintaku bercerita, yang membuatku berteriak-teriak. Lalu, kami tertawa bersama.
 
Aku keluar kamar mencari ibu. Kemana ibu? Kenapa Mantu Ibu ada disini? Aku tidak ingin berpikir lebih jauh. Kubiarkan dia sendirian. Ke luar rumah menatap rawa-rawa. Kebun kangkung yang dulu menemani di setiap santapan kini tertutup pohon keladi, rumput-rumput pun meninggi. Pohon mangga rontok dedaunnya. Semua sudah berubah. Kecuali rumah kami yang diperbaiki sekadarnya.
 
Tiba-tiba Mantu Ibu menyapa: “Selamat datang di kampung”, katanya hampir-hampir tak terdengar. Aku diam saja.
“Ibumu yang menyuruhku datang”.
”Terus?”, tanyaku pendek.
“Ibumu bilang kita akan bersama”.
”Ingat kata-kataku dulu?”, aku balik bertanya.
“Tapi, apa salahnya sih, mencoba”.    
“Mencoba? Apa yang mau dicoba. Cinta bukanlah game. Dan, aku bukan tikus percobaan. Aku mohon, lupakan aku”.
 
Si Mantu Ibu mengeleng-gelengkan kepala. ”Dasar lelaki … Karena … aku membencimu. Cintamu yang membabi buta membunuh masa depanku. Cintamu menusuk hangus jantungku. Lepaskanlah aku”, aku bicara setengah berteriak. Kesal, benci, dan tidak tahu harus mengatakan apa, kecuali memaki penuh amarah.
 
“Tidak. Melepaskanmu itu baru kebodohan. Aku akan membuatmu mencintaiku. Jangan minta aku melupakanmu tetapi berilah kesempatan. Aku menerimamu apa adanya. Menunggumu sekian lama bukanlah hal yang mudah”

Aku semakin marah, emosi semakin terpantik. Sunguh marah:
”Siapa yang menyuruhmu menungguku?”.
”Hatiku dan ibumu”.
”Kenapa mendegarkan kata ibu. Yang kau inginkan aku atau ibu? Hatimu sedikit pun tidak ada sangkutnya denganku”.
 
Dia terlihat tenang dan teramat sabar. “Ada. Tentu ada. Melihatmu membuat detak jantungku berdesir merambat ke ubun-ubun. Tidak melihatmu membuat makan tidak enak, tidur tidak nyaman, duduk salah berdiri resah”.
 
Aku tidak ingin berdebat. Masuk rumah dan ke kamar. Pintu kamar kututup rapat-rapat.
 
Ibu datang dengan wajah tanpa dosa. Ibu telah berubah. Apakah ibu telah menjadi serakah? Ibu ingin menikahkan anaknya dengan  orang kaya. Tanpa peduli anaknya setuju atau tidak. Aduh ibu. Kog ibu jadi begini sih, aku membatin.
 
Aku ingin segera kembali ke jakarta. Tapi, ibu sudah berencana. Uangku diambilnya. Tidak boleh keluar rumah. Menunggu hari tiba, menunggu Mantu Ibu membunuh hatiku, masa depanku. Rumahku, Singkawangku, kini berubah menjadi neraka. Aku dibakar ketidakberdayaan, sesuatu yang tidak terlintas di mimpi sekalipun.
   ***

PERCEKCOKAN antara aku dan ibu menjadi gosip subur dan panas. Aku tak perduli. Masa depanku pertaruhannya. Aku merasa kehilangan sosok ibu, curahan hati dan yang menyayangi seja kecil. Semua gara-gara Si Mantu Ibu.
 
Ayah tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya diam, dan diam. Ibu mengatur semuanya dengan seksama. Aku tak mau kalah. Diam-diam menyusun taktik. Melawan ibu bukankanlah jalan yang baik. Kuturuti keinginannya, berpura-pura baik dengan Mantu Ibu.
 
Sejak itu kami pergi makan bersama, nonton bareng, jalan-jalan. Pokoknya seperti orang pacaran. Tentu dengan catatan, dia tidak boleh menyentuhku.
 
Sejujurnya, aku muak melihat wajahnya, nek dengan tatapan dan senyumannya. Tetapi, harus belajar dengan kesabaran tinggi. Berwajah manis tentu lebih baik agar bisa lepas dari cengkeramnya. Hasilnya mengembirakan, aku diperbolehkan kerja. Namun, harus menjadi hamba ditokonya.
 
Tidak apa, sabar itu cerdas, kata orang bijak. Sabar menunggu hari baik tiba. Aku bertingkah dengan bahasa kasar, dan adat jelek di toko agar dia melihat semua yang tidak baik dari diriku. Tetapi, nampaknya salah melangkahkan buah catur.
 
Bukan marah atau jengkel jawabannya, tetapi kasih sayang. Aku dilayani dengan sangat baik. Bagaimanapun aku seorang wanita, wanita yang akan kalah disentuh rasa. Ada perasaan terharu. Aku minta maaf dalam hati.
 
Dia lelaki matang degan kesabaran sempurna. Aku mulai menyukainya. Jatuh cinta? Kalau itu tunggu dulu. Cinta? Aku memang mulai menyukainya, bukan mencintai.
 
Teman-teman memujanya bak Tom Cruise. Aku membenci. Membenci? Ya. Setiap saat dia siap mencabut hidupku dari duniaku. Itulah manusia pertama yang kubenci.
 
Sebaliknya, kebaikannya tidak terkira. Hadiah-hadiah mengalir bak air sungai. Ya, dia juga orang terbaik yang pernah kukenal. Tetapi, urusan cinta tidak melulu soal baik atau tidak baik, cinta adalah soal hati. Sesuatu yang tidak bisa diselami siapa saja, kecuali yang oleh yang memiliki cinta itu sendiri.
 
Tingkahku yang seharusnya membuatnya marah sampai tidak mengindahkan sapaan tidak membuatnya surut. Jangan-jangan dia telah buta dengan cintanya. Sesungguhnya cinta adalah paduan dua pilahan hati manusia. Di hatiku tidak ada pilahan Si Mantu Ibu. Itu soalnya.
 
Ah, pelet apa yang hinggap pada diri ini.  Si Mantu Ibu selalu bicara sopan dan tidak pernah marah. Kadang aku bingung, dia manusia atau bukan? Tenang dan dewasa. Lelaki ideal, kata teman-teman.
 
Aku blingastan sendiri. Pernah mengancam ibu akan bunuh diri, tapi tidak mempan. Pernah, melakukan hal sangat konyol, bermesraan di depannya dengan seorang teman yang kuminta dengan menyembah-nyembah melakukannya. Si Mantu Ibu, tenang-tenang saja. Seolah-olah tahu isi otakku. Pura-pura saja.
 
Tidak dapat tidak, aku tidak bisa menyelesaikan masalah sementara harus menyelematkan kehidupan. Aku tidak mau menikah kalau tidak berlandaskan cinta.
 
Sepucuk surat kutinggalakan. Mohon ampun maaf ibu dan ayah. Aku terlalu banyak melukai orang-orang yang selalu baik. Kini, bila tidak seorang pun menyayangi lagi, itulah hukuman, dan siap menanggung resikonya.
 
Mantu Ibu tentu teramat kecewa. Seminggu setelah kepergianku, aku mendengar kabar pernikahannya dari surat seorang teman. Meski membencinya, kupanjatkan doa, semoga mereka berbahagia.
 
Tetapi, pernikahan tersebut hanya bertahan enam bulan. Lalu, menikah lagi. Konon, dia sangat marah kepadaku dan ingin menunjukkan masih banyak wanita lain yang menyukainya. Aku menulis sepucuk surat memohon maaf dan jujur menagatakan, tidak pernah membencinya dengan sungguh-sungguh. Aku bersimpatik, menyayangi, tetapi tidak untuk mencintai.
 
Sesungguhnya berteman jauh lebih indah. Kita bebas bercengkrama, bercurhatria. Sampai, suatu kali aku mengunjunginya, mohon maaf, menjabat tangannya melambangkan kesucian hati. Kami sepakat, berteman jauh lebih indah
 
Jakarta, 25 Juni 2007

  1. 6 Responses to “Melayang Perih”

  2. By budi gunawan jaya on Jul 18, 2007 | Reply

    cici smga cita2 u tercapai ya….g jg sayng ma u….smgat ya…

  3. By budi gunawan jaya on Jul 18, 2007 | Reply

    yap bertman itu lebih indah krna tman adalh embun yang membasahi hidup kita,akan mengobati luka,akan menyirami kita ketika kita kering,bagai hutan yang tersirami….maka bhgialh arti sebuah pershbtan…..

  4. By Dp on Jul 18, 2007 | Reply

    Kata orang, “Kejamnya dunia, tak sekejam ibu tiri.” Tapi ini lebih lho

  5. By Yamin S on Jul 19, 2007 | Reply

    Dalam artikel MELAYANG PERIH, kalimat ” Hatimu sedikit pun tidak ada sangkutnya denganku” ini salah fatal, karena tidak sesuai alur cerita : mula-mula kamu tidak cinta atau tidak mau terima cintanya, tidak logika menanyakan apapun yang sangkut paut dengan “hati”. bila penulis sependapat, maka jawaban dia setelah kalimat itu harus hapus semua. walaupun anda mempertahankan ini, posisinya pun harus setelah “sandiwara” pergi makan, nonton bersama dia. sorry, bila ada kata saya yang tidak berkenan hati anda. salam dari yamin S

  6. By Maghfira Mimi on Jul 19, 2007 | Reply

    ya teman kedengarannya lbh indah…indahx bisa berbagi rasa. Jia You!

  7. By cor2 on Jul 23, 2007 | Reply

    uhm…. past story me2 mang rumit yar,,
    salut ma cowo yg suka ma me2^^ sayang na batu..
    akhirna melukai diri na ndiri. coz cinta itu kan ga bs dpaksa
    cool aunt, keep going yar.. ^^
    miz miz y aunt,,

Post a Comment