Kepada Matahari
18 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Hanna Fransiska
MATAKU tidak mau terpejam. Tanggis bayipun tak kuhiraukan. Hujan badai dini hari tak mampu mendinginkan kepala yang terus, dan terus berdenyut menghantar kepedihan. Aku tidak membayangkan, Jakarta begitu kejam. Mungkin benar kata orang, sekejam-kejamnya ibu tiri, lebih kejam ibukota.
Terbayang wajah ayah, ibu, kakak, dan adik-adik yang selalu menyayangi. Terbayang indahnya kehidupan keluarga dalam derita tidak bertepi. Miskin namun bahagia. Semua itu hilang entah kemana. Tidak berbekas. Kini aku di Jakarta. Jakarta yang menantang ketangguhan.
Kini, di Jakarta, semua hal buruk adalah kehidupan itu sendiri. Entah apa yang mendorong, aku berlari ke luar, memanggil ojek ke toko obat. Dua puluh butir obat tidur dalam genggaman. Sesampai di rumah kutelan sekali teguk. Dalam hitungan menit badan terasa lemas, mata tidak bisa dibuka. Melayang dalam diam.
”Cepat! Masukan ke mobil”, hanya itu kata-kata yang tergingang di telinga. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa lagi.
“Sus, nanti setelah dia sadarkan diri, kasih minum obatnya ya”, sayup-sayup terdengar suara dokter memberi tahu perawat.
Perlahan aku membuka mata sembari mencoba bagun dari tempat tidur. Tetapi, tidak ada tenaga. Jangankan berdiri, menggerakkan jari saja tidak sanggup. Hanya mata yang bisa digerakkan. Rupanya aku di rumah sakit.
Dua hari dua malam terbaring tak sadar, tanpa makan, hanya infus yang memberi asupan makanan. Pantas lemas begini. Mataku kosong. Hidup tidak ada arti lagi. Aku marah, marah, dan marah. Aku benci dunia, dan benci kehidupan. Aku membenci diriku sendiri. Lagi pula, siapa yang peduli? Hanya setan.
Setan? Ya, hanya setan. Setan memberiku semangat, keberanian, dan kepastian. Setan sangat peduli. Dibisikkannya, dibujuknya agar segera menempuh hidup baru. Aku berteriak histeris. Kucabut infus kemudian berlari sambil berteriak-teriak. Kubenturkan kepala ke dinding. Darah segar mengalir. Beberapa orang Satpam menenangkan dan memegangiku. Sebuah suntikan mendarat di pantat membuat lemas. Ingin melawan tapi tak kuasa. Akhirnya tertidur.
Entah berapa jam aku tidak tahu. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, dan …:
“Halo, ibu”, sapanya lembut.
“Sudah baikan ya. Sekarang apa yang ibu rasakan? Coba ceritakan apa yang terjadi? Saya akan membantu. Ibu jangan teriak-teriak lagi, nanti kalau dipindahin ke RS Grogol kan ngak enak”, katanya antara menenangkan, meninginterogasi, dan mengancam.
Lama aku terdiam. Akhirnya keluar teriakkanku: ”Saya benci dokter. Benciiiiiiiiiiiiii”.
”Lho, dokter salah apa sama ibu?”, suaranya justru semakin lembut.
”Kenapa dokter tidak membiarkan saya mati. Kenapa dokter menyelamatkan saya?”.
Dokter itu tersenyum: ”Sudah tugas saya menyelamatkan nyawa. Ibu mestinya bersyukur. Ada yang meminta-minta diselamatkan, tetapi malah tidak selamat. Mungkin takdir Tuhan belum memanggil nama ibu”.
Tuhan? Tuhan yang membuatku begitu tidak berharga? Aku diam membisu, pikiranku sedang tertawa dengan setan. Setan teman akrabku.
“Pak, ada yang ingin saya bicarakan”, kata dokter kepada suamiku. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Apa peduliku, dan apa peduli suamiku. Semua itu tak berguna.
Seminggu dirawat aku sudah kuat dan boleh pulang seklipun harus kontrol setiap minggu. Jiwaku tidak boleh terguncang lagi. Sepuluh tablet obat penenang menjadi sangu.
Aku kehilangan diri. Menyesali hidup. Suami sedikit berubah. Agak baikan. Bicaranya mulai lembut, tidak lagi kasar. Hanya saja, semua itu berumur beberapa bulan.
”Tidak ada yang bisa menegur apa yang kukerjakan. Apalagi kamu yang masih bau kencur. Sejak awal sudah tahu, aku suka minum. Maunya kamu apa? Yang penting kewajiban sudah kutunaikan”.
Aku semakin stress. Depresi. Trauma. Begitu kata dokter. Terlalu muda untuk memikul beban batin. Aku mengurung diri di kamar. Sibuk mendegarkan bisikan setan.
Tiba-tiba mataku bersirobok kitab suci lumutan yang kubawa dari Singkawang. Aku membuka dan membacanya. Semalaman. Air mata menetas satu persatu. Aku mulai sadar. Tuhan kembali bersamaku. Aku harus bangkit.
***
PAGI yang cerah. Aku berbicara kepada matahari, mulai hari ini lebih serius belajar darimu, matahari. Tersenyum, disiplin, tanpa peduli angin yang menganggu, awan hitam yang menyerbu menutup kemilauan cahayamu, orang-orang yang tidak berterima kasih diberi penerangan malahan mengumbar sumpah serapah karena kepanasan.
Engkau tak pernah marah, apalagi menyerah. Tidak iri pada bulan dan bintang. Tidak serakah. Bila malam tiba mengalah suka rela. Bagaimana bisa, aku yang dikaruniahi akal dan perasaan kamu kalahkan. Gandenglah tanganku, bangunkan aku, ajaklah berjalan dibalik sinar terangmu agar tidak berjalan di kegelapan.
Kondisiku berangsur-angsur pulih. Aku bicara dengan suami dalam diskusi tentang hidup dan kehidupan. Aku menerimannya apa adanya, seperti dia harus menerimaku apa adanya. Aku ingin menjadi diriku yang dulu. Saatnya berjuang bahu-membahu.
Aku diperbolehkan bekerja, tapi dikantornya. Perusahaan suamiku memang perusahaan kecil. Tetapi aku punya modal besar, keuletan, kejujuran, dan kedisiplinan. Anugerah yang diraih dengan perilaku. Aku bertekad mengembangkannya.
Berbagai tawaran kerja sama datang bertimbun-timbun. Kami mulai mengembangkan sayap. Hanya saja, dia tidak bisa melupakan dunianya, asyik minum-minum. Gilaku sembuh, gilanya kambuh. Dia tak peduli lagi dengan usahanya. Setelah aku mampu mengelola yang dikontrolnya berapa keuntungan per bulan.
Seperti janjiku pada mentari, aku tak akan serakah. Usaha kami berkembang pesat. aku sudah menang satu langkah. Aku tidak mau berdebat atau marah-marah. Mungkin selama ini kurang meperhatikan, kurang mencintai hingga membuatnya lebih dicintai kehidupan malamnya, memuaskan diri dengan minum-minum. Tugasku membimbing ke jalan seharusnya.
Aku menyiramkan kasih sayang, memberi pencerahan. Dasar lelaki keras kelapa, e … kepala. Tapi aku tidak menyerah. Temperamentalnya tidak berkurang. Salah tidak salah, aku tetap salah. Tidak pernah benar.
Terkadang, terbesit di pikiran untuk bercerai. Cerai tentu urusan mudah. Aku masih muda. Tetapi, kalau kulakukan berarti kalah.
Hidup bukan untuk disesali. Hidup untuk ke depan bukan ke belakang. Cemoohan orang-orang bermuatan pelajaran. Belajar dari cemoohan membuat kuat, berkat mereka bisa mengapai mentari. Kata orang biajk pengalaman adalah guru terbaik.
Pada hari ulangtahunku membawa suami ke panti kepanti asuhan berbagi kasih ke anak-anak jalanan. ”Lihatlah mereka. Kita hidup berlimpah harta, tetapi tidak mensyukuri rahmatNya, menikmatinya untuk kebahagiaan semu belaka. Mereka susah namun begitu mensyukuri sebungkus nasi bungkus”.
Wajahnya berubah, aku tak mau melepaskan kesempatan ini. ”Lihatlah, untuk sebungkus nasi mereka berulang kali mengucapkan rasa terima kasih. Besok, lusa, atau nanti mereka akan selalu mengingatmu sebagai orang yang berbaik hati”.
Aku sudah berbulat rekad, bekerja sungguh-sungguh dan menggadaikan hidupku untuk berbagi, membahagiakan orang lain. Aku ingin mereka merasakan kasih sayang yang tulus.
”Ala, pura-pura baik, sok mencari perhatian atau sudah tobat takut dihukum Tuhan”, komenatr beberapa orang. Mereka punya mulut, silahkan saja. Semua kujawab dengan senyum. Yang kutakutkan hanya Allah, bukan apa yang diciptakanNya.
Hidup nyaman bersama setan tidak kekal. Aku menjauhi dan memusuhinya. Hari-hari kujalani untuk bekerja dan bekerja. Kepada istri pertamanya, aku memohon pengampunan. Sebagai bukti ampun dan tanggung jawab, aku mengubah suaminya dan suamiku hidup di jalan yang benar.
Lima tahun berjalan, kami dikaruniahi empat anak yang lucu-lucu dan pintar. Aku memang kewalahan mengubah gaya hidup ayah mereka. Semua itu, kesedihan, rasa pilu, dan derita batin kugoreskan di buku harian. Suatu hari secara tidak sengaja dibacanya. Sungguh ajaib. Entah terharu atau baru sadar penderitaanku, suami berubah, dunia malam kini muali ditinggalkannya.
Mentari membimbingku, Allah melimpahkan rahmatNya ketika taubat kujalani dalam laku. Aku berlindung dipelukkan kasihNya.
Takkala teman-teman mendirikan sebuah yayasan sosial, aku mendorongnya tidak jemu-jemu. Kini, dia asyik dengan dunia baru dalam berbagi kasih dengan orang-orang yang perlu dibantu. Dunia barunya adalah hijrah yang merubah, bukan saja kehidupan, tetapi landasan kehidupan itu sendiri, bagaimana memandang hidup dan kehidupan.
Aku bersyukur, berkat ujian beratnya dapat hidup dengan baik. Istrinya pertamanya tidak lagi menggugat, tetapi menyayangi anak-anakku. Bahkan, ketika lebaran tiba, aku memilih sendirian di rumah karena anak-anakku pulang ke rumah sana. Aku tak ingin merusak suasana, kehadiranku bisa membuka lama. Aku sudah terlatih untuk mengalah, dan mengalah. Sabar dan kesabaran memang sangat dahsyat hasilnya. Sabar itu cerdas memang. Sangat cerdas.
Aku pernah melakukan kebodohan. Kebodohan tidak mensyukuri apa yang didapat. Terlahir dari keluarga susah tetapi tidak lulus ujian dunia, kini berjanji pada diri sendiri, tidak akan melakukan kebodohan lagi. Cukup sekali berbuat konyol. Hidup adalah pelajaran. Hidup adalah guru kehidupan paling sempurna. Kini, aku sedang dan selalu berguru pada kehidupan.
Hidup akan berarti kalau kita buat berarti. Di dunia ini tidak ada hal yang sulit. Sebarkan kasih sayang yang ada dalam hatimu kepada semua. Jangan mencela mereka, termasuk yang menghina, karena sesungguhnya mereka tidak sadar. Jadikanlah cemoohan sebagai alat pendorong agar hidup lebih baik. Amin.
Jakarta, 25 Juni 2007










6 Responses to “Kepada Matahari”
By Maghfira Mimi on Jul 19, 2007 | Reply
han…bkn bertahan ya tapi berjuang…oke sipppp! trims atas ralatx. sesama teman saling membantu memberi semangat. Jia You…
By budi gunawan jaya on Jul 19, 2007 | Reply
nyawa cuma st aja,jd hargailah nyawa mu yg diberikan olehNYA…jai yu…….
By mathematicse on Jul 19, 2007 | Reply
Waduh enak dibaca euy tulisannya…. Kapan saya bisa menulis seenak and semengalir tulisan ini?
By Dp on Jul 21, 2007 | Reply
He3. Sabar ya bb! Be calm please!
By aphin on Jul 25, 2007 | Reply
aku cuma bisa berdoa mudah2an ce always bahagia,jangan nangis lagi,jgn mengalah.and tulis lagi cerita kehidupan di dunia yg penuh keajaiban ini.jgn lupa i love you sis,
By Surya on Sep 19, 2007 | Reply
bersirobok kitab suci lumutan yang kubawa dari ‘Singkawang’. Aku juga dari Singkawang dan merantau di Jakarta. Tapi aku tidak membawa Kitab Suci. Tulisan Anda sungguh menyejukkan hati saya.