Genderang Kasih

18 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Hanna Fransiska 

JAKARTA. Aku di perantauan. Rindu kampung, rindu keluarga, rindu orang-orang kampung, rindu masa kecil adalah rindu serindu-rindu. Saat-saat bergotong-royong, ketika ada perhelatan, waktu ditimpa musibah, selalu bersama. Satu kampung satu keluarga.
 
Di Jakarta angin berembus dalam irama yang susah ditebak. Sesama tetangga ada kalanya tidak saling mengenal, sekadar say hello saja. Sibuk urusan masing-masing. Seolah-olah sepakat berlupa-lupa, tetangga adalah saudara terdekat kehidupan. Tetangga telah tergelincir menjadi catatan statistik kelurahan belaka.
 
Jakarta adalah hamparan dataran bagi pejuang kehidupan. Persaingan adalah sinyal bagi yang tidak tahan banting. Jangan sekali-kali datang untuk mengadu nasib. Jakarta seolah-olah hanya untuk petarung kehidupan.
 
Anak-anak jalanan, pengamen, pedagang asongan, para pengangguran di hampir setiap sudut, di lampu merah, di emperan toko, di bis kota. Demi sesuap nasi bermandikan debu, bersiram air hujan, membakar badan di terik sinar mentari.
 
“Kak, minta seribu kak, buat makan. Kasihan kak, dari pagi belum makan”, rengek seorang gadis kecil dengan muka memelas, bibir menghitam gemetaran kedinginan.
 
Aku baru saja keluar dari restoran sea food  Sedap Malam. Mukanya megirim keterenyuhan ke relung hati, mengundang rasa iba siapa saja. Refleks tangan merogoh tas tangan, dan … tiba-tiba dia berkata: ”Kak, makanannya aja”.
 
Terbayang masa kecil. Tapi, … sebungkus kepiting lada hitam bukankah seharga Rp68 ribu? Setan membisik di telinga: ”Anak tidak tau diuntung, dikasih paha minta hati”.
 
“Sudah tinggalkan saja. Itu akal-akalannya saja”. Setan memperkuat argumennya. Kakiku melangkah menjauhi. Tapi, tiba-tiba ada bisikan lembut nurani: “Bukankah dulu kamu juga pernah terngiler-ngiler oleh kelezatan makanan?”. Makanan berpindah tangan.
 
“Terima kasih kak, terima kasih”.
 
Begitu makanan ditangannya tanpa memperdulikan apa saja langsung disantap. Gemeretak geraham berdendang sempurna mengunyah, mulutnya kedap-kedip bak katup mesin memompa oli, matanya bersinar seperti singa lapar, … tidak sampai sepuluh menit yang tersisa adalah kotak pembungkus makanan.
 
Ditemani rintik air hujan aku berjongkok di sebelahnya.
”Adik, tinggal dimana?”.
“Dimana-mana, dimana saja”, sembari jari telunjuknya mengorek sisa makanan yang tertinggal di gigi untuk ditelan.
“Adik sekolah dimana?“.
 
Matanya liar menatap keras. Mendatangkan takut ke ulu hati. Dia tidak menjawab. Menatap tajam dan dalam. Aku tersenyum pahit. kepedihannya adalah kepedihanku.
 
Kuusap kepalanya. Dia tertekun. Selembar uang lima ribuan kusorongkan.
 
”Adik, kalau bisa cari kerja saja. Jangan biasakan menadahkan tangan. Bekerjalah. Apa saja”. Dia menatap dalam. Aku tidak yakin dia paham apa yang kumaksud.
 
Kuusap lagi kepalanya. Ada rasa lega. Ada rasa sedih. Ada rasa gembira. Campur aduk. Aku melihatnya seperti diriku, dulu, ya dulu. Aku tidak mengemis di jalanan, tetapi mengemis agar dapat bekerja. Dari kecil.
   *** 

BEGITU banyak orang susah, begitu banyak yang butuh pertolongan. Apa yang bisa diperbuat orang kecil sepertiku? Uang tidak banyak, kekuasaan tidak punya. Hanya, hanya melakukan hal-hal kecil sekadar pelipur lara.
 
Mengujungi mereka di panti asuhan adalah pengobat diri, menebar empati. Ada yang bergetar di kuala hati, di lubuk kasih, di danau asih. Ada bahagia nan menyelinap diam-diam melihat untaian tawa, wajah ceria nan sulit digambarkan maknanya ketika mendapatkan sebutir permen. Ya, hanya permen. Permen manis, semanis hati mereka yang bersyukur.
 
Aku tidak dapat lagi dicegah, mereka adalah bagian hidupku. Aku meleburkan diri takkala teman-teman sekampung mendirikan perbadanan sosial. Aku bergabung. Hanya itu yang bisa kuperbuat. Aku hanya sebutir pasir di pantai.
 
Lebih membanggakan suamiku ikut bergabung. Hatiku bersorak bukan saja karena para pelopor pulang kampung berbagi beras dan dana, tetapi juga membangun sekolah. Membangun SD, membangun Madrasah Ibtidaiyah wujud peduli sesama, tanpa memandang suku, ras agama, atau yang lainnya.
 
Sekolah. Ya, sekolah tempat anak-anak bangsa yang kurang beruntung didudukkan pada tempatnya, pada hak-haknya.
 
Lamunanku tak bisa dihentikan. Seandainya orang-orang berpunya negeri tercinta ini beramal sungguh-sungguh, menebarkan benih kasih sayang dari waktu ke waktu, masalah sosial akan menjadi mimpi. Aku memang sedang bermimpi. Tapi, aku benar-benar berharap mejadi kenyataan.
 
Kita pantas bersedih. Jutaan anak negeri memerlukan bantuan. Anak-anak putus sekolah. Putus sekolah, lalu putus asa. Lebih menyedihkan lagi mereka yang hanya pasrah. Hanya menunggu nasib.
 
Kalau bukan kita, lalu siapa lagi yang akan menolong? Aku ingin berbagi semangat, semangat hidup. Semangat perjuangan. Keinginan, kemauan, dan semangat juang adalah kehidupan itu sendiri. Hidup adalah perjuangan.
 
Jakarta, 04 Juli 2007.

  1. 10 Responses to “Genderang Kasih”

  2. By Yamin S on Jul 19, 2007 | Reply

    Tulisan anda ini berbeda dengan tulisanmu yang lain, anda menulis sesuai hati nulari dengan damai, tanpa kebencian dan emosi negatif. semoga sukses selalu ikut partisipasi kasanah budaya di negri tercinta ini.

  3. By Al Fahm on Jul 19, 2007 | Reply

    Sungguh indah nian, sejuk hati ini ketika membaca tulisanmu, sebuah tulisan yang sesuai dengan realita saat ini.

  4. By windede on Jul 19, 2007 | Reply

    hebat dan luar biasa….

  5. By Maghfira Mimi on Jul 19, 2007 | Reply

    tiada kata selain LUARRRRR BIASAAAA!!!!!!
    ciii sungguh meyentuh kalbu…hatimu terbuat dari kapas kali… putih lembut dan bersih…..Jia You…

  6. By budi gunawan jaya on Jul 19, 2007 | Reply

    cici ni de ku shi cen hen pang…yap hidup adalh perjuangan..krna prjuangan bs membwa kita kesuksesan….cia yu…

  7. By mathematicse on Jul 19, 2007 | Reply

    Jujur saya belum bisa menulis seperti beginian…

  8. By Wijaya Lindra (Mandarin Plus) on Jul 20, 2007 | Reply

    Aku bukan seorang penulis, juga tdk terlalu mengerti soal menulis. Tp “Genderang Kasih” ini sungguh luar biasa, sungguh menyentuh hati. Alur ceritanya disusun dengan baik, dan pemilihan kata-kata yg tepat menggambarkan keadaan dalam cerita, sehingga orang yg membaca menjadi terhanyut dalam kisah yang tertuang, seakan melihat kedalam hati dan perasaan penulis.
    Saya yakin bahwa tulisan semacam ini merupakan pancaran dari lubuk hati seorang penulis yang sedih dan prihatin terhadap realita hidup ini.
    Bagi saya cerita ini sangat bagus walaupun terdapat sedikit kesalahan kecil saat pengetikan dan tanda baca, di mana itu sangat wajar. Mohon maaf kalau saya berkomentar terlalu banyak.

    Terus berusaha! Jia You!

  9. By sandi firly on Jul 22, 2007 | Reply

    Sandi Firly
    (komentar untuk buku Menulis dengan Gembira)

    Bagi Ersis Warmansyah Abbas, menulis “tak ada matinya”. Dia seperti heran bila ada orang yang tidak mau menulis atau tidak bisa menulis. Barangkali itulah, mengapa kali ini dia membuat buku “Menulis dengan Gembira”, bahwa menulis itu adalah senang-senang, kegembiraan, asyik-asyik… Nah, siapa yang tidak mau?

  10. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jul 23, 2007 | Reply

    Hmmmmm… Yaah begitulah….

  11. By Mega on Nov 9, 2007 | Reply

    baru sempet baca sekarang,,msh banyak tls2an di EWA ini yg blon aku acak2,,baca tulisan ini,,sungguh salut,,ikut kebawa alunan ceritanya.

    ***He he

Post a Comment