Menulis Membelajarkan Diri

17 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

SUATU kali seseorang melayangkan kritik, kalau  menulis, tulislah sesuai apa yang dilakukan? Atau, dalam bahasa yang lebih keras, percuma menulis kalau tulisan tidak sesuai dengan perbuatan. Dalam bahasa agama yang lebih lembut, sesuaikan perbuatan dengan perkataan. Tidak ada yang salah memang.
 
Sebagai orang awam, yang sedang dan selalu belajar, apalagi beberapa waktu belakangan merasa mendapat pencerahan, sedang berusaha memperbaiki diri. Kalau Renald Kasali mengebu dengan Change! (2005), sampai Re-Code Your Change DNA (2007) saya lebih senang menggunakan istilah hijrah. Sedang berproses menghijrahkan hidup dan kehidupan.
 
Dalam pada itu, karena terbiasa menulis, sekalipun sedang dan selalu belajar menulis, muncul pertanyaan, apakah bisa berbuat sebagai apa yang ditulis? Pertanyaan bagus untuk introspeksi diri. Jawabannya, bisa jadi tentatif, yang agak mencemaskan. Jujur saja, meragukan kemampuan.
 
Misalkan begini, saya sungguh dalam kekaguman luar biasa kepribadian Nabi Muhammad SAW.  Air mata menetes dengan sendirinya semisal ketika membaca saat Rasulullah meminta perlindungan ke Taif, yang didapat penghinaan. Dimuliakanlah Engkau ya Rasulullah, limpahkanlah rahmatmu kepada hamba yang yang hidup dan berkehidupan tidak beres ini.
 
Pikiran, perasaan sungguh terdenda, betul-betul ingin meniru cara dan gaya hidup Rasulullah, tetapi dilain sisi sadar, seuatu yang tidak mungkin disalin. Hanya berusaha meneladani sejauh mampu. Sadar, Rasulullah adalah teladan, dan saya tidak ada apa-apanya dibanding manusia pilihan Allah SWT tersebut. Hanya berusaha.
 
Pemahaman tersebut saya tulis, pertama-tama untuk diri sendiri, dan kalau orang lain mau mengambil manfaatnya, itulah tujuan lainnya. Bahwa, melakoni apa yang ditulis, sungguh berat. Saya pasti tidak akan pernah menjadi Rasulullah.
 
Dengan kata lain, sejujurnya mengaku kekurangan, belumlah penganut Islam kaffah. Tetapi, dengan posisi demikian, tidakkah boleh menulis tentang kemuliaan budi pekerti Rasulullah, hikmah-hikmah agama Allah yang begitu sempurna dan mulia? Setidaknya untuk belajar, memperingati diri sendiri, dan atau kalau ada ikwan yang teringat karenanya, apa salah?
 
Sekalipun tidak pada tempatnya mungkin, atau belum pantas, berani mengambil posisi dan resiko, menulis tentang hal-hal agung muatan ajaran Islam, teladan Rasulullah. Kalau ada yang mengingatkan, Alhamdulillah.
 
Itulah yang mendorong menulis seputar sabar, ikhlas, dan banyak lagi. Saya sadar, dalam padanan apa yang ditulis dengan apa yang diperbuat, diskrapensinya mungkin saja menganga, tetapi dalam pada itulah belajar. Tepatnya, apa yang ditulis bukan berarti memahami atau melakukannya secara sempurna. Katakanlah, minimal sebagai pengingat.
 
Perna pula, ketika menulis yang dimaksudkan Nabi Yusuf, tertulis Nabi Musa, ya penulisan serba cepat atau serba tanpa kontrol membawa pesan agar hati-hati. Persis seperti ketika menulis Raffles padahal yang dimaksud Daendles.
 
Dalam kerangka menulis ingin menekankan, menulis itu berarti belajar, pembeajaran diri. Ketika akan menulis tentang Rasulullah membaca puluhan buku tentang junjungan dalam berbagai dimensi. Semakin dibaca semakin tertarik. Setiap ke toko buku, mata melirik kalau ada buku-buku baru tentang Rasullah.
 
Jadi, menulislah sebab dengan menulis kita belajar. Dulu, ketika seorang kawan bercerita tentang Al-Qur’an Digital, mendownload dan sekadar terkagum. Kini, setelah menulis prihal agama (islam), setidak menggayutkan tulisan dengan ajaran Islam, belajar lebih serius. Bukankah ini pembelajaran?
 
Dinasihati Sampai Dicemooh
Ada satu lagi yang saya rasakan. Ada pembaca tulisan saya yang memberi informasi tambahan, mengaju usul, memberi kritik konstruktif. Kesemua itu semakin memperkuat niat, menebalkan tekad, menjadikan sikap belajar semakin kuat.
 
Sebaliknya, ada yang melayangkan kata-kata bersayap sampai mencemooh dan menghina. Apa boleh buat, kita bisa belajar dari hal-hal sedemikian. Bisa saja tujuan mereka untuk meruntuhkan tekad, mempermalukan, atau apa. Biar saja.
 
Itu namanya ujian. Masa itu akan terlewati manakala kita yakin apa yang kita buat dengan tujuan baik. Dengan begitulah, adanya deraan menyayat hati, seperti dukungan menyenangkan, kita semakin mantap menatap diri, dan … ini lebih penting, semakin fasih menulis. Berarti langkah semakin menapak ke arah menulis lebih baik. Insya Allah.
 
Kuncinya, ya itu tadi, dari proses itu, dari respon, dari masukan sampai cacian, kita akan semakin jeli melakukan apa yang diniatkan. Jangan pernah takut dengan respon, betapapun menyakitkan. Bahkan dari iblis sekalipun. Itu tidak penting. Yang penting dibalik semua itu ada hikmah.
 
Untuk sekadar membesarkan hati, orang-orang bijak, orang-orang yang dapat dikatakan tergolong bagus menulis, akan memberikan masukan baik. Yang biasanya mematahkan semangat menulis dengan acungan belati berkilat, adalah mereka yang tidak biasa, atau malahan tidak pandai sama sekali menulis. Tetapi, berlagak paling jago di dunia.
 
Kalau kita maknai pelajaran di belakang semua itu sungguh tertimbun makna yang dalam. Ambil yang paling sederhana, jangan melakukan hal yang sama. Itu sudah sangat positif. Belum lagi kalau dikembang ambil pelajaran dari hal-hal penyertanya.
 
Mengakhiri tulisan ini saya ingin mengajak pembaca sekalin, terutama diri sendiri, pada setiap kejadian, di dalam persitiwa, dari mulut orang bijak, dari makian para durjana, ada tersimpan hikma-hikmah. Ambil yang positif dalam membelajarkan diri, buang yang tidak bermanaat.
 
Akhirnya, menulis adalah membelajarkan diri menuju manusia pembelajar.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 15 Juli 2007.

  1. 5 Responses to “Menulis Membelajarkan Diri”

  2. By mathematicse on Jul 18, 2007 | Reply

    First of all, terimakasih berarti komentar saya dibaca. :D
    Ok berikutnya,…

    Ya… semakin kita banyak menulis, sebenernya semakin kita banyak belajar. Belajar untuk sesuai dengan apa yang kita tulis, sehingga antara pertulisan dan perbuatan itu seiring-sejalan.

    Mungkin sekali mereka-mereka yang beranggapan bahwa menulis itu sukar (saya juga dulu seperti itu) karena takut dikritik, takut dicemooh, takut disalahkan. Makanya, alih-alih menulis, mereka-mereka itu mendoktrinkan pada diri dan menakut-nakuti orang lain bahwa menulis itu tidak mudah alias sukar bin hese (bahasa sunda).

  3. By windede on Jul 19, 2007 | Reply

    saya senang dengan proses hijrah sampeyan. seperti betapa menggebu-gebu pian menulis tentang sabar, sementara saya tau sampeyan termasuk orang yang ga sabaran hehehe. whatever, niat baik saja sudah tercatat sebagai pahala, bukan? semoga lebih baik…

  4. By joko on Jul 19, 2007 | Reply

    memang benar sich.. menulis itu sebagai pembelajaran diri…
    pembelajaran diri dari berbagai hal…
    kita akan menemukan jatidiri kita kalau suka menulis..
    menulis juga menunjukkan cara pandang kita yang sebenarnya dari hati nurani..
    sebaik-baik kesibukan adalah menulis, dalam rangka perbaikan dan kebaikan diri dan bangsa ini..
    semangat terus menuliss…

  5. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jul 23, 2007 | Reply

    sedikit nambahkan dan persetujuan.
    tidak usah mendengarkan terlalu berlebihan komen atau respon orang lain (kritik atau cemoohan), koreksi diri aja dan lanjutkan perjuangan (jihad bil i’lan). Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetrap berlalu.
    Salam dari saya, Irsan

  1. 1 Trackback(s)

  2. Sep 19, 2007: Pemilihan Top-Posts Juli-Agustus 2007 « M. Shodiq Mustika

Post a Comment