Menulis Bak Bersendagurau
16 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |MULAI sekarang, sejak membaca buku Menulis dengan Gembira, kalau berbicara, berdiskusi, atau berpikir, dan atau memapankan pikiran tentang menulis hanya ada satu kesimpulan, menulis sangat mudah. Sangat mudah? Ah yang bener aja.
Ya iyalah. Siapa yang bilang susah. Mereka yang berpendapat demikian, pastilah sudah karena tidak memahami hakikat menulis. Atau kalau mereka fasih menulis, takut dapat saingan. Jadi, menakut-nakuti dan atau menggambarkan begitu susahnya menulis.
Lucunya, Sampeyan ho oh saja. Sesuatu yang mudah dibalik menjadi susah. Opini macam apa yang menjadi pegangan. Mari berpikir cerdas.
Buku ini dimaksudkan membangun self-image bagi siapa saja yang berkehendak menulis, atau menjadi penulis. Tidak (akan) termasuk lagi kategori orang berpendapat menulis itu susah. Tanya kenapa?
Buku ini dirancang bukan berdasarkan teori hebat-hebat atau contoh dari hal-hal terbagus karya tulis penulis ternama. Bahan dasarnya pemikiran, pengalaman, analisis, dan opini yang diwujudkan dalam bentuk tulisan. Ditulis dengan ‘bebas’ tanpa diganggu belengu-belenggu menulis. Sesuatu yang sudah ditulis pada buku Menulis Sangat Mudah (2007) dan Menulis Mari Menulis (2007).
Bayangkan. Ada yang ditulis sambil chating. Ada tulisan sebagai respon seketika ketika ada yang menyoal suatu tulisan di www.webersis.com. Sekalipun sebagian besar merupakan jawaban langsung berbagai pertanyaan dari komunitas penulis (KP) EWA’MCo., ada pula contoh nyata dari peristiwa atau hal ‘kecil’ yang biasanya luput dari perhatian, semisal tahi hidung atau BH. Hasilnya sungguh menarik.
Menulis berdasarkan hal paling dekat dengan kehidupan, sesuatu yang lebih ‘dikuasai’. Menulis yang kita ‘kuasai’, jauh dari hal-hal hebat atau besar yang biasanya dijadikan contoh dalam pendidikan formal, ternyata lebih nyaman dan bagus hasilnya.
Fakta sudah berbicara, sekalipun sudah belajar menulis dari SD sampai PT, berguru ke banyak orang, meminta nasehat penulis ternama, bahkan ada yang mengikuti beragam pelatihan menulis, hasilnya hanya satu, tidak berani menulis. Berani saja tidak apalagi sukses. Kenapa?
Ada rahasia kebodohan dalam proses sedemikian. Apa itu? Hal paling esensial dari menulis adalah penuangan pikiran. Pikiran ada di balik batok kepala masing-masing orang, rambut boleh sama putih tapi pikiran berbeda-beda.
Nah, kalau begitu menulis adalah urusan pribadi, sebab keluar dari pikiran. Pikiran tidak bisa dipotokopi. Pikiran adalah milik sesorang yang tidak bisa dijangkau oleh orang lain. Implikasinya, dalam menulis tidak diperlukan guru. Lalu?
Jadilah guru menulis untuk masing-masing diri kita. Artinya, menulis dilakukan tanpa ada intervensi dari manapun dan atau atas pertimbangan apa pun. Caranya? Dengan menulis.
Dengan demikian sampailah kita kepada inti sari latihan menulis, yaitu dengan menulis. Latihan menulis dengan menulis. Menulis, menulis, dan menulis lagi. Yang menulis itu siapa? Ya, siapa lagi kalau bukan yang ingin menulis. Ya, Sampeyan.
Berlandaskan pemahaman demikian, menulis menjadi hal yang melekad dengan diri. Dus, dibiasakan di diri itu sendiri. Artinya, latihlah diri dalam mencari input, process, sehingga ouput bagus. Pada ranah ini kita memasuki tataran praksis, belajar dari proses pengalaman (menulis).
Kira-kira dipahami to benang merahnya? Dengan demikian kita bertemu pola membelajarkan diri, pembelajaran, bukan diajar-ajarkan. Dengan kata lain, menulis menjadi aktivitas independen, pekerjaan yang katakanlah, suka-suka kita melakukannya. Tetapi, jangan dipahami dalam arti sesuka-suka dewe. Itu sudah lain lagi ceritanya.
Mau menulis senja hari, silahkan. Mau menulis ketika orang sudah terlelap, ya monggo. Mau menulis sembari mendengar orang bicara hebat-hebat saat diskusi sementara kita menulis di latop, ya kenapa tidak. Mau menulis sambil menonton bola, please. Siapa yang bisa melarang kita menuangkan pikiran kita.
Dus, tidak ada lagi ‘belenggu’, menulis harus menunggu mood, tempatnya harus nyaman, tidak bising, tengah malam, setelah membaca lima puluh kilo buku, atau hal-hal sepadan yang tidak ada hubungan langsung dengan menulis. Ah, itu teori. Menulis bukan teori kog, tetapi pratikal.
Keseluruhan aktivitas menulis adalah pelajaran itu sendiri, adalah guru itu sendiri. Bahkan, proses pemulanya, katakanlah membaca, mengamati, menganalisi, atau konsepsi di otak, di pikiran adalah rangkaian belajar. Sesuatu yang tidak dapat dicantolkan atau dicangkokkan. Bingung? Syukur, pertanda Sampeyan masih sadar, masih berpikir.
Saya ingin menekankan, kesemua itu dapat dilakukan dengan riang gembira, dengan senang hati, dengan santai, kalau pada setiap rangkaian tidak dilengketkan beban. Kalau misalnya dimulai dengan beban, kalau saya menulis, apakah akan dibaca orang? Apakah tidak akan masuk penjara? Apakah tidak dimarahi suami, dimusuhi atasan, diketawakan pacar? Susah sudah itu.
Anjuran saya, terutama kepada penulis pemula, menulislah karena ingin menulis. Kalau ada ide, seliar apapun (emang Singa) ide tersebut ditulis. Kalau sudah selesai, baru pertimbangkan, apakah pantas dilepas ke wilayah publik atau disimpang jadi koleksi saja. Yang penting menulisnya dulu, jadi tulisan.
Soal dimuat dimana, bakalan dapat honor berapa, akan jadi polemik atau dibiarkan bak angin lalu, itu soal nanti. Teori menulis konvensioal memang hal-hal ideal dulu, baru menulisnya.
Ersis’s Writing Theory adalah antitesis dari teori konvensional, yang banyak membelenggu itu, agar kreativitas menulis tertumbuh, tumbuh subur. Anggap menulis bak bercengkerama, bersedagurau dengan keluarga, dengan alam, dengan adromeda, dengan Allah SWT, dengan buku, dengan kebengisan, dengan kasih sayang, atau dengan apa saja.
Campakkan semua beban ke laut tak bertepi, kikis habis kerak belenggu dari pikiran, jauhi sejauh-jauhnya takut dan ketakutan, rengkuh pagut elus lembut rasa senang, enjoy memainkan pikiran menekan keyboard sembari mendengar alunan sejuk suara Brian Adam atau seruling Asep Irama.
Sudahlah. Menulis lebih lembut dari ubur-ubur, lebih renyah dari kerupuk udang, senyaman hamparan permadani rumput, lebih indah dari Niagara Falls. Menulis bak menganyam mosaik-mosaik pikiran menjadi tenunan kata-kata. Membuai, mendayu-dayu, merengek, membentak, ganas, beringas, atau segarang ledakan Bom atom di Hiroshima-Nagasaki.
Cemoohan Hugo Chaves menghajar Goerge W. Bush atau nyalak meriam Taliban bisa kalah gensi dari buah kata-kata tulisan. Tulisan mengatasi tingginya Himalaya, dalamnya Atlantik, curamnya Grand Canyon, atau cadasnya pegunungan Kaukasus.
Menulis bisa menjadi beban kehendak manakala dimaknai sebagai beban, menulis bisa menjadi indah manakala dipahami sebagai self-actualizatin. Tulisan adalah pena terbesar, buku paling akbar, karya unlimet yang tidak akan runtuh diterjang tsunami. Tulisan lahir dari pikiran, disalurkan ke pikiran, lalu … diwariskan ke generasi berikut.
Al Ghazali boleh mati raga, tapi hasil pikirannya mengikuti arus kehidupan sampai ahir zaman. Kartini bisa jadi ‘hanya’ bisa menulis surat, namun tulisannya berharga bagi bangsa. Peninggalan paling berharga Soekarno-Hata bukan baju militer atau kacamatanya, tetapi buah pikir yang ditulis pena.
Sikap paling bijak, mari bersendagurau atau menggurausendakan menulis. Menjadikan menulis sesuatu yang menyenangkan, enjoy aja. Jangan, sekali-kali jangan lagi, berkesimpulan menulis itu susah dan menyusahkan.
Menulis sangat mudah, dan … memudahkan. Mudahkan pikiran, mudahkan jari-jari, mudahkan hati, mudahkan rasa dengan menulis hingga tidak ada tumpukkan, kikis habis kerak-kerak pikiran yang tidak tersalurkan. Pikiran akan menjadi nyaman, hingga mampu memikirkan yang lebih bermakna. Dengan berpikir kita hidup, tanpa pikiran berarti mati.
Selamat menulis, selamat menuangkan pikiran, dan selamat mencampakkan belenggu-belenghu menulis. Perkaya kekayaan menulis dengan menulis, menulis, dan terus menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 16 Juli 2007.









4 Responses to “Menulis Bak Bersendagurau”
By mathematicse on Jul 17, 2007 | Reply
Ayooooo….. menulis…
By irsan finazli on Jul 21, 2007 | Reply
Apapun yang dilakukan secara senang, pasti hasilnya akan lebih baik.
By suci on Jul 22, 2007 | Reply
Mmm…I always get something from reading EWA’s articles, exactly this one. motivasi, inspiratif, membangun. cukup membuat saya kemabali bersemangat untuk menulis lebih sering.kembali membangun disiplin yang sempat sedikit bobol akibat keseharian.
sama seperti artikel sebelumnya,yang satu ini tetap berasa “manasin’ orang yang baca buat segera ngetik keyboard komputer dan menghasilkan karya. edan euy…
By ashraf on Jan 8, 2008 | Reply
Wah..sangat inspiratif.
Jadi pingin segera menulis.