Menulis Ketika Kakak Memanggil
15 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |TERUS terang aku anak kampung. Lahir di atas bantaran bukit barisan yang membelah pulau Sumatera. Rindu kampung rindu jiwa tak bertepi. Aku mungkin ‘anak durhaka’. Puluhan tahun merantau hanya beberapa kali ke Muaralabuh.
Menatap Earth Google, berkelana ke Singapura, Thaskent, Vladivostok, Yokohama, Bosporus, Sarajevo, Warsawa, Washington, Havana, Rio de Junairo, sampai Tasmania, Muaralabuh menyeruak ingat. Menelusuri lekuk-lekuk Arlington atau negeri Vlad Dracula sehabis membaca The Historian Elizabeth Kosotova, menikmati Digital Fortress Dan Brown, suguhan Casino Royal James Bond, Muaralabuhku terasa lebih eksotik.
Aku membawa Erwin Dede Nugroho, GM dan Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin ke Muaralabuh. Kata Erwin: “Muaralabuh adalah perawan Nusantara yang tersisa”. Muaralabuh ikon Nagari Seribu Rumah Gadang.
Bila ingin memuas dahaga indahnya alam, selepas dari Minangkabau Airport sajian kenyamanan kota Padang akan menggadai hati. Ke Muaralabuh melewati Sitinjau Lawik dengan panorama khasnya. Yang mirip-mirip kutemui di Genting Higland, Malaysia.
Mendaki Sitinjau Laut dengan pemandangan ke Samudera Hindia melampaui Padang, suguhan pemandangan alam dengan hawa sejuk melegakan nafas berpilin aroma udara bersih. Dalam 60 menit di hadapan terhampar danau kembar, Danau Di Ateh dan Danau Di Bawah. Duh Gusti, indah tak berbatas. Tak ada danau kembar menawan di dunia ini seindah kedua Si Kembar tersebut.
Berburu Pesawat
Perjalanan berawal dari dari panggilan telepon jam 14.00. “Da, Uni Er —kakakku satu-satunya yang bermukim di Bengkulu— koma”, kata adikku Faidillah Abbas. Aku, Erwin, dan Darmawan Jaya Setiawan, pengusaha muda Kalimantan Selatan, sedang makan di RM Padang Ampera Baru, Landasan Ulin, Banjarbaru. Makan sontak tidak enak.
“Ya”, kata Erwin, “aku ikut”. Sebagai tokoh ESQ Kalsel Jaya sudah ada acara. Aku mencarikan tiket, katanya. Kami langsung ke Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru. Pesawat Garuda ke Jakarta jam 16.00. Kami nongkrong di Blue Sky Restaurant. Sesampai di Soekarno Hatta, telepon Jaya berkabar: “Bos, kadada tiket, pesawat penuh ke Padang”. Kami memburu tiket. Hasilnya nihil.
Saya mau menelepon Rudy Ariffin, Gubernur Kalsel. “Ke Rudy Resnawan saja”, kata Erwin. Rudy, walikota Banjarbaru, teman akrab kami hampir kenal semua petinggi lapangan operasional pesawat. Kami dapat seat. Sekitar pukul 20.00 mendarat di Minangkabau Airpot. Aprison, sopir taksi, langsung membawa ke restoran Kubang. Mampir di Marapalam, markasku sewaktu di Padang. Risauku agak terobati disiram dingin air nan sejuk.
Menelusuri jalan ke Indarung, nampaknya Erwin membayangkan indahnya Indarung, apalagi Sitinjau Lawik. Sejak di Jakarta sudah ditelepon, Uni Er sudah berpulang ke Ramatullah. Erwin mengira-ngira ketika matanya bersirobok disela-sela kegelapan dengan Danau di Ateh dan Danau Di Bawah. Kubiarkan Erwin berpantasi.
Jam 01.00 dini hari sampai di rumah, Jalan Batang Laweh Nomor 53, Muaralabuh. Amakku, Nurbainar, wanita sorga yang melahirkanku meraung memeluk saatku menghampiri kakak tercinta yang sering kunakali waktu kecil. Bapakku, Ibnu Abbas, lelaki Adam yang kokoh, guruku, kawanku, dan sahabat batin, tidak kalah memilukan. Aku jarang menangis. Apalagi Bapakku baru sekali itu kulihat airmatanya. Aku tak sanggup menceritakan drama keluarga ini.
Aku tidak mempedulikan keluarga besar, handai tolan, yang diliputi suasana duka. Setengah jam kemudian kepala dan rasa terasa normal. Aku baru melihat yang hadir satu-persatu dan menyalami. Dan, baru sadar bahwa temanku, Erwin ada di tengah keluarga besar kami, di Muaralabuh.
***
BEGITU mobil meninggalkan Sigintir, siang itu, mata Erwin terpuaskan. Muaralabuh ibarat mangkok dikelilingi perbukitan. Aku memberikan keterangan agak panjang lebar. Sigintir desa kelahiranku saat peristiwa PRRI/Permesta.
Masih terbayang semasa kecil beberapa rumah diberi tanda silang. Kata mamak, adik ibu, Buchari, tanda pengikut PRRI. Aku tidak memikirkan. Yang kuingat, mamak kubuat grogi. Di jalan raya Muaralabuh mobil Gas tentara kuhadang melempangkan tangan. Kalang kabut. “Untung kita tidak ditembak”, kata mamak.
Kami meninggalkan Sigintir sehabis mengubur Uni Er. Aku lahir di Sigintir, kemudian keluarga pindah ke Batang Laweh. Bapak adalah pemborong. Gedung Nasional, penjara Muaralabuh, dan banyak bangunan lainnya Beliau yang mengerjakan.
Ketika bersekolah, di Sekolah Rakyat Nomor 1 Muaralabuh, aku sering ke Sigintir. Batang Laweh Muaralabuh berjarak 2 km, Batang Laweh Singintir 2 km. Sehari berjalan 4 km ketika masih bocah, dan … pakai sandal jepit. Luar biasa. Kata orang aku cerdas dan … super nakal.
Nah, di Rawang, antara Batang Lawe-Pasar Muaralabuh, aku punya iciak, adik Bapak, Iciak Gadi. Sepulang sekolah mampir … langsung ke meja makan. Sesampai di rumah … makan. Sesampai di Sigintir, aku punya nenek yang sangat menyayangi, makan lagi.
Jadi, wajar tenagaku luar biasa. Itu sampai kelas 4 SR. Kelas 3 SR sekolah ke Surian ikut Iciak Biah, guru SD 4 Surian dan Angku Maknur (kakak Ibu) yang menjadi Kadiscam (aku ngak ingat istilahnya) Depag.
Sejak kelas 5 lain lagi ceritanya. Aku berkawan dengan agen dan kenek bis Muaralabuh-Padang. Suatu kali, Bapak menyuruh menanyakan hasil Pacikgadai (sawah dikerjakan orang dan hasilnya dibagi dua) ke Sungai Kalu. Aku naik ke atas atap bis. E … padi sudah jadi beras. Sekalian kubawa ke Padang? Setelah dijual kubelikan radio, dan … buku-buku. Sesampai di rumah, tiga hari kemudian, Bapak senyum-senyum saja.
Senakal-nakalnya aku, kelas 5 SD sudah membaca Winnetou, Raja Minyak, Berkelana ke Kakukasus karya Karl May, sampai Ihya Ullumiddin Al Gazali, buku-buku Bapak. Aku hapal kisah Tariq bin Ziad, Salahuddin Al Ayubi. Bapak berlangganan majalah Kiblat dan surat kabar Haluan.
Setelah peristiwa menjual beras ke Padang, aku mengatakan niat merantau. Bapak terkekeh-kekeh. Besoknya dikasih 100 sukat beras untuk belajar menjahit pada Kak Muchlis.
Ketika melihat mesjid Batang Laweh lama, aku sedih. Tidak terawat dan tidak dipakai karena sudah dibuat mesjid baru. Di mesjid itulah aku belajar menggaji dan sempat menjadi khatib hari raya idul fitri setelah sekolah di PGAN Padang.
Di suatu kamar disamping mesjid aku tinggal dengan Isal (Faisal Thaher, pernah menjadi Kabag Keuangan Dephub, sudah meninggal) dan Isap. Hal paling kuingat, Makan Gadang. Kami membawa nasi dan lauk pauk lengkap dengan piringnya lalu makan bersama. Gilanya, hampir tiap hari.
Kalau bercerita hal itu, aku mesem-mesum sama Ibu. Betapa tidak, piring-piring tidak kami bawa pulang, tapi ditumpuk. Ditegur, baru dikembalikan. Hidup paling menggairahkan adalah ketika SD. Melakukan apa saja yang kami senangi. Mulai dari belajar menggaji sampai ‘mencuri’ ikan. Pokoknya komplit.
***
JUJUR aku tidak terlalu hapal wilayah Muaralabuh apalagi kabupaten Solok Selatan. Ketika kecil sering ke Pekonina, daerah perkebunan, atau ke Padang Aro. Yang lengket di memori, bentangan perkebunan dengan hutan perawan. Udara bagus bersih masuk paruh-paruh dengan aman. Pokoknya nikmat nian.
Aku sering ke bagian hulu sungai Suliki menebang beberapa pohon pisang lalu ‘berperahu’ mengaliri sungai. Bersepeda ke Sungai Kalu atau yang paling berkesan dibawah Bapak ke daerah menjelang Pekonina mengambil (menebang) kayu bakar. Kalau hari libur ke ladang atau tempat-tempat yang menyenangkan.
Begitulah, melewati Pekan Selasa dan daerah Pekonina kami sampai ke Padang Aro. Berhenti di rumah makan. Kami memilih bangku yang belakangnya ada sungainya. Erwin mengambil foto-foto. Di depan hamparan perkebunan teh, Erwin ingin menikmati teh langsung dari kebun. Eh … justru disajikan teh celup buatan Jawa. Kami terbahak-bahak.
Selepas makan terus ke Lubuak Gadang. Tujuan pertama melihat pusat perkantoran kabupaten yang sedang dibangun. Setelah memutar ‘kota’ bertanya ke seorang yang memakai seragam Pemkab, e … jawabannya tidak jelas.
Lagi pula kalau bertamu ke kantor Bupati, apa mereka kenal? Saya pernah mengirim buku ke Bupati. Entah sampai atau tidak, tidak ada kabarnya. Sebagai putera daerah tentu bangga perkembangan daerah, tapi Bupati mungkin terlalu sibuk untuk sekedar membalas surat pemberian orang semacamku, he … he …
Di Minangkabau Airport saja terasa asing. Kalau di bandara Sayamsudin Noor bisa sibuk betegur sapa, atau di Soekarno Hatta ada lah yang kenal. Aku betul-betul orang rantau rupanya. Di pesawat bertemu dengan teman-teman kuliah di IKIP Padang. Misal Indra Sakti Nauli, kepala Dinas Pendidikan Pariaman. Tapi, dengan orang-orang Muaralabuh, duh … anak rantau.
Air Terjun
Bayangkan saja, pesona begitu indah tidak terlalu diperdulikan penduduk. Dapat dimaklumi karena itu bagian ke seharian kehidupan mereka, hal biasa-biasa saja. Padahal, dibanding dengan Lembah Anai air terjun ini lebih khas.
Kita sejajar dengan permukaan air yang terjun mencurah ke lembah belasan meter di bawah yang melingkung memanjang bersua sungai yang menampung airnya. Asyiknya, jembatan di buat di atas lembah tersebut dan … kita bisa menikmati dari tejunnya air menyentuh dasar lembah terus mengalir bergabung ke sungai beberapa puluh meter.
Mana pohon-pohon dan tumbuhan hadir sebagaimana aslinya. Belum ada sentuhan tangan manusia. Sungguh eksotik. Heran juga kenapa tidak digarap sebagai kawasan wisata. Memang bisa dimaklumi, tempat-tempat menarik bertebaran dimana-mana.
Di atas jembatan kami menikmati hamparan air terjun dengan hutannya yang masih bagus, monyet kejar-kejaran melompat dari pohon ke pohon seolah memperagakan kemahirannya. Burung-burung terbang menyenandungkan irama yang gimana gitu berselang derau air terjun.
Udaranya sejuk. Ketika kami melepas dahaga haus mata memandang yang eksotik sementara pori-pori menikmat semilir udara, awan menyelimuti sehingga sinar matahari seadanya. Awan, atau kabut istilahnya barangkali, menjadi bagian tersendiri menuang suasana, yah sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata. Afdolnya Sampeyan datangi dan rasakan sendiri.
***
PULANG kampung paling menyenangkan, menyentuh, mengharubiru bagi perantau. Menapaktilas perjalanan kehidupan. Sebagai anak kampung, Muaralabuhku adalah identitas itu sendiri. Dari situlah semuanya bermula sebelum mengharungi hidup di perantauan. Jakarta, Jogja, Bandung, dan menetap di Banjarbaru.
Satu hal yang membuatku heran, sebenarnya kapan aku lahir? Di ijazah ada yang tertanggal 7 September 1957, ada 7 Juni 1956, yang lazim kupakai 15 November 1957. Setelah kurangkai baru paham. Sejak kecil dididik mandiri. Apa saja, kalau bisa diurus sendiri, tidak perlu minta bantuan orang lain.
Nah, aku juga bersikap ‘praktis’. Kira-kira ketika mengisi identitas waktu mendaftar sekolah diisi sekenanya. Lucunya, tidak mengalami kendala. Sekolah, kuliah, jadi PNS, tidak ada yang mempersoalkan.
Dinding Kamar
Aku ingat kebiasaan Bapak mencatat hal-hal penting. Di Sigintir, di rumah gadang tempat aku lahir, seingatku ada tulisan Bapak. Aku mengitari rumah gadang, berhenti ketika di balik dinding kamar tengah tertulis Ersis Warmansyahril lahir Chamis 15 November 195. Aku ketawa-ketawa saja, kog beda, ya namanya, ya tanggal lahir. Aku pernah memakai nama, Ersis Warmansyah, nenekmu memanggil Ersis Warmantil atau Ikit, panggilan kecilku Isis. Tulisan Bapak itu dari kapur. Tidak terhapus selama 50 tahun. Erwin mengambil foto tulisan itu.
Aku, entah kenapa, tidak terlalu percaya dengan hal-hal di luar rasional. Tapi, di pikiranku tidak bisa dihapus cerita keluarga. Misalnya, ketika Uni Er sakit keras, di Batang Laweh beberapa bulan, aku masih SR, keluarga datang ke ladang di Bancah. Untuk apa? Melihat airnya. Kalau airnya keruh pertanda tidak selamat, saat itu airnya bersih, kakakku sembuh.
Di rumah gadang, kalau ada hal-hal besar selalu ada yang menjaga. Kalau yang di dunia halus tidak berkenan, nasi tidak matang-matang, tetap jadi beras. Kakekku terkenal sebagai orang yang berpengetahuan agama mendalam. Aku tidak pernah bertemu karena Beliau meninggal sebelum aku lahir. Bertemu dalam cerita. Kalau banjir melanda sedahsyat apa pun bukan persoalan, Beliau sampai ke rumah. Kira-kira seperti film kungfu kali ya, berjalan di atas air.
Yang menanamkan keberanian, kakak nenekku adalah pendekar, benar atau tidak, ada sangkutpautnya dengan nama Rimbo Bujang di Jambi. Beliau merantau ke Jambi. Soal kejagoan tidak usah diragukan. Itulah manusia paling berani dan ‘berilmu’ tinggi yang pertama masuk memoriku. Aku punya ikatan batin dengan beliau. Makanya, sekalipun dalam tata kekerabatan Minang, anak-anak Beliau bukan keluarga dekat, anak pisang, bagiku tidak.
Seorang anak Beliau, Ciak Pani yang menjadi pejabat di Depdagri, sejak pertama di jakarta adalah labuhan singgahku. Aku menganggap dia Ibuku. Ada tiga wanita Ibuku, Ibukku (Amak), Iciak Biah di Padang —yang sangat menyayangiku— dan Iciak Pani. Kalau bercerita tentang Angku Bujang, aku menyimak sangat detail. Membaca Kho Ping Ho, Bu Kek Siansu kubayangkan sebagai Angku Bujang. Angku Bujang ‘temanku’ dalam pikiran.
Bila ke Sigintir, aku selalu memandangi pohon rambutan, kelapa, sumur, dan apa saja yang menjadi kehidupanku ketika kecil. Berkelana ke masa lalu seindah berkelana ke masa depan sekalipun kita hidup di saat ini.
***
AKU teringat masa-masa kecil sampai sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 4 Tahun Muaralabuh. Sebenarnya aku ingin masuk SMP, dimana hampir seluruh teman-teman SRku kesana. Tapi, keluarga bersikeras ke PGA. Kata mereka biar dasar agama kuat, dan … aku nakal, kali he … he …
Ketika berkumpul dengan ponakan, Bapak menikmati ketawa bercerita: Mak (mamak, paman) Ersis pernah Datuk (kakek) masukan ke karung goni, keras kepala tu orang. Yang kusenangi, tapinya. Tapi, … Mak Ersis itu orangnya pintar, rajin, suka membaca, mandiri, telinganya saja lebar, seperti telinga Datuk, katanya terkekeh-kekeh. … Ih bangganya aku dipuji Bapak. Dan, itu benar kan.
Mungkin dari situlah ‘sikap memberontakku’ muncul. Aku berontak tapi tetap patuh pada kehendak orang tua. Sesuatu yang menjadi ‘gaya’ hidupku kelak. Aku selalu protes kepada siapa dan tentang apa saja kalau tidak sependapat, tetapi kalau tidak diacuhkan, yah sudah. Aku bukanlah revolusioner sejati.
Aku masih ingat, tugas utamaku ‘memelihara’ air sawah. Dari Tayeh, Sigintir, sampai Lolo. Sepulang sekolah tugas kulakukan. Kalau senja menghidupkan lampu strongkeng lalu ke mesjid. Yang paling menyenangkan, sekitar jam 9-10 mencari belut di sawah. Aku suka belut, kata Bapak bergizi.
Aku bangga punya Bapak yang berselera makan bagus, makanan kami pada dasarnya bergizi. Kami memelihara kolam, kalau sudah panen, sawah dijadikan kolam ikan dan bila musim menanam tiba, dipindahkan ke kolam rumah. Kami juga memelihara ayam, kebun sayur, dan sebagainya. Kata Bapak, sumber makanan bergizi tidak perlu dibeli, bisa diusahakan sendiri. Lagi pula, Ibuku dan Uni Er adalah tukang masak paling enak di dunia.
Kebiasaan itulah yang menjadikan aku petambak ikan dan peternak ayam. Aku menanami sinkong, lengkuas, janar, dan lombok di tanah kami di Banjarbaru. Tetapi, yang paling menyenangkan, Bapak banyak punya buku. Inilah yang membentuk kepribadianku.
Bapak, kalau membaca sembari tidur-tiduran. Filsafat beliau, membaca dimana saja dan kapan saja. Hal itu yang aku salin sepenuhnya. Kini, anak-anakku, mau membaca sambil makan, tidur-tiduran, atau apa, silahkan saja. Mau buka internet subuh, tengah malam, OK-OK saja. Mau baca Harry Porter atau pelajaran sekolah, atau nonton bola, tidak kuatur. Terserah saja. Yang penting membaca, membaca, dan membaca.
Jatuh Cinta
Semasa kelas dua PGA aku jatuh cinta untuk pertama kali. Waduh … gimana ya menulisnya. Di desaku, Batang laweh aku punya perhatian, tepatnya jatuh cinta ala anak ingusan. Kami mengaji di rumah Angku Parit dan sama-sama sekolah di PGA. Dia adik kelasku. Saking ingin ‘bergaya’ aku minta ke Bapak menukar sepeda relight-nya dengan sepedaku. Kukira bapak paham aku mau melagak. Beliau pernah muda juga kan. Sejak itu, Beliau rajin memberiku duit. Aku membeli minyak rambut, dan he … he … aku betul-betul geli saat menulis ini.
Suatu malam, di bawah pohon kelapa aku ditanya tu oleh Si Ceweq Paling Cantik Di Dunia: Apo nan ka Uda katokan? Nah, lho … Sampeyan lanjutkan sendiri ya. Yang kusesali sampai sekarang, aku tidak bisa jalan-jalan di alam terbuka, begandengan tangan, apalagi … cipika-cipiki (syukuuuur).
Begitulah model cinta masa itu. Pernah dengan cewq lain, belajar bersama, bepergian saat libur sekolah, dan … jatuh cintah selayang pandang, tapi … Ceweq Paling Cantik Di Dunia itulah cinta pertamaku.
Sejak aku sekolah ke Padang, kemudian ke Jogya, ke Bandung, hanya pernah sekali bertemu di rumahnya di Jakarta, dia sudah punya anak waktu itu. Tapi aku yakin, ada sesuatu di hatinya, seperti di hatiku. He … he …
Muaralabuh bagiku bukan sekedar tempat lahir, bukan sekedar tempat dimana kureguk indahnya keluarga dan pendidik keluarga, tetapi secara keseluruhan adalah ‘pembentuk’ diriku saat ini. Muaralabuh adalah landasan pacu cintaku sejak awal.
***
AKU membawa Erwin D. Nugroho karena dia sahabatku. Kami menghabiskan hari-hari bersama. Dia ‘orang besar’, punya ‘kekuasaan’, dan aku penulis. Di korannya aku menulis ratusan artikel. Kami berdiskusi tentang banyak hal.
Kalau dia dapat buku baru, aku diberi tahu, begitu sebaliknya. Terkadang saling membelikan. Erwin membawaku ke kenangan masa lalu. Dulu, ketika PGA aku sering bertukar buku dengan teman-teman. Buku itu digilir untuk diisi teman-teman; puisi, pantun, komen, atau apa saja. Mungkin, sejak itu bakat menulisku tumbuh. Aku menulis apa saja.
Aku ingin Erwin menulis tentang Muaralabuh. Sesampai di Kalimantan ditulis di webnya, www.windede.com. Satu hal, aku selalu bersemangat memotivasi anak-anak muda. Erwin telah melaunching buku Email dari Tanah Suci menyusul buku Dari Sabang Sampai Dalian. Kisah perjalanan ke Muaralabuh ada di dalamnya.
Tiga hari tentu bukan waktu yang cukup. Tetapi, Muaralabuh kusimak detail, “kubaca” dengan pikiran dan perasaan. Dari utara mengalir batang Suliki, di Kotabaru bersatu dengan sungai Kotabaru yang disupor anak-anak sungai menjadi bagian untuk bergabung dengan sungai Batanghari. Alam indah itu diolah menjadi sawah berpetak-petak, yang tidak kalah dengan sawah-sawah di Bali, atau kebun-kebun yang mendatangkan kesejukkan di hati.
Benar pepatah Minang: Jika cinta kampung, tinggalkan.Setelah jarak terbentang maka segala keindahan, kenyamanan, dan hal-hal membuai lainnya akan bergabung dalam memori.
Aku ingat, aku pernah menyinggahi Bengkulu membawa dua adik, kakakku, dan belasan keponakan pulang bersama di hari Idul Fitri. Kukuatkan memori mereka tentang tanah kelahiran. Kami datangi irigasi Balun, di depan Istano Rajo Sungai Pagu sembari mandi berkecipak-kecipak. Aku ingin mereka tidak melupakan Muaralabuh, sekalipun lahir di rantau.
Bedanya, kini rumah-rumah sudah dibuat gaya modern dan jalan-jalan mulus Aku juga mendengar banyak hal kehiduan modern juga mencemari remaja-remaja Muaralabuh. Aku baru mendengar ceritanya, belum membuktikan. Mohon kepada para petinggi, hal tersebut jangan sampai dibiarkan.
Melihat perkembangan sekolah, cukup mengembirakan. Di internet, misalnya SMA I Muaralabuh mempunyai prestasi bagus untuk ukuran Sumatera Barat. Yang mengherankan, kenapa namanya ditukar menjadi SMAN I Solok Selatan. Aku punya garapan sepetak kecil sawah sebelum sekolah itu berdiri.
Pernah, beberapa anggota DPRD Solok Selatan ke Banjarbaru. Aku katakan, kalau mau maju, majukan pendidikan. Kalau rumah pejabat, lebih baik dari sekolah, pertanda tidak baik bagi pendidikan. Kalau rumah penduduk bagus-bagus, sekolah bobrok, di lingkungan itu berdiam orang-orang munafik pendidikan.
Ah, sudahlah. Itulah secuil kisah perjalanan ke Muaralabuh ketika kakakmu memanggil.
Banjarbaru, 14 Juli 2007 (Tulis dan koreksi ulang).









One Response to “Menulis Ketika Kakak Memanggil”
By mathematicse on Jul 16, 2007 | Reply
Pertama, turut berduka. Innalillahi wainna ilaihi roji’un.
Kedua, wah tempatnya Om Ersis indah sekali rupanya, walau lewat cerita, saya seperti menyaksikan keadaan alamnya.
Ketiga, kenangan-kenagan masa kecil (SR) yang lucu, unik, nakal, tapi menyenangkan rupanya…
Keempat, wah Om Ersis punya keluarga yang hebat rupanya…sepertinya Om Ersis begitu bangga and sayang sama sang bapak.
Kelima, nakalnya lucu. Jual beras, buat beli radio and buku-buku. Btw, dimarahin engga nih…?
Keenam, kisah cinta yang menarik. Suasana jadul yang kentara, namun enak dikenang, nyaman diceritakan…
Ketujuh, saya jadi pengen tahu Sumatra Barat… (saya belum pernah ke sana).