Menulis Kenangan ke Singapura

15 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

DALAM perjalanan Tour Singapura-Malaysia, 9-16 April 2006, captaint tour Erwin DN, merancang masuk lewat Batam. Dalam benak mengayun-ngayun jembatan Balerang, kawasan Nagoya dan pembangunan Batam yang serba wah. Konon, Batam dirancang sebagai tandem Singapura. 
 
Begitu mendarat di Bandara Hang Ngadim, langsung terlihat geliat pembangunannya. Bandaranya begitu megah dengan tanahnya masih merah. Cukup menakjupkan. Kami melangkah cepat ke luar bandara.
 
Dalam sepuluh menit datang kijang Batam Pos. Pemred Pos Metro Batam, Hasan Aspahani dengan elok menawarkan keliling. Hasan, orang Banjar yang lama bekerja di Kaltim Pos kemudian bertugas di Batam. Erwin membawa kaset lagu-lagu Banjar yang langsung diputar.
 
Saya menyesal tidak memberinya buku puisi sebab hanya membawa satu set untuk adik di Malaysia. Tidak memberi National Library Singapura atau Perpustakaan Universiti Kebangsaan Malaysia. Bahkan Ipho Santoso, pemotivasi bisnis yang tengah populer, hanya dijanjikan akan dikirim ketika bertemu di Bandara Soekarno-Hatta. Oh ya, ketika Ipho ke Banjarmasin niat itu kesampaian.
 
Batam memang seolah disulap dari kawasan sepi menjadi pusat perekonomian. Kawasan industri, ruko, dan perumahan ruko dibangun dimana-mana. Saya terkaget-kaget satu kawasan industri saja menampung tenaga kerja sampai seratusan ribu orang.
 
Hasan memberi keterangan panjang lebar tentang Batam. Puas mutar-mutar ‘mendarat’ di kawasan Nagoya, mampir di RM Sop Ikan yang khas dan lezat, lalu ke terminal Ferry. Suasana bukan lagi berbau Indonesia, tetapi internasional. Rupa-rupa orang sibuk dengan urusan masing-masing. Berbagai ragam bahasa komunikasi menjadi ciri tersendiri kehidupan kami enam hari ke depan.

Pasir Indonesia
Captaint Tour melakukan tugas dengan hebat. Setelah membeli tiket fery, ke bagian imigrasi. Urusan begitu mudah dan cepat. Untuk pertama paspor saya, Bambang, Hakim, Dewa, dan Rustam di cap. Kalau Erwin, sudah hibak dicap. Harap maklum, dia sering bepergian. Lalu, kami antri. Bangga terpantik sebagai orang Indonesia, semua orang tertib.
 
Karena Feri sudah penuh, kami duduk berpencar. Saya memilih berbincang dengan awak Feri. Yang menarik, dia sudah 12 tahun bekerja dengan kehidupan yang begitu-begitu saja. Sebagai orang asli Batam, dia geram dengan pejabat-pejabat pemerintah. Kenapa?

Lihat tu, katanya sangat serius. Kapal-kapal yang tambat di tengah laut itu bermuatan pasir. Memang sejak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jadi presiden dan korupsi diganyang KPK, kegiatan tersebut melorot tajam. Dulu, BBM dilego di tengah laut. Batam menjadi tempat hiburan orang Singapura apalagi ketika judi dibiarkan. Kini, sepi setelah dilarang. Dia geram dengan aneka keculasan dalam praktek kehidupan yang dilakukan oknum-oknum. Orang Singapura ke Batam untuk rekreasi dan belanja.
 
Mendengar keterangan kawan baru ini, lucu juga kalau pejabat dan orang kaya Indonesia belanja ke Singapura. Memangnya Singapura punya pabrik apa? Lebih mengherankan, harga-harga di Singapura lebih mahal dari di Malaysia (Kuala Lumpur). Di Indonesia, bahkan lebih murah.

Dicanda Custom
Perjalanan ke Singapura memberi sensasi tersendiri. Betapa tidak, feri WaveMaster hampir setiap 15 menit berpapasan dengan feri lainnya pergi-pulang Batam-Singapura. Gedung-gedung menjulang Singapura, daratan Johor (Malaysia) ditambah lalu lalang kapal di selat paling sibut di dunia tersebut sungguh menyajikan sensasi. Selama ini hanya menimba bayangan dari bacaan, kini melihat sendiri.
 
Memasuki perairan Singapura, suasa mulai beda. Pulau-pulau ‘digarap’ sedemikian rupa dan kapal patroli terlihat mengawasi perairannya. Ini berbeda dengan di wilayah Indonesia. Setelah melintasi beberapa pulau kecil, pulau Sentosa dengan aneka variasi wisata di depan mata. Bersih, aman, dan tertata baik makin menguatkan persepsi tentang Singapura.
 
Akhirnya feri tambat dan langsung dihidangkan kapal-kapal bergaya Cina, Harbour Cruise on the Imperial Cheng Ho. Sayang kami tidak sempat merasakan paket wisata ini. Lalu, ‘menuju’ pengalaman sangat berharga. Singapura memberi pelajaran yang takkan pernah terlupakan.
 
Setelah diperiksa bagian imigrasi dengan pertanyaan singkat, paspor dicap. Ketika melewati XRay, satu pak rokok terdeteksi. Pikiran sekelabat ke Banjarbaru. Saya bilang kepada Darmawan Jaya, bagaimana caranya agar ditangkap. Nasehatnya, mengaku saja pernah ke Afrika. Sialnya tidak ditanya dan Erwin menganjurkan merokok di pemeriksaan pabean, pasti ditangkap. Tapi, suasana tidak mendukung.
 
Nah, begitu seorang kawan diperiksa saya segera mendekat dan ditanya, bawa rokok? Langsung dijawab, ya. Berapa bungkus? 5, kata saya pendek sembari traveling bag dibuka. Hakim yang membawa rokok saya 5 bungkus telah ke luar pabean. E … Dewa malahan datang mengantarkan jas. Langsung ditanyai tentang rokok.
 
Alkisah kami ke ruang custom. Saya ditanyai Ahmad Zaki Abu, petugas custom. Dia memaklumi sembari memperlihatkan brosur dengan las merah: Tidak ada konsesi bebas-cukai untuk rokok dan produk tembakau yang lain. Kami mendebat agar tahu setahu-tahunya aturan. Simpulnya, tidak ada tawar menawar untuk rokok, kecuali untuk dipakai yang lak plastiknya dirobek. Karena tidak merobek, ya harus bayar cukai.
 
Alhamdulillah, saya menikmati ‘diwawancarai’ pabean. Setelah kami bayar, semua beres, rokok boleh dibawa. Hitungannya, daripada membeli di Singapura yang mahal. Yang tidak habis pikir, 15 menit kemudian telepon berdering atau SMS masuk menanyakan prihal kami ditangkap. Lucunya, ketika sampai di hotel ada yang menanyakan apakah kami di tahan dan dideportasi. Emangnya peyeludup dadah (narkoba)? He … he … Saya berterima kasih, dari Walikota, pejabat partai sampai guru SD berkirim simpati.
 
Yang ingin disampaikan, Singapura tidak mengenal toleransi dalam menerapkan hukum, ketentuan harus dipatuhi dan kalau melanggar langsung di denda. Bahkan, ada warga Singapura dan Indonesia lainnya yang harus berurusan dengan custom karena membawa permen karet, … wajib bayar. Peringatan keras: Jangan sekali-kali membawa dadah, hukuman mati ganjarannya.
 
Pengalaman tersebut memapar kepastian, memasuki Singapura harus mematuhi segala aturan yang ditetapkan pemerintah Singapura. Jangan pernah berharap minta konsesi apa pun karena tidak ada gunanya. Kata-kata pejabat senior custom Singapura, keturunan India melekad di benak saya: Saya mau bantu Pak Cik tapi hukum Singapura meamarkan demikian, tolong hormati. Kami tidak berpikir panjang, bayar, habis perkara.

Seminggu menjelalah Singapura dan Malaysia saya sampai pada kesimpulan: Sebaik-baiknya negara orang jauh lebih baik di negara sendiri. Apalagi, kalau hukum diterapkan secara sempurna. Indonesia is my country, my love and Singapore my inspiration.
Negara ‘Seupil’
 
Singapura adalah negara ‘seupil’ yang mendunia. Nampaknya, apa saja dimanfaatkan maksimal, apabila bernilai ekonomis. Dibeking kesadaran sebagai negara yang tidak memiliki SDA, menumpukkan pembangunan dan masa depan kepada SDM. Tidak mengherankan, walaupun tidak mengetahui ‘jeroan’ Singapura, selintas dapat disimpulkan, rakyat Singapura adalah pekerja keras.
 
Kesan lainnya, orang Singapura sangat mengandalkan hidup mengurus diri sendiri. Jangan coba-coba bertanya ini-itu seperti di Indonesia, apalagi mimpi diantar ke alamat yang dituju. Berjalan saja mereka seperti kesetanan, terkesan selalu diburu waktu. Untungnya, apa saja —terutama untuk kepentingan turis— disajikan lengkap dengan petunjuk jelas. Orang Singapura hidup sangat praktis.
 
Nampaknya mereka tidak memerlukan polisi sebagai ‘pelindung’ rasa aman. Gedung atau perkantoran tidak ‘diamankan’ Satpam atau Satpol PP, bahkan bangunan tidak berpagar. Saya mencari-cari mobil aparat pemerintah seperti plat merah di Indonesia, e … tidak terlihat. Bayangkan hematnya pengeluaran pemerintah dan … seolah semua hal difokuskan untuk publik.

MRT Murah Nyaman
Alkisah, begitu selesai urusan di pabean Singapura di pintu masuk HarbourtFront, Erwin menyeret ke stasiun MRT (mass rapid transport). Menumpang eskalator turun sekitar 10 meter di perut bumi, ada malahan yang 20 meter, menuju MRT, sejenis kereta api mini dengan kecepatan ‘pesawat terbang’ dan nyaman ditumpangi. Saya tidak bisa mengukur jarak, karena serba cepat. Pintu MRT terbuka dan tertutup otomatis dalam 5 menit.
 
Kami melewati Qutrom Park, Chinatwon, Clark Quay dan stop di Dhoby Ghaut, sentral MRT. Lalu, ke permukaan. Plaza Singapura terpampang. Kemana saja, kita seolah disuguhi, hotel, mall, taman-taman indah, kapling berjalan kaki dan sejenisnya. Menghirup udara bebas —di bawah tanah serba AC— kami segera mencari ruang terbuka, merokok. Rokok terasa begitu nikmat.
 
Sekedar catatan, jangan coba-coba merokok di MRT, di Mall dan tempat yang ada tanda no smoking, yang ada tempelan by law. Memang tidak ada petugas tapi hidden camera akan merekam dan bila berurusan dengan penegak hukum, bayar denda SGD5000 (Rp.27.500.000,00) atau penjara. Saya tidak menemukan pelanggar.
 
Oh ya, di HarbourFront kami membeli Tiket MRT SGD10 (Rp.55.000) cukup untuk naik MRT dan bis selama di Singapura. Nampaknya ini cara pemerintah Singapura memberi kemudahan mobilitas warganya dan turis. MRT mempunyai empat lini yaitu: North South Line, East West Line, North East Line dan LRT Line. Lini itu menyangkau Singapura dengan ujung cabangnya, HarbourtFront dan Marina Bay (Selatan), Changi Airport dan Pasir Ris (Timur), Punggol, Khatip, Sembawang, Woodlands (Utara) dan Boon Lay (Barat).
 
Kalau di bawah tanah ada MRT, di permukaan moda transportasi publik adalah bus, dari tingkat sampai gandengan. Karcisnya jadi satu dengan MRT. Seorang teman yang kalau ke kampus Banjarmasin pakai taksi, minimal menghabiskan Rp.30.000 dari Banjarbaru pergi pulang. Kalau pakai mobil, dalam seminggu enam kali ke kampus, untuk bensin, merogok kocek 6XRp.50 ribu berarti Rp.300 ribu alias sebulan Rp.1.200.000,00. Habis separoh gaji sebagai dosen. Kalau ditambah ongkos komunikasi, puasa dech kite.
 
Artinya, gaji sebagai PNS untuk tranpostasi dan komunikasi. Tentu karena penanganan sarana tranportasi publik kita memang payah. Dalam hal ini, siapa bilang hidup di Singapura mahal. Mereka cerdas menyiasati hal mendasar warganya. Kalau ceritanya demikian, sangat mustahil para PNS bisa beli rumah, menyekolahkan anak, membeli mobil apalagi punya gendak, kecuali … Tapi, faktanya para PNS kita banyak saja yang hidup lebih dari cukup he … he …

Walking Trip Country
Hal lain yang asyik di Singapura, tempat dan para pejalan kaki, sungguh diistimewakan. Jalan-jalan Singapura itu kecil saja. Dibandingkan dengan di Jakarta atau Surabaya, bahkan di Banjarbaru hampir sama saja. Bedanya, aspalnya kelas satu —di Malaysia juga demikian— sangat bersih dan trotoar untuk pejalan kaki sekitar 5 m. Nyaman dijalani. Katakanlah keramiknya sekelas Esensa, no tile no like it. Kalau ketertiban, tidak menarik untuk ditulis karena disiplin warga Singapura terkenal sudah.
 
Berjalan di sepanjang trotoar Singapura saya teringat pidato seorang pejabat, tentang K5 (kaki lima). Konon, katanya K5 karena pedagang kakinya dua ditambah tiga roda gerobak. Dasar tidak pernah baca. Kenapa?
 
Menurut literatur, Raffles adalah pejabat kolonial (Inggris) yang sangat peduli dengan wilayah publik. Raflles hobi mebikin jalan bagus seperti hobinya Daendles membuat jalan dari Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 km di pulau Jawa. Kalau di kota, di pinggir jalan oleh Raffles dibuat trotoar untuk pejalan kaki selebar 5 kaki (foot, ukuran Inggris). Orang-orang Indonesia memanfaatkan untuk berdagang. Muncul istilah pedagang K5. Menjelajah Singapura, saya bisa memahami filosofi Raffles.
 
Kegiatan rutin kami, ya jalan kaki, terutama untuk jarak pendek. Sekembali dari hotel, pada hari pertama, setelah naik bis dan makan-makan di Orchad Road kami jalan kaki ke hotel. Pada malam kedua, ke Little India, kawasan orang-orang India sekedar mencari kopi. Duh … Mak, kami jadi terseok-seok.
 
Besoknya, sehabis ke Sultan Mosque dan sholat di kawasan Arab, jalan kaki ke Bugis Junction e … sepatu seorang kawan yang menganga sejak di Little India menemui ajalnya. Terpaksalah kawan kita membeli sepatu baru. Singapura dirancang sangat berpihak bagi pejalan kaki.
Raffles Hotel-Esplanade
 
Sejak dari Banjarbaru, saya menandai Hotel Raffles, National Library, Esplanade dan Merlion Park untuk dikunjungi. Dari Strand Hotel, Bencoolen Street, kami naik bis 10 menit ke Bras Basah Street ke Raffles Hotel. Sepuasnya kami mengelilingi hotel yang dijaga polisi Singapura. Harap maklum, ini hotel tempat menginap orang-orang penting.
 
Kami sangat beruntung kepala jaga, B. Sing, mengizinkan mutar-mutar, bahkan berfoto dengannya dan polisi Singapura. Pak Sing hapal petinggi-petinggi Indonesia yang menginap, dari Sukarno sampai SBY. Tentu tidak lupa melihat sejarah perjalanan Rafless Hotel yang ditayangkan di marmar terpahat di dinding hotel. Pengalaman ‘membaca’ buku-buku sejarah dipatri dengan melihat langsung.
 
Saya pikir inilah satu surga Singapura. Sebelumnya kami sempat mengunjungi National Library Singapore yang membuat hati terenyuh bila ditulis. Betapa tidak, dengan gedung menjulang, fasilitasnya sungguh lengkap.

Bahkan, di ruang bawah tanah mereka menanam pohon. Buku-buku sampai internet tersedia gratis. Sungguh sorga untuk studi. Kunjungan ke National Library Singapore melengkapi ‘pusing-pusing’ kami sebelumnya ke kawasan Waterloo dimana terdapat Singapore Art Museum dan aneka musium lainnya. Luar biasa.
 
Setelah puas di Raffles Hotel kami berjalan kaki menuju Raffles Aveneu di bibir Marina Bay. Menyeberang Bras Basah Road sampai di War Memory Park, berfoto lalu ‘menyelam’ ke bawah Esplanade Brigde. Di bawah jembatan tersebut yang dibuat sedemikian rupa, kami menemukan seniman latihan drama. Muncul ke permukaan disambut Esplanade Theatres On The Bay.
 
Karena waktu sempit, tidak semua ruangan terdatangi, tapi untung leaftlet kami dapatkan. Lalu, duduk-duduk sembari memandangi Merlion Park dengan patung Singa yang terkenal tersebut. Sehabis itu mendatangi Lim Bo Sang Memorial dan terus ke Victoria Theatre and Empress Place. Bambang kesal karena petugas mengatakan tidak boleh menonton tersebab pergelaran telah dimulai, kami terlambat.
 
Disini terdapat Asian Civilisations Museum yang secara rutin mementaskan aneka budaya Asia. Beruntunglah kami dibiarkan ‘meramahi’ apa yang dapat dinikmati. Setelah itu memutar Singapore River yang terkenal dengan aneka makannya. Yang paling menyenangkan mampir di RM Padang Sari Bundo, duh nikmatnya. Capek berjalan kaki dapat makanan yang pas dengan selera.
 
Di Singapore River saya ‘mengerjain’ orang Singapore. “Please Sir, no pork. Halal”, katanya agar mampir di restorannya. “Nah lo’, jawab saya, “justeru kami mencari makanan dari babi”. Dia ngakak seperti juga kami ngakak. Asyiknya di Singapura bahasanya gado-gado. Bahasa Inggris, lalu ke Melayu, Mandarin dan terkadang India. Tapi, rata-rata menguasai bahasa Melayu dan … rupanya bahasa Indonesia tidak asing. Tidak heran, orang Indonesia memang suka melancong ke Singapura.
 
Jadi jangan takut, komunikasi di Singapura tidaklah akan mengendala. Unggulnya Singapura karena serius membenahi apa saja. Kalau soal alam dan tanah, Indonesia jauh lebih potensial. Bayangkan, Singapura itu dengan lautnya hanya kira-kira dua kali Banjarbaru. Mari meniru Singapura untuk hal-hal tertentu, tetapi lebih banyak yang lebih baik di Indonesia. Pasti itu.
 
Banjarbaru, 15 Juli 2007 (Tulis dan koreksi Ulang).

  1. 2 Responses to “Menulis Kenangan ke Singapura”

  2. By mathematicse on Jul 16, 2007 | Reply

    Hidup Indonesia!!!
    Saya setuju, se enak-enaknya di negeri orang lebih enak di negeri sendiri. Lebih nyaman..
    Btw, menurut saya ada sedikit keliru di tulisan ini. Gubernur yang menggagas pembangunan jalan Anyer-Panarukan bukan Raffles, tapi Daendels (orang Belanda)…… :

    ***Yup makasih fren, Rafles memang beda dengan Daendles, yang satu suka bikin jalan demi kepentingan perang yang satunya mambagusi jalan demi keindahan dan funsi publiknya. Makasih.
    Salam

  3. By irsan finazli on Jul 21, 2007 | Reply

    tahu tentang negri lain ternyata tidak harus mengalami sendiri, tapi ya memang akan lebih nyaman kalo pengalaman sendiri, ke sana sendiri.
    Yaah saya setuju, contoh yang baik2.
    Salam dari saya, Irsan

Post a Comment