Menulis Selingkuhan Pikiran

14 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Tidak dapat disangkal lagi, kita hidup di dua alam, alam pikiran dan alam nyata seperti yang kita lakoni sehari-hari. Kehidupan alam nyata digerakkan alam pikiran. Ketika tubuh memerlukan asupan makanan, perut berkhabar mengirim pesan lapar. Otak melalui piranti pikiran memerintah tubuh bergerak. Kerjasama yang baik antara keduanya membuat kita hidup sebagaimana mestinya. Apabila mandeg, atau satunya bertingkah, siap-siaplah menderita, bisa jadi sampai ke alam baka.

Karena itu, menjaga kesehatan badan sangat penting. Organ-organ tubuh menyandang fungsi masing-masing dalam kita hidup dan berkehidupan. Kesemua itu diatur oleh pusat komando dalam jaringan otak sebagai landasan gerak pikiran. Dus, memelihara pikiran sama pentingnya, kalaulah tidak dapat dikatakan lebih penting dari memelihara raga. Pada badan yang sehat terdapat pikiran yang sehat.

Pikiran sebagai piranti tak teraba kalau mengalami ganguan, berarti petaka kehidupan. Celakanya, apa-apa yang ada di alam pikiran, sedikit sekali yang bisa direalisasikan. Misalnya dalam relasi sosial, banyak hal yang bergelora di pikiran, tetapi tidak macthing dengan labuhannya.

Kita menginginkan atasan berlaku adil, dia lebih memperdulikan sekretarisnya. Sebab, kebutuhannya menyenangkan sekretaris karena selingkuhannya. Kita memaui Si Pacul membantu mengamankan kecurangan pengelolaan uang perusahaan, Si Pacul punya prinsip, yang haram jangan sampai menyapa. Bisa saja berkehendak, Cinderela mencitai sepenuh raga dan jiwa, tetapi dia memilih Ian Kasela.

Ada yang punya ide gaji guru dilayakkan agar kualitas pendidikan dapat digenjot, para pengambil keputusan berbijakria, nanti dulu, sebab guru harus bersertifikat. Maunya mau bersiteri dua, isteri pertama menolak mentah-mentah. Kemana pikiran akan dilayangkan?

Apa boleh buat, dipendam. Pemendaman pikiran, kalau semakin hari semakin menumpuk, bisa membuat sistem otak terbeban berat. Ujung-ujungnya, ibarat komputer hang. Kalau sitem otak rancu, terganggu, stres sampai schizophernia bisa jadi milik Sampeyan. Duh, ngeri kalau sampai sedemikian.

Curhat
Kata nenek, kalau ada simpanan di dada dan di kepala yang membeban, keluarkan agar dada terlapang dan pikiran ternyaman. Kata ulama, berserah dirilah pada Allah SWT agar hidup nyaman dan menyamankan. Pada tingkat lebih tinggi, bertaubatlah apabila melakukan kekeliruan, apalagi kesalahan fatal. Lakukan sholat malam, merenung dan berserahkan diri secara kaffah. Allah tidak akan memberi beban kepada manusia sepanjang manusia tidak mampu menyandangnya.

Anak-anak SMP kalau terdenda gelombang cinta yang tak terkatakan, mencurahkan isi hati di diari. Ada lega menyelinap ketika beban dada, muatan kepala berubah jadi kata-kata. Mengeluh adalah hikmah.
Mereka yang berjiwa terbuka, atau setidaknya punya keberanian, akan mencari saluran pelepas, katanya sih curhat (saya tidak tahu kepanjangannya, curahan hati kali ya). Kalau sudah curhat nikmat. Sebab beban rasa, deraan pikiran berkurang. Jiwa akan tenang dan sehat.
Kata Ersis, semua itu bisa lebih disempurnakan dengan menulis. Menulis menuangkan pikiran, mencurahkan atau menyelipkan rasa di dalamnya. Sehingga, muatan beban tidak menghimpit, dan kita jadi lega. Menulis adalah saluran jiwa.

Percaya atau tidak, believe it or not, coba saja. Minimal secara teoritikal demikian. Dalam psikologi dipatok sebagai katarsis. Katakanlah semacam pencucian jiwa. Kita tidak bijak memendam apa-apa yang dirasa, apa-apa yang dipikir kalau memang harus dicurahkan. Orang-orang yang pikirannya lempang, pikirannya sehat, jiwanya tenteram adalah mereka yang tidak memendam beban apa pun didirinya.

Yang pasti, cara menyalurkannya saja yang berbeda-beda. Dulu, kalau ada pertandingan Barito Putra lawan kesebelasan mana saja di Banjarmasin berusaha menonton. Saya memang sepakbola maniak. Sampai-sampai tercatat sebagai pengurus PS Barito Putra. Tetapi ada yang lebih penting dibalik semua itu.

Sebagai pemimpin umum dan pemimpin redaksi beberapa media cetak (atau media-median) dan pengurus sepakbola (juga pengurus Persebaru) bisa menonton di tempat terhormat. Sering pula menonton di pinggir lapangan. Saya menganongi kad masuk istimewa.

Tetapi, ya tetapi, lebih memilih di tribun Liverpool atau tribun Inggris istilah lokal kami. Apa pasal? Disitu bisa teriak sepuas-puasnya. Mau berjoget, melonjak-lonjak, memaki, atau apa, bebaaaaaaaaaaas. Saya menikmatinya dengan berteriak nyaring. Sehabis menonton legaaaaaaaaaaaaa. Oh ya, sekadar diketahui, saya bersimpati kepada kesebelasan yang mainnya bagus, apalagi cantik. Bagi saya, itulah curhat.

Curhat Menulis
Kini sampailah kita kepada menulis sebagi labuhan pkiran, kuala rasa. Saya ingatkan, memang semua hal dapat ditulis. Dari hal-hal menyenangkan sebagai lampiasan kegembiraan, hal-hal menyedihkan sebagai ungkap keprihatinan. Semua hal bisa ditulis. Kalaulah untuk keperluan pribadi, silahkan sebebasnya di diari misalnya.

Tetapi, kalau mau dilempar ke wilayah publik, lain lagi masalahnya. Tepatnya, tidak semua tulisan pantas di konsumsi publik.Dengan demikian harus pandai-pandai memilih. Pertengkaran dengan isteri atau perselisihan dengan mertua, jangan sampai bocor ke luar negeri, apa kata dunia nanti?

Pikiran, gagasan, ide-ide cemerlang yang kiranya bermanfaat bagi umum, itulah yang sebaiknya yang ditulis untuk khalayak. Bisa pula kritik konstruktif atau problem solving terhadap masalah di masyarakat. Pokoknya, karena bermain di wilayah publik, harus pandai membaca situasi dan kondisi obyektif. Menulis bukan berarti asal tulis, dengan menulis kalau sampai menjadi public enemy, itu kontroversial namanya. Menulis untuk membangun pikiran.

Tetapi, hal-hal sedemikian kita diskusikan pada lain kesempatan. Menulis dalam alur introdusir tulisan ini adalah untuk meringankan beban pikiran. Dus, cakupannya lebih mempribadi. Artinya, sebagai wahana bagi sehatnya pikiran, bagi tenteramnya persaaan sebab terjauh dari beban. Urang Banjar bilang, dandaman.

Pengalaman menunjukkan, saya pikir penulis lain juga demikian, apabila menyelesaikan satu tulisan dipicu ide yang muncul, ada kenyamanan, ada kepuasaan, ada kebanggaan, ada gimana gitu di danau perasaan. Kalau dipikir-pikir semua hal jadi serba menyenangkan. Apalagi kalau direspon positif banyak kalangan. Ada yang mengeliat di akar rasa.

Sebaliknya, bila yang datang respon negatif, dari sinisme sampai cacian, ceritanya jadi lain. Hal yang terakhir kita diskusikan pada kesempatan lain. Kembali ke ‘latop’, ide dasar tulisan ini menulis untuk saluran pikiran, pipa perasaan agar pikiran menjadi fresh dan rasa ternyaman.

Mari, mari kita selingkuhi pikiran dengan rasa, menulis selingkhan pikira dalam samudera positif. Apa sih maksudnya, ah masyak berselingkuh saja dipertanyakan. Mari menulis, menulis, dan menulis.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 14 Juli 2007.

  1. 2 Responses to “Menulis Selingkuhan Pikiran”

  2. By hanna on Jul 14, 2007 | Reply

    he3, yang ini bagus x

  3. By mathematicse on Jul 15, 2007 | Reply

    <p>Ya setuju. Biasanya bila kita bisa menyelesaikan suatu tulisan, perasan lega itu tiba, rasa seneng itu datang, bahkan seringnya rasa bangga datang dari pikiran sendiri… (tapi anehnya bila besok-besoknya lagi tulisan itu kita baca lagi, ada saja ga sempurnanya itu, ada saja kekurangannya… aneh…).</p>
    <p>***Yang terakhir bukan … aneh… Maz, justru itu kuncinya. Tidak ada yang sempurna, kecuali Allah SWT. Karena merasa kurang kita lebih bergiat lagi berkarya, menulis, menulis, dan menulis. Ketika buku Menulis Sangat Mudah dalam bentuk draft saya perlihatkan pada beberapa orang. Ada yang bicara dari sudut kekurangan … mengirim getar ciut di hati. Tapi, … saya tampil dengan kekurangan. Hasilnya?</p>
    <p>Kini siap-siap memasuki cetak ketiga. Ide saya direspon dan diambil manfaat oleh banyak orang di seantero Tanah Air. Dan, kontrak dengan penerbit berlanjut, dapat royalti bo. Sampeyan tahu mereka yang selalu berpikir tentang kekurangan? Sampai hari ini begitu-begitu saja. Saya didatangi bos penerbit untuk menulis, menulis, dan menulis lagi. Kekurangan adalah amunisi ampuh menulis
    .</p>
    <p>Salam EWA</p>

Post a Comment